GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
46. KEPERGIANNYA


__ADS_3

Liana diam sejenak kemudian mulai menjawab "Aku akan marah padanya tapi gak akan pernah membencinya" jawabnya pelan


"Itulah yang aku rasakan" jawabku


"Sudahlah, Dhira. Lebih baik kita pulang. Sekarang kamu berdoa saja dalam hati supaya semua baik-baik saja. Mungkin hari ini Ibu juga sedang depresi berat karena kehilangan Ayah, siapa tahu besok sikapnya akan membaik lagi"


Aku diam saja mendengarnya, pikiranku sudah mau ikut tapi jiwaku masih menolaknya


Beberapa menit mengumpulkan keberanian untuk kembali pulang, akhirnya aku dan Liana memutuskan untuk pulang ke rumah meski hati ini masih kalut.


Kami pun berjalan pelan-pelan melewati jalan setapak diiringi suara serangga yang saling bersahut-sahutan. Suara-suara yang entah dari mana asalnya.


Jalan yang gelap nyaris membuat kami putus asa, tapi Liana cukup cerdas memimpin jalan dengan membawa ranting pohon untuk dia jadikan tongkat penanda jalan dihadapannya.


Akhirnya setelah cukup lama berjalan karena harus hati-hati, sampailah kami di depan rumah.


Aku sempat menolak untuk masuk ke dalam tapi Liana tetap memaksaku untuk masuk.


"Ayuk masuk saja, ini juga kan rumah kamu. Apalagi kamu dalam kondisi begini, kamu butuh istirahat" paksanya


Aki menggelengkan kepala "Gak, aku gak mau masuk. Aku takut" ucapku


Liana menghela napasnya seolah meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja


"Masuk saja, pasti Ibu sudah membaik" bujuknya


Aku masih menggelengkan kepala "Ibu menginginkan aku mati malam ini, kalau dia melihatku masih hidup pasti dia akan mepenyapkan aku sekarang juga" ucapku pelan


Liana menatapku "Kamu harus yakin kalau Ibu adalah orang baik" pintanya


Setelah banyak berpikir akhirnya aku menuruti ajakan Liana serta kembali menginjakkan kaki di rumah ini


Saat kami masuk dalam rumah, entah kenapa langsung saja aku dan Liana disambut oleh suasana sunyi dan senyap.


Ditambah juga seolah mencekam untuk mengajak aku dan Liana mencari keberadaan Ibu.


Dari ruang tamu, Liana mulai memanggil "Ibu !" panggilnya pelan sambil memandang ke segala sudut


Tapi gak ada jawaban darinya


Liana menolehku "Sepertinya Ibu lagi pergi jadi kamu bisa mandi dan makan habis itu kita tidur" usulnya


Tapi rundingan kami tiba-tiba saja terpecah oleh suara yang pelan nyaris gak terdengar. Dan kami gak tahu darimana sumbernya


Kreeeek..kreeeek..kreeeek


Sontak saja kami berusaha menyempurnakan pendengaran


Kreeeek..kreeeek..kreek..kreeek


Liana juga bingung "Suara apa itu ya ?" ucapnya kemudian melangkah pelan sambil mencari-cari asal suaranya dengan mendekatkan telinganya ke setiap sudut.


Aku hanya mengikutinya dari belakang.


Kemudian Liana berhenti didepan pintu kamar Ibu yang tertutup rapat. Dia juga mengisyaratkan agar aku jangan banyak bersuara


"Ssssttth" bisiknya "Sepertinya Ibu ada di dalam" bisiknya lagi


Mendengarnya aku panik karena belum siap melihat wajahnya lagi.

__ADS_1


Kemudian Liana langsung menarik tanganku dan membawaku ke dalam kamarnya untuk menyembunyikan aku dari Ibu.


"Kamu bersembunyi di sini saja ya. Nanti aku ambilkan makan dan minum" ucapnya kemudian menutup rapat pintu kamar


Dan benar saja, Liana datang membawakan makan dan minum untukku.


Liana meletakkan hidangannya dilantai tepat dihadapanku yang sudah bersila kaki sejak tadi


"Ini makan aja, itu sisa makan tadi siang masih banyak. Kamu kan belum makan sama sekali pasti kamu sudah lapar" ucapnya pelan karena takut terdengar oleh Ibu


Aku meraih piring yang sudah dia sajikan "Makasih ya" ucapku


"Iya sama-sama" balasnya sambil duduk menyandarkan punggungnya dipintu.


Sementara aku mulai makan dengan lahap karena saking kelaparan.


Beberapa menit berlalu ketika makananku mulai habis, Liana masih mempertanyakan apa yang terjadi pada Ibu di dalam kamarnya


"Kenapa Ibu diam saja di dalam kamar, atau jangan-jangan dia sedang menangis karena menyesal sudah menyakitimu" tanyanya padaku , padahal jelas-jelas aku gak tahu harus jawab apa


Mendengarnya aku masih sambil makan untuk lahapan yang terakhir.


