
"Kok gak di angkat sih?" Sam pun menjadi khawatir takut terjadi apa-apa pada Rhayi.
"Coba sekali lagi deh" lagi Sam mencoba menghubungi Rhayi beruntung kali ini langsung di angkat.
"Bro loe dimana, gue udah di taman kota ini"
"Bentar gue keluar dulu" Rhayi langsung keluar dari dalam mobil nya, dan baru lah Sam melihat nya.
"Ternyata loe di depan gue b*****" ucap Sam yang tak sengaja mengumpat.
"Sam ucapan loe" ucap Rhayi yang seketika mengkoreksi kata-kata Sam barusan.
"Sorry bro, kelepasan gue" ucap Sam yang kemudian telepon nya ia matikan.
Rhayi pun kembali masuk ke dalam mobil nya dan mencari tempat parkir dengan di ikuti oleh Sam di belakang nya. Setelah dapat mereka berdua segera keluar dan tak lupa memastikan mobil nya dalam keadaan terkunci.
"Kayak perempuan aja loe, ngajakin kok ke taman kota" ucap Sam yang meledek Rhayi.
"****** tapi loe datang juga kan" ucap Rhayi yang menepuk pundak Sam.
Dan mereka pun berjalan berkeliling mencari makanan dulu sebelum nanti akhir nya akan duduk di tempat pertunjukan. Itu lah kegiatan mereka ketika datang ke taman kota.
"Bro lihat ke arah jarum jam angka 3 deh, cakep ya cewek itu" ucap Sam yang tiba-tiba mata nya berbinar.
"Cewe mulu yang loe urusin, mending loe beliin gue nasi pecel" ujar Rhayi menoyor kepala Sam.
"Biarin napa sih, lagian kan gue itu masih single bebas lirik dong apalagi kalau tertarik" setelah nya Sam langsung tertawa begitu renyah nya seperti rengginang yang baru saja di goreng.
Sam menuju ke lapak penjual nasi pecel tak lupa ia membeli 2 porsi, satu untuk nya dan tentu saja satu untuk sahabat nya itu.
Sedangkan Rhayi sedang membeli minuman juga cemilan untuk menemani mereka berbincang-bincang. Biasa nya pembahasan mereka akan lama karena itu Rhayi membeli semua yang ia butuhkan sekarang tentu nya sebelum ke habisan.
"Udah bro?" tanya Sam pada Rhayi sebab kebetulan lapak pedagang nya hanya berdampingan.
"Bentar satu lagi" ucap Rhayi sebelum nya melihat pesanan nya itu.
"Ok" Sam yang sudah selesai lebih dahulu pun menghampiri Rhayi dengan tangan menenteng nasi pecel mereka berdua.
"Yuk" ajak Rhayi. Ia pun tak lupa menenteng minuman juga cemilan untuk mereka berdua.
"Kemana?" tanya Sam bingung karena tidak tahu mau ke arah mana.
"Lurus dulu lah, lagian seperti nya itu pertunjukan masih 15 menitan lagi" setelah sebelum nya Rhayi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya yang begitu dengan gagah nya.
"Ok"
Sam juga Rhayi mulai menyusuri setiap penjual di taman kota itu, setelah jam nya kurang 5 menit lagi, mereka pun menuju tempat di adakan nya pementasan.
"Mau duduk dimana?" ucap Rhayi karena tempat duduk sudah terisi penuh oleh banyak masyarakat yang ingin menonton.
"Di sana kosong bro" tunjuk Sam. Beruntung mata Sam begitu jeli dengan banyak orang di situ, akhir nya mereka pun menuju tempat duduk yang ada di barisan ke dua dari depan.
Dengan penuh perjuangan melewati banyak orang yang amat sangat begitu antusias nya, Sam dan juga Rhayi pun sampai di tempat duduk yang kebetulan kosong itu.
"Nih" Sam menyodorkan satu nasi pecel ke tangan Rhayi.
"Thanks bro" ucap Rhayi yang langsung membuka nya setelah sebelum nya ia menyimpan minuman itu di bawah.
Mereka berdua pun makan sembari mendengarkan mc yang sedang membacakan susunan acara yang akan di tampilkan.
Setelah itu acara tari-tarian pun di mulai banyak dari penonton yang bertepuk tangan saat penari cilik telah muncul dan akan menunjukkan bakat nya di depan banyak orang.
"Enak kan?" tanya Rhayi pada Sam tiba-tiba karena ia tahu Sam bukan tergolong manusia yang menyukai sayur-sayuran.
