
Daniel duduk di tepi janjang sembari tangannya mengusap beda pipih berwarna hitam. Sesekali liriknya ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
Senyap tidak ada suara gedoran pintu ataupun raungan Lala meminta tolong , di letakkan kembali ponsel pintar miliknya Daniel pun berjalan ke arah pintu yang tertutup rapat berwarna putih .
Ceklek .
Pintu terbuka , pemandangan pertama yang Daniel dapat adalah tampak Lala tertidur sembari memeluk tubuhnya yang masih terendam air di dalam bathtub . Baju yang sedikit robek di bagian depannya , di selipkan anak rambut yang sudah mengering di belakang telinga.
Di angkatnya tubuh Lala dari dalam air lalu di rebahkan dengan hati-hati di atas ranjang empuk yang sudah di alasi handuk tebal di bawahnya dan di atas bantal untuk alas kepalanya.
Di pandangi lekat-lekat wajah cantik Lala dengan kulit yang sudah dingin , bibir yang sedikit berdarah mungkin ia menggigitnya secara tidak sadar , di tutupi tubuh basah Lala dengan beberapa handuk yang sengaja Daniel minta pada pelayan hotel sebelumnya lalu di tutup kembali dengan selimut sampai batas leher.
Bangkit dia dari sisi tubuh Lala , di raihnya ponsel yang ia letakkan di atas naskah , di tekan angka di dalamnya.
Suara sambungan telepon terdengar di tempat berbeda.
" Halo , ada yang bisa saya bantu tuan Daniel? ".
Seru pria di lain tempat.
Suara sedikit gaduh terdengar dari dalam ponsel milik Daniel , deru langkah tergesa juga tidak luput dari pendengarannya.
" Kemarilah , bawa satu perawat wanita yang ada di sana , aku membutuhkan bantuan mu ".Ucap Daniel pada Bima yang kebetulan masih ada shift malam.
Tidak mungkin ia menghubungi Alex untuk membawa Allena .
" Baik , tunggu di sana 15 menit , aku akan sampai ". Ucap Bima cepat .
Dia memilih tidak banyak bertanya , tidak mungkin waktu yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi seorang Daniel meminta bantuan jika tidak dalam situasi terdesak. Pria dingin yang paling anti dengan bau obat-obatan sudah di duga oleh Bima pasti orang yang berharga yang sedang di khawatirkan.
Daniel menutup telfonnya , lalu merebahkan tubuhnya di sisi kiri Lala , dengan mata yang masih terpejam Daniel mengusap pipi gadis kecil yang sempat memporak-porandakan pikirannya.
" Aku akan menjaga mu , tidak ada yang bisa menyentuh mu selain aku". Lirih Daniel namun matanya menyorotkan keseriusan.
_______
__ADS_1
" Aku sudah di depan".
Pesan masuk dari ponselnya.
Di buka pintu kamar hotelnya , di persilahkan masuk , sembari menunggu perawat wanita mengganti pakaian basah yang setengah mengering di tubuh Lala.
Daniel berjalan ke sisi lain , di mana terdapat tiga sofa untuk satu orang, satu diantaranya sedikit panjang untuk tiga orang dengan meja kecil memanjang.
Begitu selesai , Bima memberi sedikit obat untuk mengurangi demam di tubuhnya dan Vitamin untuk mempercepat penyembuhan.
" Terima kasih". Ucap Daniel sungguh.
" Tidak masalah , pesan ku jangan kau sentuh dulu dia , tunggu sampai dia sembuh , kau boleh melakukan nya". Ucap Bima sembari menahan tawa .
Daniel mengernyitkan dahinya , faham ke arah mana pembahasan Bima.
" Sudah bosan kerja rupanya , kau kira aku apa, jika aku mau kenapa tidak ku gunakan kesempatan semalam". Ucap Daniel dengan intonasi tinggi .
Tawa Bima menggema di ikuti sang perawat yang ikut terkekeh kecil .
" pelankan suara mu , gadis mu sedang istirahat , nanti yang ada dia terbangun karena terkejut".
