
Hari berlalu kejadian dimana pesta tuan Mulyadi di selenggarakan pun telah membuahkan hasil. Nampak Maura beberapa kali mendatangi perusahaan DAM GROUP untuk bertemu Daniel . Jobnya sebagai Model tiba-tiba meredup , tidak sulit untuk Daniel pasalnya perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi sangat mudah untuk membuat sedikit perhitungan terhadap nya . Dunia modeling yang selama ini di geluti menyurut seketika .
Marah , tentu saja Maura sempat membuat kekacauan di dalam kantor , sehingga menambah kesan buruk di mata publik. Itu keberuntungan untuknya , karena tidak perlu bersusah payah menenggelamkan rarirnya nanti.
Untuk Andre , Daniel sempat terkejut saat tahu bahwa Andre adalah adik dari Maura pasalnya , selama menjalin hubungan dengan Maura tidak pernah melihat bocah laki-laki yang faktanya adalah badik kandung Maura. Anak cabang yang di jalankan nya sedikit di beri tindakan , investor yang menanamkan modal di alihkan dari proyek yang di bangun oleh Andre , hanya sebagian saja karena masih ada bekas kasih sedikit dari Daniel , namun jangan salahkan jika membuatnya kacau , entah apa yang akan Daniel lakukan.
____
" Apa ? , aku tidak dengar?". Teriak Maura pada asisten sekaligus manager nya.
Merry , nampak menghela nafasnya panjang , mau tak ma dialah yang akan menjadi cacian atas merosotnya job yang tiba-tiba.
" Entahlah , yang pasti , beberapa desainer ternama membatalkan kontrak nya , begitu juga dengan iklan branded dari negara J ". Ucap Merry yang baru mendapat kabar .
" Aartgghh".
Maura mengamuk , Merry hanya mampu diam tanpa kata. Jika boleh jujur Merry sebenarnya enggan menjadi manager nya , pasalnya Maura yang suka semena-mena terhadap bawahannya dan arogan menjadikan Merry sedikit pertimbangan untuk bertahan lebih lama .
" Andai saja ada model lain , lebih baik aku pindah saja". Keluhnya dalam hati.
_______
Maura nampak serius dengan tumpukan kertas di depannya , Daniel yang sudah menjadi kekasihnya pun semakin menunjukkan perhatiannya , dinginnya tuan Daniel sedikit demi sedikit sudah mulai mencari namun itu hanya berlaku untuk Lala , jika sudah keluar ruangan , kulkas nya mulai menyala dengan suhu minus tinggi.
Klunting .
Klunting.
Beberapa kali ponsel Lala berbunyi , Daniel menatap penuh tanya , siapa pagi-pagi sudah mengirim pesan pada gadis kecilnya.
Diambilnya benda pipih yang mulai meredup di atas mejanya.
Rempong . Grup yang telah di buat setelah mengenal kan Allena pada Lala.
Nanda : { Sedih kuy }".
{ π}.
Isi pesan Nanda pada baris pertama, pesan berikutnya terisi emot yang berlinang air mata.
Lala nampak heran , kira-kira apa yang membuatnya menangis .
Lala : { Kenapa Lo? } .
Allena : { Putus cinta ya ?}.
Ujar Allena sedikit menebak .
Nanda :{ ππππ}.
__ADS_1
Lala :{ Lahh , kok malah nanges}.
Allena :{ Bener ni , pasti patah hatiπ₯Ί}.
Lala :{ yang bener Ndut?}.
Tanya Lala penasaran .
Nanda :{ Iya , Allen bener }
{ Huuuuaaaaa πππππ, gue di selingkuhin }.
{ Huaaaa , sakittt cuyy}.
pesan Nanda dengan emot yang menyedihkan nya.
Daniel mengerutkan keningnya , melihat Lala mengetik dengan serius , Daniel mendekat berdiri di belakang Lala , Lala yang sedang serius pun tidak menyadari kedatangannya.
Ekhemm.
" Astaga pak , huff , ngapain bapak di sini? meja bapak kan ada di sana". Ucap Lala kaget sembari mengelus dadanya.
Tidak di hiraukan ucapan Lala , pertanyaan menyelidik pun di ajukan .
" Pesan dari siapa , sepertinya sangat seru " .Ucap Daniel penasaran.
" Menyedihkan ". Ucap Daniel sembari duduk di pinggir meja di depan Lala.
