
"Tapi sus jodoh tidak ada yang tahu dan tak memandang kasta juga perbedaan" ucap suster Lala bijak.
"Mungkin saya tak seberani itu sus, tapi akan saya coba ketika kesempatan itu datang". Suster Lala yang mendengar nya pun ikut senang.
" Semangat sus, saya pasti akan mendukung kok. Jika butuh bantuan datang saja ke tempat saya" ujar suster Lala.
Setelah itu mereka berdua pun keluar dari ruang perawatan pasien, tentu saja setelah memasang infus dan mengecek keadaan pasien tersebut.
"Sus saya duluan ya" pamit suster Lala karena shift nya sudah habis jadi saat nya ia pulang.
"Baiklah hati-hati di jalan sus" ujar suster Yaya.
"Bi, semua sudah siap kan?" tanya Niyah tiba-tiba saat mereka bertiga sedang sibuk memasak.
"Astaghfirullah nyonya ngagetin aja" ucap bi Yuna spontan, karena daripada bi Yati ia lebih mudah terkejut.
__ADS_1
"Aman Nya, semua sudah siap tinggal kita hidangkan saja. Emang siapa sih Nya tamu yang kayak nya di tunggu-tunggu sekali" bi Yati pun mulai kepo karena setahu ia tuan nya sedang keluar kota. Sedangkan untuk nona Lidya tak tahu kapan ia akan pulang padahal sekarang sudah masuk waktu magrib.
"Kamu itu di sini hanya pembantu yang saya gaji, jadi gak usah nanya-nanya ke saya deh" bentak Niyah pada bi Yati, untuk Vidya yang mendengar nya pun segera saja menghampiri keributan tersebut.
"Bu kapan datang?" tanya Vidya pada Niyah. Namun bukan nya di jawab justru Niyah meninggalkan dapur begitu saja setelah sebelum nya hp nya itu berdering, entah ia bertelepon dengan siapa yang pasti seperti nya takut sekali kalau sampai ada yang mendengar nya.
...****************...
Rhayi pun sudah sampai di tempat abang nya. "Pak bukain gerbang nya ya" pinta Rhayi saat sampai depan rumah.
"Rheana... Rhyana... uncle datang nih, ayo kita main" teriak Rhayi saat di depan pintu dan ia langsung saja masuk mencari keberadaan kedua krucil.
Namun seperti nya rumah tengah kosong, "Kemana bang Rhaka sama mba Rhara?" tanya Rhayi berpikir seorang diri.
Rhayi pun langsung saja ke atas menuju arah kamar krucil tapi tak jua mendengar suara keponakan nya itu.
__ADS_1
"Kenapa pula bang Rhaka gak bisa di telepon" gumam nya ketika ia menempelkan benda pipih tersebut di telinga nya namun yang terdengar hanya suara operator saja itu pun berulang hingga beberapa kali.
"Percuma gue ke sini" gerutu nya menuruni tangga dan menuju dapur karena tiba-tiba ia merasa haus.
Saat sampai dapur ia bertemu dengan salah satu art di rumah tersebut "Mbok liat bang Rhaka gak?" tanya Rhayi pada si mbok.
"Tadi mereka bilang mau ke puncak den, emang den Rhayi gak di kasih tahu toh" ujar si mbok memberitahu.
"Tapi mereka bilang sudah ijin sama tuan besar" lanjut mbok.
"Makasih mbok" ujar Rhayi yang langsung berbalik.
"Loh den gak jadi minum toh" si mbok pun bingung karena adik tuan nya itu keluar namun masih membawa gelas kosong.
"Gak mbok, hilang sudah haus nya" ujar Rhayi melanjutkan langkah nya.
__ADS_1
"Den... tapi itu gelas mau di bawa kemana?" si mbok sebenar nya agak ragu untuk bertanya.