
Sepulang sekolah aku masih kembali ke rumah Mira karena aku belum ada keberanian untuk pulang ke rumah Nenek, lagi pula aku juga sangat nyaman tinggal bersama keluarga Mira.
Tapi rupanya dijam dua siang Nenek datang ke warung Bu Nina. Dan saat bersamaan juga Bu Nina ada didalam warung lantas menyambut Nenek
"Mak ?"
"Nina, aku mau jemput Dhira untuk pulang" ucapnya sertamerta
Dengan senang hati Bu Nina menjamu Nenek untuk masuk ke dalam rumahnya
"Ayok Mak, masuk aja dulu. Dhira ada di dalam" ajaknya dengan ramah
Tapi Nenek gak mau masuk
"Aku tunggu disini aja" tolaknya
"Oh kalau begitu sebentar ya aku panggilkan Dhira" ucapnya sambil masuk ke dalam lalu menemuiku di dalam kamar bersama Mira yang sedang bermain rumah-rumahan diatas kasur
"Dhira, ada Nenek datang" ucapnya
Tanpa menjawab apa-apa, langsung aja aku lompat dari kasur lalu berlari menghampirinya
"Nenek !" panggilku penuh rindu
Aku lantas menemui Nenek yang berdiri di depan pintu lalu memelukku dan menggendongku
"Ayok kita pulang" ajaknya
Bu Nina dan Mira yang juga menghampiri kami begitu gembira atas kedatangan Nenek, mereka seolah tahu bagaimana perasaanku saat tau rupanya Nenek masih mengingatku.
Bu Nina juga gak lupa memberikan pakaian seragam dan tas sekolahku kepada Nenek.
Sebelum Nenek mengajakku pergi, dia berterimakasih kepada Bu Nina
"Terimakasih ya, dan maaf kalau saya sudah merepotkan kamu" ucapnya
Tapi bu Nina gak merasa direpotkan
"Gak apa-apa kok, Mak. Saya senang bisa berbagi" ucapnya
Lalu Nenek menyodorkan lipatan uang kertas kepada Bu Nina
"Ini uang penggantinya, ambil lah" ucapnya
Tapi Bu Nina menolaknya "Jangan, Mak. Sungguh aku ikhlas menjaga Dhira" ucapnya
Tapi Nenek tetap menyodorkan ke tangan Bu Nina
"Terima saja, aku hanya berterimakasih"
"Jangan, Mak. Gak usah" tolaknya lagi dan gak mau membuka tangannya untuk menerima uangnya
Akhirnya Nenek memberikannya kepada Mira "Ambillah Mira, untuk kamu jajan" ucap Nenek sambil membuka tangan Mira lalu mengepalkan tangan Mira yang sudah berisi uang
Bu Nina berusaha menghalau tapi Nenek tetap memberikan dan dengan kepolosan Mira, dia menerima uang itu
"Aku pamit pulang ya, Nina" ucap Nenek setelah berhasil memberikan uangnya
Ibu Nina mengangguk "Iya Mak, aku juga terimakasih sudah kasih jajan untuk Mira" ucapnya
Nenek tersenyum "Iya, sama-sama juga ya" ucapnya
Meski dalam gendongan Nenek aku gak luput pamit pada Bu Nina dan Mira
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya nanti aku main lagi" ucapku sambil melambaikan tangan
Mira membalas lambaian tanganku "Daagh, nanti main lagi" ucapnya
Sebenarnya dalam perjalanan menuju rumah, aku agak takut dengan keberadaan Om Bayu. Tapi rupanya Om Bayu sudah pergi dari rumah Nenek dan hanya ada Nenek dan Ibu saja.
Aku gak berani menyapa Ibu, mungkin lebih tepatnya rasa ikatan batin aku kepadanya entah kenapa seperti hambar.
Sementara Ibu pun gak begitu menyambutku, mungkin karena dia sedang sibuk menyetrika pakaian dengan posisi duduk membelakangi aku dan Nenek
Tapi hanya Nenek saja yang mengajakku bicara
"Kamu sudah makan, Dhira ?" tanya Nenek sambil menyalakan televisi
"Sudah, Nek" jawabku
"Tadi makan apa di rumah Mira ?" tanyanya
"Makan nasi, Nek" jawabku
"Oh, tadi disekolah teman-temannya bagaimana ?" tanyanya
"Teman-teman aku baik semua, Nek" jawabku
"Oh, bagus lah kalau begitu. Kamu harus rajin belajar ya. Supaya pintar, jangan lupa juga harus rajin berdoa kepada Tuhan, rajin ke Gereja juga, supaya kamu memiliki hati yang tulus, sabar, tahu bagaimana caranya bersyukur. Kelak nanti kamu jadi seorang Ibu, kamu akan tahu caranya menjaga anak kamu" ucapnya
Mendengarnya aku mengangguk saja meskipun aku gak begitu paham apa yang diucapkan Nenek.
