
Beberapa menit berlalu saat aku, Nasya dan Bu Epik masih menunggu Pak Beno. Beberapa saat kemudian Pak Beno masuk bersama dengan teman satu geng Nasya. Ai dan Siska. Pak Beno juga mengajak Didi.
Akhirnya setelah dirasa lengkap oleh Pak Beno maka pengadilan dimulai kembali.
Bagiku ini adalah mimpi buruk yang seharusnya aku bangun untuk menyelesaikannya.
Pak Beno mulai bertanya kembali kepada Ai yang berdiri disamping Siska dan Didi. Mereka ada dibelakang aku dan Nasya berdiri sejajar berhadapan dengan Pak Beno
"Ai, coba ceritakan apa yang terjadi saat kalian buru-buru meninggalkan kelas ?" tanyanya
Tapi Ai diam saja, mulutnya merapat dan gugup. Seolah ada sesuatu yang dia simpan sendiri
Pak Beno masih meminta "Ceritakan sekarang !" ucap Pak Beno lagi
Akhirnya Ai mulai bicara meski dengan suara yang sedikit gemetar "Saya hanya ikut berdandan saja, setelah itu saya gak tahu lagi tentang hape Nasya" jawabnya
Pak Beno mendengarkannya dengan raut wajah yang masih bisa menerimanya namun seolah sedang menampung sebuah teka teki
Kemudian Pak Beno pun gak melewatkan Siska dengan pertanyaan yang sama
"Lalu bagaimana dengan kamu, Siska ?" tanyanya
Siska tersentak, kedua tangannya gak bisa diam dan matanya gak sanggup menatap mata Pak Beno. Gelegatnya seperti orang ketangkap basah "Saya hanya juga ikut dandan, Pak" jawabnya
Tapi Pak Beno gak menanyakan Didi karena sebelumnya Pak Beno sudah merekam jawaban Didi sewaktu di dalam kelas.
Pak Beno juga masih melemparkan pertanyaan kepada Ai dan Siska
"Apakah kalian melihat ada hape diatas meja ?" tanyanya
Serempak mereka menjawab "Iya pak !" jawabnya
"Kalau kalian tahu ada hape kenapa kalian gak ingatkan Nasya untuk membawanya ?" tanya Pak Beno
Ai yang lebih dulu menjawab "Saya memang hanya melihat saja Pak, tapi saya lupa kasih tahu ke Nasya" ucapnya mencari aman
Namun Pak Beno masih mau menerima jawaban Ai yang mungkin saja bisa berbohong atau memang kenyataannya seperti itu.
Suasana mendadak hening, seolah semua yang ada diruangan guru dipaksa untuk berpikir.
Saat itu juga aku tetap bersikeras mengelak, berbicara lantang diantara kesunyian
"Aku berani bersumpah kalau aku bukan pencurinya !" ucapku dengan tegas
Tapi Nasya gak menerimanya "Buktinya mana kalau kamu bukan pencurinya ?" desaknya
Lantas saja aku membalas ucapannya "Buktinya mana kalau aku yang mencurinya ?" tantangku
"Bisa aja kamu jual !" cibir Nasya
"Jangan asal nuduh ya !" kesalku
Seketika saja ruangan terisi dengan suara nyaring aku dan Nasya.
__ADS_1
Pak Beno merelai kami begitu pun Bu Epik.
"Sudah, sudah !" ucapnya
Akhirnya aku juga yang harus mengalah untuk diam, sementara Nasya masih saja mencibirku
"Kalau maling mana mungkin mengakui !" ucapnya
Langsung saja Bu Epik melerai ucapan Nasya yang menurutnya semakin kurang sopan
"Kamu jangan menuduh dulu !" ucqp Bu Epik.
Tapi Nasya tetap bersikeras "Enggak Bu, saya yakin banget kalau dia yang mencurinya" yakinnya
Pak Beno menghela napasnya "Oke deh kalau memang itu yang menjadi perdebatan panjang kalian. Biar adil lebih baik begini saja. Saya buatkan surat pemanggilan orang tua kalian satu per satu ya" ucap Pak Beno kepada kami.
Beberapa saat kemudian Bu Epik memberikan amplop putih berisikan surat panggilan kepada orang tua kami masing-masing.
Tanpa ragu dia membagikannya satu per satu kepada kami dan kami menerimanya dengan berat hati terutama Ai, Siska dan Didi. Mereka terang-terangan menolak surat yang meski sudah ditangan mereka
Siska yang lebih dulu menolak sembari meletakkan amplop dihadapan Bu Epik "Saya gak mau Bu, saya gak ikut-ikutan !" tolaknya
Disahuti oleh Ai dan Didi
"Iya Bu !" ucap mereka serempak sembari ikut meletakkan amplop yang sempat mereka terima.
Raut wajah Didi begitu kesal saat harus dipaksa untuk mendatangkan orang tua "Saya gak mau. Yang bertengkar itu kan Nasya dan Dhira tapi kenapa saya jadi ikut dilibatkan ?"
Didi mengamuk "Akh, saya gak mau !" tegasnya sembari melangkah keluar kelas dengan langkah cepat-cepat seakan dia begitu kesal
Begitu pun dengan Ai dan Siska tanpa ada" ucapan lain mereka langsung saja pergi begitu saja. Namun Pak Beno dan Bu Epik diam saja memperhatikan tingkah mereka.
Kini hanya tinggal aku, Nasya, Bu Epik dan Pak Beno.
Pak Beno menyinggung ketersediaan kami untuk memanggil orang tua "Apa kalian mau angkat kaki tanpa bertanggung jawab juga ?" tanyanya kepada kami
Aku yang lebih dulu menggelengkan kepala "gak kok Pak karena saya yakin saya gak mencuri" jawabku dengan tegas.
