
Hari itu cuaca cerah hingga para petani sedari pagi sudah ke sawah. Beberapa lainnya mengembala ternak. Hujan beberapa hari membuat aktivitas warga terganggu. Abas yang pagi itu sudah menjemur kayu untuk dijadikan kayu bakar tampak bercucuran keringat dan duduk dengan santai sambil menikmati ubi rebus di depannya.
"Minum dulu tehnya, mumpung hangat, Mas."
Yumna keluar dari rumah sambil membawakan teh manis. Sepertinya akan ada acara memasak di rumahnya. Tampak Bu Tika yang tak lain adalah ibunya Abas sibuk menanak nasi dibantu ibu-ibu lainya.
"Wah, Bas, kok ramai betul ada apa, sih?" Wandi yang sedang menggiring beberapa kambing menghampiri Abas di halaman rumah.
"Hehe, nanti malam datang, ya. Kami mau umumkan pernikahan," ucap Abas tersenyum.
"Menikah? Dengan Yumna maksudmu? Bas, apa kamu itu gila! Dia, kan, wanita Bahu Laweyan. Bisa naas nasibmu nanti," ucap Wandi berbisik agar suaranya tak didengar yang lain.
"Halah, Kang. Takdir, kan, di tangan Tuhan. Lagi pula demi menghindari fitnah. Toh Yumna telah menjanda lebih dari empat purnama," sahut Abas sambil menepuk bahu Wandi. Senyum tetap merekah di bibirnya terlebih dari kejauhan Yumna tersenyum manis ke arahnya.
"Mas, aku sama ibu mau kepasar dulu. Nanti kalau selesai sarapan Bantu Bi Sugeng, ya, menyiapkan daun pisang buat bungkus makanan," pesan Yumna pada Abas. Setelahnya dia dan Bu Tika berjalan menuju pasar untuk berbelanja.
Wandi menggeleng, dia segera pamit dari tempat itu. Niatnya untuk menggembala kambing ia urungkan. Wajah Wandi seolah tak nyaman dengan kabar yang baru saja ia dengar.
'Tak bisa dibiarkan, aku harus bertindak,' gumam Wandi dalam hati.
...***...
Wandi berjalan menyusuri hutan belantara Gunung Lawu. Tangannya membawa tas dari anyaman bambu berisi dua ekor ayam cemani berwarna hitam pekat. Ditatapnya pucuk-pucuk pohon di bawah tebing. Rasanya mustahil mencari Nyi Asih tanpa petunjuk apa pun karena konon perempuan tua itu hanya menemui orang yang punya niat kuat saja.
Tiba di sebuah jembatan kayu yang sebagian sudah lapuk, Wandi berhenti. Senja yang baru saja berganti malam telah menciutkan nyalinya.
'Tak mungkin jembatan ini bisa dilalui manusia jika melihat kondisinya yang rapuh,' gumam Wandi sambil menatap jurang terjal di bawahnya. Wandi berbalik arah agar ia mampu menemukan jalan yang bisa ia lalui untuk sampai ke bukit lainnya di ujung sana.
Suara gagak di tengah hutan sesepi itu pasti membuat bulu kuduk siapa saja jadi merinding. Berisik dan mengusik. Wandi duduk di sebuah akar pohon yang melintang. Diikatnya dua ayam cemani itu agar ia bisa beristirahat dengan tenang di balik pohon yang berlubang.
__ADS_1
Halimun Gunung Lawu serasa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Amat dingin terlebih Wandi tak membawa peralatan apa pun untuk mendaki gunung ini selain dua ekor ayam tadi.
Malam kian larut, Wandi duduk merapatkan kepala di lututnya. Suasana Hutan Lawu benar-benar mencekam.
"Hahahaaha!" Suara terdengar menggema di antara pohon-pohon besar. Wandi gemetar. Dia tau pasti penghuni hutan ini terusik oleh kehadirannya. Untunglah suara itu segera lenyap.
"Bruk!"
Entah karena takut atau panik Wandi tiba-tiba memukul seekor burung gagak yang hinggap di depannya. "Burung berisik!" ujarnya.
Wandi memungut burung gagak itu. Mencabut bulunya dan mulai menyalakan api dari ranting kering untuk membakar burung gagak itu. Hawa dingin telah membuatnya lapar. Api tak membesar sesuai harapannya. Wandi meringkuk dan tertidur menunggu daging burung matang.
