
"Tap.... tapi Li, itu kan antrian nya banyak banget. Apa gak pilih lapak lain saja siapa tahu ada yang jual juga" ucap Bella dengan melihat pembeli ya yang semakin membeludak.
"Tidak bisa Bell, gue mau yang itu. Jadi pokok nya loe harus antri, buruan nanti kehabisan loh" usir Lidya kala melihat Bella yang masih saja diam.
"Iya deh" Bella pun akhir nya lagi-lagi harus menurut apa perintah Lidya.
"Gitu dong, kan gue gak perlu pake emosi ngomong nya" ucap Lidya yang kini langsung tersenyum dengan lebar nya.
"Udah sana cepetan" lagi ia mengusir Bella. Bella pun berjalan ragu untuk ikut mengantri dengan beberapa pembeli yang mayoritas kebanyakan ibu-ibu itu.
Bella harus mengantri cukup lama dengan desak-desakan sementara Lidya enak-enakan duduk santai tanpa kepanasan juga tanpa melihat diri nya yang sudah mulai lelah.
Setelah menunggu hampir sekitar setengah jam, akhir nya tiba giliran Bella untuk memesan dan ternyata itu pedagang makanan korea yang sekarang sedang banyak di gandrungi juga di minati oleh masyarakat.
"Pesan 2 ya bu" ucap Bella langsung saja sebelum di tanya oleh sang penjual.
"Maaf pisan mba, tapi ini tinggal satu porsi saja gimana. Mau apa tidak?" Karena memang makanan tersebut mungkin enak juga cocok di lidah pembeli hingga tak butuh waktu lama langsung habis padahal belum malam.
Bella pun nampak berfikir sebentar lalu setelah nya ia mengiyakan karena menurut nya walaupun hanya satu mungkin ia masih bisa mencoba nya atau kalau boleh di bagi 2.
"Kalau begitu tunggu sebentar" ucap si penjual.
Tak lama makanan itu pun sudah jadi dan Bella segera membayar nya dengan harga sekitar Rp. 30.000, cukup mahal memang untuk keuangan sekelas Bella namun beda dengan Lidya harga segitu tentu nya sangat murah untuk ia yang biasa makan-makanan di mall yang harga bisa 2 hingga 3 kali lipat nya.
Beruntung nya tadi Bella sebelum nya sudah di beri uang oleh Lidya jadi ia pun tak perlu bingung lagi. Langsung saja Bella menyodorkan uang berwarna merah tersebut tak lupa ia juga menunggu kembalian nya.
Setelah itu Bella menuju Lidya untuk memberikan makanan tersebut yang terlihat sangat enak juga menggiurkan.
"Kok lama banget Bell" kala Bella menyodorkan nya dan langsung di ambil Lidya.
"Iya tadi antri"
"Yaudah beliin gue es jeruk dong, masa gue makan gak ada minum nya" lagi dengan seenak nya Lidya menyuruh Bella padahal baru saja Bella ingin mendudukkan tubuh nya setelah tadi lelah mengantri namun tanpa perasaan Lidya menyuruh nya kembali.
"Loe bisa kan beli sendiri, capek gue Li" ucap Bella yang mengungkapkan apa yang di rasa.
"Halah alasan loe, kalau gue yang beli sendiri terus apa guna nya gue ngajak loe" ucap Lidya dengan nada ketus nya yang sangat sok menjadi tuan putri.
"Udah cepetan beliin gue es jeruk sama air mineral satu ya" ucap Lidya tak lupa menyodorkan lagi uang nya yang berwarna merah.
"Hemm, yaudah tunggu" akhir nya pasrah juga Bella.
"Ok, gak pake lama loh Bell"
"Iya bawel banget, mau gue beliin gak nih" sentak Bella yang kini mulai tak bisa menahan emosi nya.
"Kok loe nyolot Bell, kalau gak mau bilang, toh gue juga bisa beli sendiri" ujar Lidya yang tak suka dengan nada bicara Bella.
"Sorry Li, bukan gue gak mau tapi beneran gue capek tadi habis antri makanan loe"
"Tapi kan harus nya bisa dengan nada biasa aja, gak usah nyolotin gitu dong"
"Iya sorry Li nama nya juga refleks"
"Yaudah jadi mau gak nih, kalau gak mau sini balikin uang gue sekalian kembalian makanan ini" ujar Lidya menengadahkan tangan nya.
"Ok gue beliin sekarang, ada lagi gak biar gak bolak-balik gue"
"Emmm, kayak nya gak ada deh" ujar Lidya "Sudah sana nanti antri lagi loh" lanjut nya.
"Iya"
Kali ini Lidya pun harus sabar sedikit dan melunak agar ia masih bisa memanfaatkan Bella untuk jadi babu nya. Kan lumayan dimana lagi ia dapat babu gratis yang mau di suruh ini dan juga itu.
