
Nampak Daniel sedikit posesif untuk memilih makanan Lala , hampir semua yang di tawarkan Mommy nya di tolak dengan berbagai alasan . Anna tidak marah sama sekali.
Justru terkagum dengan perubah pada anaknya , pria angkuh dengan ketidak pedulian nya sekarang begitu menjaga gadis kecil dengan caranya sendiri.
" Daniel , kalau ini itu tidak boleh , aku harus makan apa ,kasihan Tante Anna sudah menyiapkan semua nya". Sungut Lala dengan tindakan Daniel yang menurut nya sedikit berlebihan .
" Kau tidak ingat dulu kamu sampai masuk rumah sakit hanya karena kau memakan yang tidak bisa di terima oleh lambung mu?". Ucap Daniel dengan menekan kata rumah sakit.
Alex duduk dengan menikmati makanannya , tersenyum kecil mengasihani nasibnya sendiri .
" Apa begini rasanya menjadi obat nyamuk di antara mereka yang punya pasangan''. Ucapnya lalu menggeleng kecil.
Lala terdiam membenarkan ucapan Daniel , pasalnya semua makanan yang di depannya nampak menggiurkan , namun harus merelakan lidahnya untuk tidak merasa kan rasa nikmat ikan bakar dengan sambal goreng di atasnya.
Makan malam berjalan dengan lancar dengan sedikit candaan di dalamnya , sikap Lala yang terbuka semakin menambah suasana semakin hangat , sesekali Daniel tersenyum kecil melihat tingkah gadisnya yang sangat ceria.
" Ternyata cerita novel tentang calon ibu mertua yang mengerikan hanya omong kosong, buktinya , Tante Anna sangatlah baik , dan om David sangatlah bijaksana ". Ucap Lala dalam hati sembari mengunyah makana di piring nya.
Anna yang melihat bagaimana putranya begitu perhatian dengan gadis di sampingnya sangat bahagia . Di perhatikan bagaimana raut wajah bahagia di balik sikap dinginnya , walaupun belum begitu banyak bicara , setidaknya Daniel sudah membuka hati dari masa lalunya.
" Jadi , kapan rencana kalian akan menikah ?". Tanya Mommy Anna tiba-tiba.
Uuhhukk uuhhuukk.
Sontak Lala tersedak dengan ucapan Tante Anna , bergegas Daniel menyodorkan gelas dengan air dingin. Di teguk nya air pemberian Daniel , begitu dirasa cukup Lala meletakkan nya secara perlahan. Raut wajah Anna sedikit panik melihat wajah gadis kecil putranya nampak memerah. Daniel dengan rasa khawatirnya lalu menepuk punggung Lala dengan hati-hati .
" Kamu tidak apa-apa?". Tanya Daniel memastikan .
__ADS_1
" Ah , iya , tidak apa-apa kok, tadi hanya sedikit terkejut saja". Ucap Lala sembari memamerkan deretan gigi putihnya.
Daniel menatap tajam ke arah Mommy , melihat bagaimana kondisi di atas meja makan Lala berinisiatif menyenggol lengan Daniel seolah memberi kode aku tidak apa-apa.
Dengan wajah tidak bersalah Anna yang mendapat tatapan dari putranya tersenyum kaku.
" Mommy kan hanya bertanya , apa itu salah". Ucap Anna dengan nada di buat sebiasa mungkin.
" Sudah-sudah , jangan dengarkan ucapan Mommy mu , kita lanjutkan saja dulu makanannya , nanti kita bisa bahas setelah ini". Ucap David menengahi .
Makan malam telah selesai , seluruh anggota keluarga termasuk Lala duduk di ruang keluarga , dengan sofa empuk memanjang , dua buah sofa hanya untuk satu orang terdapat di sisi kiri dan kanan , di depannya televisi dengan ukuran besar menghiasi dinding . Foto keluarga nampak terpajang besar menampakkan seluruh anggota keluarga.
Pakaian formal terlihat sangat jelas seperti apa derajat keluarga Mahessa.
Lala menciut saat matanya melihat bagaimana foto mereka sedang berjabat tangan dengan para pemegang jabatan dunia.
" Jangan pikirkan macam-macam , aku memilih mu bukan dai mana asal mu". Ucap Daniel sedikit mengagetkan Lala karena tertangkap basah sedang memikirkan ke arah sana.
" Kau sedang membicarakan ku".
" ehehee, engga kok, mana berani aku membicarakan mu". Ucap Lala tergagap dengan wajah yang panik.
Begitu semua sudah duduk di posisi masing-masing , David selau kepala rumah tangga membuka suara.
" Nak Lala bagaimana , apa Daniel memaksa mu untuk kemari".
" Tidak om , tidak ada paksaan dari Daniel sama sekali kok". Ucap Lala sembari tersenyum.
__ADS_1
" Baguslah jika begitu, Daniel memang sedikit dingin , tapi dia sangat lah penyayang , bisa kamu lihat bagaimana sikap nya kepada mu". Ucap David sedikit berbasa-basi.
" Iya om". Ucap Lala tersenyum kaku.
Obrolan ringan dengan tawa dari seluruh keluarga saat bagaimana Lala berterus terang mengenai kedekatan mereka, bagaimana sikap Daniel dan nampaknya mereka sangat setuju dengan pilihan Daniel sendiri jadi mereka tidak perlu repot harus menjodohkan dengan anak sahabatnya yang pasti akan di tolak dengan alasan ini dan itu.
" Kamu istirahat lah dulu di kamar tamu , ada yang harus aku bahas dengan Daddy juga Alex , jika sudah selesai aku akan memberi tahu". Ucap Daniel sembari melangkah menuju kamar tamu untuk Lala, takut terlalu lama jika harus menunggu di ruang tamu.
Sedangkan Mommy nya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar .
" Iya , jika aku tertidur bagaimana?". Tanya Lala dengan polos .
Pintu di buka Daniel tersenyum manis sembari mengusap sayang pipi Lala.
" Manis sekali jika kamu sedang tersenyum". Ucap Lala dalam hati dengan senyum kecil di wajahnya.
" Kau mengagumi ku lagi , aku tahu , aku memang manis ". Ucap Daniel enteng.
" Ih , pede sekali jadi orang". Tukas Lala sembari menutupi kegugupannya.
" Terlihat dari raut wajah mu ".
Bluss .
Wajah Lala merona dengan ucap Daniel yang seperti cenayang.
Cup.
__ADS_1
Daniel mengecup bibir mungilnya dengan cepat.
" Tidur lah jika lelah , nanti aku bangunkan jika sudah selesai". Ucap Daniel cepat dengan senyum di bibirnya , lalu menutup pintu kamar tanpa menunggu jawaban Lala yang sedang mematung.