Dengusan napas yang terdengar berat menggema di antara pepohonan disusul dengan deru angin yang makin lama makin kencang. Wandi gentar. Lelaki kurus itu bersembunyi di balik jaket sambil meraba burung gagak yang tadi dia panggang.
Api yang berangsur padam membuat pandangan Wandi memudar. Tangannya meraih sekepal daging gagak diantara bara dan dedaunan. Masih dengan nyali yang ciut dia coba mengunyah daging itu dalam genggamannya.
Gigitan demi gigitan ia lakukan. Bibirnya mengunyah sembari matanya mencoba awas pada keadaan hutan.
Wandi melemparkan sekepal daging itu. Sesuatu terasa bergerak di dalam rongga bibirnya, menyangkut di lidah. Hatinya kian resah ketika tangannya menarik benda kecil yang terus mengeliat dalam mulut.
"Arghhh!" Wandi ketakutan dan terduduk ketika tangannya meraih benda itu yang tak lain adalah belatung. Diamatinya kepalan daging itu dengan seksama.
"Hoekkk! Astaga, ini adalah tangan manusia!" Sontak Wandi melemparkan potongan tangan itu sejauh mungkin.
Suara dengusan terdengar lagi. Disinari remang cahaya rembulan dengan sedikit ragu Wandi mendekat pada sosok hitam dengan rambut hitam terjuntai. Sesosok makhluk bermata merah dan bertubuh legam tengah asyik menyantap daging burung gagak miliknya.
"Dasar licik! Pergi, daging itu milikku!" seru Wandi marah pada sosok genderuwo pencuri makanannya. Rupanya rasa lapar membuatnya menjadi sedikit berani.
Genderuwo itu menoleh ke arahnya. Tampak gigi besar dan kuat di antara bibir yang sedang mengunyah. Genderuwo itu mundur beberapa langkah. Sepertinya ia tak rela mengembalikan daging gagak panggang milik Wandi. Hingga terjadi kejar-kejaran makhluk dari dua alam yang berbeda.
__ADS_1
"Tunggu, aku akan memberimu imbalan atas daging lezat ini." Gendruwo yang terdesak melemparkan beberapa keping uang emas dan perak dalam sebuah wadah kain kecil.
"Heh, jelek! Aku bersusah payah memanggang burung itu. Kini berilah aku imbalan yang pantas," ucap Wandi dengan nada marah. Rasa lapar telah membuat sirna ketakutan di hatinya.
Genderuwo melihat ke arah Wandi berharap akan ada negosiasi yang baik.
"Bawa aku pada Nyi Asih!" ujar Wandi lagi.
Gendruwo menatap tajam ke arah Wandi. Daging burung gagak yang ia kunyah pun nyaris terlepas. "Tidak! Tak mungkin. Dia bisa menghukumku," jawab genderuwo dengan suara gemetaran.
"Bukankah ini setimpal? Jika tidak kembalikan sisa burung gagak itu agar aku bisa memakannya!" gertak Wandi.
"Ba--baiklah, biarkan aku habiskan dulu sisa makanan lezat ini." Makhluk besar hitam itu jongkok dan menghabiskan sisa daging burung gagak. Setelah ia selesai makan, genderuwo segera mendekap tubuh Wandi lalu lenyap diikuti kepulan asap hitam.
...***...
Wandi membuka mata. Dirasakan dia berada di tempat berbeda. Sebuah tempat lapang bak istana dengan ratusan orang duduk bersila. Di hadapan mereka berdiri makhluk cantik dan ayu penghuni Gunung Lawu.
Wandi mengenali makhluk itu dengan nama Nyi Asih. Pada wujud aslinya Nyi Asih bagai perempuan renta berbadan bungkuk dan berambut putih panjang terjuntai. Namun, beberapa kali juga Nyi Asih menggunakan wujud cantik bak usianya masih belia.
Perempuan penyihir dan penguasa lembah di lereng Lawu itu mendekati Wandi. "Apa niatmu sudah bulat?" ucap perempuan cantik dengan pakaian serba biru di hadapan Wandi.
Wandi terdiam. Sepertinya Nyi Asih telah paham maksud kedatangannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....