Lala mengernyitkan dahinya , lalu mendongakkan sembari alisnya terangkat .
" Kayak yang engga pernah patah hati". Gumam Lala pelan .
" Apa kata mu". Tanya Daniel yang mendengarnya.
" Tidak pak , tidak apa-apa ". Ucap Lala lalu menatap ponselnya lagi.
Cup.
Daniel mengecup pipi Lala tanpa permisi .
" Bapak mesum sekali ". Ucapnya sembari memonyongkan bibirnya. Daniel merasa gemas saat melihat kekasihnya tengah kesal , di tariknya bibir monyong Lala , entah kenapa terlihat sangat menggemaskan.
" Emmmmm" . Lala memukul lengan Daniel .
" Kenapa sih pak , senang sekali menarik bibir Lala " . Ucapnya dengan wajah kesal .
" Jangan menggoda saya ". Ucap Daniel lalu mengacak rambut Lala.
Lala hanya mendengkus masih dengan kekesalannya.
__ADS_1
" Masih kurang". Ucap Daniel dengan tubuh yang di condong kan siap untuk melahap.
Waktu berlalu , Matari nampak sudah menurun , jam pulang kantor pun tiba. Para karyawan sibuk mengemasi barang-barang nya , kertas yang berserakan di atas meja di benarkan , di letakkan pada tumpukan buku di atas meja .
Lala masih sibuk dengan tablet di depannya , sangat fokus , rapat bulanan tadi membuatnya sedikit manambah jam kerjanya.
" Tidak ingin pulang ? Atau mau menginap saja?". Tanya Daniel pada Lala yang masih menatap tablet . Perhatian-perhatian kecil selalu di tunjukkan untuk Lala , walau terkadang mereka masih suka beradu argumen di waktu-waktu tertentu.
Lala , gadis kecil yang selalu punya jawaban atas apa yang Daniel lontarkan membuatnya semakin sayang , pasalnya tidak ada yng berani menentangnya kecuali Lala , gadis tengil yang sekarang menjadi miliknya .
" Ok , sudah". Ucap Lala sembari meregangkan otot tangan nya.
Berjalan beriringan dengan Daniel sedikit membuatnya berdebar , walaupun Daniel sudah menunjukkan sikap lembutnya . Tidak banyak yang tahu tentang hubungan mereka , hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nya .
Maka tak jarang tatapan karyawan yang berpapasan dengan mereka sedikit menunjukkan sikap tidak suka pada Lala karena merasa tersaingi .
" Boleh bertemu dengan Nanda?". Tanya Lala hati-hati takut Daniel tidak menyetujuinya.
Daniel nampak sedikit berfikir , lalu di tatapnya wajah Lala yang memohon untuk di izinkan.
" Boleh , biar saya temani". Singkat Daniel pada Lala.
Sedikit tidak setuju sih ,sebab ,niat hati ingin menjadi tempat curhat sahabat baiknya harus sedikit menjaga karena pria dingin yang selalu mengekor .
" Jangan berdekatan dengan pria lain". Ujarnya setiap kali Lala meminta izin. Tapi dari pada tidak di perbolehkan sama sekali , lebih baik di kawal pria dingin di sampingnya , di pikir ulang sembari mengerucutkan bibirnya. Di tariknya bibir Lala yang sedikit maju.
" Emmmmm". Lagi , Lala memberontak.
" Jangan menggoda saya ". Ucap Daniel lalu memalingkan muka.
" Siapa yang menggoda , bapak saja yang berpikir mesum ". Ucapnya kesal .
" Mau atau tidak sama sekali".
" Iya iyaa , mau" . Sungut Lala , lalu senyum manis melengkung di bibir Daniel.
" Gadis pintar". Seru Daniel lalu mengacak rambut Lala dengan sayang.
Alex yang sedari tadi mendengar perdebatan di kursi belakang , hanya tersenyum di liriknya dari kaca di atasnya bagaimana raut wajah Daniel yang nampak bahagia.
" Akhirnya Lala bisa menjadi pawang untuk Daniel". Ucapnya dalam hati.
" Lex kafe biasa". Ucap Daniel singkat.
" Baik tuan". Ucap Alex yang di barengi anggukan kecil .
Mereka melaju ke kafe yang sudah menjadi langganan mereka. Ralat maksudnya langganan trio rempong.
>>>>>>>>
__ADS_1