Bahkan aku gak ada hati untuk memikirkan kondisi Ibu, aku memang gak membencinya tapi aku belum siap bertemu dengannya malam ini atau mungkin besok dan seterusnya. Entahlah. Sebab, jiwaku sudah kacau balau malam ini.


Tapi Liana yang bukan darah kandungnya bisa-bisanya terus penasaran tentang apa yang dilakukan Ibu di dalam kamar.


"Ibu sedang berbuat apa ya ?" gumamnyan lagi


Aku meliriknya setelah menghabiskan hidangannya


"Aku gak tahu, Lian. Biarkan saja Ibu begitu, toh kalau pun aku peduli kepadanya tapi dia gak akan menghargai itu" ucapku


Hampir satu jam kami bersembunyi di dalam kamar, tapi gak ada tanda-tanda kemunculan Ibu dari kamarnya.


Liana bangkit berdiri kemudian meraih handuknya


"Aku mandi dulu ya, nanti kalau situasi agak aman kamu bisa mandi setelah aku" ucapnya


Aku mengangguk "Iya. Kalau ada Ibu jangan panggil aku. Aku masih takut" ucapku


Liana mengangguk "Iya" ucapnya sambil membuka pintu kamarnya kemudian melangkah pelan melewati kamar Ibu dengan langkah hati-hati.


Tapi dalam benaknya ada pikiran untuknya kembali ke hadapan pintu kamar Ibu.


Dia berdiri menatap pintu yang masih tertutup.


Suara pelan nyaris gak terdengar itu kembali mengganggu telinganya


Kreeekkk...kreeekkk..kreekkkk


Liana memberanikan diri untuk mengetuk pintunya, walau tangannya gugup tapi dia tetap mengetuknya meski pelan


Tok..tok..tok


"Bu ?" panggilnya pelan


Tapi gak ada respon dari dalam


Liana mencoba mengetuk sekali lagi

__ADS_1


Tok...tok..tok


Ketuknya dengan pelan sembari dia memanggilnya kembali "Bu " panggilnya


Tapi


Suara aneh yang mengggangu ditelinga Liana masih terdengar walau sesekali.


Liana mulai gusar, batinnya jadi penasaran untuk mengetahui apa yang dilakikan Ibu dipersembunyiannya.


Diam-diam Liana mulai membuka pintu dengan sangat pelan


Krek,


Kepala Liana mulai menyembul ke dalam, mengecek situasi yang rupanya sangat gelap.


Perlahan tangan Liana mulai membuka pintu lebar-lebar sampai cahaya dari ruang tamu masuk ke dalam kamarnya.


Dan, akhirnya terlihat dengan jelas Ibu tergantung dengan raut wajah yang mengerikan.


Liana menjerit histeris


"Aaarrrrrgghhhhh !" teriaknya ditempat dia berdiri.


Mendengarnya menjerit begitu sontak saja aku berlari menemuinya


Kemudian menjumpainya masih menjerit-jerit ketakutan


Aku bingung melihat sikapnya akhirnya menyudahi rasa penasaranku ketika melihat Ibu sudah tewas gantung diri.


Aku gak menjerit tapi tubuhku lemas sampai bersujud dihadapan kaki Ibu yang melayang berayun pelan.


Liana menangis histeris tapi aku menangis tanpa suara. Tangisan yang tertahan pecah didada.


Tanpa pikir panjang lagi akhirnya Liana pergi ke depan rumah, dia berteriak di halaman rumah Ayahnya


"Tolong !!! Tolong !!! Tolong !!!" teriaknya sampai pecah diudara


Malam yang pedih bagi kami, entah nasib apa yang sudah menimpa aku dan Liana.


"Tolong !!! Tolong !!! Tolong !!!" histeris Liana masih terus berusaha mengundang simpatisan


Akhirnya para warga yang penasaran berkumpul dan masuk ke dalam rumah.


Sementara sekujut tubuhku masih lemas dan semakin gak berdaya. Aku masih saja sujud dan kali ini menangis sampai tersedu-sedu.


Seorang Ibu memelukku yang entah siapa dia, sebab aku gak melihat wajahnya.


Ibu itu menenangkan hatiku dengan bisikan lembutnya "Sabar ya Dhira" ucapnya


Tapi kali ini aku gak bisa menuruti perkataannya karena bagiku hidup ini sudah sia-sia dan aku biarkan tangisanku lepas begitu saja.


Aku masih saja bersujud dan enggan bangkit berdiri melihat wajah Ibu yang mati mengenaskan. Jantungku bagai lemah seolah darah berhenti sesak didalam dada.


Sementara suara riuh para warga yang bersimpati dan syok terdengar sibuk


Karena mungkin aku mengganggu jalannnya evakuasi Ibu akhirnya si Ibu yang sejak tadi memelukku mencoba membantuku untuk bangkit berdiri setidaknya menenangkan diri ditempat lain


Tapi belum juga aku benar-benar berdiri, tanpa sengaja aku melihat kembali wajah Ibu yang masih tergantung menyedihkan. Padahal aku gak mau melihatnya.

__ADS_1


Sontak saja rasanya jantungku berhenti berdenyut dan semua gelap.


__ADS_2