
Akhirnya Liana kembali lagi di rumah ini, di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya karena bagaimana pun rumah ini adalah milik Ayahnya.
Tetapi Ibu masih saja tak bergeming menerima kehadirannya. Bukan karena dia gak suka dengan Liana tapi karena Ibu sudah menjadi sosok yang pendiam.
Meski pun melihat sikap Ibu yang dingin kepadanya, untung saja Liana gak mengubrisnya sama sekali. Justru Liana masih tampak bersikap seperti sebelumnya saat Pak Yanto masih ada
Ini adalah hari ketiga setelah Liana diantar oleh Neneknya. Dia juga masih bersikap sama kepadaku, masih dingin gak mau berbaur
Tapi siang sepulang sekolah gak biasanya Liana yang turun tangan untuk memasak makan siang.
Padahal baru saja aku mau mulai melakukannya tapi rupanya Liana sudah ada di dapur tengah mengupas labu siam yang dia beli di warung sebelah.
Karena aku masih merasa gak enak hati maka aku mengajaknya bicara lebih dulu
"Hari ini kamu yang masak ?" tanyaku pelan dari balik punggungnya
Liana mengangguk dengan jawaban datar sembari masih mengupas kulit sayurannya "Iya. Memangnya kenapa ?" jawabnya
"Ada yang bisa aku bantu ?" tanyaku kemudian berpindah ke samping kirinya
"Gak perlu, kamu kerjakan yang lain saja. Aku juga bisa memasak" ucapnya
"Oh, kalau gitu apa ya yang harus aku kerjakan karena semua pekerjaan rumah sudah aku rapikan sebelumnya" jawabku
Dia masih dingin tanpa menolehku "Ya sudah kalau begitu kamu duduk saja" usulnya
Mendengarnya aku diam
Tapi Liana masih bicara "Atau lebih baik kamu mancing ikan saja di sungai belakang, siapa tau dapat untuk kita makan besok" usulnya lagi
Suatu usul yang gak pernah terjadi sebelumnya
Aku berpikir sebentar karena memancing ikan belum tentu semudah rencana.
Tapi Liana tetap mempertahankan usulannya "Lebih baik kamu pergi sekarang supaya pulangnya gak kesorean" pintanya lagi
Dia menyuruhku sekarang juga padahal aku juga butuh makan siang. Padahal perutku sudah sangat kosong
Tapi kali ini aku angkat bicara "Tapi kan aku belum makan siang, atau bagaimana sebelum pergi aku makan dulu ya ?" ucapku
Liana melirikku "Tapi kan aku masaknya masih lama" jelas Liana
Aku masih berpikir panjang karena aku lapar dan aku merasa kalau memancing adalah hal yang pastinya mustahil untuk aku jalankan. Karena aku yakin pasti aku gak dapat ikan satu pun apalagi aku juga gak tahu bagaimana caranya memberikan umpan.
Liana menolehku untuk yang pertama kalinya "Kamu mikir apa lagi, Dhira ?" tanyanya
"Aku lapar" jawabku cepat
__ADS_1
Liana menghela napasnya pelan "Ya sudah kalau begitu kamu tunggu masak saja, setelah itu kamu pergi" ucapnya dengan tenang
"Kalau begitu kenapa kamu gak ikut pergi juga ?" tanyaku
Liana menggelengkan kepalanya, suaranya bergetar dan pelan "Gak mau, aku trauma ke sana. Pasti aku akan ingat Ayah" jawabnya
Pasti Liana berpikir kalau aku gak trauma kalau pergi ke sana, mungkin dia berpikir karena aku bukan darah daging Pak Yanto makanya aku gak akan merasa sedih, padahal perasaan ini begitu rusak dan merasakan sepi yang gak berkesudahan.
Sekitar setengah jam menunggu Liana memasak, akhirnya masakannya dihidangkan diatas meja tamu. Seperti biasanya aku merajuk Ibu untuk makan bersama.
Tapi
Ibu masih saja berdiam diri di dalam kamarnya yang sunyi dan gelap. Seolah keras kepala gak mau beranjak dari kenyataan pahit yang dia hadapi
Aku berdiri dihadapannya yang masih terbaring memeluk erat bantal milik Pak Yanto , matanya terbuka dengan tatapan kosong menatap langit-langit kamar tanpa plafon
Dengan lembut aku mengajaknya "Ibu, ayok kita makan. Liana sudah selesai memasaknya" ajakku pelan
Tapi dengan seperti biasanya Ibu tetap saja diam gak merespon ajakanku.
Entah dengan bahasa apa aku menjelaskan kondisi Ibu yang semakin memprihatinkan ini, karena hampir setiap hari dia hanya terbaring memeluk bantal suaminya, sampai-sampai dia sudah gak peduli dengan kondisi fisiknya yang semakin melemah dan gak berdaya. Wajahnya pun semakin pucat dan sorot bola matanya gak berbinar seperti dulu
Tapi rupanya Liana gak tinggal diam, dia menghampiriku masuk ke dalam kamar kemudian dia membantu merajuk Ibu, suatu sikap yang gak pernah dia lakukan semenjak tiga hari yang lalu
Liana merajuk Ibu dengan sangat lembut meski nadanya gemetar tapi Liana berusaha kuat untuk menahan air matanya yang sejak tadi terbendung, aku bisa merasakan kalau Liana juga merasa miris melihat keadaan Ibu "Bu, yuk kita makan. Aku sudah masak enak untuk Ibu" ajaknya sambil tersenyum
Liana Juga menatap wajah Ibu dengan tatapan mata yang pilu, wajahnya mulai memerah dan akhirnya air matanya jatuh juga, jatuh dipipi Ibu. Akhirnya tanpa disadari kami menangis terisak tanpa suara. Kemudian Ibu membelai wajah Liana yang mirip sekali dengan Ayahnya, air mata Ibu semakin deras saja kali ini isak tangisnya sampai terdengar. Mungkin saja Ibu merasakan ada Pak Yanto diwajah Liana.
