
Pagi telah kembali menyambut , dengan lembut angin segar terasa menyentuh kulit keringku bersamaan dengan kicauan burung pagi yang selalu terdengar merdu mengiringi semangat baruku hari ini.
Begitu pun kepada Pak Yanto yang hari ini tetap memaksakan dirinya untuk kembali bekerja.
Dia bilang kalau dia sudah sehat sekali
Terlihat dari senyumannya yang sumringah kedua matanya berbinar dan wajahnya cerah menggambarkan kalau Pak Yanto benar-benar sudah kembali sehat.
Tapi, meski begitu entah kenapa batinku berkata kalau Pak Yanto sebenarnya belum pulih sepenuhnya
Seperti biasa Ibu meletakkan piring sarapan untuk kami santap bersama. Dia letakkan diatas meja ruang tamu ditatanya dengan rapih dan terlihat enak
Pak Yanto meyakinkan Ibu setelah semua sudah berkumpul untuk makan "Aku sudah sehat nih Bu" ucapnya
Tapi rupanya Ibu masih ragu "Ayah yakin kalau hari ini Ayah udah lebih sehat ?" Ibu meyakinkan lagi
Ayah mengangguk dihiasi senyumannya "Iya Bu, lihat aja ini Ayah sudah bisa menggerakkan badan. Sudah pulih" ucapnya sembari merentangkan kedua tangannya kemudian dia gepakkan seperti mau terbang
Ibu tersenyum lega " Bagus lah kalau begitu semoga sehat selalu dan panjang umur" ucapnya
"Amin" sahut Pak Yanto sambil mengambil piringnya yang sudah berisikan makanan yang sejak tadi ada dihadapannya
Pak Yanto memang menyakinkan dirinya kalau dia sudah pulih tapi hati kecil ku seolah menolaknya karena pagi ini terasa lain entah dari mana asal pemikiran itu aku juga bingung, aku gak bisa menyimpulkan tapi aku hanya merasakan kalau hari ini juga wajah Pak Yanto terlihat lain karena meski Pak Yanto nampak sumringah sejak tadi tapi batinku seperti sedih melihatnya.
Pagi ini Pak Yanto gak menghabiskan makanannya, dia lebih memilih menyisakan lebih banyak dari biasanya
Gak biasanya Pak Yanto seperti itu, biasanya dia menghargai makanan
Melihatnya Ibu jadi marah "Kenapa gak dihabiskan sih !" ucapnya
Ayah menggelengkan kepala "Ayah sudah kenyang Bu" ucapnya sambil menggeser piringnya bertanda kalau dia sudah gak mau makan lagi
Tapi Ibu gak mau terima, dia maunya Pak Yanto menghabiskan seperti biasanya
"Tapi kamu hari ini makan sedikit sekali, benar-benar sedikit. Seharusnya kamu makan lebih banyak supaya nanti ada tenaga" ucap Ibu. kemarahannya mulai mereda
Pak Yanto tersenyum "Tenang aja Bu, aku gak sakit parah cuma masuk angin biasa. Ini karena aku gak napsu makan aja cuma hal biasa ketika orang baru sembuh dari sakit, tenang aja palingan nanti siang dan malam aku akan makan lahap. Namanya juga proses penyembuhan" jelasnya menyeringai
Mendengarnya Ibu lega "Ya sudah kalau gitu jangan lupa bawa bekal makan siangnya ya" ucap Ibu
Pak Yanto mengangguk "Iya Bu. Tenang aja. Pasti beres akan dimakan" ucapnya sambil memberikan Ibu dua jempol
Ibu tersenyum kecil "Ya sudah kalau begitu" pungkasnya
"Ya sudah, Ayah berangkat kerja dulu ya" pamitnya pada kami
__ADS_1
Serempak kami menjawab "Iya hati-hati"
Setelah Pak Yanto pergi seperti biasanya Ibu menyuruhku untuk berbenah seperti sebelumnya
"Jangan lupa kasih makan bebek, dan jangan kelamaan juga karena nanti Liana bisa kesiangan" ucapnya
Aku mengangguk pelan "Iya Bu"
Septi pernah bertanya padaku, mengapa memberi makan bebek gak sebelum mandi saja, tapi aku menjawabnya karena Pak Yanto akan melarangnya dan akan menyuruh Ibu yang melakukannya. Itu sudah pernah terjadi sebelumnya dan Ibu sangat marah padaku setelah itu.
Maka dari itu setelah Pak Yanto gak ada di rumah, Ibu selalu leluasa untuk menyuruhku.
Tapi gak apa-apa kok, selama ini aku ikhlas melakukannya.
Hari ini aku mengikuti pelajaran seperti biasanya tanpa ada permasalahan lainnya yang membuat aku patah asa.
Langit biru dengan terik matahari yang menyengat kulitku seakan membakarnya tanpa ampun. Meskipun aku memakai jaket tetap saja gak sanggup melindungi dari sengatannya.
Sungguh, ini sangat panas dari biasanya.
