
Pagi menjelang , hembusan angin dari alat pendingin ruangan terasa begitu sejuk menyentuh kulit . Gelapnya ruangan menambah kesan lebih nyaman berada di balik selimut yang melilit tubuh. Di gerakannya otot tubuh yang lelah semalaman berlayar di alam mimpi.
" Aduh , kenapa sakit sekali". Keluh Lala dengan mata yang terpejam sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Di baliknya tubuh ke sisi kanan , matanya menyipit menyesuaikan cahaya temaram dari lampu tidur berwarna kuning di samping ranjang tidur nya.
Lagi , Lala menggeliat mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih berserakan di atas kasur yang nyaman.
Matanya terbuka , dilihat langit-langit atap kamar dengan nuansa putih , di sela-sela dinding plafon dengan ukiran-ukiran cantik khas kamar sang penguasa , terdapat pula lampu kuning seakan mengintip dari atas sana.
Asing , ya begitulah kira-kira Lala menyimpulkan.
" Dimana ini". Ucapnya sembari nyadarkan diri yang terlanjur nyaman di bawah selimut tebal.
Lalu duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang empuk yang menjulang .
Tangannya bertumpu pada kedua kaki yang di tekuk , di pijitnya dahi yang masih menyisakan denyut yang tak nyaman. Pikirannya melayang menyusun kepingan memory yang empat terlewatkan.
" Astaga siapa yang bawa gue kesini". Ucapnya panik lalu melihat baju yang sudah berganti. Mulutnya tertutup rapat dengan tangan yang ditempelkan pada bibir mungilnya. Matanya terbelalak takut terjadi sesuatu pada dirinya.
Masih dengan pikiran kotor, telinganya Menangkap suara gemericik air shower yang mengalir , sudah di pastikan Lala di dalam kamar tidak sendirian. Pikiran nya mulai was-was takut orang jahat yang membawanya dari pesta semalam.
Ceklek.
pintu ber cat putih terbuka , takut , Lala menyembunyikan wajahnya di dalam selimut dengan posisi meringkuk.
Srekk.
" Aaaaaaa !!! ".
Teriak Lala nyaring saat selimutnya di buka. Matanya terpejam mulutnya berkomat-kamit memanjatkan do'a , entah do'a apa saja yang ia lantunkan.
" Sudah bangun". Ucap Daniel sembari mengusap kepala Lala sayang.
" Bapak". Ucap Lala lalu matanya terbelalak tatkala melihat Daniel berdiri tepat di sebelah nya.
" Aaaaaaa !" .
Teriaknya lagi lalu menutup mati rapat-rapat. Pemandangan pagi hari yang sangat menguntungkan namun menakutkan.
" Ssttt , senang sekali kamu berteriak". Ucap Daniel sembari menutup telinga dengan tangan kiri dan bahu kanannya.
" Eemmm". Jerit Lala tertahan tangan Daniel yang membungkam mulutnya.
" Are you ok ?". Tanya Daniel sedikit membungkuk.
Lala mengangguk namun matanya masih terpejam , dengan kedua tangan meremas selimut dengan erat.
Daniel heran , apa yang membuat gadis kecil nya merasa takut. Daniel memperhatikan sekitar . Pandangannya tertuju pada handuk yang melilit tubuhnya yang hanya sebatas pinggang.
Daniel tersenyum jahil , bukan mengganti pakaian nya Daniel justruh duduk tepat di hadapan Lala, disingkirkan nya selimut yang menutupi tubuh lalu , lalu di ambilnya kedua tangan yang spontan terangkat untuk menutup matanya.
" Apa kau lupa , aku sekarang kekasih mu gadis kecil". Ucap Daniel sedikit menggoda.
__ADS_1
Lala mendongak , menatap bola mata biru milik Daniel. Otaknya kembali mencerna ucapan Daniel. Di ingatnya lagi , dimana Daniel menyatakan cintanya di dalam acara pesta tuan Mulyadi.
" Ah iya , bapak kekasih Lala " . Ucap Lala sembari menyengir kuda.
Matanya terus memandang iris mata tajam yang sedikit menyipit karena bibir yang melengkung tersenyum , di pukulnya tubuh Daniel pelan namun tidak sengaja pandangan nya tertuju pada dada bidang Daniel .
Lala berhenti lalu memandang tanpa berkedip.
'' Apa kau suka". Ucap Daniel menyadarkan Lala.
Spontan Lala menarik tangan kembali namun kalah cepat dengan pergerakan Daniel.
Grep .
Ditangannya telapak tangan Lala yang masih menempel pada tubuh nya .
