
Kedua mata putri Leona membulat. Pandangannya teralih pada Alexa, Aretha serta Hippo yang sudah berada dan dikendalikan oleh wanita itu.
Wanita itu menghirup aroma tubuh Alexa, Aretha serta Hippo bergantian lalu tersenyum penuh arti.
"Aroma mereka luar biasa, pasti Ebu Gogo milikku sangat menyukainya". Ungkapnya tersenyum menatap putri Leona yang semakin geram.
"Jika sampai ada bagian tubuh mereka yang terluka maka kau akan terima akibatnya". Ancam putri Leona yang semakin terpancing.
"Dengan tubuh cacatmu seperti itu....lantas apa yang bisa kau lakukan untuk melawanku". Wanita itu semakin memancing kemarahan putri Leona.
"Tenanglah tuan putri. Dia hanya ingin kau menunjukan keberadaanku dan juga Magnus. Jangan sampai kemarahanmu membuatnya merasa menang".
Putri Leona menghembus nafasnya perlahan. Apa yang baru Ule katakan ada benarnya juga, jangan sampai ia kalah bahkan sebelum bisa menyelamatkan kakak serta adiknya.
"Mereka baik-baik saja. Aku tidak mencium adanya racun apapun pada tubuh mereka. Sepertinya mereka hanya pingsan karena sihir dari wanita itu. Kau hanya perlu memikirkan bagaimana cara agar bisa mengalahkan wanita itu".
"Zary...ayo berangkat". Wanita itu berkata demikian lalu mulai menghilang diudara kosong yang disusul oleh Zary.
__ADS_1
Putri Leona berlari hingga beberapa langkah tapi sudah terlambat........Alexa, Aretha serta Hippo sudah dibawa oleh wanita itu bersama Zary.
"Bagaimana sekarang?". Putri Leona beralih menatap pangeran Kristof yang bertanya.
"Bantu aku menyelamatkan saudaraku". Ucapnya lirih.
"Ah tentu".
"Penyihir itu, aku tidak akan melepaskannya".
"Wanita itu bukanlah penyihir Helena tuan putri".
"Ibu aku pulang". Suara seorang gadis saat memasuki rumahnya.
"Ibu?". Panggilnya untuk kesekian kalinya.
"Ibu jangan bercanda. Ibu tahu aku tidak akan menyukainya". Panggilnya lagi sambil memeriksa seisi rumah yang nampak berantakan tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Gadis itu mendekati ranjang sang ibu dan mendapati noda darah yang cukup banyak disana. Ia menutup mulut dan mulai terisak perlahan hingga semakin besar kala mulai memahami apa yang telah terjadi pada sang ibu.
"Jadi itu benar-benar ulahmu?". Lirihnya pelan sambil kembali mengamati bulu berwarna hitam yang mengkilap ditangannya.
Gadis kecil itu telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan rupawan. Banyak yang menaruh hati padanya tapi semuanya ditolak dengan halus agar tak melukai perasaan orang lain. Ia kehilangan ketertarikan pada lawan jenis dan memilih melatih dirinya agar menjadi lebih kuat dengan banyak berpetualangan mencari hal-hal berharga yang akan ia gunakan sebagai senjata kelak.
Hingga sampai dimana ia menemukan sekelompok makluk aneh yang serakah yang hampir merenggut nyawanya.
"Jika kalian bersedia bersekutu denganku, kalian akan lebih sering mendapatkan makanan yang layak. Tapi jika kalian memakanku hari ini, besok kalian pasti akan kelaparan lagi dan tidak ada siapapun yang datang kemari. Aku yakin aku adalah satu-satunya peri yang pernah kalian temui bukan? Jadi segera lepaskan ikatanku sebelum kalian menyesalinya". Ungkapnya pada ketua kelompok itu hingga ia dibebaskan dan menjalin hubungan dengan kelompok tersebut dengan syarat setiap minggu ia harus memberikan mereka makanan dan begitulah ia menjadi dirinya yang baru hingga ia semakin menua termakan usia ia tak pernah berubah. Hanya mencari sekutu dengan memanfaatkan kelemahan orang lain dan menghasut mereka. Setelah cukup ia akan memberikan orang itu pada makluk-makluk serakahnya.
"Kau siapa namamu?". Tanyanya pada gadis yang yang tengah menangis itu.
Tapi gadis itu tidak begitu mempedulikan keberadaannya dan terus menangis.
"Jika ada yang membuatmu menangis maka kau harus membuat orang itu ikut menangis dengan kesedihanmu. Jangan biarkan mereka tertawa atas penderitaanmu dan kau semakin terpuruk dengan kesedihan". Gadis itu mulai menatapnya.
"Apa yang kau ketahui tentang kesedihanku?".
__ADS_1
"Percaya atau tidak, aku juga pernah mengalami kesedihan yang sama seperti yang kau rasakan saat ini. Tapi aku tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan itu melainkan mereka yang telah membuatku menangislah yang seharusnya menangis dan bersedih".
"Zary, namaku Zary". Wanita itu tersenyum mendengar nama gadis polos itu.