
Besok adalah hari paling penting bagi siswa termasuk bagiku karena sekolah akan melaksanakan ujian kelulusan. Jauh hari sebelum dilaksanakan ujian sekolah, semua siswa sudah dihimbau oleh masing-masing wali kelas untuk berlomba-lomba belajar dengan rajin demi satu kata
"Lulus"
Gak luput juga dengan ku, kali ini aku sangat giat belajar untuk bisa mendapatkan beasiswa di Sekolah Menengah Pertama impianku.
Karena, beberapa hari sebelumnya ada tim sekolah SMP yang berkampanye menawarkan pedaftaran siswa baru dan menginformasikan pendaftaran jalur beasiswa bagi siswa yang meraih nilai tertinggi di sekolah. Disitulah aku sangat berharap untuk bisa menjadi siswa di sekolah itu dengan harapan sekolah gratis jalur beasiswa, karena selain itu juga jaraknya pun hanya satu kilo meter saja dari rumah, aku merasa itu gak jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki.
Setelah menyuapi Nenek makan siang dan menggantikan pakaiannya yang sudah basah dengan air seninya, lantas aku mempersiapkan diri untuk kembali mempelajari semua materi yang pernah diberikan oleh wali kelasku, Bu Yuni.
Meski tanpa bimbingan siapa pun, aku tetap fokus berhitung matematika dasar di ruang tamu.
Tapi setelah berjalan beberapa saat belajar sendirian, rupanya aku makin kebingungan karena gak yakin dengan jawabanku sendiri.
Tiba-tiba saja aku berniat untuk belajar bersama dengan Mira. Tapi masalahnya aku gak mungkin meninggalkan Nenek sendirian
Tapi, apa salahnya aku meminta ijin dulu pada Nenek. Siapa tahu diizinkan pergi ke sana
"Nek, apa aku boleh ke rumah Mira ?" tanyaku
Nenek menatapku
"Untuk apa kamu pergi ke sana, bukannya kamu harus belajar. Kamu yang bilang besok mau ujian kelulusan" ucapnya
"Aku ke rumah Mira mau belajar bersama, karena kalau aku belajar sendirian aku malah gak yakin dengan jawaban aku sendiri" jawabku
"Ya sudah, tapi jangan lama ya" ucap Nenek
Aku mengangguk "Iya"
"Jangan lupa, pintunya dikunci dari luar. Supaya seolah-olah didalam rumah ini gak ada orang lagi" pesan Nenek.
Karena itu yang selama Nenek sakit selalu aku lakukan setiap akan pergi ke luar rumah, pintu rumah selalu aku kunci dari luar. Meskipun ada perasaan gak tega kepada Nenek tapi mau bagaimana lagi, karena itu yang Nenek inginkan
Sesampainya di depan warung Bu Nina, aku memanggil Mira. Karena kebetulan Bu Nina gak ada didalam warungnya
Dengan nada yang berayun ayun aku langsung aja panggil dia
"Mira...Mira...Mira..!" panggilku
Tapi rupanya Bu Nina yang keluar menemuiku, dia seolah tahu maksud kedatanganku ketika melihatku membawa tas sekolah
"Mau belajar bareng sama Mira ya ?" tanyanya
Aku sumringah dengan tebakannya yang tepat "Iya"
"Ayok, masuk. Mira ada di dalam kamarnya. Kebetulan banget kamu datang, malahan dia gak belajar tuh. Malah sibuk main rumah-rumahan" ucap Bu Nina
"Iya, Bu"
Setelah mencopot sendalku, aku menemu Mira yang lagi membangun rumah dengan selimutnya
__ADS_1
"Mira ?" panggilku
Mira menolehku
"Dhira, kamu mau main rumah-rumahan juga ?" tanyanya
Aku menggelengkan kepala
"Enggak, aku mau belajar sama kamu" jawabku
Mira menggaruk-garuk kepalanya "Tapi aku juga gak bingung kalau cuma kita yang berdua yang belajar, karena harus ada yang bimbing" ucapnya
Sertamerta Bu Nina muncul diantara kami
"Biar Ibu yang bimbing, jadi Mira jangan bikin alasan lagi. Dhira sudah datang untuk belajar bersama kamu" ucapnya
Mira tersipu malu "Hehehe"
Tanpa obrolan panjang lagi, Ibu Nina langsung mengajak kami ke ruang tamu. Dia melebarkan tikar dilantai lalu duduk bersila kaki untuk membimbing kami belajar
"Ayok, anak-anakku sekarang kita mulai belajar" ajaknya
Mendengarnya, aku dan Mira dengan senang hati duduk berhadapan dengan Bu Nina.