"Enak gue suka, nanti di rumah minta buatkan si mbok ah" Sam pun makan dengan lahap sementara Rhayi hanya santai saja dengan sesekali melihat ke arah depan yang sedang menujukan pertunjukan tarian dari aceh itu.
"Keren padahal masih kecil tapi udah jago gitu" ujar Rhayi kagum akan kelincahan anak-anak kecil itu.
"Iya lah pasti mereka juga gak gampang latihan nya bro" ujar Sam yang kini ikut melihat ke depan setelah sebelum nya telah menyelesaikan makanan nya tersebut.
__ADS_1
"Apa yang mau loe omongin kemarin" ucap Sam yang teringat Rhayi mengajak nya bertemu namun ia tak bisa.
"Sorry ya buat yang kemarin"
"Gak apa lah"
"Jadi gini gue mau di jodohin sama bokap"
"What? Apa loe bilang gue gak salah dengar kan Yi" ucap Sam dengan nada kencang hingga menarik perhatian para penonton yang berada di samping kiri, kanan, depan dan juga belakang nya.
"Sorry all" ucap Sam meminta maaf dengan tulus sementara Rhayi hanya memutar bola mata nya saja. Karena ia pikir baru saja Sam di beri tahu sudah membuat heboh seperti itu apalagi kalau tahu kelanjutan cerita nya.
"Sorry bro gak sengaja, suerr deh" Sam menunjukkan senyum nya yang begitu manis dengan jari telunjuk dan juga jari tengah yang ia angkat.
"Lanjut kan" ujar Sam yang kali ini mode serius.
"Awas loe jangan potong ucapan atau pun kata-kata gue dulu. sebelum gue mempersilakan loe gak boleh ngomong dulu. Paham kan" Jelas Rhayi panjang kali lebar juga tinggi.
"Oke oke, paham gue kalau begitu" ujar Sam.
Setelah itu Rhayi pun melanjutkan cerita nya dengan serius. Sementara Sam tak kalah serius nya mendengarkan Rhayi bercerita dari awal hingga akhir.
"Jadi begitu cerita nya, menurut pandangan loe yang ala-ala bule gimana dalam kasus gue ini?" tanya Rhayi pada Sam setelah ia menyelesaikan cerita nya. Kemudian Rhayi mengambil minuman dan langsung menyeruput nya, tak kalah ketinggalan Sam pun demikian sebelum mulai mencari solusi nya akan masalah yang kini sedang di hadapi sahabat nya itu.
"Menurut gue pribadi kok kayak gak masuk di akal ya secara kan itu hanya sekedar ucapan bukan nya perjanjian yang harus dan wajib loe laksanakan" ucap berfikir dengan logika nya. "Nah apalagi seperti yang loe bilang kalau bokap loe juga kan gak tahu sekarang keberadaan keluarga sahabat nya itu dimana, betul kan?" tanya Sam memastikan dari yang ia dengar barusan. Rhayi pun hanya menganggukan kepala nya membenarkan ucapan Sam.
"Terus di tambah lagi antara bokap loe dan juga loe sendiri ini hanya punya modal foto sewaktu bayi, yang otomatis juga muka itu perempuan udah berubah dong, di sini gimana cara loe yakin kalau seandai nya ada yang ngaku-ngaku kalau dia itu sebagai jodoh masa kecil loe" ucap Sam panjang lebar kemudian ia menarik nafas nya.
"Apalagi loe bilang mau ngadain sayembara kan buat nemuin itu perempuan" lagi dan lagi Rhayi menganggukkan kepala nya.
"Itu sih terserah loe, tapi menurut gue mending coba loe jelasin ke om Rusdian kalau rasa nya itu seperti menemukan jarum di tumpukan jerami tahu" lanjut Sam berbicara. "Jadi mending gak usah lah loe ngadain acara begitu, kalau emang kalian berjodoh pasti ketemu kok" ucap Sam bijak.
Setelah itu mereka pun sama-sama terdiam larut dengan pikiran nya masing-masing sembari mata nya yang menatap pertunjukan di depan nya.
***
Jendra dan Niyah pun sudah sampai di pantai yang akan mereka jadikan makan malam romantis.
"Ini hanya di luar nya saja Love, lebih baik coba kita masuk saja" ucap Jendra menggandeng tangan Niyah dengan lembut, ia memperlakukan Niyah layak nya seorang permaisuri agar dana yang Niyah keluarkan untuk diri nya tetap mengalir.
"Yaudah ayo kita masuk lah" akhir nya Niyah dan Jendra pun masuk ke dalam dan tentu saja mereka langsung di sambut oleh waiters di tempat itu dengan begitu ramah nya.
