
"Ayah kenapa semalam tidak ke sini jemput Lidya" ucap Lidya dengan nada manja dari dalam jeruji besi dan antara ayah juga anak itu di pisahkan dengan besi penjara.
"Lidya sangat kedinginan yah" Lidya pun mengadu namun masih dengan nada manja juga mata yang berkaca-kaca.
Sedangkan Bella hanya bisa melihat interaksi antara Lidya dan sang ayah nya itu dari kejauhan, sebenar nya ia juga menginginkan keluarga yang seperti Lidya yang kedua orang tua nya begitu menyayangi apapun yang diinginkan Lidya selalu di kabulkan dan di penuhi. Bella begitu merasakan iri terhadap sahabat nya itu.
"Bagaimana cara nya gue bisa bebas tanpa melibatkan bapak atau pun ibu ya" gumam Bella yang masih duduk di pojokan tempat mereka tertidur tadi.
"Ayah kesini mau bebaskan Lidya kan, ayo yah kita pulang sekarang" Lidya terus bertanya tanpa mendengar sang ayah berbicara dahulu.
"Iya nak, tapi gak bisa sekarang ayah harus bertemu dengan keluarga korban dulu" tuan Luke menjelaskan pada sang anak dengan bahasa yang lembut.
"Tapi yah, Lidya udah gak betah di sini gerah, banyak nyamuk lagi" adu nya lagi.
"Sabar ya anak kesayangan ayah, hari ini juga pasti kita pulang ke rumah kok" tuan Luke menyakinkan Lidya kalau hari ini entah siang, sore atau malam nya di pastikan sang anak kesayangan bebas dan bisa pulang ke rumah.
Tak lama dari itu polisi Alka datang menghampiri tuan Luke dan ia berbicara dengan nada yang agak sedikit pelan serta berbisik mungkin tak ingin ada orang lain yang mendengar nya.
"Oke kalau begitu saya akan ke sana sekarang" ucap tuan Luke saat mengakhiri ucapan polisi Alka.
"Terima kasih banyak atas bantuan nya ya" lanjut tuan Luke berucap.
__ADS_1
Setelah itu tuan Luke berbicara pada Lidya. Ia mengatakan dengan alasan kalau jam besuk nya sudah habis karena tuan Luke tak ingin Lidya tahu kalau saat ini ia ingin menemui keluarga Lizama korban dari penganiayaan anak kesayangan nya.
"Maaf ya sayang, ayah harus ke kantor sekarang karena polisi sudah bilang jam besuk habis, nanti siang ayah akan kesini lagi sekalian bawain makanan kesukaan Lidya" tuan Luke pun berpamitan pada sang anak. Lidya yang ingin di tinggalkan pun tak ingin sang ayah pergi namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena ini sudah menjadi aturan kantor polisi.
"Yaudah ayah hati-hati di jalan, jangan lupa siang harus ke sini" Lidya berucap seolah menegaskan sang ayah tak boleh membantah nya.
"Baik lah kalau gitu ayah pamit" tuan Luke pergi berlalu dari hadapan jeruk besi yang mengurung sang putri nya.
Tuan Luke segera menghubungi sang asisten agar bisa segera membuatkan janji temu dengan keluarga Lizama dan setelah itu tuan Luke juga menghubungi sang supir agar segera bersiap karena urusan nya di kantor polisi sudah selesai.
Saat berjalan pun ia juga masih mencoba menghubungi sang istri yang sampai saat ini belum ada kabar juga, padahal biasa nya sang istri ketika ingin bepergian dan acara menginap selalu memberi kabar dan bertanya dulu pada nya untuk meminta izin.
Untuk chat yang ia kirim semalam pun masih ceklis satu yang berarti belum aktif juga. Tuan Luke mencoba menghubungi sang asisten rumah tangga nya di rumah siapa sang istri sudah pulang dan berada di rumah atau ia dapat kabar gitu setidak nya.
"Iya tuan , nyonya belum ada kabar juga" jawab bi Yuna saat di tanya sang tuan majikan nya.
"Baik tuan" ucap nya lagi setelah itu panggilan pun terputus.
Bi Yuna pun kembali masuk ke dapur bersiap untuk menyambut sang nona muda yang seperti nya akan pulang hari ini juga. Ia begitu bersemangat memasak masakan kesukaan nona muda nya yaitu mie goreng telur tak lupa juga ia membersihkan kamar sang nona muda yang sudah di tinggal selama semalam karena harus di rawat di rumah sakit.
Saat di rasa semua sudah beres ia pun menyiapkan makanan di meja makan, ia lakukan ini karena tahu sang nyonya, tuan serta putri sedang tak ada di rumah entah ia pun tak peduli pada mereka yang ia pedulikan hanya sang nona muda nya saja yang selalu mendapat perlakuan tak adil dari mereka.
__ADS_1
Sementara taxi online yang di naiki Vidya dan bi Yati pun sudah hampir sampai di rumah, yang membuat Vidya mendadak cemas karena ia takut di marahi oleh sang ibu lantaran tak pulang semalaman. Vidya pun duduk dengan gelisah, bi Yati yang melihat pun segera menanyakan nya.
"Non Dy kenapa?"
"Apa ada yang sakit lagi, kalau begitu lebih baik putar balik ke rumah sakit lagi" lanjut bi Yati yang cemas melihat sang nona muda nya.
"Dy tidak papa kok bi" Vidya menjeda ucapan nya.
"Hanya lapar saja sudah tak sabar ingin segera sampai rumah" lanjut nya. Ia tak ingin membuat bi Yati khawatir dengan ke gelisahan nya yang belum tentu juga terjadi.
"Baik lah kalau begitu, ayo turun" ajak bi Yati saat sang driver sudah menghentikan laju taxi online nya karena kebetulan telah sampai di depan gerbang rumah nya.
"Iya bi" ucap Vidya sembari ingin menenteng tas yang ia bawa tadi namun di cegah bi Yati.
"Biarkan bibi saja non, lebih baik non Dy masuk duluan saja" bi Yati segera menyambar tas yang sudah di pegang Vidya kemudian ia yang membawa nya.
Mereka pun turun dari taxi kemudian masuk ke rumah bersama-sama ke dalam rumah. Namun Vidya cukup heran karena rumah begitu sepi sekali tak seperti biasa nya.
Kalau biasa nya masih ada suara ribut dari sang ibu yang entah berbicara dengan siapa ia pun tak tahu karena Vidya pernah dapat kelas yang harus berangkat siang hari di sekolah maka nya ia cukup tahu namun sekarang berbanding terbalik.
"Assalamu'alaikum" ucap Vidya saat memasuki pintu utama rumah nya. Namun hanya bi Yati yang menjawab karena itu pun berada di samping nya setelah itu bi Yati segera membawa tas ke dalam kamar Vidya di lantai atas, Vidya lebih memilih ke arah dapur karena ia ingin mengambil minum saat merasakan tenggorokan nya begitu kering karena haus cuaca yang begitu panas di siang hari ini.
__ADS_1
Suara langkah kaki Vidya yang terdengar pun membuat bi Yuna menoleh ke arah sumber suara kemudian ia segera menghampiri sang nona muda nya dan segera bertanya tentang bagaimana kesehatan nya.