GADIS TENGIL MILIK CEO

GADIS TENGIL MILIK CEO
Demi restu


__ADS_3

Surya sedang membenahi dan memindahkan barang-barang yang baru sampai bersama Mang Udin , sedangkan Indah sibuk mencatat semua barang masuk , takut jika ada yang kurang atau tertinggal di bantu oleh Mba Tuti.


Saling membantu , tidak ada perbedaan antara mereka .


" mas , nanti saja , karung itu berat lho , biar mang Udin panggil 1 orang lagi untuk membantu". Tutur Indah perhatian , melihat tumpukan karung beras yang masih berjejer di dekat pintu.


Surya yang memang sudah merasa tidak kuat menyerahkan pada Udin , namun tidak bisa langsung terselesaikan karena memang cukup berat .


" Sudah , kita istirahat dulu Din". Ucap Surya melambai ke arah Udin yang sudah berkeringat basah .


" Kemana bi Asih, apa belum datang?". Seru ya sembari meneguk air dingin dari botol kecil.


" Tadi bi Asih telfon , katanya Lala yang akan mengantarnya, mungkin sebentar lagi". Ucap Indah yang memang sudah di beri tahu jika putrinya yang akan membawakan cemilan ke toko.


" Ohh, apa dia pulang ? Kenapa tidak memberi tahu dulu?".


" Tidak tau juga mas , katanya sih mungkin dia lupa".


Indah melanjutkan kegiatannya, membolak-balik kan buku yang ada di hadapannya sembari menoleh ke arah Tuti.


________


" Kau yakin tidak mau pakai mobil? ". Tanya Daniel sekali lagi .


" Kenapa? ini menyenangkan , kamu bisa menikmati hembusan angin , hmmm". Ucap Lala sembari terpejam dengan ke dua tangan di rentangkan.


" Sini , kau pakai ini dan ini". Ucap Lala sembari menyodorkan helm dan juga jaket kulit yang diam-diam ia bawa dari apartemen Daniel.


Daniel mengernyitkan dahinya.


" Kapan kau mengambilnya?".


" Kau tidak perlu tau". Ucap Lala cekikikan.


Daniel memakai semua sesuai instruksi Lala , jaket kulit hitam dengan helm berwarna putih senada dengan milik Lala.


Lala mengendarai sepeda motor nya dengan perlahan , tidak lupa titipan bi Asih ia bawa , di taruhnya di atas gantungan yang ada di bawah kakinya.


Daniel tidak bisa menggunakan motor matic, jadi mau tidak mau Lala yang harus mengemudi.


" Aku anggap ini kencan ke tiga kita". Ucap Lala sedikit berteriak.


" Kenapa ketiga , bukannya ini yang ke dua?" .


" Kau lupa , aku juga pernah membonceng mu saat mobil mu mogok dulu".


Daniel mengingat kejadian dulu .

__ADS_1


" Ahh ya , saku ingat , jadi mari kita berkencan kembali". ucapnya lalu memeluk pinggang Lala.


" Maaf ini tidak gratis tuan".


" Baik , saya akan membayar mu nona , berapa tarif mu ".


" Bayaran ku mahal tuan ". Ucap Lala sembari tertawa.


" Berapapun itu , menjual ginjal pun aku rela". Jawab Daniel dengan cepat.


ahahahaa.


Mereka tertawa , tidak lama setelah itu mereka sampai didepan ruko yang tidak terlalu besar.Di situ nampak banyak barang yang masih berserakan, kardus dan juga karung-karung besar yang teronggok di sisi pintu ruko.


" Apa hari ini ada barang masuk ya?". Ucap Lala lirih.


" Ibu, Ayah,".


Assalamualaikum.


Teriak Lala sembari melepas helmnya .


Surya juga Indah menoleh ke arah sumber suara.


" Wa'allaikum sallam".


Ucap mereka serempak.


" Sudah , kita tidak perlu mencampuri , toh tanpa kita rencanakan mereka sudah datang sendiri". Ucap Indah dengan lembut.


Surya mengangguk mengerti .


" Aku harus sedikit memberi ucapan selamat datang". Surya bergumam dengan senyum kecil.


