
Alex duduk berhadapan dengan Andini , nasi goreng spesial buatan Andini sudah siap tersusun di atas piringnya , ya dia merasa sedang di layani istrinya malam ini.
Makan malam berdua , sesekali mereka berbincang ya sekedar bertanya bagaimana kegiatan hari ini.
Alex menyuap 1 sendok penuh nasi goreng dengan potongan telur di atasnya , di kunyah ya perlahan menikmati rasa yang bercampur pedas asin juga manis.
" Enak aku suka , aku kira kau tidak pandai memasak". Ucap Alex jujur memuji masakan Andini.
Andini tersenyum kecil matanya menyipit nampak lucu menurut Alex.
" Ya , walaupun bukan koki profesional setidaknya aku bisa memanjakan lidah ku bukan". Ucap Andini dengan pede.
" Ya , kau benar , lain kali kau masak untuk ku lagi ya , besok untuk sarapan aku mau makanan yang seperti ini juga , sedikit lebih pedas juga boleh". Alex berkata dengan cepat.
" Wah wah wahh , kau menerima rasa dari olahan ku rupanya , baik , aku akan mengabulkan , yang penting kau juga harus membantu ku , kau ingat bukan kemarin juga aku sudah membantu mu". Ucap Andini mencari keuntungan.
Alex mengangguk cepat tanpa menjawab , mulutnya terlanjur penuh dengan makanan .
" Aku tidak keberatan , aku akan membantu mu dan kau akan tinggal disini untuk merawat ku juga , ya hitung-hitungan kita saling menguntungkan , bagaimana?". Ucap Alex lalu mengulurkan tangannya.
" Baik , aku terima tawaran mu". Andini tersenyum puas .
" Wahh, Dewi Fortuna sepertinya berpihak pada ku , ahh siapa juga yang mau menikah dengan pria hidung belang seperti dia". Ucap Andini dalam hati.
Mereka makan dengan tenang , walaupun baru beberapa jam mereka bertemu , seperti nya mereka cepat akrab , Alex dengan sikap mudah berbaur , Andini dengan keramahan serta keberanian nya juga membuat Alex tidak begitu susah untuk berbicara.
Selesai Dangan acara makan malam , kini Andini membereskan meja juga piring kotor , Alex yang memang masih ada sedikit pekerjaan memilih kembali ke ruang kerjanya untuk memberi laporan pada Daniel.
Andini selesai dengan pekerjaannya, ia bingung harus bagaimana lagi, di ketuk nya pintu ruang kerja milik Alex dengan sedikit ragu .
Tok tok tok.
Pintu di ketuk dengan sangat hati-hati, takut jika mengganggu penghuni di dalamnya.
Beberapa menit dini menunggu Alex , tak ada jawaban.
" Apa gak kedengeran ya? ". Ucapnya bingung.
Tangannya terayun ke atas hendak mengetuk pintu sekali lagi , takut Alex tak mendengar ketukan pertamanya tadi .
" Kenapa?".
" Astaga , hufff kau mengagetkan ku tau". Ucap dini sembari mengelus dadanya.
Alex mengernyitkan dahinya.
" Ada apa ? belum mengantuk? ". Tanya Alex sembari menengok ke arah jam yang menggantung di dinding.
__ADS_1
Dini mengikuti arah pupil milik Alex , jam 22.00 rupanya.
" Emm, itu ". Ucap dini takut.
Alex diam menunggu Andini menyelesaikan ucapannya.
" Aku , harus tidur dimana? bukannya cuma ada 1 kamar disini? emm maksud ku tidak mungkin kan kita tidur 1 kamar".Ucap Dini menjelaskan.
" Hanya itu yang ingin kau tanyakan?". Tanya Alex dengan senyum penuh arti.
Andini mengangguk kecil memamerkan deretan gigi putih dengan gingsul di pinggirnya.
" Kau tidur la dikamar ".
Dini menatap pupil Alex " Kau yakin?".
" Hmm, aku juga akan tidur di sana". Ucap Alex dengan enteng.
" Ahahaa, apa begini Daniel dulu mengerjai Lala ". Ucap Alex dalam hati sembari tersenyum.
