
Andre berlalu meninggalkan mall XxX di mana pertemuan singkat yang tidak di sengaja semakin menambah rasa penasarannya terhadap sosok gadis kecil yang dulu pernah menolaknya mentah-mentah.
Senyum licik terukir di wajah Andre , kemeja dengan satu kancing ia lepas , di pukul keras setir mobil miliknya.
" Selera yang bagus". Ucap Andre sembari memegangi bibirnya. Wajah takut Lala masih teringat jelas di ingatannya , pikiran nakal mulai menguasai otaknya.
" Lihat saja , aku akan mendapatkan mu. Claudia Ayunda". Ujar Andre lalu pergi meninggalkan kawasan mall XxX.
________
Masih dengan menggandeng tangan Lala Daniel berjalan sedikit terburu-buru, langkahnya yang lebar membuat Lala sulit untuk mengimbangi.
" Pak". Ucap Lala lalu melepas genggaman tangan Daniel.
" Jalannya jangan sambil lari ". Ucap Lala merajuk.
" Kaki mu saja yang pendek ". Daniel tidak kalah kesal.
Lala mencibir tanpa suara , lagi , gerakan mulutnya Mempu membuat Daniel gemas.
Di tariknya bibir monyong Lala agar pemiliknya tidak mengumpat nya lebih lama.
Lala hanya mampu memberontak , tangannya menepuk-nepuk tangan Daniel agar terlepas dari bibirnya.
Diusapnya pelan dengan mata yang sedikit berkaca.
" Bapak senang sekali menarik bibir saya , apa salah saya ?". Ucapnya sembari menahan tangis.
Merasa salah Daniel segera mendekat lalu memeluk erat tubuh Lala.
" Maaf , saya terlalu kasar".
Lala diam tak bergeming , bingung , ya bagaimana tidak bingung sikap Daniel yang bisa berubah sewaktu-waktu membuatnya semakin heran . Kadang terlihat menggemaskan kadang terlihat posesif kadang juga terlihat sangat agresif.
Daniel membawa Lala kembali menuju tempat dimana Alex menunggu , tampak Alex telah selesai dengan pembayaran . Ditariknya kursi aga Lala duduk di sana.
" La , tangan mu kenapa?". Ucap Alex kaget melihat bekas merah di pergelangan.
" Tidak apa-apa pak , hanya kecelakaan kecil". Ucapnya sembari menahan nyeri.
__ADS_1
Daniel memberi kode dengan tatap mata , seolah mengerti ucapan Daniel Alex bergegas pergi meninggalkan mereka. Di tariknya tangan Lala yang memerah sembari di usap lembut oleh Daniel.
Deg deg deg deg.
Jantung Lala berdetak tak karuan , entah perasaan kagum , atau sekedar merasa canggung yang bersatu dalam dirinya.
Otaknya berperan dengan batinnya , seolah mereka saling berbeda pendapat.
" Kau mengenal dia". Tanya Daniel di sela lamunan Lala.
Cepat Lala tersadar akan situasi Lala mengangguk kecil namun tatapannya tertuju pada bola mata biru milik Daniel.
Di amatinya tiap inci yang ada di depannya.
Mata biru dengan alis tebal, hidung mancung dengan bibir tebal , rambut yang tertata rapih , rahang kuat semakin terlihat sempurna saat ekspresi wajah nya menunjukkan kekhawatiran.
" Iya , dia Andreas , teman satu sekolah ku dulu". Ucap Lala pelan.
Daniel menangkap jelas wajah takut sekaligus panik , Dengan gesit Daniel mengusap belakang punggung tangan Lala dengan sangat hati-hati.
" Dia bilang kamu menolaknya, apa itu benar? Apa banyak yang menyukai mu dulu sewaktu sekolah?". Daniel bertanya bertubi-tubi.
" Iya ". Lala menjawab singkat .
Lala tidak berani menatap lagi , seolah Daniel sedang mengintrogasi pasangannya.
" Emm . Pak". Ucap Lala takut.
Daniel menoleh menatap lekat mata bulat bersih dengan buku mata yang lentik , tanpa menggunakan polesan yang mencolok namun terlihat begitu cantik.
" Itu , tadi kenapa bapak bilang bapak kekasih saya , apa bapak suka sama day?". Pertanyaan polos lolos dari mulut Lala.
