
Di sebuah jalan dekat dengan taman pun, Vidya hanya bisa menikmati pemandangan malam hari sembari menghela napas nya, entah kenapa ia justru di suruh untuk beli martabak oleh sang kakak Lidya.
Padahal menurut nya hari sudah cukup larut malam, tapi jika ia berani menolak justru Lidya akan mengadu kepada sang ayah. Dan di sini lah ia sekarang, setelah membeli nya Vidya sempatkan untuk berhenti di jalan sembari menunggu ojol yang di pesan nya datang.
Ketika melihat banyak nya bintang yang bertaburan di atas langit Vidya pun langsung saja tersenyum lebar. Karena ia sangat menikmati nya.
Setelah itu tak lama kemudian abang ojol pun datang dengan jaket hijau, helm yang berwarna hijau serta motor nya yang berwarna senada.
"Dengan mba Vidya ya" ucap bang ojol.
"Iya benar" ucap Vidya.
"Ke perumahan G ya, sesuai aplikasi" lanjut bang ojol memastikan.
"Iya" jawab Vidya singkat.
Akhirnya Vidya pun pulang dengan di antar bang ojol. Setelah menempuh perjalanan dari tukang martabak hingga ke rumah nya sekitar kurang lebih 15 menit, itu pun karena jalanan yang sepi dan sampai lah Vidya.
Vidya pun segera turun dan memberikan helm nya, karena ongkos nya sudah ia bayar lewat aplikasi tersebut juga.
"Makasih ya bang" ucap Vidya menyodorkan helm nya.
"Sama-sama mba" balas bang ojol.
Setelah itu Vidya langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk memberikan pesanan sang kakak.
"Assalamu'alaikum" ucap nya ketika sampai di pintu.
"Waalaikumsalam" ucap bi Yati yang masih menunggu di ruang tamu.
"Bi, kak Li kemana? " tanya Vidya.
"Non Lidya sudah berada di kamar nya. Itu pesanan nya kan" ucap bi Yati menanyakan.
"Iya bi, kalau gitu aku ke dapur dulu ya"
"Sini biar bibi saja non, yang berikan ke non Li" ucap sang bibi mengusulkan.
__ADS_1
"Gak usah bi, lebih baik bibi istirahat saja" ucap Vidya.
"Gak apa, non Dy kan udah capek beli. Biar bibi saja yang antarkan ya" ucap nya setengah memaksa.
"Lagian kan kaki non Dy masih sakit, lebih baik non Dy makan setelah itu minum obat nya agar segera sembuh" usul sang bibi.
"Tapi bi, aku takut kak Li marah dan gimana kalau mengadu ke ayah bi" ucap nya bimbang.
"Udah gak apa, biar bibi nanti yang mengahadapi nya. Non Dy gak usah khawatir" ucap bi Yati menenangkan.
"Siniin martabak nya" ucap bibi sembari menengadahkan tangan nya.
"Nih bi" ucap nya ragu menyerahkan bungkusan yang berisi martabak.
"Sekarang non Dy makan ya, bibi sudah siap kan mie goreng sesuai pesanan non Dy. Bibi sudah simpan di kamar" beritahu bi Yati.
"Iya bi, kalau gitu aku ke kamar dulu ya" Vidya pun berlalu dari hadapan bi Yati.
"Tega nya non Lidya menyiksa non Vidya, padahal kan yang sudah membuat non Vidya celaka ia sendiri. Tapi apa masih kurang puas ya, sebenarnya non Vidya salah apa sih dulu? " ucap nya di dalam hati sembari berpikir.
"Tok tok tok tok" ketika sampai depan pintu kamar Lidya. Bi Yati mengetuk pintu nya.
"Siapa? " ucap Lidya teriak dari dalam kamar nya.
"Bi Yati non" ucap bi Yati teriak juga dari luar kamar.
"Tunggu sebentar bi" ucap Lidya sembari berjalan menuju pintu kamar nya dan ketika sudah berada di depan nya, ia segera membukakan nya.
"Kenapa bi? " tanya nya setelah membuka pintu.
"Ini non, pesanan non Li"
"Apaan, aku kan gak pesan apapun sama bi Yati" ucap Lidya bingung.
"Martabak dari non Dy" beritahu bibi.
"Kok bibi yang anterin, kemana tuh anak. Kebiasaan kalau di suruh selalu aja gak becus" Lidya pun mulai ngomel-ngomel.
__ADS_1
"Maaf non Li, ini atas kemauan bibi yang antar ke sini. Kasian non Dy seperti nya kaki nya makin bengkak" ucap nya mencoba menjelaskan.
"Halah paling itu alasan Vidya doang, biar di kasihani. Baru segitu aja udah manja" Lidya pun semakin kesal.
"Awas tuh anak, liat aja nanti besok" ucap Lidya seperti sebuah ancaman.
"Emang non Li mau ngapain non Dy, jangan macam-macam ya" ucap bi Yati mulai was-was.
"Udah kamu itu di sini cuma pembantu, gak usah tau. Mau aku apain itu anak juga bukan urusan mu" ucap Lidya membentak bi Yati.
"Urusan di rumah ini yang menyangkut tentang non Dy, bibi akan hadapi semua nya. Jangan dikira bibi gak tau, kalau sebenarnya yang sudah mencelakai non Dy di jalan itu non Li kan" ucap bi Yati tegas.
"Tau apa kamu, mau aku atau pun bukan terserah aku. Art macam kamu gak ada hak buat ngancem aku ya" ucap Lidya mulai resah.
"Lagian kamu itu kamu gak punya bukti, jadi jangan sok belagak deh" lanjut Lidya mencoba menyembunyikan nya.
"Bibi tau itu dan sekali pun bibi gak punya bukti nya, bibi akan cari itu" ucap bi Yati berani melawan nona muda nya.
"Nih, martabak nya" ucap bi Yati menyerahkan nya di tangan Lidya.
"Hih, kenapa sih semua orang membela anak sial*n itu mulu"
"Awas aja gue bikin perhitungan di sekolah besok" ucap nya sembari masuk membawa itu martabak.
Dan setelah kejadian itu pun bibi segera turun kembali untuk menuju ke kamar nya. Sedangkan Vidya di kamar sang bibi sedang asyik menyantap mie goreng nya yang super lezat bagi nya.
"Gimana ya, bi Yati kena marah kak Li gak ya? " monolog nya sembari memikirkan bi Yati. Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka dari luar.
"Kriettt" suara pintu kamar yang di buka dari luar oleh bi Yati dan itu tak membuat Vidya terkejut karena ia masih asyik dalam lamunan nya.
Bi Yati pun justru terkejut melihat nona mudanya yang satu ini makan sambil melamun. Yang mana justru nasib itu mie goreng hanya diam di piring dan ia menyuapkan hanya sekedar sendok kosong.
"Loh non Dy kok makan sambil ngelamun. Mikir apaan sih? " bibi pun hanya bisa berucap dalam hati sembari menghampiri sang nona muda nya.
"Non Dy" panggil nya di hadapan Vidya. Tapi tetap saja tak membuahkan hasil, Vidya masih terlalu terlena dengan lamunan nya.
"Non Dy" panggil nya sekali lagi di sertai tepukan di bahu nya dengan pelan bermaksud agar tidak terkejut. Dan benar saja hal itu langsung membuat Vidya sadar dari lamunan nya.
__ADS_1