Setelah mendapatkan tempat duduk Niyah dan Jendra memesan beberapa hidangan makanan laut, di antara nya ada ikan bakar, cumi tepung, udang saos tiram, tak lupa juga nasi dan sambal kecap nya.
Tak menunggu waktu lama pesanan mereka langsung di antar kan oleh waiters kembali.
Dan langsung saja mereka menikmati acara makan malam itu dengan saling suap-menyuapi begitu pemandangan yang romantis dengan nuansa belakang pantai juga ombak yang saling bergelung-gelung.
"Suka tidak Love, sama tempat ini?" tanya Jendra pada Niyah tentu saja yang langsung Niyah jawab dengan anggukan kepala nya.
"Kalau begitu beri aku satu" Niyah pun langsung menuruti Jendra yang sudh begitu hapal akan kode yang di berikan nya.
Selain tempat makan di situ juga di sediakan tempat menginap yang tak kalah mewah nya. Tentu dengan harga yang tidak murah juga.
"Bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini?" ucap Niyah tiba-tiba pada kekasih nya itu.
"Boleh kalau kamu tak keberatan tentu nya" ucap Jendra dengan menjawil dagu Niyah yang semakin membuat Niyah melayang karena perlakuan kekasih brondong nya itu yang sangat amat romantis menurut nya.
***
"Rel siapkan tiket pesawat saya malam ini juga" ucap tuan Dallen Luke di telepon kala telepon nya sudah di angkat oleh orang kepercayaan nya itu.
"Baik tuan, mohon di tunggu sebentar" ucap Carel dengan sopan pada atasan nya itu.
"Jangan lupa bukti-bukti yang mau kau tunjukkan pada aku segera bawa juga saat dirimu menjemput di bandara" lagi tuan Luke mengingatkan.
"Baik tuan" ucap Carel dengan sopan.
Setelah itu sambungan telepon pun terputus. Tuan Luke sangat tidak sabar akan dugaan nya entah itu benar atau tidak dan ia harus menyiapkan mental seandai nya semua perbuatan istri nya itu terungkap dan terbukti bersalah maka tiada ampun untuk nya.
__ADS_1
Tuan Luke melanjutkan packing baju nya kembali, seharus nya ia kembali lusa tapi karena pekerjaan nya telah selesai di atasi maka dari itu ia putuskan pulang malam ini juga.
Tak lama kemudian Carel mengirimkan bukti tiket pesawat dan ia segera mencari sopir yang akan mengantarkan nya ke bandara karena jika ia melakukan perjalanan darat yang ada memakan waktu lama butuh berapa hari baru akan sampai.
Dan soal sopir tentu saja selama ia di kota lain, tuan Luke telah menyewa sopir juga mobil nya untuk mengantarkan nya bepergian kemana pun.
"Pak, kita ke bandara sekarang ya" ucap tuan Luke memberi perintah.
"Baik tuan" tak lupa sopir pun langsung membukakan pintu untuk majikan sementara nya agar langsung naik setelah itu menutup nya dengan hati-hati. Kemudian ia pun memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi, setelah memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal mereka pun melaju menuju ke arah bandara terdekat.
Sekitar menempuh kurang lebih 15 menit mereka telah sampai di bandara, sopir kembali membukakan pintu untuk sang majikan nya itu setelah memastikan keluar ia segera menutup pintu mobil nya dan langsung mengambil koper yang di bagasi.
"Ini tuan koper nya" sopir menyerahkan koper dengan hati-hati.
"Semoga perjalanan tuan selamat sampai tujuan" ucap sopir itu tulus.
"Terima kasih" ucap tuan Luke singkat, setelah itu mereka pun berpisah di depan bandara. Tuan Luke langsung masuk dan check-in karena kebetulan pesawat nya sebentar lagi akan berangkat mengudara.
Ia duduk dengan gelisah di kursi bisnis tentu saja agar perjalanan nya nyaman. Tapi karena memikirkan masalah kecurigaan pada istri nya ia menjadi tidak tenang ingin rasa nya ia bisa segera sampai di tujuan. Karena info dari mata-mata yang ia kirim, sang istri sedang berduaan dengan seorang laki-laki tapi kembali lagi tuan Luke tak mau mencurigai tanpa ada nya bukti. Sedangkan bukti yang di berikan oleh mata-mata nya itu sang istri tidak sendirian namun di situ banyak orang dan itu pun foto terlalu jauh juga gelap jadi bisa saja sang mata-mata itu salah mengambil gambar.
Tuan Luke mencoba untuk memejamkan mata nya agar ia lebih tenang juga rileks walaupun sedikit, namun tiba-tiba pesawat seperti terjadi guncangan yang mengakibatkan semua penumpang nya menjadi panik tapi tidak dengan tuan Luke.
