GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 10.


__ADS_3

"Ya, Nyi. Aku mau Abas mati hingga tak ada lagi yang menjadi penghalang aku mendekati Yumna," ucap Wandi mantap.


"Hahahaha, dasar manusia rakus! Lantas apa lagi yang akan kamu berikan untukku?!" Nyi Asih tertawa lalu diam. Matanya menatap seluruh pasukan yang duduk bersila di depannya.


"Jiwaku Nyi. Kujual jiwaku pada penguasa gunung ini agar niatku terwujud," ucap Wandi dengan gemetaran.


"Enak saja! Berikan aku tumbal bayi merah, wanita hamil dan sesajen untuk kamu persembahkan pada pengikutku. Paham itu?!" seru Nyi Asih. "Jabang Kelana! Bawa Sawitri dan Parwita menyertai dia, turuti keinginan manusia laknat ini!" Nyi Asih berteriak lantang memanggil sosok genderuwo yang tadi memakan burung gagak milik Wandi.


Angin bertiup kencang saat hadirnya tiga makhluk seram yaitu genderuwo, kuntilanak hijau yang bernama Sawitri dan seekor siluman harimau bertubuh besar bernama Parwita. Ketiga mahluk itu diutus untuk mengikuti kehendak Wandi untuk mencelakai Abas.


...***...


Malam itu Yumna dan Abas berbincang-bincang di teras rumahnya. Letih dan lelah mereka rasakan sehabis menyiapkan beberapa hal untuk pesta pernikahan yang sederhana, dan mungkin hanya akan di hadiri beberapa warga saja.


"Mas punggungku, kok, terasa nyeri, ya? Rasanya panas dan linu," keluh Yumna sambil bersandar pada bahu Abas.


Abas menggerakkan tubuhnya dan memijat perlahan dari bahu hingga punggung Yumna. Tanpa sengaja kain penutup punggung meloror hingga tampak kulit putih Yumna yang halus. "Yum, apa aku gak salah lihat? Tanda cokelat di bahu belakangmu seolah memudar," ujar Abas heran.


Yumna menoleh ke arah Abas dengan mata berbinar juga heran. "Apakah itu artinya kutukan mulai lekang, Mas? Aku takut sekaligus bahagia jika tanda itu benar-benar hilang," ucap Yumna manja.


Abas memutar tubuh Yumna hingga mereka berhadapan. Dia merasa penasaran dengan tanda yang ada di dada Yumna apakah turut hilang juga. Abas meminta ijin untuk menurunkan kain yang menutupi dada Yumna dan dengan malu-malu Abas memperhatikan kedua belah dada ranum Yumna.


"Yum, tanda di bagian depan kok berpindah ke tengah ya?" ucap Abas lagi.


"Astaga, Mas. Itu bukan tanda aneh. Bukankah itu bagian dari milikku," sahut Yumna malu dan membenahi kain pada tubuhnya. "Ahh, Mas genit," ujar Yumna disusul dekapan lembut Abas. Mereka saling menggelitik sambil bercanda Ria.


"Ehemm! Gak baik seperti itu. Tunggulah sampai beberapa hari lagi." Ibu Abas keluar dari bilik dapur sambil tersenyum geli melihat anak perjakanya menggoda calon istri.

__ADS_1


...***...


Hari yang ditunggu Abas dan Yumna akhirnya tiba jua. Malam ini adalah malam mereka mengadakan sedekahan untuk mengumumkan tanggal pernikahan. Semua orang sudah berkumpul di rumah Abas baik ninik, mamak, tua tengganai dan pemangku adat menempati tempat yang sudah disediakan.


Abas duduk di ruang tengah bersama tamu undangan yang lain, sedangkan Yumna duduk di sudut ruangan bersama Bu Tika. Tidak banyak yang menghadiri acara tersebut. Hanya sanak saudara dan beberapa tetangga saja mengingat warga desa masih menyimpan amarah terhadap Yumna.


“Kamu benaran sudah yakin, Bas?” bisik Wandi kepada Abas.


Abas hanya tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan yang sudah sering tertuju kepada dirinya. Meski tidak sedikit yang meragukan niat Abas, tapi dia tidak pernah goyah barang sedikitpun.