Lala menarik tangan Daniel agar ikut masuk ke dalam ruko milik nya . Daniel sedikit ragu , bukan karena tidak menyukai Tempatnya , hanya saja masih belum percaya jika ia akan bertemu dengan calon mertua nya , bagaimana nanti jika ia di tolak atau bagaimana jika ia .


" Ah sudahlah , kenapa aku jadi sepenakut ini , kau Daniel Adipati Mahessa , bukan masala besar jika hanya ingin mendekati calon mertua mu". Ucap Daniel menyemangati diri sendiri.


Dengan segenap niat hati yang ada , Daniel berjalan mensejajarkan langkah kaki kecil Lala yang nampak riang , senyumnya mengembang ke arah orang tua nya , nampak kilatan rindu di dalam nya .


" Sudah datang sayang". Ucap ibu Indah sembari mencium pucuk kepala Putri nya.


" Kenapa tidak memberi tahu ayah dulu , dasar anak nakal". Ucap Surya lalu memeluk sayang Putri kecilnya lalu menyentil pelan dahi nya.


" Ayahh, Lala sudah besar ". Sungut Lala sedikit cemberut namun terselip senyum kecil yang manis .


" Iya ayah tau , buktinya sekarang putri kecil ayah mambawa pangerannya". Ucap Surya berbisik di telinga Lala.

__ADS_1


Bluusss .


Wajah Lala merona dengan ucapan Ayahnya , sebelumnya ia belum bercerita.


" Ahh, pasti ibu yang memberi tahu".


Lala tersipu , ia mengingat ucapan nya dulu sebelum meninggalkan rumah untuk bekerja , dia pernah bercerita tentang pangeran tampan yang akan menjadi pendampingnya, dan sialnya ayah Surya mendengar ucapannya bersama bi Asih.


" Om". Ucap Daniel sembari mengulurkan tangannya.


" Hmmm". Surya menyambut baik uluran tangan Daniel.


Mereka nampak berbasa-basi , sembari menikmati cemilan yang ia bawa tadi Daniel memperkenalkan diri dan sesekali masuk dalam dunia pekerjaan.


Daniel duduk berdua dengan Surya , sedangkan yang lainnya sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Lala pun turut membantu membereskan rak ujung di mana tersusun rapih aneka makanan ringan.


" Apa kau bisa membantu saya". Ucap Surya begitu selesai membereskan rak yang tidak begitu tinggi .


" Apa yang bisa saya bantu om".


Surya tersenyum penuh arti lalu menoleh ke arah Daniel.


" Kau angkat lah karung beras itu lalu susun di sana ". Tunjuk Surya pada tumpukan karung beras lalu memutar tubuhnya menunjuk ujung ruangan di mana tempat deretan beras lainnya.


Daniel sedikit ragu , ia tidak pernah melakukan pekerjaan seperti ini sebelumnya , jangankan mengangkat karung , air galon saja ia tidak pernah melakukannya.


Surya menunggu jawaban dan matanya menangkap sedikit keraguan ,ya dia tau ini sedikit berat .


" Ah ,kau ini , anak sama bapak sama saja". dengkus nya dalam hati.


" nak Daniel". Ucap Surya membuyarkan lamunannya.


" Iya om , saya bisa". Ucap Daniel cepat.


" Demi restu , jangankan karung om , mendorong mobil pun aku mau". Ucap Daniel dalam hati sembari berlalu .


Bergegas Daniel berjalan ke arah di mana tumpukan karung beras di sana sudah ada mang Udin yang menggendong 1 karung .


" Den , mau apa? ". Tanya Udin saat Daniel mendekat.


" Biar saya bantu mang". Ucap Daniel ramah .


Surya nampak mengembangkan senyumnya .


Nampak target masuk dalam jebakannya lain hal dengan Lala yang melihat Daniel sedang berusaha mengangkat karung beras , dahinya berkerut melihat bagaimana senyum ayahnya mengembang , seolah ia sedang menyaksikan sesuatu yang menyenangkan.


" Astaga ayah, apa yang ayah lakukan". Ucapnya lirih sembari mendekat ke arah ayah nya.

__ADS_1


Tangannya di tepuk-tepuk agar sisa tepung yang menempel di tangannya menghilang lalu mengusapnya pada kain lap yang ia gantung di pinggangnya.


>>>>>>


__ADS_2