
Hari berlalu cepat , Allena Lala dan juga Nanda sedang menikmati makan siangnya, hari ini Daniel sedang pergi keluar kota ,jadi kesempatan bagus untuk mereka menghabiskan waktunya, Alex yang sibuk menggarap semua pekerjaan nya dengan laptop yang terus di tatapnya, layar monitor berganti gambar , menampilkan tulisan kecil di dalamnya .
Semua laporan email yang harus ia baca dan sesekali bertukar informasi melalui sambungan ponsel juga telepon yang siap untuk di jawab . Seperti biasa saat Daniel sedang pergi Alex lah yang akan mengambil alis semua tugas kantor begitu juga sebaliknya . Kerja sama yang baik , komunikasi yang lancar , dan tentunya kini hanya kisah percintaan lah yang belum berpihak adil.
Para gadis cantik sedang menikmati acara makan siang sembari bergosip , bukan di restauran mewah , hanya di pinggiran jalan , di bawah pohon rindang , tidak jauh dari taman yang sempat beberapa kali Lala datangi.
" Gimana rencana Lo la". Tanya Nanda mengalihkan pembicaraan .
" Gue udah cerita sedikit sama Ibu , cuma kalau ayah , biarin saja , biar dia yang menyelesaikan". Ucap Lala enteng sembari menaik turunkan alisnya lalu menatap Allena dengan senyum jahil.
" Gue setuju , bagaimana pun , pria harus punya tantangan untuk mendapatkan gadis nya " . Seru Allena lalu mereka tertawa bersama.
Mereka kembali menyuapkan sendok ke mulut masing-masing , 1 bakso kecil terakhir masuk lalu di kunyah dengan lahap oleh Lala. Belum sempat menelan dari samping , tiba-tiba rambutnya di tarik kuat seketika tubuhnya terhuyung ke belakang. Mata nya terbelalak sembari menjerit kaget .
" Aaa, sakit". Teriak Lala lalu memegangi rambut yang masih di cengkraman kuat .
Allena dan Nanda langsung berdiri , membantu sahabatnya yang mendapat serangan dadakan.
" Woyy, Lo gila ya ". Teriak Allena kencang .
" Gue engga punya urusan sama Lo ". Ucapnya sinis lalu menatap tajam ke arah Lala.
__ADS_1
" Mba Sinta , lepasin mba, sakit rambut Lala ". Ucap Lala masih bersabar.
" Enak aja Lo , Lo udah bikin gue susah kaya gini , terus Lo minta di lepasin , cih enak aja". Teriak nyaring Sinta dengan garang .
Lala memutar tubuhnya , lengannya di cekal kuat agar pegangannya tidak lepas sedangkan satu tangan kirinya memegang erat rambut agar tidak tertarik terlalu kuat, lalu Lala memutar lengan Sinta , di tendangnya kaki Lala tepat mengenai tulang kering milik Sinta . Sontak sikap anarkis Lala membuat Allena dan pedagang bakso tercengang, lain hal dengan Nanda yang sudah hafal dengan perilaku Lala , dia tidak akan melukai jika tidak di celakai.
" Nda , ini beneran Lala?". Pertanyaan pertama lolos dari mulut Allena dengan mata yang terus memandang takjub ke arah Lala.
" Lo ga usah khawatir , dia jagoan kok". Ucap Nanda lalu menepuk pundak Allena pelan , Allena hanya mengangguk dengan menelan ludahnya sedikit susah .
Lala masih berusaha mempertahankan diri, begitu sinta terjatuh , di tariknya kedua tangan si ya ke belakang , di kunci dengan tas selempang yang ia letakkan di atas meja. Di ikat sedia tangan menggunakan tas kecil miliknya .
" Lepasin gue brengsek". Teriak sinta sembari memberontak.
" Enak aja, Lo kira pala gue engga sakit apa , jangan kira Lo lebih tua terus gue engga berani ya, inget Lo di keluarin dari tu perusahaan ya karena sikap arogan Lo, Lo kalau mau nyari duit banyak itu ya kerja bukan korupsi". Ucap Lala geram .
" Kantor mana yang mau mempekerjakan orang yang suka ambil uang'a orang lain . Inget , gue engga mau lagi Lo brutal kaya gini , kalau Lo berani , bukan cuma rambut Lo yang copot , tulang Lo bakal gue patahin ! Inget itu". Ucap Lala lalu mel pas genggamannya dan membuka ikatan di tangannya.
Lala berjalan mendekat ke arah sahabatnya , masih dengan wajah tak percaya , Allena memandang Sinta dengan iba.
" Bang ,ini uang nya ,maksih ya". Ucapnya sembari meletakkan uang biru di atas meja.
__ADS_1
" Iiya neng ,maksih ya". Ucap Abang tukang bakso terbata.
" Yok ". Ucap Lala , lalu mereka pergi meninggalkan tempat.
Di dalam mobil , Allena masih sedikit syok dengan kebrutalan calon kakak iparnya.
" La , Lo engga kerasukan setan kan , tapi Lo keren banget , sumpah ?" . Tanya Allena masih tidak percaya.
" Ya kali gue di tindas terus gue diem aja, ya ga Ndut". Serunya pada Nanda yang diam.
" Hemm, Lo ga tau aja Len , gimana Lala dulu , behhh, reman dia". Ucap Nanda dengan bangga , pasalnya tidak ada perempuan sebandel dia kecuali Lala . Tapi seimbang dengan nilai-nilai yang baik .
Walaupun sikap Lala yang sedikit pecicilan namun otaknya sangat pintar , bahkan guru pun bingung harus memberi hukuman .
Di sisi lain dia sangat susah di atur , di sisi lain juga dia cukup berprestasi. Bahkan dalam beladiri , sabuk hitam pun dia sudah mendapatkan nya .
>>>>>>>>>
Haii, happy reading everyone 😘
Salam sayang 💌 semoga harimu menyenangkan 🥰
__ADS_1