
Tentu saja Jendra pun langsung menyambut nya tanpa berlama-lama Niyah pun membuka mulut nya seolah memberikan akses untuk Jendra agar lebih mudah menjelajah.
Jendra dan Niyah pun saling melepas rindu seperti sudah tak bertemu lama sekali hingga mereka menempel seperti perangko yang begitu amat sangat menyatu.
"Beb, please jangan tinggalkan jejak okay" Niyah berucap dengan nafas yang mulai tak beraturan karena Jendra sekarang sedang asik bermain pada leher nya bahkan ke telinga entah ia sedang apa hingga betah berlama-lama seperti itu.
Mereka berdua cukup lama bermain dengan posisi duduk manis seperti itu hingga kurang lebih sekitar satu jam baru mereka menyudahi nya namun seakan belum puas Jendra pun masih setia memeluk tubuh Niyah dalam keadaan seperti itu yang mana baju Niyah sudah tak tentu arah bentuk nya dan sudah tak selicin saat ia berangkat tadi termasuk pula untuk rambut nya yang sudah acak-acakan seperti tak pernah di sisir.
Berbeda hal nya dengan Jendra yang masih lengkap berpakaian hanya bagian celana nya saja yang terbuka sedikit dan senjata tempur yang masih setia berdiam diri pada tempat nya yang di rasa begitu hangat saat hujan seperti ini.
Saat tangan Jendra mulai jahil kembali, Niyah pun segera menangkap nya dengan tangan sebelah nya yang terjuntai bebas karena hanya tangan kanan nya yang masih setia memeluk leher sang pacar brondong nya itu.
"Beb, stop ahh,, " cegah Niyah pada tangan Jendra yang tak bisa di kondisikan itu dan tentu saja tak kuasa ia menahan suara laknat itu.
"Aku lelah beb" lagi Niyah berbicara sangat manja pada nya.
"Biarkan seperti ini dulu,aku ingin istirahat sejenak"
"Baiklah aku tak akan mengganggu, mau pindah ke tempat tidur kita atau seperti ini saja" Jendra memberi pilihan pada Niyah padahal ia belum puas untuk kali ini namun seperti nya ia harus mengalah.
"Seperti ini saja dulu, aku sangat nyaman dengan aroma tubuhmu ini sangat membuat aku mabuk kepayang. Kamu tak boleh mencari partner lain ya ketika di atas ranjang" Niyah pun meracau tak jelas karena berada di batas kesadaran nya untuk terlelap tidur.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian dengkuran halus pun mulai terdengar dari bibir nya yang memakai gincu merah menyala itu dan Jendra pun masih setia memangku nya namun ia pun menjangkau hp dari saku nya itu untuk menghubungi sang kekasih hati di sana yang entah sedang apa. Ingin ia melakukan panggilan video call namun tak mungkin karena ia sekarang ada Niyah di pangkuan nya dan sedang tertidur begitu pulas nya.
"Sayang sudah makan?" tanya Jendra pada pesan chat yang ia kirim untuk kekasih hati nya di kota lain itu.
Namun seperti nya tak ada tanda-tanda kalau pesan sudah di baca hingga ia mencoba mengirimkan pesan chat kembali.
"Sayang kamu lagi apa?" lagi Jendra mengirimkan pesan chat pada kekasih hati nya berharap kali ini akan segera di balas.
Namun seperti nya Niyah terganggu dengan pergerakan Jendra hingga ia pun mulai menggeliatkan tubuh nya dan membuka mata nya.
"Beb kamu ngapain sih?" tanya Niyah karena Jendra langsung saja menyimpan hp nya kembali pada saku celana nya.
"Ini aku tadi habis berkabar dengan orang tua di kampung Love" dengan mudah nya Jendra menjawab dan Niyah langsung percaya saja.
"Aku sudah tidak ngantuk beb" Niyah begitu manja pada pacar brondong nya itu.
"Tapi aku ingin seperti ini saja" lagi Niyah pun mengucapkan keinginan nya. Sedangkan ketika Niyah sudah membuka mata Jendra pun akan bersikap romantis pada nya agar tante yang satu ini tak bisa lepas dari jerat diri nya.
"Yasudah tidak apa" ucap Jendra membelai rambut Niyah yang berwarna merah itu kemudian ia mencium bibir Niyah sekilas hanya menempel saja karena g*ir*h nya sudah lenyap begitu saja saat di tinggal tidur oleh Niyah tadi.
Setelah sekitar 30 menit kemudian, Jendra pun langsung menggendong tubuh Niyah yang masih terkulai lemas berada pada pangkuan nya, ia pindahkan ke arah ranjang tempat tidur mereka.
__ADS_1
Kini Niyah dan Jendra pun sibuk mengatur nafas mereka masing-masing setelah saat mereka sempatkan untuk berc*mb* sembari saling berpelukan mencari ke hangatan di atas ranjang tersebut karena cuaca di luar seperti nya sedang hujan.
Tentu saja itu dapat di lihat saat menengok ke arah jendela kamar mereka yang mana saat menoleh ke samping langsung di suguhkan jendela yang menghadap ke arah taman hotel yang terlihat begitu remang dengan lampu kerlap-kerlip yang menghiasi.
Makin deras nya hujan yang turun makin lengket pula mereka berpelukan, Niyah pun abai saat di rasa hp nya menerima notif pesan seperti nya yang entah dari siapa itu.
"Beb, kiss me" ucap Niyah saat melihat ke wajah Jendra yang bercahaya karena terkena lampu kamar mereka.
Dan tentu saja Jendra pun langsung menuruti nya namun itu hanya sebatas di kening saja sebagai tanda selamat malam, namun Niyah pun menjadi manyun karena ia menginginkan yang lain.
"Beb" rengek Niyah dengan nada manja nya yang tak pernah ketinggalan itu seolah menegaskan kalau ia masih menginginkan lebih karena tenaga nya sudah kembali saat ia sempatkan tidur di pangkuan Jendra.
Namun Jendra pun seolah tak melihat nya dan ia justru lebih fokus menatap atap kamar yang mereka tempati saat ini.
Niyah yang paham pun langsung menanyakan nya, " Beb, are you okay?" tanya Niyah sembari tangan nya membelai pipi Jendra yang terasa dingin.
"I am not okay Love" sahut Jendra menjawab pertanyaan Niyah.
"Why?" lagi Niyah bertanya, namun seperti nya Jendra tak minat untuk menjawab kembali hingga keheningan yang tercipta di antara mereka berdua.
Jendra pun memperhatikan wajah Niyah dalam diam sedangkan yang di perhatikan seperti nya sudah mulai fokus nya entah hilang kemana karena mata nya mulai tertutup kembali.
__ADS_1
Lama-lama dalam keheningan seperti itu membuat Niyah memejamkan mata nya dengan posisi ia rapatkan pada tubuh Jendra untuk mencari kehangatan, karena cuaca di luar berangin juga hujan yang tak berhenti terus menerus seolah membujuk kedua pasangan itu untuk memejamkan mata mereka dengan rapat dan seolah seperti tak perlu memikirkan hal yang membuat pusing begitu cuaca malam ini yang menemani pertemuan mereka untuk kesekian kali nya.