
Rhyana pun tampak berpikir kembali karena ikan terkahir nya saja berakhir tragis, ia yang begitu ceroboh dan sangat penasaran akan hal yang baru pasti tak akan berhenti sebelum mendapatkan dan mencoba nya itulah Rhyana berbeda dengan sang kakak Rheana yang lebih seperti orang yang kutu buku namun tidak.
Pernah suatu ketika Rheana kedapatan membaca buku tentang bisnis hingga larut malam saat Rara kebetulan menengok ke kamar 2 putri kembar nya yang tidur di 1 ruang kamar namun dengan tempat tidur yang terpisah. Saat itu Rara langsung saja melarang Rheana membaca buku di kamar karena itu Rheana membaca dalam kegelapan hanya di temani lampu belajar saja dan Rara pikir itu lama-lama akan bisa merusak mata sang putri.
Maka dari itu Rara hanya memperbolehkan sang putri untuk membaca di ruang keluarga saja agar bisa terpantau oleh nya dan sang suami. Rara begitu sangat menjadi kedua anak kembar nya hingga ia tak mau memakai jasa baby sister sekali pun di rumah nya banyak terdapat pembantu tapi kalau soal urusan suami dan kedua anak nya ia yang akan turun tangan langsung.
"Jadi bagaimana, apakah Rhy akan tetap melanjutkan rencana yang tadi?" tanya Rara sekali lagi pada sang anak bungsu nya itu.
" Emm, Rhy bingung mah?" sahut Rhyana sepelan mungkin hingga hanya ia dan sang mamah saja yang mendengar nya, Rheana yang berada di sebelah pun tak mendengar nya hingga Rheana hanya fokus membaca saja.
"Bingung kenapa?
"kan mamah tidak melarang juga" lanjut Rara setelah menjeda kalimat nya tadi.
"Rhy sangat ingin itu, tapi Rhy tidak bisa berjanji namun akan berusaha menjaga sebisa Rhy mah" Jelas Rhyana pada sang mamah.
__ADS_1
Karena hari sudah cukup larut, Rara pun membawa dua anak kembar nya masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Lizama, mereka sekeluarga hari ini akan menginap di sini.
"Rhe, Rhy ayo kita masuk saat nya kalian tidur" ucap Rara ketika melihat kedua anak kembar nya yang dari tadi sudah menguap di tengah udara malam taman karena kebetulan cuaca malam ini cukup cerah, bintang dan bulan di langit terlihat begitu cantik juga bersinar hingga siapa pun yang melihat nya akan sangat betah berlama-lama.
"Iya mah" jawab mereka berdua bersamaan. Kemudian Rara pun berbicara kembali pada si kembar.
"Pamit dulu pada kakek, papah dan uncle Ayi" Rara mengingatkan kedua nya agar tidak lupa, itu sudah menjadi kebiasaan dan kewajiban saat mereka ingin tidur ketika di rumah kediaman Lizama maupun tidak Rara selalu mengajarkan anak nya untuk pamit dengan mencium punggung tangan para orang dewasa yang berada di situ masih senantiasa duduk dan seperti nya sedang membahas masalah bisnis karena ia sendiri tak mengerti.
Setelah dua anak kembar nya pamit, Rara pun langsung menggandeng tangan mereka dengan ia yang berada di tengah-tengah sedang kedua anak kembar nya ada di samping kanan dan kiri nya.
Saat sudah berada di kamar, Rara pun membimbing ke dua nya untuk gosok gigi lebih dulu dan selalu mengajarkan berwudhu sebelum tertidur walaupun ia tau keluarga nya tak begitu taat pada agama tapi ia sebisa mungkin mengajarkan pada ke dua anak nya itu.
...****************...
Di sisi lain Bella yang sudah selesai menjalani semua tes nya pun kembali di antarkan ke dalam sel yang sama dengan Lidya berada. Sementara polisi belum juga mendapat nomor orang tua nya, Bella sendiri seperti enggan untuk memberikan nomor nya.
__ADS_1
Hingga para polisi tersebut pun berencana akan menanyakan nya pada Bella ke esokan hari nya.
Lidya yang melihat teman nya masuk kembali ke dalam sel pun hanya melirik nya karena yang ia pikirkan sekarang bagaimana cara nya ia bisa bebas detik ini juga, tidak mungkin juga jika sang ayah belum mengetahui nya sedangkan sudah beberapa jam ia berada di dalam sel ini namun tak kunjung juga ada yang menjemput nya entah itu ayah atau ibu nya.
Bella mendekat ke arah Lidya yang berada di dalam sel namun memilih di pojok karena tadi sempat Lidya di bully oleh senior yang lebih dulu di dalam sel itu untuk minta di pijitin sedangkan ia saja tak pernah memijit, seorang Lidya yang biasa nya hanya tinggal ungkang kaki saja kini harus bersusah payah memijit senior nya itu agar ia tak di aniaya secara fisik maupun mental, entah bagaimana cara senior itu mengancam Lidya hingga ia terpaksa menurut saat para polisi dan Bella tidak ada di samping nya dan sekarang yang ia rasakan tangan nya sangat lelah karena tubuh senior itu begitu gendut mana bau lagi mungkin ia juga jarang mandi ketika Lidya berada di dekat mereka.
Saat itu percuma juga Lidya ingin teriak pada polisi yang berjaga karena pasti mereka tak mendengar nya jika pun mendengar senior itu pasti pintar sekali dalam membalikkan keadaan, maka nya ia lebih memilih menurut dan diam saja menerima nya.
Ia hanya berpikir dan mensugesti diri nya untuk tenang dan pasti ia akan segera bebas.
"Li" panggil Bella saat sudah berada di depan Lidya yang sedang duduk dan menundukkan wajah nya entah mengantuk atau pun sedih karena tak kunjung bebas juga padahal ini sudah lewat dari sejam mereka di tahan di sini.
Karena tak ada jawaban dari teman nya itu, Bella pun mencoba untuk memanggil nya kembali dengan sedikit mengguncang bahu nya.
"Li.. Hello loe kenapa?" ucap Bella memanggil kemudian mengguncang nya saat Lidya menoleh ternyata mata nya seperti habis menangis mungkin ia yang biasa nya tak pernah susah sekarang harus mendekam di penjara walaupun baru sekitar satu jam lebih pun bagi nya amat sangat begitu lama.
__ADS_1
"Li, loe nangis ya?" tanya Bella lagi memastikan melihat sahabat satu genk nya menangis karena terlihat jejak basah air mata yang masih tertinggal di pipi nya.
"Gak kok, tadi gue itu kena debu" alibi Lidya tak mau di anggap lemah dan cengeng karena ia bisa seperti ini pun tak luput dari perbuatan nya.