Tapi, aku juga gak paham dengan kata
"Doa"
"Gereja"
"Gereja itu apa Nek ?" tanyaku
Mendengar perkataanku itu, Nenek menolehku lalu menoleh punggung Ibu yang masih menyetrika
"Jadi, selama ini Dhira gak pernah ke Gereja kah ?" tanyanya
Aku menggelengkan kepala "Gak pernah"
"Apakah Ibumu gak pernah mengajakmu ke Gereja ?" tanya Nenek lagi
Aku menggelengkan kepala lagi
"Apa Ibumu pernah mengajarkan kamu berdoa ?" tanya Nenek lagi
Aku masih menggelengkan kepala
Nenek diam sejenak seperti memikirkan sesuatu
"Maaf, Dhira. Nenek juga bersalah kepadamu, karena selama kamu tinggal disini Nenek gak pernah mengajakmu ke Gereja karena akhir-akhir ini pun Nenek belum ke Gereja lagi. Nenek juga gak mengajarkan kamu berdoa. Karena Nenek pikir kamu sudah tahu semua itu" ucapnya
Aku hanya diam mendengarnya karena aku belum paham apa yang dia ucapkan
"Nanti, hari minggu kita sama-sama pergi ke Gereja ya, Tapi masalahnya, Gereja sangat jauh, bisa dua jam perjalanan. Itu yang membuat Nenek selalu mengurungkan niat ke sana" ucapnya dengan wajah kecewa kepada dirinya sendiri
Sementara Ibu sudah menyelesaikan pekerjaannya lalu membawa sekeranjang pakaiannya yang sudah rapih ke dalam kamar tanpa bergeming
Tapi meski Ibu berada di dalam kamar, Nenek memanggilnya untuk cepat keluar dari dalam
"Lasmi ?" panggilnya
__ADS_1
Ibu menyahut dari dalam "Iya Bu" sahutnya
"Setelah merapikan pakaianmu, cepatlah ke sini. Ada yang mau Ibu bicarakan" ucapnya
Ibu masih menyahut dari dalam "Iya Bu, sebentar"
Beberapa saat kemudian Ibu menghampiri Nenek lalu duduk dihadapan Nenek yang masih menonton televisi, sementara aku ada disamping Nenek yang ikut bersamanya
"Ada apa Bu ?" tanya Ibu sedikit gugup
"Kapan kamu akan menikah ?" tanyanya tanpa menoleh Ibu. Matanya masih tetap terpaku pada televisi tabung berwarna abu-abu empat belas inch yang selalu menemaninya diruang tamu
"Saya belum tahu, Bu. Tapi saya berharap secepatnya dan semua berjalan dengan lancar" ucapnya
"Kalau nanti kamu menikah dengannya, jangan bawa Dhira. Biarkan Dhira bersamaku. Aku butuh teman di rumah ini" pintanya tanpa melihat wajah Ibu
Dengan raut wajah yang gak keberatan sama sekali, Ibu menyetujuinya
"Kalau Ibu butuh teman, gak apa-apa " ucapnya
"Ya, lagi pula Dhira bisa mati kalau bersamamu" sinisnya
Sontak saja Ibu tersinggung mendengarnya dan suaranya pun menjadi tinggi
"Maksud Ibu apa ?"
Meski Ibu sudah terpancing marah, tapi Nenek menjawabnya dengan tetap gak menoleh Ibu.
"Karena kamu akan punya anak tiri, aku yakin kamu akan lebih sayang kepadanya daripada kepada anak kandungmu sendiri" sindirnya lagi
Ibu masih gak mau terima, amarahnya semakin terpancing
"Ibu jangan bilang begitu, karena Ibu gak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya !" bentaknya
"Ibu tahu, karena Ibu adalah seorang Ibu yang nyata. Ibu bisa tahu tanpa harus melihatnya. Ibu punya firasat kepada anak-anakku, suatu firasat yang selama ini kamu abaikan" ucapnya
Mendengar ucapan Nenek yang semakin menyinggung hati Ibu, akhirnya Ibu naik pitam lalu bangkit dari kursinya
"Bu, kalau begini cara Ibu memperlakukan aku. Sebaiknya saat ini juga aku pergi dari rumah ini. Aku gak akan peduli lagi pada Ibu dan siapa pun yang ada di rumah ini !" tegasnya
Kali ini Nenek menoleh Ibu yang wajahnya sudah merah dan berhamburan air mata
"Kalau kamu mau pergi, silakan pergilah. Dan jangan pernah kembali lagi sekalipun disamping mayatku nanti" ucap Nenek
Mendengar begitu Ibu menangis semakin menjadi-jadi
"Kenapa Ibu bilang begitu, kenapa Ibu gak pernah mengerti perasaan aku ?" ucapnya
Tapi Nenek gak peduli dengan ucapan Ibu
Dengan suara serak dan datar Nenek menjawab Ibu
"Pergilah, Dan datanglah kembali ke sini jika kamu dalam kesulitan" ucap Nenek
Semakin Nenek berkata seperti itu, semakin Ibu menangis pilu.
Tapi Nenek tetap menyuruh Ibu untuk pergi
"Pergilah, nanti aku akan datang ke pernikahanmu jika kamu masih ingat padaku" ucap Nenek
Dari persoalan mereka, aku benar-benar gak tahu maksud pertengkaran mereka. Aku hanya diam mendengar dan menyaksikan Ibu menangis pilu dan raut wajah Nenek yang sangat kecewa pada Ibu.
Akhirnya Ibu putuskan untuk pergi, dengan langkah buru-buru dan sambil menangis dia masukkan pakaiannya ke dalam kantong plastik lalu pergi begitu saja tanpa pamit pada aku bahkan pada Nenek.
__ADS_1