Sore pukul empat sore rupanya Pak Yanto sudah pulang, dia masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah dan terlihat sehat
Ibu yang juga melihat kedatangannya jadi bingung karena seharusnya biasanya Pak Yanto sampai rumah pukul enam sore.
"Iya, mesin pabrik lagi rusak jadi harus diservis dulu. Karena servisnya agak lama jadinya semua karyawan disuruh pulang" jelasnya
Ibu mengangguk dan lega mendengarnya "Oh, Ibu kira Ayah masih sakit" ucapnya
"Enggak kok. Oh ya Ayah mau mancing dulu ya nanti malam Ayah pulang. Ya, biasalah kira-kira jam sepuluh malam Ayah sudah sampai sini lagi" pamitnya
Ibu makin bingung mendengarnya " Hah, mancing ?" ucapnya
Pak Yanto mengangguk sambil sibuk menyiapkan alat pancingnya "Iya Bu, Ayah pergi mancing ke laut bareng Pak Yosan. Bentar lagi Pak Yosan jemput Ayah" jelasnya
Mendengar kata laut Ibu semakin ragu mengijinkan Pak Yanto "Ayah kok bisa-bisanya mau mancing ke laut sih !" takutnya
Pak Yanto menoleh wajah Ibu, tapi Pak Yanto tersenyum sembari masih menyiapkan alat pancingannya "Aku tuh sudah terbiasa dan sudah sangat sering mancing ke laut. Baru-baru nikah sama kamu aja aku belum pernah ke sana lagi" jelasnya
Ibu mendekati Pak Yanto kemudian menyentuh pundaknya dengan lembut "Ayah, kalau usul aku lebih baik jangan pergi karena Ayah kan baru sembuh" pintanya dengan lembut
Tapi dalam bersamaan justru terdengar suara motor Pak Yosan berhenti di depan rumah, Ayah yang tahu karena dia hapal suara mesin motor temannya
"Nah, itu Pak Yosan sudah datang" ucapnya tanpa menggubris permintaan Ibu barusan
Pak Yanto malah langsung pamit pada Ibu
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ya Bu, jaga anak-anak sebentar saja. Aku gak akan lama kok. Palingan pulang tengah malam. Hehe" ucapnya sambil melangkah pergi membawa alat pancingnya kemudian sekaligus pamit padaku
"Dhira, Bapak berangkat dulu ya. Nanti Bapak pulang malam" pamitnya
Aku mengangguk "Iya Pak" jawabku
Tetapi Ibu hanya diam saja melihat kepergian Pak Yanto yang lebih memilih pergi bersama teman lamanya itu
Langit mulai jingga seolah mengisyaratkan matahari tenggelam dibalik awan kelabu, angin malam pun mulai berhembus pelan, semilir angin malam membawa suasana tanpa terasa langit semakin gelap saja. Malam ini gak ada bintang hanya langit hitam pekat membentang luas
Tapi Pak Yanto belum juga pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dengan setia Ibu menunggu Ayah sambungku di ruang tamu, meskipun pandangan matanya tertuju kepada televisi tetapi aku bisa merasakan kalau pikiran Ibu sudah kacau terlihat dari sikapnya yang selalu gelisah jika mendengar deru mesin motor diluar rumah, Ibu lekas menoleh ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Ibu berharap Pak Yanto segera pulang dan berkumpul bersama kami lagi
Hingga pukul sebelas lewat lima belas menit pun Pak Yanto belum juga kembali.
Drun...drunn..drunnnn...
Deru mesin motor Pak Yosan terdengar melesat tepat dimuka pintu rumah kami
Langsung saja Ibu bergegas membuka pintu untuk Pak Yanto
Tapi senyum simpul Ibu terlihat beku ketika melihat Pak Yosan datang hanya sendirian saja
"Mana suami saya ?" tanya Ibu datar
Tapi Pak Yosan mulai gugup, gelagat tubuhnya seperti gak tenang. Seperti ada sesuatu yang gak pantas tuk dia ucap malam ini
Tapi Ibu tetap bertanya lagi "Mana suami saya ?" tanyanya
"Ng...nggg...anu...Bu...nggg...itu" ucapnya terbata-bata
Mendengarnya Ibu makin kesal saja mendengar jawaban Pak Yosan, nada suara Ibu mulai meninggi "Mana suami saya ?" kesalnya. Matanya sudah berair seakan membendung kepedihan yang belum tahu pasti
Tapi Pak Yosan masih saja menunduk dihadapan Ibu, rupanya dia semakin sanggup bicara
"Nggg...ngggg" jawabnya
"Pak, jawab !" kesal Ibu lagi
Tapi Pak Yosan masih saja diam, wajahnya mulai pucat kaku meski sesekali dia menggigil tapi dahinya justru berkeringat.
Ibu yang sudah muak melihat sikap Pak Yosan akhirnya naik pitam juga "Pak Yosan jawab dong ! jawab !!! Suami saya kan tadi sore berangkat sama Bapak !" kesalnya
Tapi Pak Yosan malah semakin bingung seolah gak tahu harus memulai dari mana dulu
__ADS_1