Mata bulatnya berkedip-kedip menunggu jawaban Daniel yang terlihat tida bereaksi .
Gugup sudah pasti , ya bagaimana mungkin sosok Presdir yang menunjukkan garis sempurna tertarik dengan dirinya yang hanya anak dari kalangan menengah . Lala tidak terlalu menginginkan jawaban iya , namun jika memang benar sepertinya yang di katakan dirinya , tidak bisa di pungkiri Lala akan bersorak senang.
Daniel menegakkan tubuhnya , tangannya saling menyatu dengan siku yang menempel meja. Diambilnya nafas dalam niat hati ingin mengutarakan . Sayang seribu sayang dari arah pintu Alex masuk membawa pesanan yang Daniel minta.
" Maaf mengganggu . Ini ". Ucap Alex lalu menyodorkan plastik berisi obat-obatan.
__ADS_1
Helaan nafas panjang Lala terdengar kasar , wajahnya merona mengingat pertanyaan konyol yang ia lontarkan . Alex menyadari kesalahan apa yang telah ia buat . Di garuknya kepala yang tidak gatal , sedikit salah tingkah karena masuk ke dalam ruangan yang sedang penuh drama.
" Gue , pergi dulu sebentar". Ucap Alex yang merasa seolah dirinya hanya menjadi obat nyamuk untuk mereka yang sedang berkencan.
" Terima kasih pak". Ucap Lala tidak enak , di hari pertama menjadi asisten pribadi sesungguhnya malah sudah membuat semua repot.
________
" Daniel".
Teriak nyaring wanita di luar gedung.
Entah kesialan dirinya atau memang takdir Tuhan yang berpihak padanya .
Saat kakinya menapak di atas lantai lobby DAM GROUP , tampak wanita bertubuh tinggi dengan pakaian seksi mendekat ke arah Daniel , dengan Lala yang masih setia di sisi kanan .
" Aku merindukan mu". Ucap Maura di buat manja . Tidak perduli dengan tatapan orang yang sedang berlalu lalang di area perkantoran . Maura Admaja wanita yang sempat dikenalkan Daniel sebagai tunangan dari Pewaris tunggal keluarga Mahessa lima tahun yang lalu , pergi dengan pria simpanannya saat dirinya belum sesukses sekarang.
Tatapan iba , dari semua kalangan pembisnis , infestor sekalipun tidak luput Daniel rasakan. Kegagalan dalam dunia percintaan menjadikan Daniel sosok pria dingin dan menjadikan dia sosok yang sangat mengagumi Dunia bisnis .
Kesuksesan diraihnya saat dua tahun kepergian Maura.
Tidak ada rasa sesal di dalam hati Daniel , pasalnya dia sudah mengetahui akal licik yang ada di dalam kepala mantan tunangannya .
" Untuk apa kamu kemari , sudah saya katakan kamu hanyalah masa lalu ku ''.
" Ingat sekali lagi ! . Saya tidak akan mengambil apa yang bukan milik saya lagi ". Ucap Daniel dengan nengeratkan giginya , dengan tatapan menusuk matanya menatap tak berkedip.
Digandengnya tangan Lala dengan langkah lebar , sedikit terseret namun tidak sampai menarik kasar .
" Apa karena dia kau sudah berubah ?". Teriak Maura nyaring masih di depan Lobby.
" Ya , kau benar , saya Sundah mendapatkan pengganti mu bukan" . Ucap Daniel sembari mengangkat tangannya yang menggenggam erat tangan Lala.
" Dia kekasih ku ! Maka jangan harap kau bisa kembali , nikmati semua yang sudah menjadi keputusan mu dulu , tidak perlu mencampuri urusan ku lagi" . Daniel berucap dengan suara lantang .
Lala hanya bisa terdiam tanpa membantah sedikitpun , seolah ucapan Daniel suatu pernyataan yang harus di laksanakan. Tatapan Maura tidak bersahabat ke arah Lala . Mata merah padam dengan tangan yang terkepal kuat seolah menggenggam sesuatu yang keras. Bibirnya menyunggingkan senyuman dendam .Tidak perduli dengan keberadaan Maura , Daniel berlalu masih dengan menggenggam erat tangan Lala sampai mereka memasuki lift khusus CEO.
________
__ADS_1
Haiiii , mau lanjut ??
Tinggalkan jejak dulu ya 🤗