
Sang asisten pun membantu membukakan pintu ruang kerja atasan nya untuk sang nona kecil yang berusaha meraih gagang pintu tersebut.
Setelah pintu terbuka, Rhyana langsung saja memasuki ruang kerja sang kakek dengan riang nya meninggalkan paman asisten yang berada di belakang nya.
Lagi-lagi Rhyana lupa mengucapkan terima kasih, ia pun ingin berbalik kembali namun di hadapan sudah terlihat sang kakek yang duduk di meja kerja nya dan entah sedang apa Rhyana pun tak tahu.
Akhir nya ia pun memilih melanjutkan langkah nya menghampiri sang kakek yang sedang serius itu. Karena emang sifat nya yang jahil dan sedikit pelupa, Rhyana pun ingin mengagetkan sang kakek.
Rhyana berjalan mengendap-endap ke arah meja sang kakek, namun sayang kakek nya sudah lebih dulu melihat diri nya. Hingga Rhyana pun mencebikan bibir nya dan seketika saja manyun karena tidak berhasil dengan rencana nya itu.
Sang asisten yang berada di belakang nona kecil nya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat nya karena menurut nya begitu lucu dan menggemaskan sekali.
"Kakek ayo beli ikan" Rhyana merengek karena ia menginginkan ikan seperti punya teman nya di sekolah.
Teman sekolah nya memamerkan ikan baru yang di dapat dari kakek juga, walaupun hanya sekedar dari cerita namun Rhyana juga ingin membeli nya yang seperti di ceritakan teman sekelas nya itu.
Sang kakek hanya bisa melihat dan memperhatikan bagaimana cucu nya itu merengek pada dan tentu belum menjawab keinginan sang cucu nya itu.
"Kek ayolah" kembali Rhyana merengek kali ini dengan di sertai mata yang berkaca-kaca dan ada yang siap tumpah dari mata nya itu.
"Baik lah, ikan apa yang Rhy mau kan kakek punya banyak ikan di aquarium taman itu" akhir nya sang kakek pun menyahuti sang cucu, kakek nya paling tidak bisa kalau melihat sang cucu menangis.
"Ta... tap... tapi kek kata teman Rhy, ikan itu kakek tak punya" Rhyana berkata dengan terbata karena ia sudah mulai menitihkan air mata nya.
"Memang ikan seperti apa yang Rhy cari?" lagi kakek nya bertanya.
"Yang bisa di ajak berkaca dan begitu centil" sahut Rhyana dengan semangat nya.
Tuan Lizama pun mulai berpikir ikan apa yang bisa di ajak berkaca dan centil, emang cucu nya ini ada-ada saja.
__ADS_1
Ia pun melirik ke arah sang asisten pribadi sekaligus sekretaris nya itu tanda menanyakan apakah ia tahu atau tidak.
Namun seperti nya sang sekretaris pun nampak berpikir dan kemudian menggelengkan kepala nya.
Sang asisten pribadi nya pun mulai mendekat kemudian menyerahkan berkas yang di minta oleh atasan nya itu.
"Apakah informasi nya sudah lengkap tidak ada yang terlewat atau pun tertinggal lagi?"
"Sudah tuan, saya sudah mengecek nya sendiri" jelas sang asisten nya yang bernama Alden itu.
"Ok baiklah kamu bisa kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mu" tuan Lizama pun menyuruh sang asisten untuk kembali mengurus kantor utama Lizama grup mendampingi kedua anak nya.
Sementara sang cucu yang merasa di cuekin oleh kakek nya duduk di sofa saja menunggu sampai urusan para orang dewasa itu selesai.
Dengan kepala kecil nya itu Rhyana pun menopang dagu nya seperti gaya om nya yang pernah ia lihat saat ke kantor sang papah.
Setelah melihat paman Alden nya pergi, Rhyana pun kembali menghampiri sang kakek yang kebetulan sudah berdiri.
Sedangkan sang kakek hanya bisa tersenyum dan melanjutkan langkah nya mencoba menyeimbangi langkah kecil wang cucu karena Rhyana tak ingin di gendong.
...****************...
Saat Niyah sudah berada di kamar nya, hp nya kembali berdering menandakan ada panggilan masuk seketika saja ia langsung semangat untuk menjawab nya.
"Beb" panggil Niyah manja saat hp nya sudah di telinga.
Orang tersebut di seberang sana pun langsung saja menjawab nya tidak kalah manis nya.
"Love, kangen" Jendra pun berusaha membuat Niyah betah menjalin hubungan dengan nya.
__ADS_1
"Love, aku mau ketemu kamu malam ini bisa?" tanya Jendra tanpa menunggu Niyah menjawab.
"Tapi beb suamiku bagaimana?" bukan nya menjawab Niyah justru balik bertanya pada Jendra.
Niyah takut kalau hubungan nya di ketahui sang suami bagaimana nanti nasib hidup yang sudah terjamin, itu yang ia takutkan.
"Sebentar saja Love" lagi Jendra berbicara dengan nada yang tak bisa Niyah tolak.
"Baiklah jam 7 malam, kita bertemu di tempat biasa" ucap Niyah pada akhir nya. Ia akan pikirkan bagaimana cara nya meminta ijin tanpa di curigai oleh sang suami.
"Kalau begitu aku matikan dulu bye Love sampai ketemu nanti malam, muaccchh" Jendra pun mengakhiri pembicaraan nya sepihak karena ia sudah dapat jawaban iya dari Niyah.
Niyah belum menjawab nya namun telepon nya sudah mati, ia kini di landa kebingungan karena ia baru saja pulang bagaimana cara nya ia ijin pergi keluar lagi.
"Bagaimana pun cara nya aku harus nekat keluar, aku tak mau sampai pacar brondongku ngambek gara-gara aku tak menepati janjiku" Niyah berbicara dalam hati sembari kaki nya mengetuk lantai.
Niyah pun memilih untuk berendam di bathtub, ia pergi ke kamar mandi mulai melepaskan semua pakaian yang melekat di badan nya itu, kemudian menuju bathtub yang sebelum nya sudah di siapkan oleh Vidya saat membersihkan kamar sang ibu.
Saat Niyah melewati kaca yang berada di dalam kamar mandi nya, ia pun mendadak berhenti dalam sekejap dan justru memandang ke arah kaca yang menampilkan diri nya sudah dalam keadaan tidak memakai baju.
Niyah begitu terkejut karena di antara dua gunung kembar nya ternyata pacar brondong nya itu meninggalkan beberapa tanda yang sangat terlihat jelas, namun bukan nya marah ataupun kesal justru ia mengelus nya dan tersenyum sendiri membayangkan bagaimana gagah nya seorang Jendra ketika mereka melakukan nya di kamar mandi dalam bathtub.
Namun segera saja pikiran nya tersadar kembali bagaimana kalau seandai nya sang suami meminta untuk berhubungan malam ini, bisa berbahaya banyak tanda di tubuh nya, ia harus mencari alasan apa karena biasa nya Jendra tak pernah meninggalkan jejak.
Niyah pun bingung cara menutupi nya bagaimana karena sang suami tak akan mudah percaya jika ia beralasan sedang datang bulan.
Suami nya itu justru paling hafal kapan jatah datang bulan diri nya itu datang.
"Bu, kamu di dalam kah?"
__ADS_1
"I.. iya yah tunggu sebentar aku sedang mandi" entah kapan sang suami sampai rumah tiba-tiba sudah memanggil nya dari luar pintu kamar mandi.
Karena biasa nya jika tuan Luke datang, sang istri selalu menyambut nya.