
"Aku akan kembali ketempat asalku. Ayah dan ibuku pasti mencariku. Aku sudah terlalu lama disini dan melupakan keluargaku. Aku harap kalian memahami hal itu". Ungkap putri Leona pada para Orgh.
"Flugh kau membawanya?". Tanya putri Leona lagi.
"Ini tuan putri. Aku heran kenapa kau ingin membawa busur panah ini juga?". Flugh bertanya sambil menyerahkan busur panah milik ratu Sevilla pada putri Leona.
"Bukan aku yang menginginkannya. Tapi busur panah inilah yang sudah memilihku".
"Maksud tuan putri?". Flugh semakin keheranan.
"Panah ini memilihku untuk menjadi tuannya. Lagipula bukankah itu bagus?". Tanya putri Leona sambil mengamati busur panah itu kembali.
"Magnus maupun Uwi tidak akan selamanya terus berusaha melindungiku. Aku juga harus bisa melindungi diriku sendiri jika sewaktu-waktu mereka tidak ada disisiku".
"Uwi?". Tanya Flugh karena baru mendengar nama itu.
"Ah aku lupa dia adalah kuda terbang milikku. Hadiah dari kakek untukku saat pertama kali kami bertemu. Itu sudah sangat lama". Terang putri Leona pada Flugh.
"Tuan putri". Morin mendekat dengan bayi perempuan dalam gendongannya.
"Ada apa Morin?". Tanya putri Leona menatap Morin yang sudah ada dihadapannya.
"Jika tuan putri pergi dari sini, lalu bagaimana dengan bayi ini. Apa tuan putri akan membawanya juga bersama?".
"Tidak Morin. Kaulah yang akan menjaganya mulai saat ini. Aku akan sering berkunjung jika Flugh bersedia membantuku". Ungkapnya tersenyum pada Flugh.
Putri Leona berjalan kearah Magnus dan naik di atas tubuh Magnus lalu duduk di leher panjang Magnus. Kemudian Flugh menggerekan jari-jarinya membentuk sebuah pola rumit yang tak lama setelah itu muncul sebuah lubang besar di dalam udara kosong. Magnus berjalan masuk pada lubang besar tersebut lalu menghilang setelahnya.
"Aku akan sangat merindukannya". Ungkap Flugh.
"Aku juga pasti merindukannya".
__ADS_1
"Aku juga".
"Yah kita semua akan merindukannya". Flugh membalas perkataan beberapa Orgh lainnya.
Magnus bersama putri Leona dan juga Ule muncul dibalik lubang yang tercipta diudara kosong. Mereka telah berdiri dihutan tempat pertama kali putri Leona terbawa air danau. Tapi sekarang air terjun dan danau tersebut telah hilang. Yang tersisa hanyalah padang rumput yang hijau dengan beberapa pohon sebagai pelengkap keindahannya.
"Mereka memang luar biasa Magnus". Putri Leona tersenyum menatap hamparan padang rumput. Yang ia pikir bibi Ann ternyata Flugh dan kawan-kawannyalah yang menciptakan ilusi air terjun yang sangat nyata bahkan ia sendiri tak bisa merasakan bahwa itu hanyalah sebuan tipuan belaka. Tidak heran jika banyak peri yang terjebak dalam ilusi tersebut dan akhirnya menjadi korban yang tak bersalah. Putri Leona menghela nafas berat sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali.
"Kakak". Suara Hippo terdengar dari kejauhan saat putri Leona hendak terbang bersama Magnus
"Syukurlah aku menemukan kalian". Suaranya terdengar khawatir. Hippo lalu turun dari tubuh Uwi dan mendekat pada putri Leona.
"Kemana saja kalian seharian ini? Ayah dan ibu sangat mengkhawatirkan kakak". Ungkapnya lagi.
"Seharian? Kita bahkan sudah berminggu-minggu lamanya meninggalkan tempat ini". Seru putri Leona menghadap Magnus dan juga Ule di balik rambutnya.
"Perbedaan waktunya sangat jauh jika dibandingkan dengan disini ". Suara Ule terdengar dalam pikiran putri Leona.
"Maaf aku membuat kalian khawatir. Aku hanya ingin mencari udara segar bersama Magnus dan lupa untuk kembali. Pemandangan disini benar-benar menakjubkan". Bohong putri Leona membela dirinya.
"Baiklah. Maafkan kakakmu ini". Ungkap putri Leona mencubit gemas kedua pipi Hippo.
Kemudian mereka kembali dengan putri Leona menunggangi Magnus sedangkan Hippo bersama Uwi. Setelah selesai makan malam putri Leona memutuskan kembali keistana bersama Uwi.
_______________________
Alexa membuka kedua matanya perlahan. Lagi?
Ahhh yang benar saja. Kenapa selalu tempat asing ini?
Ia mendengus kesal kemudian ia berjalan kesegala arah mencari wanita paruh baya yang biasa ia temui ketika ia bermimpi ditempat ini.
__ADS_1
"Ciluk bahhhh".
"Ciluk bahhhh".
"Heheheh".
"Ciluk bahhhh".
Alexa mengerutkan kedua alisnya saat sepasang telinganya mendengar suara wanita paruh baya itu dari kejauhan. Sepertinya ia tidak sendirian. Ada suara tawa anak kecil bersamannya. Mungkin lebih tepatnya suara bayi.
Perlahan Alexa membuka pintu yang menjadi sumber suara itu berasal.
Wanita itu, benar wanita itu terlihat jauh lebih muda dari pada yang terakhir kali mereka bertemu. Dan juga siapa bayi perempuan ini dengan bando merah muda yang menghiasi rambut hitamnya.
Apa itu bayinya?
Alexa semakin bingung dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Ah hai". Alexa berniat menyapa wanita itu. Tapi sepertinya wanita itu tidak mendengarnya dan terus saja mengatakan ciluk ba pada bayi perempuanya tersebut.
Mungkin kurang keras.
"Hai..... kau wanita paruh baya itu kan?". Alexa sedikit meninggikan suaranya hingga tenggorokannya terasa kering. Namun tetap saja tidak ada tanggapan apapun dari wanita itu.
Apa dia tidak mendengarkanku?
Alexa kemudian berjalan dan berhenti tepat dihadapan wanita itu.
"Kemarilah sayang". Ungkap wanita itu menjulurkan sebelah tangannya kearah Alexa dan tersenyum manis padanya.
"Kau melihatku? Heh yang benar saja". Alexa mendengus kesal tapi tetap memberikan sebelah tangannya pada wanita itu.
__ADS_1
Sebuah bayangan hitam menerobos melewati tubuhnya begitu saja. Ah bukan bayangan melainkan tubuh seorang pria dengan sebelah tangannya meraih tangan wanita itu.
Apa yang terjadi?