GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
15. OMONGAN TENTANG KAKEK


__ADS_3

Hari ini juga Kakek telah disemayamkan tapi aku terpaksa gak ikut pergi ke pemakamannya, begitu juga dengan Bu Nina, dia pun terpaksa gak pergi karena kalau nanti ke sana kejadian tadi siang akan terulang kembali.


Aku juga masih singgah di rumah Bu Nina, padahal saat ini sudah jam delapan malam tapi gak ada seorang pun dari keluargaku yang datang untuk menjemputku disini.


Disini di kamar Mira, aku merebahkan tubuhku bersamanya. Ibu Nina yang menyuruh kami untuk segera tidur tapi meski Mira sudah lelap, mataku justru masih terus terjaga.


Aku malah larut dalam kebisingan malam yang semakin dingin


Dalam terjagaku Ibu Nina masuk ke dalam kamar lalu meletakkan obat nyamuk bakar disudut kamar.


Dia melihatku yang masih belum tidur


"Kamu belum tidur, Dhira ?" tanyanya sambil menghampiriku lalu meletakkan telapak tangannya didahiku.


Dia berharap aku semakin pulih


"Kamu sudah gak panas lagi ya, sepertinya kamu sudah semakin pulih" ucapnya "Kamu mau makan lagi ?" tanyanya


Aku menggelengkan kepala tanpa bicara


"Kalau gitu kamu tidur aja ya" ucapnya


"Aku gak bisa tidur, Bu" ucapku


"Kenapa ?" tanyanya


"Gak tahu"


"Jangan-jangan karena efek obatnya. Tapi mana ada efek obat anak-anak yang gak bikin ngantuk ya ? Ah, gak tahu juga deh" gumamnya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri


Dalam bersamaan tiba-tiba saja aku rindu pada Nenek, tiba-tiba saja wajahnya lewat dibayanganku karena aku merasa selain Bu Nina, Nenek adalah seorang yang sayang padaku. Tapi apa yang membuat Nenek untuk gak datang menjemputku di sini.


Padahal aku berharap dia datang


"Bu, apa Nenek sudah datang ?" tanyaku, padahal jelas-jelas seharusnya aku juga tahu kalau satu orang pun diantara mereka gak ada yang datang menjemputku


"Belum, mungkin besok" jawabnya


"Kenapa harus besok ?" tanyaku


"Mungkin sekarang masih sibuk" jawabnya


"Apa Nenek sudah gak sayang aku lagi, Bu ?" tanyaku


"Oh, bukan. Enggak. Enggak mungkin, Dhira. Nenek sayang banget sama kamu" ucapnya


"Tapi kenapa Ibu aku gak menyayangi aku ?" tanyaku lagi "Om Bayu juga ?" tambahku


"Apa benar, gara-gara aku. Kakek mendapat sial sampai meninggal ?" lanjutku


Mendengar pertanyaanku itu, Bu Nina hanya terdiam menunduk

__ADS_1


"Bu, sebenarnya aku ini anak Ibuku atau bukan ya ?" tanyaku lagi


Tapi Bu Nina gak menjawabnya


"Sudah malam, harusnya kamu segera tidur supaya besok bisa sekolah lagi ya. Besok pasti Nenek menjemput kamu" ucapnya lalu pergi meninggalkan aku


Pukul enam pagi sudah menyapaku oleh angin yang masih menyengat kulitku dari semalam. Setelah memakai seragam sekolah, aku dan Mira diberikan sarapan yang sama dengan susu hangat dan sepotong roti.


Tanpa canggung seperti awalnya, aku langsung menyantap hidangan Bu Nina bersama Mira. Sementara Ayah Mira masih mandi


Pagi ini Bu Nina kebanjiran pelanggan, ada lima orang yang antri di depan warungnya untuk sekedar membeli gorengan dan ada juga yang memilih untuk minum kopi ditempat.


Padahal matahari belum tinggi tapi mereka malah menceritakan tentang kejadian kemarin siang di pemakaman Kakek


Seorang Ibu dari diantara lainnya yang memulai lebih dulu


"Kemarin itu sebelum peti ditutup rapat, Almarhum Pak Suki menangis loh, Bu Nina"


Ibu-ibu yang lainnya mengiyakan


"Iya bener, Bu"


"Iya, sampai mayatnya aja sedih begitu ya"


"Iya, miris banget liatnya"


"Iya bener banget, Bu"


Sementara satu orang bapak-bapak yang memilih untuk minum kopi ditempat hanya diam saja sambil menikmati kopi pahitnya, seolah dia gak peduli dengan apa yang terjadi kemarin siang.