" Mm maksud kamu gimana, ada aku tidak mau". Ucap Dini cepat .
" Cek , kenapa , semalam pun kita tidur bersama ". Alex sedikit menggoda .
" Hah, tapi itu kan".
" Aku tidak mungkin tidur di luar , kau tau ? dan tidak mungkin kamu juga tidur di luar bukan, tidak enak tidur di atas sofa kecil". Alex memberi alasan.
Dini diam sebentar lalu mengangguk setuju.
" Ok , tapi awas kalau kamu berani macam-macam". Dini mengancam menunjuk tepat ke arah wajah Alex.
" Kau masih sakit , mana mungkin aku menerkam mangsanya yang sedang tak berdaya , tidak asik tidak ada perlawanan ". Ucapnya lalu melenggang pergi.
Andini terperangah dengan ucapan Alex , bisa-bisanya ia berucap dengan begitu ringan .
Hela nafas dini sedikit kasar , entahlah ada perasaan lega sekaligus takut di dalamnya, ia yakin Alex tidak mungkin melakukan hal yang memalukan , namun perasaannya tetap menyimpan rasa was-was.
Masuk ia ke dalam kamar dengan rancang berukuran besar , gemericik air dari dari dalam kamar mandi terdengar cukup nyaring , entahlah padahal tadi sebelum makan Alex sudah mandi mungkin Alex memang tipikal orang yang sangat pembersih jadi tidak mau ada noda sedikitpun di tubuhnya.
Andini merebahkan tubuhnya yang masih sedikit ngilu di siku juga lututnya, matanya terpejam namun otaknya masih berputar mencari ide untuk malam ini.
" Hei ". Tegur Alex
" Hah , kau ini kenapa s Nang sekali mengagetkan ku". Ucap Andini terbelalak .
" Kau saja yang suka melamun ". Alex tidak terima.
__ADS_1
" Apa yang kau pikirkan?". Tanya Alex sedikit penasaran.
" Aku hanya sedang berpikir , apa kau punya bantal lagi?".
" Untuk apa ?".
" Sudah kau ambil kan saja dulu jika ada". Andini sedikit memaksa.
Alex memaksa langkahnya pada lemari besar si sisi ranjang, di lemparnya guling tepat d depan Andini .
" Ni , kau sangat aneh". Ucap Alex
Andini tidak menggubris ucapan Alex , ia sibuk menyusun bantal guling di tengah ranjang .
" Hei hei hei , apa yang kau kerjakan ?".
" Tidak ada , aku hanya menyusu ini sebagai pembatas, takut kau khilaf dengan ku". Ucap Andini menjulurkan lidah .
" Kau kira aku apaan , aku tidak seburuk pikiran mu". Ucap Alex.
Alex merebahkan tubuhnya tubuh kecil Andini tidak terlihat tumpukan bantal yang ia susu. menenggelamkan tubuh kecilnya.
Andini menyingkap kan selimut tebal kke atas tubuhnya , 1 selimut untuk berdua tidak masalah pikirnya karena ia sudah menyusun bantal guling yang di tumpuk sedikit tinggi sebagai dinding pembatas antara dia dan Alex.
Alex menggelengkan kepalanya , namun ia sedikit menyetujui juga , ia pria normal dan tidak mungkin jika tidak tergoda pada gadis cantik dengan lekuk tubuh yang sempura ( Mungkin) pikir nya lagi .
Dengkuran halus dari sebelah ranjangnya menandakan jika 1 nyawa sudah melayang di bawah alam mimpi, mengarungi entah apa saja yang menjadi mimpi nya malam ini.
Alex pun tersenyum tipis , di pejamkan matanya lalu menyusul gadis kecil di sampingnya dengan tangan kiri sebagai bantal kepala dan tangan kanannya ia taruh di atas perut rata nya.
>>>>>>>>
Hai semua , happy reading everyone 🤗
Kita gabung sama bang Alex ya 🤭
Semoga suka dengan cerainya
Salam sayang 💌 semoga harimu menyenangkan 🥰
Tertanda: Mama kecil ❤️
Jangan lupa dukungan nya ya , 1 like sangat membantu untuk Mama kecil 🤗
Terima kasih
Di lanjut sampai selesai ya
__ADS_1