Di balik sifat nya yang royal pada teman ternyata Lidya menyembunyikan kelicikan nya dengan memasang topeng muka yang sok baik.
Sementara Bella membeli minum untuk diri nya, ia pun asik menikmati makanan nya itu hingga saat Bella ia tak menyadari kalau makanan nya sudah habis.
"Nih minum loe" menyodorkan es jeruk yang di cup pada Lidya.
"Thanks Bell, loe emang sahabat gue yang paling baik juga pengertian deh" ujar Lidya memuji Bella agar emosi nya menurun.
"Loh Li, kok makanan nya di habisin. Kenapa gue gak di sisain sedikit pun" ujar Bella yang menjadi jengkel karena ia yang mengantri justru Lidya yang menikmati.
"Lah kenapa loe juga gak bilang, gue kira loe udah makan di sana tadi maka nya gue habiskan aja lagian sayang mubadzir mana makanan nya enak lagi" ujar Lidya membayangkan rasa makanan itu.
"Tau ah, kesel gue" Bella pun bersungut-sungut dan langsung mendudukkan tubuh nya di kursi yang berhadapan dengan Lidya.
"Yaudah sih tinggal beli lagi apa susah nya" Lidya berucap dengan enteng nya tanpa tahu kalau itu telah habis.
"Kalau ada juga gak mungkin gue beli satu, tapi di lapak nya sudah habis Lidya" Bella makin kesal karena Lidya bukan nya minta maaf justru sibuk kembali dengan hp nya, entah harus bagaimana lagi Bella menghadapi sikap Lidya.
"Tau gitu mending gue pilih Lexa saja, dari pada sama Lidya begini" ucapan Bella memang sangat lirih tapi Lidya masih mendengar nya dengan jelas.
"Apa loe bilang Bell, setelah apa yang gue lakukan ke loe justru loe mau pilih si Lexa yang gak mau nolongin kita. Loe sadar kan Bell, apa yang Lexa katakan di sekolah dan saat di mall" ucap Lidya mengingatkan Bella.
"Apaan sih Li, kenapa jadi bahas gitu" ucap Bella yang mendadak suasana di sekitar nya menjadi tidak enak.
__ADS_1
"Loe duluan yang mulai dan loe juga yang mau ngeles, Bell loe waras kan?" Lidya memegang kening Bella. Mood nya mendadak buruk karena ucapan Bella barusan namun Bella tak mau mengakui nya.
"Udah lah lebih baik kita lanjut keliling Li" ajak Bella mengalihkan pembahasan tadi yang malah membuat mereka berdua berseteru.
"Yaudah sana, gue mau di sini aja, udah gak mood" Lidya pun seketika ngambek.
"Sorry Li, jangan gitu lah" bujuk Bella ketika sifat kekanak-kanakan Lidya muncul.
"Ayolah Lidya masa gitu doang ngambek sih, gak asik loe" ujar Bella.
"Kan lagian gue udah minta maaf" lanjut nya sedangkan Lidya hanya diam saja.
"Maafin gue ya, jangan ngambek gitu dong"
Karena lelah membujuk yang seperti nya tak membuahkan hasil, Bella pun memilih duduk diam tak jadi beranjak.
Lama menunggu tapi akhir nya Lidya pun mau berbicara juga dengan Bella.
"Tapi loe jangan gitu lagi Bell, gue gak suka" ujar Lidya yang melunak dengan sendiri nya.
"Iya tapi gue gak bisa janji"
"Asalkan loe berusaha"
"Berarti loe maafin gue kan"
"Heem"
"Yaudah sekarang kita lanjut jalan ya" ucap Bella dengan semangat.
"Yaudah yuk"
Mereka berdua pun melanjutkan jalan-jalan nya.
***
"Love kita jalan yuk" ajak Jendra
"Jalan kemana beb"
"Kemana saja asal sama kamu"
"Ish, makin suka deh aku" ucap Niyah tersipu
"Yaudah aku siap-siap dulu ya, kamu juga mandi dulu sana"
"**** dulu dong baru aku mandi"
"Yaudah aku mandi dulu, kamu jangan rindukan aku Love" ujar Jendra dengan senyuman khas nya yang bisa memikat Niyah.
Setelah Jendra masuk Niyah pun bersiap-siap, ia ingin selalu tampil cantik di depan Jendra agar Jendra tak melirik wanita lain lagi.
"Seperti nya baju ini cocok".
Niyah lupa menanyakan pada Jendra ia akan kemana sehingga bisa memantaskan diri dengan kekasih brondong nya itu. Niyah juga sadar walaupun umur nya tak lagi muda namun pesona nya tidak kalah dengan anak muda sehingga ia pun mengetuk pintu kamar mandi.
