
"Ah ya, kenapa bi? " ucap nya terkejut.
"Non Dy kenapa melamun? "
"Gimana bi, bibi di marahin gak sama kak Li? " Vidya pun bukan nya menjawab pertanyaan bibi tapi malah justru membalas nya dengan pertanyaan pula.
"Non Li gak marah kok, justru itu martabak langsung di bawa masuk ke dalam kamar nya" beritahu nya walaupun harus membohongi Vidya. Tapi tak apalah yang penting nona muda nya tak melamun kembali.
"Loh, non Dy kok mie goreng nya belum di habiskan?" tanya bibi melupakan pertanyaan nya yang tadi belum di jawab oleh Vidya.
"Gak enak ya atau mau bibi buatkan lagi? " tawar bi Yati.
"Enak kok bi, ini juga masih aku makan" ucap Vidya sembari menyuapkan sesendok mie goreng tersebut ke dalam mulut nya.
"Yasudah kalau begitu di habiskan ya non, setelah itu obat nya di minum dan salep nya di pake" ucap bi Yati mengingatkan.
"Siap bi" ucap Vidya menlanjutkan makan nya.
Setelah selesai makan Vidya pun meminum obat nya sesuai petunjuk yang tertera di bungkus nya lalu ia ke kamar mandi untuk menggosok gigi nya dan di lanjutkan mengoleskan salep ke area kaki nya yang terasa sakit.
Sementara bi Yati pun sudah tertidur, entah beliau terlalu kecapean karena bekerja dari pagi mungkin, di umur nya yang sudah tua, seharus nya ia pensiun. Tapi demi menjaga sang nona muda nya, ia tetap bekerja di rumah ini.
Vidya pun akhirnya segera menyusul sang bibi untuk tidur juga sembari memeluk nya.
Bagi nya pelukan itu sangat nyaman dan hangat di rasakan, bagaimana tidak karena sejak kecil yang ia tahu hanya pelukan bi Yati bukan ibu nya. Karena ibu nya selalu saja sibuk mengurusi Lidya dan ia yang tersisihkan.
Vidya dan bi Yati pun tertidur sambil berpelukan satu sama lain dengan nyenyak nya.
...****************...
__ADS_1
Sementara Same dan Rhayi pun masih betah berada di situ. Rhayi pun masih memikirkan sang perempuan yang tadi di lihat nya, namun ketika ia lihat kembali sudah tidak ada dan untuk muka nya tak terlihat jelas. Yang ia ingat hanya senyum nya yang sangat manis dengan dimple nya itu.
"Siapa perempuan itu sebenar nya" sembari menatap bintang dengan mata nya tanpa teropong. Sedangkan Same sibuk dengan hp nya, entah sedang chat bersama siapa.
"Bro, balik yuk. Udah malam juga nih" ajak Same.
"Nanti yang ada bokap loe chat gue lagi, macam anak perawan yang keluar rumah" ucap Same meledek Rhayi.
"Sial*an loe, kuy lah". Akhirnya Same dan Rhayi pun mulai beranjak masuk ke dalam mobil nya dan masih sama seperti pada saat berangkat yaitu Same yang mengemudikan nya.
"Bro, mending loe bawa mobil gue pulang deh" ucap Rhayi, karena kebetulan rumah mereka dekat. Masih satu perumahan juga hanya berbeda berapa rumah doang.
"Tapi besok loe jemput gue ya" lanjut nya.
"Hilih ada mau nya doang begitu" ucap Same memutarkan bola mata nya.
"Mau gak nih, kalau gak mau yaudah loe turun di rumah gue. Habis itu loe jalan kaki sana, pulang nya" ucap Rhayi menawarkan.
"Gitu dong, udah ah gue turun dulu. Bye jangan lupa besok" ketika sudah sampai depan gerbang rumah nya. Sengaja Same tak masuk karena takut kena ceramahin sang om.
"Bye" ucap Same melajukan kembali mobil Rhayi menuju rumah nya.
Rhayi pun langsung masuk ke dalam rumah nya yang ternyata sudah gelap karena lampu sudah di matikan semua. Ia berjalan menaiki tangga untuk menuju kamar nya yang berada di atas dan untuk sang ayah mungkin sudah tidur.
Saat Rhayi membuka pintu ia di kejutkan dengan keberadaan sang ayah yang duduk di atas tempat tidur nya sembari menatap tajam pada nya.
"Kenapa pulang sangat malam? " tanya Rusdian pada anak nya.
Nama nya Rusdian Lizama, ayah dari 2 anak. Berumur 50 tahun, sifat nya yang tegas dan disiplin waktu serta dingin pada orang lain termasuk pekerja nya. Sedangkan ketika ia berada di rumah Rusdian akan berubah menjadi ayah yang hangat untuk anak-anak nya tetapi tetap saja ia tegas.
__ADS_1
Walaupun ia sudah kepala 5 dan seorang duda tapi tak menghilangkan pesona nya.
Paras nya yang sangat tampan juga rupawan itu menurun pada kedua anak laki-laki nya. Tidak lupa juga ia merupakan orang yang cerdas hingga bisa membangun perusahaan nya dari nol sampai hingga ke titik sekarang yang di beri nama Lizama Corp.
Iya Rusdian sengaja mengambil dari nama belakang nya, agar untuk kedua anak nya tak ada yang merasa di bedakan. Rusdian di tinggal sang istri sudah hampir 10 tahun, pada saat Rhayi masih duduk di bangku sekolah menengah atas sedangkan sang kakak Rhaka baru saja lulus. Di tahap itu mereka bertiga sangat merasa terpukul dan kehilangan sekali sosok seorang ibu dan istri bagi Rusdian beserta kedua anak nya terutama Rhayi yang sangat dekat dengan sang ibu.
"Kemana saja kamu dan Same? " lanjut sang ayah.
"Gak kemana-mana kok yah, cuma BAT doang" jawab Rhayi.
"Ayah ngapain ada di kamar Ayi? " tanya sang anak.
"Mencari foto pacarmu, kali saja ada" Rusdian pun menjawab nya dengan ringan.
"Tapi tidak ada kan" lanjut Rhayi sembari melihat ke ayah nya.
"Iya, lagian Yi umur kamu itu sebentar lagi 26 tahun masa gak ada satu pun perempuan yang berniat di kenalin ke ayah. Toh ayah juga sudah semakin tua, mau sampai kapan betah sendiri gitu" ucap Rusdian panjang lebar kepada sang anak.
"Sampe menemukan perempuan yang cocok menurut Ayi" jawab nya singkat.
"Udah ah yah, Ayi mau ke kamar mandi lalu setelah itu mau tidur" beritahu nya.
"Ayah istirahat ya" ucap nya menyuruh sang ayah. Rhayi pun berlalu dari hadapan sang ayah dan segera menuju ke kamar mandi.
"Kebiasaan anak itu kalau sudah membicarakan masalah perempuan selalu saja begitu" ucap Rusdian setelah melihat sang anak yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Sudah lah, lebih baik aku lekas kembali ke kamar dan segera istirahat untuk meeting besok" gumam Rusdian seorang diri.
Akhirnya Rusdian segera keluar dari kamar sang anak dan menuju ke kamar nya sendiri yang berada di lantai bawah.
__ADS_1
Setelah dari kamar mandi Rhayi pun segera mengganti baju nya dan bersiap untuk tidur. Rhayi pun mematikan lampu utama dan mengganti nya menggunakan lampu tidur agar tidur nya semakin nyaman. Tak lama setelah berbaring, suara dengkuran Rhayi pun langsung menggema di kamar nya yang untung saja kedap suara.