
Andini mengerjakan matanya , di lihat sekelilingnya nampak asing , dan ini ,
" Di mana ini?". Tanya nya sembari memutar bola matanya memandang seluruh isi ruangan.
" Ini bukan kamar gue , terus ini di mana?".
Alex terus memandang gelagat gadis yang kini menguasai ranjang tidurnya , ya apartemen miliknya hanya punya 1 kamar , berhubung ia bngung harus membawa kemana , dan entah kenapa Alex justru memilihnya membawa ke apartemen dan di taruh nya di atas ranjang empuk miliknya.
Semalam ia menghubungi Bima , sekedar untuk memastikan kondisi korban yang ia tabrak.
Bima memberi sedikit obat tidur agar istirahat nya cukup .
" Ini tidak terlalu parah , kau tidak perlu khawatir". Ucapnya sembari menulis sesuatu di kertas putih.
" Ni , pergilah ke apotik , dia tidak akan terbangun sampai besok , oleskan juga pada luka betutu kau sudah kembali ". Ucap Bima sembari mengulurkan tangannya.
" Thank you ". Ucap Alex lalu mengambil kertas putih yang sudah tercoret tinta hitam yang tak bisa terbaca olehnya.
" Kau yakin dengan ini?".
" La meragukan kemampuan ku?". Tanya Bima balik pada Alex.
Alex hanya memandang aneh pada coretan kertas di tangannya , yang terlihat hanya seperti garis lurus sedikit melengkung.
" Kau tidak akan faham, berikan saja pada apoteker dia pasti tahu, sudah lah cepat kau belikan dulu , ingat langsung kau oleskan salepnya tipis di bagian lukanya supaya cepat mengering. Tapi kau jangan pergunakan kesempatan untuk melahapnya ya". Ucap Bima dengan wajah yang entah bagaimana ekspresi nya .
Alex mendongak , matanya mengarah tajam pada pupil Bima.
" Mungkin harus ku atur jadwal untuk pelepasan jabatan mu , lagi pula tidak begitu sulit untuk membujuk tuan muda ".
" ahahahaa , kau ini kaku sekali , aku hanya bercanda , ". Ucapnya memotong pembicaraan.
" Tidak bos tidak asisten sama saja, huff". Ucap Bima dalam hati sembari memamerkan senyum kecut yang di paksa manis.
" Kau ". Ucap Dini sembari menajamkan penglihatan nya .
__ADS_1
" Hmm, kau sudah sadar , kenapa kau bisa tiba-tiba datang dari balik pohon , apa yang kau lakukan ? kau menguntit?". Alex memberondong semua pertanyaan .
" Astaga , bisa kah kau berbaik sedikit pada ku , setidaknya aku terluka juga karena kau tabrak ". Elak dini dengan susah payah memposisikan tubuhnya .
" Jangan banyak gerak , luka mu masih basah ". Ucap Alex dari arah sofa .
Dini hanya mengangguk sembari matanya menatap ke sekeliling nya .
" Ini dimana?".
" Apa kau tidak bisa melihat , ini di dalam kamar".
" Ya , aku tau , tapi ini kamar?".
Glekk.
Dini meneguk ludahnya dengan susah.
Di cek kembali pakaiannya buang melekat di tubuhnya.
" Ini semua gara-gara Daniel , dia sudah mencemari otak ku". Ucapnya dalam hati .
Dini membulatkan matanya , terkejut dengan ucapan Alex, Dini menaikan selimut yang semula hanya ia tutup kan sebatas kaki , kini membungkus sempurna sampai leher.
Alex menaikan bibirnya , senyum kecil menghiasi wajahnya.
" Cek , kau tidak perlu takut ". Ucap Alex sembari mendekat ke arah Dini.
" Mm mau apa kamu?". Tanya Dini terbata.
" Memang aku mau apa?". Tanya balik Alex , wajah takut Andini justruh membuat nya tertarik.
" Jangan macam-macam ya , ssttt". Dini menahan sakit di sikunya , tidak sengaja tergores saat ingin mengambil bantal di belakangnya.
" Sudah lah aku hanya bercanda , ini minum , ini juga oleskan pada luka mu , tidak mungkin aku lagi yang melakukan nya bukan? Atau kau mau aku saja yang melakukannya lagi?". Ujar Alex dengan senyum jahil.
__ADS_1
" Dasar mesum , sini aku bisa sendiri". Ucap Andini lalu mengambil obat dari tangan Alex.
Alex tersenyum hatinya merasa sedikit tersentak.
______
Daniel menggenggam erat setir mobil nya, berusaha menetralkan deru nafas yang tidak teratur , Lala tersenyum kecil melihat raut wajah Daniel yang nampak sedikit tegang.
" Apa kau takut?". Tanya Lala lembut sembari menggenggam tangan Daniel.
Terasa hangat , sentuhan dan perhatian Lala kini menjadi penyemangat nya. Ini bukan kali pertama nya bertemu orang tua dari wanita yang ia suka, tapi ini terasa aneh , jantungnya berpacu seolah sedang menaiki tebing tinggi dan nampak jurang curam di dalamnya.
" Kau tidak perlu khawatir , Ayah ku tidak memakan orang". Ucap Lala santai sembari tersenyum.
" Heii, itu kata-kata ku bukan?".
" Ya , ini memang kata-kata mu , tapi kini kau juga membutuhkan nya untuk menenangkan". Ucap Lala dengan senyum manis di bibirnya.
Daniel tersenyum , di peluknya erat tubuh kecil Lala, di cuim nya pucuk kepala Lala dengan sayang.
" Apa aku salah?" . Pertanyaan polos lolos dari bibirnya.
" Tidak , kau sudah melakukan dengan benar, terima kasih , terima kasih sudah menerima ku". Ucap Daniel masih dengan memeluk erat tubuh kekasihnya. Lala membalas pelukan hangat dari Daniel , laki-laki yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Senyum mereka nampak begitu bahagia ,kini hanya tinggal mendapat restu dari keluarga nya lah yang akan menentukan mereka kedepannya , karena baginya , restu dalam sebuah hubungan akan menentukan baik buruknya kehidupan kedepannya.
" Aku yang berterima kasih , kamu sudah menerima ku dengan tangan terbuka , aku dan kamu itu sangatlah berbeda ". Ucap Lala dengan wajah yang menempel di dada bidang Daniel.
" Sudah , kita tidak perlu membahas yang tidak penting , yang terpenting sekarang aku bisa mendapat restu orang tua mu.
Daniel melepas pelukannya lalu mengecup sayang kening Lala , ya ini mampu membuat Lala terhipnotis , kecupan singkat namun terasa begitu dalam.
>>>>>>
Salam sayang buat semua 🤍
Semoga hari mu menyenangkan 🥰
__ADS_1