Kami belajar bersama cukup lama tapi gak ada rasa bosan sedikitpun karena Bu Nina membimbing kami dengan kalimat yang jelas dan detil.
Dan akhirnya beberapa latihan soal matematika yang sebelumnya aku masih bingung, sekarang semuanya terasa mudah aku selesaikan saat Bu Nina memberikan aku latihan soal.
Akhirnya karena belajar bersama sudah selesai, aku akhiri perjumpaan dengan pamit pulang
"Ibu, Mira. Aku pulang dulu ya" pamit ku sambil menggendong ranselku dan bangkit berdiri, begitupun dengan Bu Nina dan Mira ikut berdiri juga
Sebelum aku keluar dari pintu rumah Mira, tiba-tiba dalam bersamaan juga Ibu Nina menanyakan kembali keberadaan Nenek
"Nenek kamu sudah pulang ?" tanyanya
Aku diam mendengarnya, mau berkata bohong tapi entah kenapa mulut aku seperti terkunci
Akhirnya aku hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab sepatah kata pun
"Lama sekali pulangnya, mau hampir sebulan ya" ucap Bu Nina
Aku hanya menggangguk lagi
"Kamu gak takut sendirian, misal kalau malam ?"
Aku menggelengkan kepala
"Oh, kamu berani sekali. Semoga Nenek cepat pulang ya" ucapnya
Aku hanya mengangguk lalu buru-buru pergi tanpa bersuara lagi. Tanpa ada kata perpisahan lagi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah aku langsung menemui Nenek
"Nenek" sapaku lalu duduk disampingnya dengan manja
Nenek tersenyum padaku "Sudah pulang ?"
"Iya" anggukku
"Gimana belajarnya ?" tanyanya
"Seru, Nek. Tadi Bu Nina bimbing aku dan Mira. Bu Nina juga kasih contoh soal, latihan soal sampai aku jadi paham"
"Bagus lah, jadi seharusnya besok kamu bisa mengerjakan soal ujiannya ya "
"Iya, aku jadi gak sabar ikut ujian. Besok" ucapku
"Hehe. Harus sabar dong" ucap Nenek
"Hehe"
"Mau aku ambilkan minum Nek ?" tanyaku
"Nanti saja, Nenek belum haus" ucapnya
"Nenek mau nonton televisi ?" tanyaku
"Hehe. Mau, tapi gak mungkin bisa" ucapnya
"Iya sih. Atau Nenek mau makan lagi. Karena tadi Nenek makan sangat sedikit loh" ucapku
Nenek mengangguk "Boleh" ucapnya
"Sebentar aku siapkan" ucapku sambil bergegas pergi
Tapi belum juga keluar dari kamar, Nenek malah menyetop langkahku
"Gak usah, tiba-tiba saja Nenek hilang napsu makan" ucapnya
"Kalau begitu aku pijit kaki nya saja ya" ucapku
"Iya, boleh" ucapnya
Langsung aja aku pijit-pijit kaki Nenek yang semakin bengkak dan membiru. Meski kakinya bengkak tapi sebenarnya tubuh Nenek semakin menciut. Dia semakin kurus sampai-sampai kelopak matanya bagai menjorok ke dalam dan tulang pipinya begitu jelas menonjol
Meski begitu Nenek selalu bilang gak kenapa-kenapa dan gak terasa sakit jadi gak perlu diobati. Dia selalu bilang pasti nanti akan sembuh.
Dari situ aku semakin gak bisa berbuat banyak, selain hanya bisa menyuapinya makan, mengganti pakaiannya setiap hari apa lagi saat Nenek buang air kecil, buang air besar, aku juga harus membersihkan seluruh tubuhnya dari keringat dan debu, dan hanya bisa mengompres kakinya dengan air hangat.
Hanya itu yang bisa aku lakukan untuknya
Sementara Ibu yang sebenarnya sudah tahu keadaan Nenek, dia lebih memilih untuk bungkam.
__ADS_1
Dalam hitungan aku beberapa hari lagi Ibu akan datang ke sini. Semoga saja ketika melihat keadaan Nenek yang semakin parah. Hati Ibu bisa terbesit untuk memaksa Nenek pergi berobat.