Tapi kemudian Ibu terdiam sejenak menatap wajah Liana tiba-tiba saja gak ada suara tangisan gak ada air mata yang jatuh. Kemudian Ibu tersenyum lalu tertawa dan kembali memeluk erat bantal yang sejak tadi diam didadanya.
Aku dan Liana saling menatap bingung, apa lagi aku yang gak paham kenapa Ibu begitu.
Tapi Ibu masih tertawa, tapi bukan tawa bahagia melainkan tawa yang berbeda rasanya.
Aku dan Liana masih diam melihat sikap Ibu yang sontak berubah aneh
"Hahaha" tawa Ibu sedikit keras
Aku masih tetap diam
Tapi Liana berusaha seolah gak menggubris sikap aneh Ibu
Liana kembali merajuk Ibu "Ayok Bu, nanti Ibu terlalu lapar. Nanti Ibu sakit" ucapnya lagi
Mendengar Liana , Ibu kembali diam dan menatap wajah Liana tapi tetap enggan beranjak dari ranjangnya
Tapi kali ini Ibu menjawabnya walau dengan nada pelan bahkan nyaris tak terdengar
__ADS_1
"Kalian makan saja, Ibu akan menyusul" ucapnya begitu pelan sampai-sampai aku dan Liana membungkuk sedikit mendekat untuk bisa mendengar jawabannya
Tapi Liana menolaknya "Lebih baik Ibu makan saja bersama kami sekarang , supaya Ibu ada tenaganya, supaya Ibu sehat dan cantik seperti dulu" bujuk Liana
Mendengar bujuk rayu anak emasnya, kemudian Ibu berpikir sebentar lalu dengan perlahan dia bangkit dan beranjak duduk.
Sementara kami masih menunggunya keluar bersama dari kamarnya.
Ibu duduk dan menunduk terdiam tanpa suara dan air mata lagi, pelukan hangat pada bantal Pak Yanto seakan gak pernah dia mau lepas.
Akhirnya aku ikut kembali membujuk dengan lembut karena aku tahu Ibu pasti sudah sangat lapar
"Ibu, Ayuk kita makan, selama ini Ibu selalu makan sedikit saja. Aku khawatir kalau nanti Ibu akan sakit" bujukku
"Diam !!!" potong Ibu membentakku
Matanya melotot lalu menunjuk wajahku dengan tegas
Sontak saja aku dan Liana dikejutkan kembali dengan sikapnya yang semakin aneh
Aku diam saja saat Ibu membentakku tapi Liana hanya bisa diam saja melihatku
Entah ada angin apa tiba-tiba saja Ibu memarahiku "Harusnya kamu yang mati bukan orang lain !" tegas Ibu
Ketika ucapan itu terdengar kembali ditelingaku, dadaku bagai remuk, tubuhku gemetar dan aku menangis dihadapan mereka.
Dan aku hanya bisa diam saja sambil menahan air mata yang berhamburan sampai tersendat-sendat
"Kamu sudah membunuh Ayahlu, Ibuku sekarang suamiku !" tunjuk Ibu kepadaku
Liana yang semakin bingung dengan kalimat Ibu kemudian terus menatapku dalam-dalam
Tapi Ibu masih saja terus memojokkanku "Lihat dia Liana, dia ini adalah penyebab kematian ayah kamu. Dia ini anak terkutuk yang harusnya mati sejak dia dilahirkan. Tapi entah kekuatan apa yang membuat dia justru hidup sampai sekarang !" ucapnya kepada Liana
Liana yang mendengar semakin kebingungan, mungkin dia berpikir bagaimana caranya seorang anak seusia aku bisa membunuh banyak orang dan jelas-jelas Pak Yanto tenggelam bukan karena aku bunuh.
Liana hanya menggelengkan kepalanya saking bingung harus percaya atau gak sama sekali.
Kemudian Ibu bangkit berdiri lalu mendekat dihadapanku kemudian menjambak rambutku dengan keras lalu melemparku keluar kamar.
Aku terpental cukup jauh sambil berusaha bangkit berdiri kembali tapi gagal karena Ibu lebih dulu menendang dadaku.
Saat aku sudah gak bisa beranjak bangkit, kemudian Ibu juga menginjak-injak kepalaku dengan sangat kuat sampai wajahku menyatu dengan lantai
"Kalau kamu gak mati sekarang juga bisa-bisa nanti selanjutnya kamu akan membunuh Liana bahkan aku !" ucapnya sambil terus menginjak-injak kepalaku.
Aku hanya bisa pasrah dan menangis saja bahkan berteriak meminta tolong pun aku gak berani. Karena aku sayang kepada Ibu dan aku gak mau Ibu dihakimi warga dan aku juga hanya bisa menatap mata Liana yang berdiri tepat dihadapanku. Dia diam saja tanpa ada raut wajah yang panik dan takut melihatku dianiaya. Mungkin saja dia sudah percaya kepada Ibu.
__ADS_1
Setelah puas menginjak-injak kepalaku yang membuatku semakin gak berdaya, kemudian cepat-cepat Ibu pergi ke dapur