
Perwakilan dari keluarga Lizama yang akan menghadiri acara bertemu dengan keluarga pelaku pun harus Rhaka karena ia sebagai papah dari si kembar.
Rhaka melajukan mobil nya seorang diri menuju restaurant yang sudah di tentukan oleh sekretaris nya tadi, sedangkan Rhayi sang adik ia suruh untuk meng-handle rapat di kantor yang akan di lakukan siang ini juga karena ada sedikit masalah yang terjadi pada anak cabang perusahaan nya di luar kota.
Dan ia percaya pasti sang adik bisa untuk mengurus semua nya selama ia menyelesaikan kasus yang menimpa anak kembar nya itu.
Rhaka telah sampai di sebuah restaurant yang sudah di reservasi oleh keluarga pelaku yang entah ia pun tak mau tahu ketika sang ayah ingin menjelaskan nya namun Rhaka tak mau mendengar nya.
Rhaka berpikir ketika bertemu ayah dari pelaku ia ingin langsung saja membuat perhitungan dengan mereka namun ia bukan orang yang tipe terlalu buru-buru, Rhaka akan bermain dengan kalem yang mana justru akan membuat keluarga pelaku akan sangat menyesal telah berhubungan dengan keluarga Lizama.
Tapi jika itikad mereka baik, Rhaka pun akan menyambut baik juga tapi jika Rhaka menemukan kelicikan lihat saja apa yang akan ia lakukan terhadap mereka.
Rhaka langsung masuk ke dalam restaurant yang kebetulan langsung di sambut oleh pelayan yang ada di depan pintu kemudian langsung di arahkan pada meja yang cukup privasi untuk pembicaraan mereka hingga tak akan ada yang bisa mendengar atau pun menguping nya.
Setelah sampai ternyata mereka belum datang dan ini yang paling Rhaka tak suka karena mereka yang salah mereka juga yang terlambat.
Rhaka mengalihkan kekesalan nya dengan memeriksa berkas lewat email di hp nya sembari menunggu mereka dan kali ini Rhaka hanya akan menunggu selama 10 menit, jika mereka tak datang jangan harap akan bertemu dengan nya lagi.
Begitu lah sifat Rhaka Lizama yang keras apabila menyangkut sang kedua buah hati kembar nya.
Rhaka mencoba menghubungi asisten nya di kantor karena ia sengaja tak meminta nya untuk ikut, ia menyuruh asisten untuk mendampingi sang adik saja.
"Coba tanya kan pada mereka, pertemuan nya jadi atau tidak" tulis Rhaka di pesan chat yang ia kirim untuk sang asisten di kantor nya.
__ADS_1
Sedangkan asisten pun langsung membalas pesan chat dari atasan nya itu. "Baik Pak, sekarang saya cari tahu dulu"
Setelah itu Rhaka pun lebih memilih untuk memesan makanan dan minuman dulu untuk diri nya sendiri karena sekarang sudah lewat dari jadwal jam makan siang nya, kalau sang istri tahu ia telat makan siang pasti kena omelan yang panjang. Namun Rhaka begitu menyukai nya saat sang istri akan berakhir merajuk.
...****************...
Di jalan tuan Luke dan Carel harus terjebak lalu lintas di lampu merah, ini salah tuan Luke yang memilih berangkat pada saat pas jam makan siang, sudah tau kalau jalanan akan macet namun jika di beritahu ia tak mau kan sebagai asisten bingung.
"Rel, coba kamu hubungi kalau kita akan terlambat hadir begitu" ucap tuan Luke pada sang asisten dengan seenak nya saja dan Carel hanya bisa menghembuskan nafas nya berulang untuk mengontrol emosi nya yang mulai hadir.
"Baik tuan, sebentar" sahut Carel pada atasan nya itu.
Carel segera menghubungi ke asisten sang keluarga Lizama lewat email karena ia tak tahu nomor nya.
Setelah itu ia hanya tinggal menunggu balasan nya saja, Carel memberitahu kembali pada atasan nya.
...****************...
Di kamar hotel Jendra telah bangun lebih dulu namun entah mengapa tubuh nya menegang kembali dan ingin mengulangi kegiatan yang sebelum nya, segera saja Jendra pun kembali mencumbui sang tante-tante nya itu yang ia panggil Love.
"Love, bangun yuk sudah siang ini" ucap Jendra dengan memanggil sang tante yang mengaku sebagai pacar nya dan ia pun tak keberatan dengan itu namun justru ia bahagia dengan status nya karena sekarang hidup nya terjamin tak seperti dulu yang serba kesusahan.
Jendra masih sibuk mencium bibir sang pacar yang mau tak mau harus ia akui sekali pun lebih pantas sebagai ibu nya namun karena nya ia sekarang berkecukupan.
__ADS_1
"Love" panggil Jendra dengan suara serak di telinga Niyah dengan menggigit pelan telinga nya hingga membuat Niyah terbangun karena merasa geli.
"Iya beb, kenapa?" jawab Niyah yang baru saja bangun dari tidur nya namun sudah di tindih oleh Jendra, bukan nya marah justru Niyah begitu menyukai nya.
"Love" kembali Jendra memanggil dengan tangan yang sudah masuk ke dalam selimut mereka dengan meremas gunung kembar Niyah hingga membuat Niyah melenguh dan menegang karena di situ lah kelemahan Niyah.
"Beb aku mau mandi, aku harus pulang sekarang takut suamiku datang" ucap Niyah memberitahu sang pacar.
"Tapi Love aku masih ingin ini" ucap Jendra dengan suara serak sembari tangan nya makin turun menuju ke arah bagian bawah Niyah yang di tumbuhi hutan lebat. Kemudian Jendra pun mengelus nya sesekali ia juga meremas dan memainkan nya hingga membuat Niyah tak bisa menolak nya.
Dan segera saja Jendra melakukan penyatuan untuk kali ini, Jendra menginginkan Niyah yang memimpin permainan dengan berada di atas nya.
Permainan di dalam kamar hotel itu begitu panas padahal udara ac harus nya sangat dingin dengan ranjang yang bergerak ke atas bawah seperti ayunan.
Setelah dari ranjang selesai mereka pun melanjutkan permainan di kamar mandi di bawah shower dan kali ini Jendra lah yang memimpin hingga Niyah begitu tak kuasa di bawah kendali sang pacar yang sangat kuat dan gagah.
Niyah tak pernah bosan bermain dengan Jendra justru ingin nya ia membawa Jendra ke rumah agar lebih leluasa namun belum ada kesempatan bagi nya.
Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih 2 jam mereka pun menyudahi nya dengan mandi bersama di dalam bathtub.
Saat sudah berada di dalam kamar Jendra pun berbicara pada Niyah sembari memeluk tubuh nya dari belakang dengan tubuh mereka yang masih sama-sama polos hanya menggunakan handuk saja.
"Love kapan kau akan memberikan apartemen buat aku atau rumah pun tak apa lah setidak nya aku tak perlu tidur di tempat kost lagi" ucap Jendra membujuk Niyah.
__ADS_1
"Dan aku juga ingin jika kita main tak perlu ke hotel, ayolah Love pikirkan lagi ya" lanjut Jendra.
Karena sebelum nya Jendra pernah meminta pada Niyah namun kata nya ia belum berani untuk mengambil resiko. Niyah masih takut jika seandainya perselingkuhan mereka tercium oleh sang suami karena itu sangat berbahaya.