Deg deg deg deg.
Detak jantung Lala seakan terdengar dari luar , wajahnya merona malu saat otak nya mulai tak karuan.
" Bapak mesum sekali". Ucap Lala lalu membalikkan tubuhnya.
Daniel mengulum senyum , tidak pernah ia rasakan semenyenangkan itu saat menggoda gadis kecil di hadapannya. Daniel bangkit dari duduknya , Lala pun membenahi posisinya.
" Pak". Panggil Lala pelan.
Daniel berhenti lalu menoleh pada panggilan Lala.
Daniel menaikan satu alisnya , bola matanya memutar saat mendengar pertanyaan Lala .
" Menurut mu?". Tanya Daniel enteng .
" Hah , jangan-jangan bapak juga melecehkan Lala". Seru Lala lalu membungkus rapat tubuhnya.
" Apa aku tidak salah dengar , justruh saya yang kau lecehkan". Ucap Daniel lalu mengambil benda pipih yang tergeletak di atas meja.
Lala bingung , mana mungkin dirinya seberani itu , Lala kekeh dengan pendirian nya .
Daniel menekan menu yang ada di layar ponselnya , lalu di putarnya Vidio yang menampakkan dirinya bersama Lala. Mata Lala membulat sempurna , tatkala melihat putaran Vidio dalam galeri ponsel Daniel.
Hening , tidak ada suara .
Lala melontarkan pertanyaan yang terlintas dalam otaknya.
" Jangan bilang bapak juga yang mengganti pakaian Lala?". Tanya Lala panik.
Daniel tidak menjawab , melangkah menuju meja lalu memberikan obat pada Lala.
" Minumlah Bima memberi ini agar tidak pusing lagi kepala mu". Ucap Daniel sembari meletakkan beberapa obat dalam wadah.
" Hah , jangan-jangan om dokter yang menggantikan baju Lala". Ucap Lala panik.
Daniel berbalik lalu mendekat ke arah Lala.
__ADS_1
" Tidak ada yang boleh menyentuh mu selain saya". Ucapnya tegas sembari menarik bibir mungil milik Lala.
" Emmm " . Lala menepuk-nepuk lengan Daniel agar terlepas dari bibirnya.
" Pak , bapak suka sekali menarik bibir Lala , sakit tau". Ucap Lala begitu Daniel melepaskan tangannya sembari memonyongkan bibirnya.
" Sudahlah , bukan aku juga bukan Bima , perawat wanita yang menggantikan mu semalam". Ucap Daniel yang mengalah pada Lala . Jika terus di lanjutkan maka pasti ada jawaban atau pertanyaan konyol dari bibirnya.
________
Daniel sudah rapi dengan baju santainya , berhubungan hari libur , maka tidak ada pakaian formal yang melekat di tubuhnya.
Begitu pula dengan Lala , yang nampak sudah jauh lebih segar dari sebelumnya.
Klunting.
pesan masuk dari ponsel Daniel , nama Alex tertera di layar ponselnya.
Beberapa Vidio pada kejadian malam itu menjadi bukti siapa pelakunya.
" Sudah ku duga". Ucap Daniel dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
Matanya menatap tajam , dengan raut wajah yang terlihat dingin.
Alex : { Apa Lo kenal Nil , sedikit asing di mata gue? } .
pesan Alex beberapa menit kemudian.
Daniel :{ Ya , dia laki-laki pengecut yang melukai Lala di mall lalu} . send Alex.
Daniel membalas pesan yang memperlihatkan Andre pria yang sempat melukai tangan Lala tempo hari .
Daniel :{ Lo selidik dia , Lo juga taukan apa yang harus Lo lakuin } send Alex.
Pesan terkirim pada Alex lagi.
Alex :{ Baik}.
Klunting.
pesan masuk lagi , tidak butuh waktu lama semua data yang Daniel minta sudah Alex dapatkan.
". Andreas Putra Admaja , kenapa gue engga tau , apa Lala juga engga tau kalau Andre adik Maura''. Tanya Daniel sedikit bingung , pasalnya tidak pernah sekalipun diperlihatkan pada umum jika keluarga Admaja memiliki anak selain Maura , model cantik dengan tubuh molek yang selalu tersorot kamera .
Daniel nampak menahan amarah saat tahu dalang di balik itu semua .
" Kau ingin bermain-main degan ku J*****". Ucap Daniel sembari meremas jemari tangan nya.
Senyum mengerikan terukir di sudut bibir Daniel , dengan mata yang memandang tajam ke arah depan.
>>>>>>>>>
Lagi??
__ADS_1