" Tok. tok. tok. Beb akan kemana kita pergi?" tanya Niyah dengan suara keras tapi tidak teriak.
"Ke pantai saja menikmati udara malam di sana seperti nya tidak buruk" ujar Jendra dari dalam kamar mandi.
Setelah mengetahui tujuan nya Niyah pun mengganti baju nya lagi dan kembali mengulangi memilih baju yang cocok dan pantas ia kenakan walaupun semua baju sebenar nya cocok saja ia kenakan kemana pun. Tapi yang nama nya jalan dengan brondong ia tak mau sampai mengecewakan dengan penampilan nya.
Tak sia-sia Niyah membongkar walk in closet nya, ia menemukan satu baju yang cocok ia kenakan ke pantai untuk acara malam hari karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul 18.00 sore.
Niyah langsung merias diri nya agar ketika Jendra telah selesai mandi ia sudah siap.
Duduk di depan meja rias nya dengan alat make up yang mulai ia poleskan pada wajah nya.
"Cantik juga ternyata aku" memuji diri sendiri di depan kaca meja rias nya dengan blush on yang ia sapukan pada pipi nya agar terlihat merona.
"Emang kamu paling cantik kok Love, maka nya aku tak bisa berpaling dari kamu" ujar Jendra yang memeluk Niyah dari belakang dengan tubuh yang hanya terbalut handuk saja.
"Beb kapan kamu keluar dari kamar mandi kok tidak ada suara nya" ucap Niyah yang kaget akan ada nya Jendra yang sudah memeluk nya di belakang.
"Barusan, ingin rasa nya aku mengurung kamu di kamar saja tapi tentu nya pasti ke dua pembantu kamu itu akan curiga, setelah semalaman aku menginap di sini" ujar Jendra mencubit pipi Niyah.
"Beb. Kamu ini kan rusak lagi riasan aku" ucap Niyah memanyunkan bibir nya.
Cup. Jendra pun ******* Niyah.
"Ih curang ya" saat sudah terlepas Niyah pun bersungut-sungut.
"Sudah dong nanti cantik nya hilang loh" rayu Jendra.
"Ganti baju sana, sudah ku siapkan baju nya di sana" ujar Niyah mendorong Jendra agar segera masuk walk in closet.
Tentu saja Niyah selalu menyediakan baju untuk kekasih brondong nya itu, entah itu di rumah nya atau pun di mobil yang biasa ia pakai ketika akan bertemu dengan Jendra dan selama itu tuan Luke tidak ada curiga sedikit pun.
__ADS_1
Pernah satu waktu baju yang di mobil di temukan oleh sang suami, ketika suami nya itu meminjam mobil nya karena mobil suami nya sedang di perbaiki di bengkel tapi dengan mudah nya Niyah berbicara kalau itu baju yang di pesan oleh Lidya untuk kekasih nya dan tentu saja tuan Luke percaya karena memang baju yang ia beli untuk anak muda.
"Gimana cocok gak?" tanya Jendra keluar dari walk in closet setelah sebelum nya berganti pakaian.
baju kaos berwarna merah dan celana jeans pendek warna hitam sungguh perpaduan yang sangat cocok di tubuh kekasih brondong nya itu. Hingga Niyah tak bisa mengalihkan tatapan yang seakan terkunci pesona Jendra.
"Hei Love, gimana gak cocok ya" Jendra pun ragu kalau padu padan yang Niyah siapkan tak cocok untuk ke pantai.
"Cocok kok. Cocok banget malahan. Kamu mau mengenakan baju apa pun pasti cocok, kan kamu ganteng beb" ujar Niyah memuji.
"Ah masa sih Love" ujar Jendra yang merasa berbangga diri karena memiliki wajah yang tampan juga rupawan. Hingga banyak tante-tante kesepian yang berminat untuk menjadi kekasih nya.
Tapi Jendra hanya memilih Niyah yang menurut nya masih muda dari segi wajah juga tubuh nya yang masih kencang.
"Gimana sudah siap kah?" tanya Jendra.
"Siap dong, yuk kita jalan sekarang" Niyah menjawab dengan tangan yang langsung menggandeng ke lengan Jendra.
Mereka pun keluar dari kamar masih dengan bergandengan tangan dengan mesra nya, bi Yati yang melihat pun hanya bisa diam kalau ia ikut campur yang ada pekerjaan nya bisa terancam di pecat.
Hingga mau tak mau seolah menutup mata juga telinga, padahal ia begitu peduli dengan tuan Luke biar bagaimana pun tuan Luke itu sesungguh nya baik pada pembantu nya.
