GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
31. MERINDU


__ADS_3

Pendaftaran sekolah menengah pertama sudah mulai. Liana dan Ibu sibuk membicarakannya bersama. Namun Pak Yanto cukup sibuk mengurusi kerja kerasnya sepanjang hari diluar rumah jadi, dia gak ada sedikitpun menyinggung ke hal itu.


Siang bolong dengan suasana kampung yang sepi namun teduh, Liana dan Ibu duduk-duduk diteras rumah.


Mereka bersantai sambil memakan kacang kulit bersama


Melihat mereka begitu akrab aku merasa kalau seharusnya aku juga termasuk bagian dari mereka itu sebabnya aku memberanikan diri untuk duduk disamping Ibu


Tapi rupanya gak ada yang menginginkanku terutama Ibu.


Ibu malah mengusir ku


"Sana masuk saja ke dalam jangan duduk di sini nanti orang lihat kamu. Bikin malu aja !" ketusnya


Liana hanya melirikku, mata kami saling berpandangan sebentar tapi Liana dengan cepat membuang pandangannya


Ibu masih saja tetap memaksaku pergi dari hadapannya


"Sana masuk, sana !" ucapnya sambil menggusur pundakku dengan tangannya


Dengan berat hati akhirnya aku menuruti mau Ibu.


Tapi belum juga aku jauh masuk ke dalam rumah, Ibu memanggilku


Aku rasa Ibu menyesal sudah mengusirku


"Iya Bu ?" jawabku


"Kamu sudah cuci piring belum ?" tanyanya


Aku menggelengkan kepala


"Kenapa belum ?" tanyanya


"Tadi aku habis cuci sepatu Liana, Bu " ucapku pelan


Ibu mengecap "Ckkh"


"Harusnya kamu tahu tugas kamu selanjutnya apa. Jangan lalai. Pekerjaan seperti itu aja kamu gak bisa tangani" ucapnya


"Tapi tadi aku..."


"Aku apa ?" potong Ibu


Aku hanya menunduk terdiam, namun ujung mataku masih bisa melihat betapa santainya Liana menikmati kacang kulit yang sejak tadi dia makan.


"Sekarang kamu rapikan dapur, sebentar lagi saya mau masak" perintahnya


Aku mengangguk "Iya Bu" jawabku tapi tubuhku enggan berbalik.


Entah kenapa aku berharap Ibu berubah pikiran


"Kenapa masih berdiri aja ?" ketusnya


"Iya Bu " ucapku kemudian pergi


Setelah sampai di dapur aku mengambil piring kotor lalu mencucinya dengan perlahan.


Aku selalu berusaha berpikir yang baik atas perlakuan Ibu dan Liana padaku, gak mau menyimpan luka yang akan menjadikannya dendam tapi apa boleh buat, hati ini tetap rapuh dan tanpa aku sadari butiran air mataku pun jatuh


Entah kenapa siang ini aku jadi teringat sosok Nenek, wajahnya seolah begitu dekat diwajahku bagai tepat ada dihadapanku.


Aku merindukannya.

__ADS_1


Sesekali aku juga menguap mataku berair dan perih saking menahan ngantuk yang berat.


Aku juga sudah kelelahan dan berharap bisa istirahat sebentar


Tapi apa mau dikata, semua ini hanya perjalanan hidup yang harus aku tempuh. Perjalanan yang menyakitkan bagiku. Aku gak pernh tahu sampai kapan semua ini berakhir


Beberapa menit aku sudah menyelesaikan pekerjaanku tapi aku gak ada keberanian untuk tidur siang sekedar memulihkan energiku.


Saking ketakutannya akhirnya aku putuskan tidur dekat kandang bebek. Dengan posisi duduk aku merentangkan kakiku kemudian pulas seketika.


Hingga akhirnya Pak Yanto membangunkanku disaat langit mulai jingga disaat matahari perlahan turun


"Dhira?" panggilnya membangunkanku


Dia menepuk pundakku perlahan


Aku meresponnya dengan perlahan memicingkan kedua mataku. Aku baru sadar kalau sejak tadi rupanya tubuh ku sudah habis diserang nyamuk.


"Kenapa kamu tidur di sini, kenapa kamu gak tidur di dalam ?" tanyanya


Aku belum bisa menjawab tapi masih duduk


Tapi dalam bersamaan Ibu datang "Ya ampun Dhira, Ibu cari dari tadi siang rupanya kamu ada di sini" ucapnya berubah panik


Pak Yanto menolehnya, dia menyerengitkan dahinya "Kamu bilang apa ?" tanyanya pada Ibu, wajahnya pun berubah menahan amarah yang lama dia simpan


"Aku cari-cari dia sejak tadi gak ketemu tahunya ada di sini" jawab Ibu lagi


Tapi Pak Yanto gak turut percaya atas pernyataan Ibu "Bagaimana mungkin kamu gak tahu kalau anakmu tidur disamping kandang bebek seharian !" ucapnya


Ibu jadi salah tingkah seolah kepergok dengan pertanyaan Pak Yanto "Loh, aku memang gak tahu" jawabnya lantang


"Jadi maksud kamu apa ? Memangnya kamu gak melihat ada manusia di sini. Yang kamu lihat apa ? Batu ?" ketus Pak Yanto.