Tapi mendengar kicauan Ibu-ibu itu. Ibu Nina tetap tenang dan hanya menjawab


"Masa sih, Bu?"


Walau sebenarnya dia berusaha gak peduli karena gak mau membicarakan Kakek yang baru saja dimakamkan.


"Iya Bu, airmatanya banyak" ucapnya


Ibu lainnya juga ikut melanjutkan cerita kemarin


"Iya Bu Nina, setelah kalian ribut-ribut sama si Bayu itu, kalian kan pergi tuh. Nah, gak lama kemudian eh dia nangis" tambahnya


Ibu-ibu lainnya serempak mengiyakan "Iya Bu"


Tapi Bu Nina masih tetap diam saja tanpa berkomentar banyak.


"Oh ya, anaknya ada di sini, Bu ?" tanya Ibu lainnya


Ibu Nina cepat menjawabnya


"Ada, lagi sarapan sama Mira" jawabnya

__ADS_1


Mereka serempak menjawab "Oooohh"


Entah apa arti dari kata "Oh" dengan nada panjang yang mereka ucap


Bu Nina menambahkan lagi "Mungkin kalau si Bayu sudah pergi dari rumah itu, Dhira bisa pulang" ucapnya


"Loh, memangnya semalaman ini dia menginap di sini, Bu ?" tanya Ibu lainnya


Bu Nina tersenyum "Sudah dari kemarin, dari semenjak Neneknya pergi" jawab Bu Nina


"Oohhh" ucap mereka serempak


Dalam bersamaan Ayah Mira sudah selesai mandi dan sudah siap bertani kembali, dia menghampiri Bu Nina yang sedang melayani pelanggannya


"Bu, masih sibuk ya ?" tanyanya kepada istrinya


Bu Nina menoleh Ayah Mira "Oh, iya sebentar ya. Tapi kayaknya sarapannya udah ada di meja dapur deh" ucap Bu Nina seolah sudah tahu maksud dan tujuan Ayah Mira


"Oh ya sudah aku ambil sendiri aja, aku pikir belum disiapin" ucapnya lalu beranjak ke dapur


Ibu Nina hanya mengangguk sambil masih melayani para pembelinya yang sekarang sudah nambah tiga orang, satu orang diantaranya lebih memilih menikmati kopi ditempat


Dalam bersamaan aku dan Mira menghampiri Bu Nina untuk pamit padanya setelah pamit dari Ayah Mira.


Mira yang lebih dulu menghampiri Ibunya "Ibu, aku mau sekolah dulu ya" pamitnya sambil mencium tangan Bu Nina


"Iya hati-hati ya, kalau ada orang asing yang ajak pergi dan kasih makanan juga uang kamu jangan terima ya" pesan Bu Nina yang setiap pagi selalu aku dengar sebelum berangkat ke sekolah


Lanjut sekarang aku ikut pamit dan saat bersamaan juga semua mata Ibu-ibu yang masih berkumpul di depan warung memandangku tanpa bergeming.


Aku mencium tangan Bu Nina layaknya seorang anak yang meminta izin untuk pergi. Dan pesan yang sama terlontarkan juga padaku.


Aku hanya mengangguk lalu pergi bersama Mira.


Kedua bola mata mereka masih memandangiku dari atas kepala sampai bawah bahkan sampai aku sudah melangkah jauh.


Setelah aku sudah cukup jauh mulut para Ibu-ibu itu pun kembali beraksi seolah lidah mereka terasa rugi dan gak tahan untuk saling menceritakan tentang kehidupan orang lain tetapi juga gak lupa mereka mengajak Ibu Nina ngobrol


"Itu anaknya yang dikatain terkutuk ya ?" tanya seorang Ibu kepada Ibu lainnya padahal seharus dia sudah tahu siapa aku


Seorang Ibu lainnya menjawab "Iya bener, badannya banyak hitam-hitam begitu. Saya geli lihatnya. iih" jawab seorang Ibu lainnya


"Iya saya juga geli, kayak mau mual aja gitu" tambah yang lainnya


"Mungkin kalau terasa mual bisa jadi roh jahat didalam badan anak itu keluar" ucap lainnya


Beberapa Ibu-ibu yang masih disitu mengangguk setuju tapi ada juga yang diam saja


"Amit-amit jabang bayi" ucap seorang Ibu sambil mengusap-usap perutnya.


Sementara Ibu Nina hanya diam saja menahan amarah karena perkataan mereka, Bu Nina tetap tenang sambil menyiapkan belanjaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2