“Bas, sejujurnya aku khawatir sama kamu. Bagaimana jika rumor tentang Yumna itu benar? Hidup kamu bakal sia-sia, Bas." Yayan ikut menimpali dengan wajah yang khawatir.


Abas menarik nafas panjang, meski ia sudah sering menjelaskan ini tapi teman-temannya tetap saja selalu memberi pertanyaan yang sama. Namun, Abas menghargai kekhawatiran sahabatnya itu. Walau bagaimanapun juga Abas juga menyelipkan sedikit rasa khawatir terhadap Yumna.


“Inshaallah. Jika Allah yang sudah berkehendak, semua akan baik-baik saja." Abas tersenyum dan menyudahi percakapan itu mengingat acara akan segera dimulai.


“Sebentar lagi Abas, tunggulah sebentar lagi,” gumam Wandi di dalam hati seolah ia tahu akan terjadi sesuatu terhadap sahabatnya itu.


Rangkain demi rangkaian acara berjalan dengan lancar, hingga tibalah mereka di penghujung acara. Saat Pak Lurah akan menutup acara tersebut, tiba-tiba saja angin bertiup kencang tanpa sebab.


Brakkkk!


Pintu masuk dan pintu jendela serentak tertutup kencang oleh tiupan angin. Acara yang semula khidmat berubah menjadi ricuh saat lampu pelita ikut padam dan membuat seisi ruangan gelap gulita.


“Arggghhhhh!” Suara erangan terdengar di tengah kegaduhan. Yumna meraba-raba dinding untuk mencari keberadaan Bu Tika. Lalu ia memeluk erat calon mertuanya itu. Rasa takut di hati Yumna semakin menjadi. Ia khawatir jika akan terjadi apa-apa terhadap calon suaminya, Abas.


“Aku takut, Bu,” rintih Yumna seraya memeluk erat tubuh Bu Tika.

__ADS_1


“Berdoa, Nduk. Semoga tidak terjadi apa-apa." Bu Tika mencoba menenangkan Yumna seolah paham dengan rasa takut dan kekhawatiran yang dirasakan Yumna.


“Argghhhh!” Suara erangan kembali terdengar beriringan dengan suara cekikikan gelak tawa yang memenuhi seisi ruangan. Tamu undangan yang berada di dalam ruangannya hanya bisa berteriak histeris tanpa mampu berbuat apa-apa. Pintu masuk yang tadi tertutup tidak bisa dibuka kembali meski berkali-kali mereka mencobanya.


Suasana semakin ricuh ketika dinding rumah Abas berbunyi nyaring seperti dicakar oleh kuku-kuku panjang dan tajam, suara tersebut terdengar ngilu di telinga.


'Bagus Sawitri dan Parwita, aku sudah menunggu kalian,' batin Wandi seolah mengetahui bahwa itu semua adalah ulah kuntilanak hijau dan harimau siluman milik Nyi Asih.


Geraman Parwita dan cakaran Sawitri semakin menjadi-jadi hingga suara jerit tangis menggema di setiap sudut ruangan yang berasal dari orang-orang yang ketakutan. Di saat situasi semakin panik, tiba-tiba muncul sebuah cahaya terang berwarna merah menyala bak kobaran bola api yang menggelora yang masuk setelah menghantam pintu.


Brakkk!


Semua isak tangis terhenti melihat itu semua. Bulu kuduk bergidik ngeri ketika cahaya tersebut berhenti tepat di atas kepala Abas.


“Awas, Kang!” teriak Yumna saat menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi.


“Akhhhh!” Belum sempat Abas menghindar, cahaya bola api itu sudah masuk ke dalam tubuh Abas. Tubuhnya bersinar dan meronta-ronta seperti terbakar.


“Cepat ambilkan minum!” perintah Pak Lurah yang ikut panik melihat kondisi Abas.


Tubuh laki-laki itu terus saja meronta-ronta, ia menghempaskan badannya ke sana ke mari yang membuat semua orang berhamburan keluar dari ruangan. Kini hanya tersisa Pak Lurah, Pak Udin, Yayan, Wandi serta Yumna dan Bu Tika yang berada di dalam ruangan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2