
Pagi itu di sebuah pinggiran desa tampak ramai warga berbondong-bondong mendatangi rumah Yumna. Tak lain karena sebuah musibah yang menimpa suaminya, Joko, yang meninggal secara tragis saat memotong dahan kayu yang patah di halaman rumah. Angin dan hujan yang mengguyur desa itu hampir seharian telah menumbangkan beberapa pohon besar hingga menyulitkan akses utama warga dalam beraktivitas.
Sore itu sepulang dari sawah, Joko segera mengambil gergaji mesin di gudang belakang rumah guna memotong dahan kayu yang menghalangi arah masuk ke halaman. Padahal Yumna sudah memperingatkan agar dikerjakan esok hari saja. Namun, memang sikap Joko yang keras dan ulet lah yang menjadi awal mula bencana bagi dirinya sendiri. Dahan demi dahan berhasil dia potong hingga pada dahan terakhir gergaji mesin yang dia pegang patah dan memantul tepat ke lehernya. Menyisakan robekan yang dalam hingga nyaris saja memenggal batang leher.
Joko menggelepar. Tangannya mencengkram erat dan berguling-guling di tanah lalu tewas seketika. Deru mesin gergaji menutupi pendengaran Joko dari kumandang azan. Padahal Joko terkenal saleh dan berhenti bekerja setiap mendengar azan terdengar. Namun, kali ini nyawanya sudah terpisah dari badan. Dia sudah tak bisa menunaikan kewajibannya lagi sebagai seorang muslim.
"Kasihan, ya, Kang. Belum genap seminggu mereka menikah malah sekarang Yumna menjadi janda lagi," ucap Abas pada Yayan di sela-sela saat mereka melayat ke rumah duka.
"Bahkan dulu suami Yumna yang kedua juga meninggal secara tragis tenggelam di sungai kecil belakang desa. Padahal sungai itu dangkal. Apa jangan-jangan Yumna itu perempuan Bahu Laweyan, ya?" gumam Yayan.
"Bahu Laweyan?" Abas melotot mendengar ucapan Yayan barusan.
"Bisa jadi, Kang. Suami pertama dan kedua juga meninggal secara tragis, kan. Juga si Joko ini," lanjut Abas lagi.
"Kutukan Bahu Laweyan tak akan berhenti sebelum dia menikah hingga tujuh kali, atau memperoleh suami yang digdaya punya kebatinan tinggi." Abas sedikit berbisik.
"Ya sudah segera kita bantu prosesi pemakamannya. Gak baik ngomongin orang yang sudah meninggal." Yayan menarik tangan Abas untuk segera bergabung dengan pelayat lainnya membantu proses pemakaman.
Banyak warga bergidik ngeri saat jenazah Joko dimandikan. Tak lain karena posisi leher Joko yang nyaris terputus. Mbah Aji selaku pemandi jenazah pun merasa kesulitan karena beberapa kali leher jenazah yang nyaris putus itu seolah menoleh pada satu arah meski sudah dipegang erat-erat olehnya.
"Kang, itu mata Joko, kok, melirik ke saya terus, ya?" bisik Abas bergidik ngeri sambil mencolek bahu Yayan yang memegangi kaki jenazah Joko.
Yayan menengok ke arah wajah mayit. Benar saja mayat itu melotot ke arah Abas yang duduk di belakang dirinya. Seolah sebuah ekspresi menandakan dia tau sedang dibicarakan.
__ADS_1
Proses pemandian jenazah terus berlangsung. Mbah Aji yang sudah pasrah akan kondisi Joko akhirnya menyerah dan mengkafani jenazah tersebut dengan posisi kepala tetap miring.
Usai pembacaan doa setelah jenazah dimakamkan, para pelayat satu per satu membubarkan diri tak terkecuali Yayan dan Abas. Di tengah perjalanan pulang Abas berhenti dan menoleh ke arah Yayan dengan pandangan resah.
"Kamu kenapa, Bas?" tanya Yayan dengan mimik penasaran.