" Hai nona, berhati-hati la dengan atasan mu , nanti kau bisa jadi mangsanya ". Teriak Daniel dengan kesal .
" Dasar buaya ". Ucap Daniel sembari menutup pintu rapat-rapat.
________
Di sisi lain , Alex masih berkutat di ruang cctv dimana kejadian terjadi. Mata nya nampak fokus pada layar monitor yang menampilkan adegan ulang beberapa jam yang lalu.
Gerakan tangannya pada mouse beberapa komputer yang ada di hadapannya.
Matanya menangkap satu sosok pria yang tidak ia kenal sedang berbincang dengan Maura.
" Siapa dia?". Tanya Alex pda diri sendiri.
__ADS_1
Di percepat menitnya , dan benar saja pria yang sedari tadi bersama Maura nampak sedikit mencurigakan . Mengikuti dimana Allena dan Lala berada .
" Bukannya pelayan itu yang memberikan minuman pada Daniel. Batin Alex sembari mengusap dagu.
Diputar lagi layar komputer didepannya , hingga jelas nampak kedua pelayan pria dan wanita di berikan botol kecil di ruangan belakang tepat Alex melihatnya sebelum memberi tahu Daniel.
" Siapa dia? Apa hubungannya dia dengan Maura?". Tanya Alex sembari mengamati wajah pria yang asing di matanya.
Cukup Alex untuk mencari informasi melalui kamera pengawas yang terpasang di sudut-sudut tertentu , ya , sempat beberapa kamera telah di matikan mungkin agar tidak ketahuan, namun bukanlah Daniel namanya jika tidak punya pengamanan yang baik untuk bisnisnya.
Alex pergi menuju apartemen pribadi miliknya untuk melanjutkan istirahat yang tertunda.
Ting
Pintu lift terbuka , lobby hotel sudah nampak sepi , para tamu nampaknya sudah pulang dan sang tuan rumah pun seperti nya sudah menuju kamar masing-masing , hanya tersisa beberapa orang untuk membereskan sisa meja yang sudah mulai kosong.
__________
Di ruangan lain nampak Maura menahan emosi. Nafasnya naik turun tidak karuan sembari mulutnya mencaci adik laki-laki nya.
Gelas nampak pecah berderai di atas lantai.
" Bre***** , kenapa bisa gagal, kamu tidak becus mengurus nya , menyingkirkan gadis kecil saja tidak mampu ". Ucap Maura nyaring. tepat di depan wajah Andre.
Tidak mau kalah Andre pun mengumpat kasar wanita dewasa di hadapannya.
" Kakak menyalahkan ku ? cih . pantas saja tuan Daniel menolak , kakak hanya bisa menyalahkan orang tanpa turun tangan". Andre berdecih sembari tangannya menggebrak meja , bibirnya terangkat sedikit menyunggingkan senyum tipis .
" Kau berani menasehati ku ? dasar anak tidak di untung , harusnya aku tidak menggunakan mu untuk ini ".
Maura memancing emosi Andre yang sudah di tahan .
" Ya , salahkan saja Andre kak , salahkan saja , Andre memang tidak pernah bisa menjadi kebanggaan kalian , Andre memang tidak pernah terlihat benar di mata kalian , Andre memang anak yang pembangkang , tapi ingat kak , jika Andre menjadi tuan Daniel , Andre tidak akan Sudi melihat wajah kakak". Ucapnya lalu meninggalkan Maura yang nampak masih emosi.
" Siall , aarhhhh". Seru Maura sembari menatap punggung adiknya yang telah menghilang.
__ADS_1
Begitulah Andre anak laki-laki yang seharus nya menjadi pewaris dari keluarga Admaja , namun kehidupannya yang selalu di bandingkan dengan sosok kakak yang selalu di sanjung karena pekerjaan dalam dunia modeling mampu mengangkat nama perusahaan sekaligus nama baik keluarga Admaja.
Laki-laki yang tidak merasakan kebahagiaan di dalam rumahnya menjadikan dia pria yang sombong , di bangku sekolah dulu pun terkenal sebagai anak yang pembangkang. Surat peringatan dari pihak sekolah pun tidak pernah lepas dari nya.