"Apa kamu lihat-lihat, awas kalau ngadu" lagi Niyah memelototi bi Yati yang sedang menatap nya. Segera saja bi Yati pun menundukkan kepala dan otomatis badan nya pun minggir ketika mereka berdua akan lewat.
"Ini lagi ngepel itu yang bersih, ulang lagi sana" Niyah sengaja menginjak-injak nya lagi lantai yang sedang di pel itu dan tak lupa pula ia menumpahkan air pel nya agar sang pembantu mengulangi nya kembali.
Sementara Jendra hanya diam melihat, ia tak bisa mencegah perbuatan Niyah walaupun sebenar nya ia tak tega dengan perbuatan Niyah pada pembantu nya yang sudah tua itu.
"Love sudah lah, nanti kita kelamaan loh" ajak Jendra agar Niyah tak semakin menjadi untuk marah-marah pada pembantu nya itu.
***
"Sam kuy kita ketemu" ajak Rhayi pada pesan chat yang ia tulis.
Tak menunggu waktu lama pesan pun langsung di baca Sam.
"Dimana?"
"Taman kota saja"
"Ok"
Setelah itu Rhayi pun bersiap-siap untuk pergi, akhir nya ia ada teman untuk bercerita masalah nya itu, dan ia pun harus mencari petunjuk siapa yang akan di jodohkan dengan diri nya. Mungkin dengan meminta bantuan Sam akan meringankan sedikit beban nya itu.
"Mau kemana Ayi?" tanya pak Rusdian kala Rhayi sudah bersiap jalan dengan menenteng sepatu juga kunci mobil nya.
"Mau ketemu Sam bentar yah" jelas Rhayi.
"Jangan malam-malam pulang nya" pesan sang ayah.
"Iya ayah kalau gitu Ayi pamit dulu" ujar Rhayi tak lupa ia mencium punggung tangan sang ayah nya itu.
"Andai kan kamu masih ada mah, pasti kamu akan bangga melihat Ayi tumbuh menjadi laki-laki yang penurut pada orang tua nya tak seperti dulu ia kecil" gumam pak Rusdian dengan melihat foto pernikahan nya dengan sang istri yang sekarang sudah meninggal.
"Sam gue lagi otw" tulis Rhayi saat ingin melajukan kendaraan nya itu.
Ia lajukan mobil nya dengan kecepatan sedang dengan di temani lagu-lagu inggris kesukaan nya sambil sesekali ikut menyanyikan juga lirik lagu nya. Agar perjalanan nya tidak membosankan.
Sementara Sam pun baru saja bersiap-siap kala Rhayi mengabari nya.
"Biarin lah ngaret dikit gak apa" ujar Sam saat melihat pesan Rhayi tapi tak ia balas.
"Gak jadi ngedate sama gebetan baru deh, gara-gara jomblo satu itu" gerutu nya Sam namun ia sudah menganggap Rhayi seperti saudara nya sendiri.
Setelah bersiap-siap Sam langsung meluncur menuju taman kota dengan mobil kesayangan nya karena taman kota memang sangat ramai ketika weekend tiba seperti ini. Dan biasa nya di sana akan ada pertunjukan kesenian entah itu tari-tarian atau yang lain nya.
"Aduh macet lagi" gumam Sam kala lampu merah yang begitu lama.
"Tau gitu gak lewat sini gue" lagi ia bergumam walaupun tidak ada yang bisa mendengar nya.
Rhayi sudah sampai di taman kota dan ia masih menunggu sahabat rasa saudara itu di pinggir jalan, sengaja ia tak mau parkir dulu sebelum Sam datang.
"Mana sih itu anak satu, lama deh kalau di ajak ketemu gini. Mending gue telepon aja kali ya" gerutu nya dengan misah-misuh.
"Halo loe dimana bro, gue udah di taman kota ini" beritahu Rhayi kala telepon sudah di angkat.
"Iya gue bentar lagi sampai kok, kejebak lampu merah yang di perempatan itu loh" Sam memberi tahu juga detail nya.
"Yaudah gue tunggu"
Setelah itu Rhayi kembali fokus pada jalanan ramai lalu lalang orang.
Semua yang membawa kendaraan di parkirkan karena di situ hanya untuk pejalan kaki saja.
Sam sudah berhasil dari lampu merah itu, ia segera tancap gas nya agar segera sampai di tempat yang sudah Rhayi sharelok sebelum nya.
"Hmm, kira-kira satu belokan lagi sampai sih" Sam lagi-lagi bergumam sendirian.
__ADS_1
"Mana sih orang nya" ucap Sam dengan mata celingak-celinguk namun tak terlihat ada nya Rhayi karena memang Rhayi masih berada di dalam mobil nya.
"Coba deh gue telepon" Sam mencoba menelpon Rhayi.