Yayan terdiam, berkali-kali dia menggaruk kepala dan menahan perkataan. "Em ... anu Kang ...," ucap Abas tak jadi.
"Ada apa, to? Kok kayak orang bingung," tanya Yayan lagi makin penasaran.
"Kemarin subuh sepulang dari musala, aku kan lewat belakang rumah Yumna. Em ... aku tanpa sengaja melihat Yumna melepaskan bajunya ketika hendak mandi di bilik. Aku sempat melihat bagian dadanya. Tapi, bukan itu yang aku herankan melainkan ada semacam tanda di kedua sisinya. Seperti ...." Abas menghentikan ucapannya.
"Apa, sih? Kamu buat aku penasaran aja, lho." Yayan mulai ikut mikir ucapan Abas.
Mereka berdua terdiam larut dalam pikiran. Lalu di persimpangan jalan mereka berpisah dan menuju rumah masing-masing.
...***...
Acara selamatan dilakukan di rumah Yumna pada hari ketujuh kematian suaminya. Warga ramai berkumpul di rumah Yumna untuk mengirim doa pada almarhum Joko. Termasuk juga Abas dan Yayan yang rutin membantu tahlilan di tempat itu. Hal yang biasa terjadi di wilayah pedesaan, jika ada warga yang kesulitan atau hajatan maka dengan seksama warga lainnya turut membantu dari mulai persiapan hingga akhir acara.
Menjelang pukul dua belas malam ketika acara usai, Abas membantu membersihkan tikar, gelas dan piring yang habis digunakan untuk acara selamatan. Abas menenteng gelas dan diletakan pada sebuah nampan untuk dibawa ke sumur yang terletak di belakang rumah.
Suasana yang tadinya ramai kini berangsur sepi hingga Abas buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Setelah usai mencuci gelas Abas kembali ke ruang pendopo dengan melewati kamar milik Yumna yang terletak di sebelah kanan bangunan berarsitektur joglo khas Jawa itu.
__ADS_1
Tiba di samping kamar Yumna, Abas mencium aroma wangi dupa dan kembang kantil yang teramat menyengat hingga timbul rasa penasarannya untuk melongok ke dalam kamar berdinding bambu tersebut.
Tampak dari celah sempit Yumna tengah duduk di ranjang dengan posisi wajah tertunduk. Tangannya menyisir perlahan rambutnya yang panjang. Abas tau betul kecantikan Yumna yang merupakan bunga desa. Sedang asyiknya dia mengintip tiba-tiba sosok di depannya melihat ke depannya dengan sorot mata tajam. Abas dan Yumna beradu pandang. Tubuh Abas gemetaran melihat wajah Yumna yang berubah memerah penuh darah, juga leher bagian depan yang sobek menganga lebar.
Abas kaku tak bergerak, sendinya seakan lemah dan hawa dingin merasukinya ketika sosok seram di depannya mulai melangkah mendekat ke arahnya.
"Mas!" Terdengar suara lembut dari belakang. Seketika itu Abas mulai sadar dan menoleh. Tampak Yumna tengah membawa beberapa piring kosong. Ia merasa heran akan kelakuan Abas.
"Yumna? Bukannya kamu di dalam sana?" tanya Abas keheranan.
"Ndak, Mas, saya sedari tadi bersama ibu-ibu di depan membereskan sisa acara," ucap Yumna bingung.
"Ya sudah kalau gitu aku mau pulang dulu. Kalau perlu sesuatu aku sama warga ada di pos ronda dekat makam. Tau sendiri, kan, kalau ada yang meninggal Selasa Kliwon pasti dijaga agar jasadnya gak dicuri," jawab Abas. Yumna hanya mengangguk lalu membiarkan Abas berlalu.
Malam itu memang serasa mencekam. Sunyi dan pekat seolah menciutkan nyali warga untuk berlama-lama di luar rumah. Hujan deras sedari sore masih menyisakan rintik dan genangan pada jalanan. Dari kejauhan lolongan anjing terdengar memilukan menambah hawa mistis di desa itu.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1