"Jadi, maksud kamu yang barusan meninggalkan kita di sini adalah pencurimya ?"
"Bukan itu maksud saya" bantahku
Mendengarnya Bu Epik menyambar "ya sudahlah, besok orang tua kalian berdua harus datang ya"
Akhirnya dengan berat hati aku menerima perintah Pak Bento. Begitupun dengan Nasya, juastru Nasya dalam posisi yang diberikan keadilan.
Nasya malah berterimakasih "Makasih ya pak" ucapnya sembari bergegas pulang.
Karena jam pulang memang sudah menjemput.
Karena Nasya sudah mulai beranjak pulang akupun ikut serta tanpa berterimakasih kepada Pak Beno dan Bu Epik. Langkahku agak sedikit cepat tapi Nasya berjalan lebih gagah dan cepat meski begitu aku sengaja berjalan dibelakangnya dan gak mau menyusulnya. Seleraku hilang melihat wajahnya yang menyebalkan
Kami berjalan dilorong sekolah tanpa seiringan, Nasya yang sudah terlihat jauh berjalan didepanku. Dia berjalan tergesa-gesa seakan ingin memberitahukan keadaannya kepada orang tuanya sampai akhirnya dia menghilang diujung lorong
__ADS_1
Sesampainya diluar gerbang, depan gedung sekolah sudah sangat sepi, Bu Epik dan Pak Beno pun belum ada tanda-tanda berjalan menyusul pulang.
Aku duduk sebentar dibawah pohon rindang yang cukup menenangkan hatiku sementara waktu sembari memikirkan kalimat pertama apa yang akan aku katakan kepada Bibi Ros saat memberikan surat panggilan orang tua.
Jantungku mulai berdebar saat membayangkan betapa marahnya Bibi Ros kepadaku apalagi sampai hari ini dia masih dingin kepadaku. Gak cuma itu, karena aku juga bukan siapa-siapa dari keluarga Bibi Ros, aku hanya manusia lain yang dipungut karena dikasihani tapi aku malah menyia-nyiakan kebaikan mereka dengan cara seperti ini.
Tapi meski dalam pikiran seperti itu aku berusaha kuat dan harus bisa berani menjelaskan yang sebenarnya kepada Bibi Ros
Baru aja aku beranjak dari dudukku, ada Mira menyembul keluar dari dalam gerbang. Dia menoleh ku sepertinya memang sedang mencariku.
Aku dan Mira saling berpapasan muka, pelan-pelan dia mendekat tanpa raut panik yang berlebihan "Kamu baik-baik aja kan, Dhira ?" tanyanya
Aku mengangguk pelan
Dia menatapku dari atas kepala sampai ujung sepatuku, dia berhasil menyembunyikan kepanikannya dengan pembawaannya yang tetap tenang kepadaku. "Seragam kamu ada bercak darahnya. Apa badan kamu luka ?" tanyanya
Aku menggelengkan kepala "Enggak, aku gak kenapa-kenapa. Nasya yang luka" ucapku
"Iya, sedari tadi kamu dan Nasya jadi perbincangan disetiap kelas. Makanya aku khawatir sama kamu" ucapnya
Aku tersenyum kecil mendengarnya, aku cukup terharu kepada Mira "Makasih ya Mira" ucapku
Mira mengangguk kemudian memelukkku
Disitulah akhirnya aku kalah kembali melawan air mataku.
Setelah aku kembali berbaikan dengan Mira, akhirnya kami pulang ke rumah kami masing-masing. Seperti biasanya aku pulang berjalan kaki.
Sepanjang perjalanan semua mata memandangku penasaran seolah ingin bertanya kenapa seragamku lusuh dan mataku sembab. Tapi aku tetap berjalan tanpa menghiraukan mereka.
Hingga akhirnya aku sampai di depan rumah Bibi Ros.
Dan pada saat bersamaan juga ada Bibi Ros yang lagi sibuk menyirami tanamannya. Bibi Ros belum melihatku tapi aliran darahku seolah mendadak berhenti didadaku.
Bibi Ros masih fokus pada tanamannya sementara langkahku penuh ketakutan untuk memulai maju.
Pelan-pelan aku melangkah sembari memandangnya yang masih menundukkan wajahnya kehadapan pot tanamannya. Aku merasa belum siap untuk bicara kepadanya dan berharap aku masuk ke dalam rumah tanpa dia ketahui.
Tapi belum juga sampai masuk pintu, Bibi Ros menoleh kearahku seolah dia menyadari ada aku disampingnya.
Sontak saja aku dan Bibi Ros saling diam, saling menatap dan gak tahu harus bicara apa.
Tapi bebeberapa detik berlalu akhirnya Bibi Ros bicara tapi gak menyiratkan kepanikan kepadaku "Kamu kenapa ?" tanya
Aku gak sanggup menjawab tapi langsung menyodorkan amplop dari saku seragam sekolahku yang sudah aku lipat dua.
Bibi Ros menyadari tanganku gemetar saat menyodorkannya
Bibi Ros menerimanya dengan tanpa bicara lagi, kemudian membukanya dan membacanya.
Aku diam saja dihadapannya gak sanggup melakukan pengelakan atau klarifikasi untuk membuat Bibi Ros membelaku. Tapi semua kembali lagi ke siapa asal ku di sini maka aku hanya pasrah saja.
Bibi Ros menatapku setelah dia selesai membaca surat dari sekolah. Tanpa bicara apa-apa. Diam seribu bahasa. Raut wajah yang begitu tenang. Dia masuk ke dalam rumah tanpa mengajakku bersamanya.
__ADS_1