GADIS TENGIL MILIK CEO

GADIS TENGIL MILIK CEO
Rumah sakit 2


__ADS_3

" Dok , ayolah Lala sudah tidak apa-apa, coba lihat ini ". Ucap Lala pada Bima sembari meloncat ke sana kemari namun tiba-tiba Lala memegangi perutnya lagi.


" Kenapa? apa masih terasa sakit? ".


" Sedikit , tapi Lala baik-baik saja ". Ucapnya enteng.


" Ayolah dok , Lala janji tidak mengulanginya lagi, Lala tidak mau lagi jika harus tidur di ranjang ini ". Ucap Lala lagi dengan memohon sembari menunjuk ke arah ranjang kosong milik nya.


Bima menengok ke arah Daniel , Daniel hanya mengangguk paksa sudah pusing di buat nya.


Huufff,,


" Iya baiklah saya akan mengizinkan mu untuk pulang , tapi ingat obat mu harus di minum rutin". Ucap Bima dengan sedikit tidak rela.


" Okk ". Ucap Lala meyakinkan.


" Nil, aku kasih resep , kamu bisa ambil di apotik , ingat jangan sampai dia memakan yang terlalu pedas , itu akan sangat berbahaya nantinya dan usahakan untuk beberapa hari ini biarkan dia istirahat dulu jangan terlalu stres karena sangat berpengaruh untung lambungnya ". Pesan Bima pada Daniel.


" Hemmmm" . Jawab Daniel lalu menerima secarik kertas yang di sodorkan Bima.


" Bagaimana jika Tante Anna tahu anaknya sekarang lebih tertarik dengan gadis kecil dari pada wanita matang dengan tubuh yang s*** ". Bisik Bima sembari matanya melirik ke atas Lala.


Lala yang menjadi pusat perhatian hanya menatap keheranan dua laki-laki yang sedang berbisik .


" Sudah ku bilang , semakin kamu banyak bertanya , semakin cepat juga peluang mu untuk angkat kaki dari rumah sakit ini ". Ucap Daniel sedikit menekan.


" Ahahaaa, tidak tidak, aku hanya bercanda ". Ujar Bima sembari menarik turunkan alisnya.


Bima berjalan keluar ruang perawatan itu.


Daniel pun melangkah mendekat ke arah Lala.


"Benar mau pulang?". Tanyanya sekali lagi.


" Saya tidak bertanggung jawab lagi ya jika ada apa-apa dengan mu".


" He'em pak". Ucap Lala mengangguk setuju.


Mereka berjalan keluar menuju apotik yang di maksud oleh Bima.


Duduk lah mereka di ruang tunggu sembari namanya di panggil.


" Pak ". Panggil Lala takut.


" Hemmm". Jawab Daniel sembari tangannya mengutak-atik layar ponselnya. Berbalas pesan dengan kerabatnya mungkin atau saling berbagi informasi mengenai pekerjaan atau juga hanya sekedar menghilangkan jenuh karena antrian cukup panjang.


" Eemmmm, itu pa". Ucap Lala ragu-ragu.


" Apa?".


" Itu makanan Lala tadi gimana?" . Tanya Lala malu-malu.

__ADS_1


Daniel mengernyitkan alisnya heran, mengapa masih memikirkan makanan yang sudah membuatnya sakit .


" Apa kau masih lapar?". Tanya Daniel.


" Bukan begitu pak ". Ucapnya lagi sembari menundukkan kepalanya.


" Lalu !".


" Sayang pak kalau di buang , kita tidak boleh membuang-buang makanan bukan, banyak orang di luar sana yang masih kekurangan makanan, kita harus bersyukur masih bisa bekerja dan membeli ini dan itu pak ". Ucap Lala .


Daniel terdiam sesaat , tertegun dengan penuturan Lala Daniel kira Lala masih lapar tapi dia salah sangka , justru ia malah mikirnya bagaimana kita harus bersyukur.


" Iya maaf, saya tadi terlanjur panik melihat mu kesakitan".


" Iya pak . Terus !". Lala menggantung kan kata-katanya .


