
"Yánkk kenapa mobil nya jadi lambat gini sih, kalau ada apa-apa sama si kembar gimana coba" Rara pun sangat terlihat cemas sekali bahkan untuk sekedar duduk pun ia merasa tak tenang, entah mungkin karena ikatan antara ibu dan anak yang sangat kuat.
Sedangkan hari sudah semakin petang, matahari dan awan pun mulai menghilang di gantikan dengan bintang dan bulan yang menandakan waktu malam.
Rara dan Rhaka harus terjebak macet di lampu merah yang akan menuju mall G dan mau tak mau Rara bersabar, ingin saja ia turun dari mobil dan berlari namun jarak masih cukup jauh.
"Yánkk sampai kapan kita terjebak macet, ini sudah 15 menit loh" ucap Rara tak sabaran.
"Emang di depan sana ada apaan sih?" lanjut bertanya kepada Rhaka, sedangkan yang di tanya hanya menggeleng tanda bahwa ia pun tak mengetahui nya.
Tak berapa lama setelah menunggu sekitar hampir 10 menit lagi akhir nya Rara dan Rhaka pun sampai juga, setelah itu Rara bergegas turun duluan meninggalkan sang suami yang masih memarkirkan mobil nya.
"Mah, tungguin dulu" Rhaka berlari mengejar sang istri setelah mengunci pintu mobil nya.
Tetapi sang istri tak menggubris ia tetap masuk ke dalam mall seorang diri karena bagi nya jika menunggu sang suami akan semakin lama saja.
Akhir nya mereka pun seperti terjadi saling kejar-mengejar bagi yang melihat nya.
"Huh, cewe kalau sudah urusan menyangkut anak bisa tetiba ganas gitu. Tenaga nya macam 2 kali lipat" gumam Rhaka yang masih berusaha mengejar sang istri sembari menarik nafas nya yang ngos-ngosan.
Sedangkan berbeda kembali dengan Rhayi dan si kembar. Ia sudah bersiap akan membawa kasus ini ke pihak kepolisian apapun yang terjadi karena ia sudah cukup berada di batas ke sabaran nya.
__ADS_1
"Sekarang kalian hanya tinggal pilih mengakui nya atau kami bawa kasus ini berlanjut" ucap Rhayi memberi pilihan terakhir untuk orang yang berada di depan nya.
Tapi karena mereka pun kepala batu jadi tetap saja tak mau mengaku karena bagi nya itu sama saja mengalah pada laki-laki di depan nya. Rhayi menunggu beberapa menit karena tak ada tanggapan dari mereka ia pun melangkah ingin meninggalkan mall tersebut.
Saat Rhayi baru melangkah beberapa kali, ia pun melihat sang kakak ipar yang sedang menuju ke arah dan si kembar yang melihat sang mama pun langsung meminta untuk di turunkan dari gendongan sang om. Rhayi yang mengerti pun menurunkan nya dan si kembar langsung saja berlari ke arah sang mama setelah itu si kembar pun memeluk sang mama yang sudah berjongkok seperti nya Rara pun sudah paham hingga ia menyambut pelukan sang anak kembar nya.
Si bungsu Rhyana sudah siap menumpahkan tangis nya terlihat dari mata nya yang berkaca-kaca berbeda dengan sang kakak sulung Rheana karena ia bisa lebih menyembunyikan ketakutan dan kesedihan nya.
"Ma.. ma" ucap Rhyana dengan tersendat memanggil Rara.
"Iya sayang, anak mama kenapa ini kok sedih gitu?" ucap Rara yang seolah paham ada yang tidak beres dengan mereka apalagi ketika ia melirik ke arah sang adik ipar yang muka nya sudah menujukkan aura emosi. Namun sebisa mungkin ia mencegah untuk tak bertanya.
"Kak Rhe, kenapa sayang kok muka nya murung gitu?" Rara juga menanyakan kepada sang anak sulung yang seperti nya berusaha untuk menyembunyikan kesedihan nya namun itu tak akan bisa ketika sudah berhadapan dengan sang mama.
"Huaa, sakit ma" Rhyana pun menangis kencang dan memberi tahu kalau ia kesakitan ketika pada saat telinga nya di jewer dengan sangat kencang hingga warna merah pun masih terlihat jelas di kulit si kembar yang berwarna putih itu.
"Cup cup cup, anak mama kan sudah besar jangan nangis ya sayang nanti cantik lucu nya hilang loh" Rara berusaha membuat mereka menghentikan tangis nya sembari memindai tubuh si kembar dengan teliti terutama Rhyana karena ia bilang sakit.
Ibu mana yang tak cemas ketika sang anak yang di sayangi mengeluh sakit tanpa tau si anak kenapa.
Setelah menemukan apa yang menjadi penyebab sang anak nangis, Rara pun langsung berdiri untuk menghampiri Rhayi, ia sudah tak bisa menahan emosi nya ketika sang anak kembar nya yang semula baik-baik saja kini ada jejak merah seperti telah terjadi penganiayaan.
__ADS_1
Rara maju beberapa langkah ke depan dimana Rhayi berada dengan raut wajah yang tenang namun tak bisa menyembunyikan emosi nya.
Setelah saling berhadapan Rara tanpa basa-basi langsung menanyakan nya.
"Yi, apa yang terjadi sebenar nya?" tanya Rara dengan nada tegas ingin tahu.
"Coba ceritakan yang terjadi ke mba, kenapa tangan dan telinga si kembar ada jejak merah seperti penganiayaan" Rara sangat meminta penjelasan dari sang adik ipar, namun Rhayi masih diam seolah tahu jika sang kakak ipar belum selesai bertanya dan menginterogasi nya.
Tak lama kemudian Rhaka pun muncul dan segera menghampiri si kembar yang hanya diam di belakang tubuh sang mama.
"Ada hal penting apa Ayi?" tanya Rhaka setelah berdiri di samping sang istri dan menghadap Rhayi dengan nada santai karena ia belum tahu kejadian sesungguh nya.
"Pah mending kamu lihat sendiri deh kondisi twins kita gimana" yang menjawab justru sang istri dan Rara pun menujuk ke arah si kembar.
"Anak papah kenapa hemm?" tanya Rhaka yang penasaran, seperti nya hal yang cukup serius namun ia belum menemukan permasalahan nya dimana.
"Pa.. pah" Rhyana pun maju ke arah papah nya sembari tangan yang seolah meminta untuk di peluk sedangkan Rheana masih menyimak pembicaraan uncle dan mama nya walaupun ia masih kecil namun ia cukup mengerti arah pembicaraan nya.
"Jadi gitu mba cerita nya" ucap Rhayi mengakhiri cerita dari awal hingga akhir kejadian nya.
"Terus ngapain juga kamu masih berbelas kasihan pada mereka, mau mereka pelajar atau pun bukan tetap saja hal ini harus di bawa ke pihak yang berwajib karena untuk masalah anak ada undang-undang nya Ayi dan dari melihat si kembar pun kita bisa melakukan visum untuk bukti yang lebih akurat lagi" Rara berucap dengan nafas memburu setelah mendengar penjelasan sang adik ipar bagaimana anak kembar nya yang masih kecil sudah di perlakukan seperti itu oleh orang yang bahkan mereka tak kenal.
__ADS_1
Dan lebih parah nya lagi mereka itu masih pelajar apa tak di ajarkan di sekolah tentang cara berperilaku.