Ia hanya berdiam diri duduk di kursi nya saja, tapi terpaksa pesawat pun harus singgah dahulu agar tidak terjadi kecelakaan karena tiba-tiba cuaca juga menjadi gelap hingga penerbangan terpaksa di tunda dan mereka singgah di bandara terdekat.
"Mungkin memang aku seharus nya memberi istri aku kabar, tak seharus nya aku curigai dia seperti ini" gumam tuan Luke yang mulai goyah akan memberikan kabar pada Niyah atau tidak, tuan Luke menjadi dilema.
"Sudah lah lebih baik aku cari penginapan dekat sini aja untuk malam ini" tuan Luke melangkah menuju penginapan yang ada di dekat bandara, setelah dapat ia segera check-in dan langsung masuk ke kamar nya kemudian berbaring menatap langit-langit ruangan kamar nya ini.
"Apa yang harus aku lakukan kalau seandai nya itu semua nyata ada nya" ucap tuan Luke yang sungguh-sungguh merasa bimbang akan tindakan apa yang harus ia ambil.
"Tapi semoga itu semua hanya kecurigaan aku semata saja. Oh ya sebaik nya aku memberi kabar Carel agar ia tak menunggu ku di bandara" ucap tuan Luke merogoh saku celana nya kemudian ia duduk dengan bersender di kepala ranjang tentu saja ia sudah melepaskan alas kaki nya itu.
"Halo rel, kemungkinan saya sampai besok pagi" ucap nya kala sambungan telepon telah terhubung dan di angkat.
"Kenapa tuan, tidak jadi pulang malam ini kah?" tanya Carel dari seberang telepon tentu nya.
"Tidak. Sebenar nya tadi saya sudah di pesawat namun karena tiba-tiba cuaca yang berubah buruk sehingga saya singgah di bandara kota A" jelas tuan Luke.
"Owh seperti itu, baik lah tuan" ucap Carel. "Selamat malam, selamat beristirahat" Carel pun sangat tidak sabar menantikan kepulangan tuan nya itu.
******
Ke esokan hari nya Niyah pun bangun lebih dulu dan ia pun tersipu ketika bangun berada di pelukan kekasih hati brondong nya itu.
Saat ia sedang mengagumi wajah kekasih nya dengan suara deburan ombak juga angin laut serta suasana pantai tiba-tiba telepon nya berdering begitu nyaring karena ia tak ingin mengganggu waktu tidur kekasih hati nya itu. Ia pun buru-buru melihat siapa yang mengganggu waktu nya ini namun saat melihat siapa yang telepon ia tak jadi untuk marah-marah apalagi memaki nya karena yang menelpon adalah anak kesayangan nya itu.
"Selamat pagi anak kesayangan ibu, tumben pagi-pagi telepon ada apa toh?" tanya nya karena tak biasa nya Lidya mencari nya atau pun menelepon kalau itu tak penting untuk nya.
"Bu.. ibu dimana? Kok aku tanya sama bibi kata nya ibu tak pulang semalaman" ucap Lidya di telepon.
"Emm ibu ada urusan mendadak maka nya semalam tidak pulang" ucap Niyah memberi alasan.
"Yaudah sekarang ibu cepetan pulang, ayah sebentar lagi akan pulang masa ibu tak menyambut nya" ucap Lidya bersungut-sungut.
"Apa kamu bilang?" kaget Niyah " Coba ulangi lagi ibu salah dengar kali ya" Niyah masih tak mempercayai nya karena hp nya sama sekali tak menerima ada nya pesan dari sang suami.
Niyah pun menjadi gelagapan bingung sendiri.
"Iya bu, tadi ayah telepon ke rumah kata nya sebentar lagi dia akan sampai" beri tahu Lidya kembali pada sang ibu.
"Yaudah kalau gitu ibu sekarang pulang. Kamu juga cepetan mandi siap-siap sana"
Setelah itu telepon di matikan, Niyah langsung saja menggoyangkan lengan Jendra agar ia segera terbangun.
"Mmmm ada apa Love, aku masih mengantuk. Lebih baik kita tidur lagi saja" ucap Jendra menarik Niyah ke pelukan nya kembali.
Sedangkan Niyah sendiri sudah di landa kepanikan.
"Beb bangun lah dulu, suami aku sudah akan pulang ke rumah. Ini bukan saat nya kita untuk tidur lagi" ucap Niyah kembali menggoyangkan lengan Jendra sambil sesekali menepuk nya.
__ADS_1
Hingga Jendra pun langsung tersadar sepenuh nya.
"Apa Love?" kaget Jendra