
"Jangan lama bu, ada yang ingin ayah bicarakan" tuan Luke kembali berbicara dari luar pintu kamar mandi kemudian ia memilih untuk ke ruang kerja nya yang ada di lantai satu rumah nya itu.
Saat menuruni tangga ia berpapasan dengan anak bungsu nya itu, namun ia pun hanya acuh saja memang ia tak pernah ada percakapan terhadap anak bungsu nya itu, ia pun lebih memilih untuk melalui nya begitu saja.
Dan Vidya pun mengerti di saat nya sang ayah ingin melewati diri nya, ia pun segera minggir ke samping sebelum ia kena marah untuk ke sekian kali di rumah nya ini.
...****************...
Sementara di rumah keluarga Lizama, kakek dan cucu nya itu sedang bersiap untuk pergi ke toko ikan.
Mereka berdua pun sudah berada di dalam mobil, sedangkan sang asisten pribadi nya sendiri sudah pergi kembali ke kantor nya untuk mendampingi meeting dengan klien yang di pimpin oleh Rhayi Lizama, anak bungsu dari Rusdian Lizama tersebut.
"Pak Alden bagaimana klien kita yang dari kota A?" Rhayi pun berbicara dengan asisten pribadi sang ayah nya karena Rhaka sendiri sedang mengurusi tugas yang di luar kantor. Mereka berdua sangat kompak saat membagi tugas pekerjaan di kantor nya itu.
"Sudah menuju ke sini pak, kurang lebih 10 menit lagi sampai pak" sahut Alden menjawab pertanyaan dari anak atasan nya itu.
"Baik lah siapkan berkas yang perlu kita bawa untuk ke ruang meeting" lanjut Rhayi kepada pak Alden.
"Sudah semua tuan" lagi Alden menyahut.
Setelah itu mereka berdua pun tak ada perbincangan kembali, sibuk masing-masing untuk mempersiapkan meeting penting kali ini.
...****************...
Niyah pun telah selesai mandi dan ia pun mau tak mau harus menghampiri sang suami ke ruang kerja nya karena ia di beritahu oleh asisten rumah tangga nya yang kebetulan lewat depan kamar nya itu.
Niyah pun segera saja menuju ke arah ruang kerja sang suami di lantai 1, ia berjalan sekaligus memikirkan bagaimana cara nya agar mendapatkan ijin untuk pergi menemui sang kekasih gelap nya itu.
__ADS_1
Tak lupa Niyah pun membawakan secangkir kopi untuk sang suami yang telah di buatkan oleh bi Yuna.
"Tok tok tok" ketuk suara pintu ruang kerja oleh Niyah.
Tanpa di persilahkan masuk, Niyah pun langsung membuka pintu nya dan segera menghampiri sang suami yang sedang fokus pada laptop di depan nya dan beberapa dokumen yang berserakan di meja kerja nya.
"Yah, kopi nya" ucap Niyah dengan lembut.
"Simpan situ saja dulu bu, nanggung sebentar lagi" tuan Luke pun menjawab namun masih tetap fokus ke arah laptop nya.
Akhir nya Niyah pun menyimpan nya di meja sofa yang berada di ruang kerja suami nya tersebut.
Lalu kemudian Niyah pun memilih duduk di situ sembari menunggu suami yang masih sibuk itu.
Tak lama kemudian akhir nya tuan Luke pun memilih mematikan laptop nya dan menghampiri sang istri yang seperti nya sangat menunggu diri nya terlihat kalau Niyah duduk dengan begitu gelisah, dari gelagat yang di lihat oleh tuan Luke seperti nya sang istri ada yang ingin di bicarakan dengan nya.
Tuan Luke begitu tak tega melihat istri nya itu dan memilih untuk menghampiri nya saja.
"Yah, di minum dulu" Niyah menyodorkan cangkir kopi saat melihat sang suami sudah duduk di sofa samping diri nya.
Luke pun langsung menerima dan meminum kopi tersebut. "Makasih bu, kopi nya enak seperti biasa nya" ucap Luke pada sang istri karena ia kira yang membuat kopi itu adalah Niyah.
"Emm yah, minta ijin keluar boleh" ucap Niyah takut-takut dengan melirik raut wajah sang suami.
Padahal Luke ingin sekali memberitahu sang istri kalau anak kesayangan mereka masih berada di penjara dan sekarang masih proses untuk pembebasan nya yang di urus oleh pengacara keluarga mereka.
Namun seperti nya itu tidak akan terjadi untuk ia ucapkan karena sang istri juga seperti nya sangat sibuk hingga mungkin tidak ada kesempatan bagi nya untuk berbicara.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Berapa lama?" Luke langsung menanyakan dengan berderet begitu karena entah akhir-akhir ini seperti nya sang istri mulai berubah, namun kembali akal sehat nya tak mungkin juga sang istri tega menghianati nya yang sangat mencintai diri nya itu.
"Mau jenguk teman sosialita aku, anak nya sedang sakit" akhir nya hanya kata itu yang meluncur dari mulut nya sebagai alasan nya pada sang suami, Niyah terpaksa harus berbohong karena biasa nya sang suami langsung mengijinkan tanpa banyak tanya, tapi entah kenapa sekarang Niyah seperti sedang di interogasi menurut nya.
"Di rumah nya atau di rumah sakit bu? " lagi Luke pun bertanya karena seperti nya sang istri memberikan informasi kepada diri nya tidak lengkap hingga kecurigaan itu muncul tapi Luke pun lagi-lagi segera menepis nya.
"Emm di... di rumah sakit yah" Niyah menjawab dengan agak gugup karena ia takut di tanyai rumah sakit mana pula dari sang suami nya itu.
"Baik lah, ayah ijinkan tapi jangan menginap, apapun alasan nya harus pulang atau kalau perlu biar pergi nya ayah yang antarkan" Luke pun berusaha tegas pada sang istri, ia tak ingin seperti hari kemarin di saat situasi genting seperti itu justru sang istri tidak ada di rumah dan tidak bisa di hubungi.
Saat Niyah ingin beranjak bangkit, Luke pun segera mencegah nya "Tunggu sebentar bu, ada yang ingin ayah sampaikan padamu" ucap Luke hati-hati takut sang istri mendadak terkejut.
Akhir nya Niyah tidak jadi berdiri, ia pun duduk kembali seperti semula namun sekarang posisi duduk nya sudah jauh lebih tenang.
"Ada apa yah, kok kayak nya serius banget" Niyah mulai menerka apa yang ingin di sampaikan oleh suami nya itu.
Tanpa basa-basi dan berlama-lama Luke langsung menyampaikan perihal anak kesayangan mereka.
"Lidya di tahan di kantor polisi" ucap Luke tanpa berani menatap wajah sang istri.
Niyah mendadak begitu terkejut karena walaupun hp nya sudah ia aktifkan kembali namun tak satu pun chat dari suami nya ia baca justru yang terjadi sebalik nya langsung ia hapus.
"Kok bisa, kenapa yah?"
" siapa yang tega menjebloskan anak kita yah?" Mendadak seluruh tubuh Niyah menjadi lemas dan semangat untuk keluar pun hilang begitu saja.
__ADS_1
Luke pun diam bingung ingin menceritakan dari mana.
"Yah jawab" ucap Niyah yang tak sabar menunggu kelanjutan cerita sang suami.