" Terus?".Tanya Daniel mengulang pertanyaan Lala.


" Sayur dan bahan makanan yang lain gimana pak". Ucap Lala sembari menangis .


Huuaaaaa....


Sontak mereka berdua menjadi pusat perhatian para ibu-ibu yang sedang menunggu antri. Nampak mereka saling berbisik .


" Sssttttttttt". Ucap Daniel sembari membungkam mulut Lala.


" Apa kamu tidak melihat hah. Lihat para ibu-ibu di sana mereka kira saya sedang menganiaya kamu". Ucap Daniel lirih tepat di sebelah telinga Lala. Bahkan hembusan nafas Daniel pun terasa begitu dekat.


Hanya karena takut sayur dan juga bahan makanan yang mereka tinggal menjadi rusak sampai menangis membuat heboh.


" Mmaaff pak". Ucap Lala merasa bersalah


" Kau ini cengeng sekali". Ucap Daniel dengan ketus .


Hhuuuaaaa....


Lala menangis kembali dengan sedikit kencang .


" Pak , adik nya jangan di kasarin dong kasian tahu . Anda sebagai kakak harus menjaga nya , bagaimana kalau ibunya tahu, sudah habis bapak ". Ucap ibu-ibu dengan perut buncil geram.


Hhuuffff .


Daniel menghela nafasnya dengan sesikit tertahan.


" Iya Bu, maaf". Ucap Daniel sembari menahan kesal.


Daniel melirik tajam ke arah Lala . Air mata Lala hampir terjatuh kembali, buru-buru Daniel membungkam mulut kecil Lala agar tidak berteriak lagi.


" uuuuuuu". Ucap Lala dengan susah.


" Diam tidak ". Ucap Daniel dengan dingin.

__ADS_1


Lala langsung bungkam tutup mulut saat mendengar perintah Daniel.


" Ya , terdengar menakutkan ". Ucap Lala dalam diam.


Nona Claudia Ayunda.


Seru apoteker menggunakan mikrofon dengan suara lembut.


Daniel pun beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah mendekat ke arah sumber suara.


" Pak , ini obatnya di minum rutin tiga kali sehari sebelum makan, dan yang ini sesudah makan , jika dalam tiga hari masih terasa sakit , mohon segera kembali ". Ucap sang apoteker.


" Terima kasih " Ucap Daniel lalu mengandalkan kepalanya .


Daniel kembali dengan membara sekantong plastik berisi obat-obatan yang harus di mnum Lala.


" Ini , diminum tiga kali sehari s belum makan , dan yang ini sesudah makan tiga kali sehari juga". Ucap Daniel menirukan anjuran sang apoteker.


" Ingat, jaga pola makan , jangan menyusahkan orang lain". Ujar Daniel dengan dingin.


Lala pun hanya tertunduk lesu .


" Pak". Panggil Lala.


'' Hemm, ada apa lagi, apa kau masih kurang faham ? ". Tanya Daniel.


" Tidak pak, tidak jadi ". Ucap Lala.


" Kenapa" . tanya Daniel sedikit heran.


" Bapak jangan suka marah-marah , nanti cepat tua". Ucap Lala lalu berlari dengan cepat namun masih kalah letak untuk ukuran kaki Daniel .


" Apa kata mu , saya tua?". Tanya Daniel sembari tangannya menarik ke atas Hoodie yang Lala kenakan.


" Dasar gadis tengil, berani sekali mengatakan saya tua". Ucap Daniel masih dengan posisi yang sama.


" Ampun pak". Ucap Lala memohon.


" Jangan marah-marah pak , taarik nafas hembuskan ". Ucap Lala sembari mempraktekkan.


Daniel melepaskan tangannya lalu menatap kesal pada Lala.


" Huuff, dasar pak tua ngambekan . Udah kaku, dingin ,ngambekan pula, kurang piknik kayanya tuh bapak". Ujar Lala pelan nyaris tidak terdengar .


________


Salam sayang buat teman Mama kecil ❤️


Jangan lupa like dan komentarnya ya.


Salam sayang 💌 semoga harimu menyenangkan 🥰.

__ADS_1


__ADS_2