
Rhaka pun maju ke depan di mana adik dan istri nya berada, entah sedang membicarakan apa. Setelah melepaskan pelukan si kembar tadi.
"Sayang, ada masalah apa sebenar nya?" Rhaka melihat ke arah sang istri. Namun Rara hanya diam namun dari raut wajah nya dapat menunjukan kalau ia begitu emosi.
"Ayi, coba jelaskan pada mas. Kenapa dengan si kembar?" ucap Rhaka yang sekarang berpindah melihat ke arah sang adik.
"Sudah lah lebih baik, sekarang kita ke kantor polisi saja dulu ketika mereka masih berkelit tak mau mengakui nya" Rara memberi usulan seperti itu pada Rhayi.
"Nanti biar aku jelaskan di jalan yánkk" lalu Rara melanjutkan ke suami nya.
Akhir nya tiga orang dewasa itu pergi berlalu untuk mengurus laporan ke kantor polisi tak lupa juga si kembar turut ia bawa sebagai korban.
Kurang lebih menempuh perjalanan sekitar 30 menit lama nya. Mereka semua tiba di sana dan masing-masing langsung turun dari mobil sedangkan Rhayi memilih membawa mobil sendiri agar tidak repot jika ke arah pulang nya.
Si kembar sudah berada di gendongan sang papa.
Polisi pun menyambut mereka dengan ramah, lalu menanyakan tujuan mereka ke sini. Setelah itu Rhaka segera menjelaskan nya karena ia sudah di jelaskan pada sang istri saat ingin menuju ke sini.
Tidak ada yang bisa menebak raut muka Rhaka, karena ia begitu tenang seolah tak ada yang terjadi. Tapi lain hal dengan sang istri ia begitu sangat marah dan ingin laporan kasus nya di urus sekarang juga.
Mau tak mau para polisi langsung segera mendatangi tempat kejadian lalu mengurus nya sedangkan Rhaka, Rara dan Rhayi juga si kembar pulang menuju ke arah kediaman Lizama, sekalipun sebenar nya Rhayi sudah mempunyai rumah sendiri namun ia lebih sering pulang ke arah tempat masa kecil nya.
Saat sudah sampai pun mereka semua nya langsung masuk ke dalam rumah dan si kembar pun berlarian mencari keberadaan sang kakek.
"Kakek" teriak si kembar ketika melihat Rusdian berada di ruang keluarga sedang menonton berita di tv sambil membaca berkas laporan yang berada di meja nya.
...****************...
__ADS_1
Di rumah sakit P, Vidya pun sudah di ijinkan pulang hari ini namun ia masih harus menunggu dokter yang bertugas untuk memeriksa kaki nya kembali.
"Non Dy, mau makan dulu tidak?" tanya bi Yati saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 siang yang arti nya saat nya Vidya meminum obat nya kembali.
"Nanti saja bi, lagian kan kaki aku sudah sembuh juga" Vidya tak mau meminum obat nya karena ia tak suka dengan obat yang berbentuk kapsul begitu. Bagi nya itu sangat besar dan susah untuk ia telan.
"Tapi kan, sebelum kaki non Dy benar-benar sembuh total obat nya harus di konsumsi setiap hari" ucap bi Yati yang teringat pesan dokter kemarin.
"Biar bibi ambilkan makanan ya" bi Yati mengambil makanan di meja yang sudah di sediakan oleh suster jaga.
"Ayo makan, sini biar bibi suapkan" bi Yati sudah memangku piring dan menyodorkan sendok ke depan mulut Vidya karena saat seperti ini nona muda nya akan berubah menjadi seperti anak kecil lagi yang harus di bujuk.
"Biar Dy makan sendiri saja bi, lebih baik bibi berkemas agar setelah dokter nya datang kita bisa langsung pulang" Vidya meminta piring yang berada di tangan bi Yati.
Bi Yati pun langsung menuruti dan menyerahkan piring yang berisi makanan ke tangan Vidya. Lalu Vidya pun memakan nya walau terpaksa karena tau sendiri lah, makanan rumah sakit itu rasa nya hambar.
Dan tak lama kemudian dokter pun datang, tapi selama Vidya di rawat di rumah sakit tak ada satu pun keluarga nya yang menunggui nya apalagi menjaga nya selain bi Yati seorang karena di rumah semua tugas bi Yati di handle oleh bi Yuna.
"Gimana pak dokter, saya sudah boleh pulang kan?" tanya Vidya dengan semangat.
"Maaf ya Vidya belum boleh pulang, kemungkinan baru besok pagi" ucap dokter beritahu.
"Tapi kan, kata suster hari ini sudah boleh pulang" Vidya pun jadi cemberut karena entah kenapa ia sangat tidak betah berada di tempat seperti rumah sakit ini.
Kalau pun sakit, ia lebih baik di rawat di rumah walaupun dengan fasilitas seada nya namun itu membuat nya merasa nyaman.
"Yasudah kalau gitu jangan lupa minum obat ya Vidya, besok saya kembali lagi ke sini" dokter pun bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan Vidya sembari membereskan alat nya ke dalam kotak.
__ADS_1
"Selamat istirahat Vidya" dokter tersebut berucap sangat ramah, setelah itu segera keluar dari ruangan Vidya.
Setelah dokter tak terlihat lagi Vidya belum merubah raut wajah nya juga hingga membuat bi Yati ingin mencubit pipi nya itu.
"Non Dy, muka nya jangan di tekuk gitu dong. Kan besok itu gak lama" ucap bi Yati berusaha mengembalikan senyum nona muda nya.
"Tapi bi, sehari di rumah sakit saja rasa nya begitu sangat lama sekali" keluh Vidya.
"Bagaimana aku bisa menunggu hingga hari esok bi" Vidya pun merebahkan tubuh nya sembari menutup tubuh nya menggunakan selimut.
"Non, obat nya di minum dulu ya" bi Yati pun teringat dengan obat Vidya yang seperti nya sengaja tak mau di minum.
"Non Dy ayo bangun dulu sebentar saja, setelah itu bisa lanjutkan tidur nya lagi" bi Yati pun menggoyangkan lengan sang nona muda karena bi Yati tau kalau Vidya belum lah tidur sebenar nya.
"Bi, bisa tidak minum obat nya tunggu pagi juga" Vidya kekeh tak mau minum obat.
"Nanti kalau kita sudah boleh pulang aku akan minum semua obat nya kok" lanjut Vidya kembali menarik selimut nya sebelum nya ia telah membuka nya hanya sekedar berbicara dengan sang bibi.
"Gak bisa gitu non, obat ini harus segera di minum agar kaki non Dy lekas membaik. Mau cepat pulang kan? " bi Yati membujuk Vidya sembari bertanya.
"Nanti kalau non Dy minum obat nya sekarang, bibi belikan makanan di luar bagaimana" ucap bi Yati memberi usulan.
Vidya yang mendengar nya segera saja kembali membuka selimut nya dan segera duduk di hadapan bi Yati.
"Mana bi obat nya, siniin biar aku minum" ucap Vidya meminta nya.
Bi Yati pun menyodorkan beberapa kapsul obat lalu Vidya menenggak nya sekali saja dan setelah itu bi Yati menyerahkan air putih yang ada di nakas ke arah Vidya.
__ADS_1