Tapi Ibu tetap kuat dengan jawabannya


"Aku memang gak melihat dia" jawabnya


Mendengar jawaban Ibu yang baginya gak masuk akal akhirnya Pak Yanto meradang dengan suara yang tinggi


"Bagaimana mungkin !"


Ibu terdiam, wajahnya berubah kaku, pandangannya berat menatapku penuh dengan ancaman


Pak Yanto marah sekali pada Ibu dia berbica keras sembari menunjuk-nunjuk wajah Ibu "Kamu ini Ibu kandungnya harusnya gak sepantasnya kamu bersikap begitu. Aku sudah perhatikan sejak awal kamu perkenalkan dia padaku, aku sudah duga kalau hatimu ada yang salah kepada anakmu sendiri !" kesalnya


Mendengar bentakan Pak Yanto, Ibu menangis begitu saja. Suaranya sendu dan pilu. Dia sakit hati dengan perkataan Pak Yanto yang semakin menyudutkannya


"Kamu kenapa menyalahkan aku. Aku ini sudah lelah sejak tadi pagi mengurusi isi rumah ini. Dia yang tidur di situ kenapa aku yang disalahkan. Harusnya kamu menyalahkan dia saja !" ucapnya berderai air mata.


Pak Yanto diam, dia menghela napasnya dan terus memandang wajah Ibu yang sudah merah basah dengan air matanya.


Pak Yanto kemudian menolehku sembari aku berdiri dibelakangnya. Dengan takut aku berusaha menengahi perdebatan mereka


"Maaf, Pak. Tadi aku ketiduran. Ini salah aku" ucapku pelan


Tapi Pak Yanto gak merespon apa-apa. Dia malah pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dan Ibu.


Setelah Pak Yanto sudah terasa jauh dari kami, Ibu kemudian berbicara sinis padaku


"Kamu ini hanya anak pembawa sial, anak yang terkutuk , anak yang sudah dikutuk oleh pujaan Iblis Ayah kandungmu sendiri. Sekarang kamu sudah mulai menghancurkan rumah tangga saya. Mulai detik ini kamu harus sadar diri dan cepat-cepat pergi dari rumah ini" ucap Ibu pelan lalu pergi


Mendengarnya aku diam saja bahkan aku sudah terbiasa mendengar hujatan "Anak terkutuk" kepadaku. Tapi meskipun begitu tetap saja entah kenapa kalimat itu seolah menyisakan luka hati sedikit yang semakin menumpuk didalam batinku.

__ADS_1


Tapi aku gak bisa berbuat apa-apa yang aku bisa hanya menangis tanpa suara.


Beberapa menit hanya berdiri gak berani masuk ke dalam, dari dalam rumah suara Pak Yanto terdengar memanggilku, meski dia gak terlihat tapi panggilannya begitu menjurus kepadaku seakan memaksaku untuk masuk


"Dhira !" panggilnya


Langsung saja aku menemuinya setelah menghapus air mataku sampai benar-benar gak terlihat wajah yang muram


"Iya, Pak" jawabku sambil berlari kecil menuju sumber suaranya


Rupanya Pak Yanto sudah ada di depan rumah tengah bersiap dengan motor tuanya


Tapi disitu Liana justru mengikutiku


"Ayah mau kemana ?" tanya Liana cepat


"Mau ke warung sebentar" ucap Pak Yanto dengan santai


"Aku ikut" pinta Liana


"Lain waktu aja ya, Ayah ajak Dhira dulu" Jawabnya


Mendengarnya Liana mengamuk "Kenapa cuma Dhira aja yang diajak !" protesnya


"Memangnya kamu mau pergi bersama Dhira juga ?" tanya Pak Yanto


Liana diam lalu melirikku


"Memangnya Ayah mau ke mana ?" tanya Liana lagi, kali ini dia gak yakin kalau Ayahnya gak sekedar ke warung saja


"Ayah kan sudah jawab kalau mau ke warung bersama Dhira" ucapnya


"Ayah bohong !" kesal Liana


"Kalau kamu mau ikut ayok naik, tapi Dhira juga mau Ayah ajak" ucapnya


Meski sudah diajak oleh Pak Yanto tapi Liana malah kecewa dia malah pergi ke dalam rumah tanpa ada omongan apa-apa.


Tapi Pak yanto seakan gak perduli dengan sikapnya tapi bukan berarti dia membenci anaknya.


"Ayok naik Dhira, kita jalan-jalan" ucapnya sambil menyalakan mesin motornya


Langsung aja aku naik dan duduk dibelakangnya.


"Sudah lama ya Dhira belum jalan-jalan lagi " ucapnya sambil membawaku pergi dari halaman rumah


"Iya" jawabku


"Dhira sudah makan ?" tanyanya


"Belum, Pak" jawabku


"Tadi siang ngapain aja Dhira ?" tanyanya


"Aku bersih-bersih rumah"


"Oh, tadi makan jam berapa ?" tanyanya


"Tadi kan makannya bersama Bapak juga" jawabku polos


"Maksud kamu makannya yang tadi pagi ?" tanyanya lagi sambil sedikit menoleh kebelakang


"Iya" anggukku

__ADS_1


Tapi Pak Yanto gak bertanya-tanya lagi. Dia hanya mengangguk saja.


__ADS_2