
Akhirnya aku dan Mira memutuskan untuk makan siomay bersama didalam kelas Mira. Suasana kelas yang lebih tenang dari kelasku. Dia yang mengajakku dan aku juga menurutinya dengan senang hati karena kebetulan sekali di dalam kelasku, aku gak punya teman
Kami duduk bersama di kursi Mira yang rupanya ada dipaling depan tepat dihadapan meja Guru. Sementara teman sebangku Mira lagi gak ada ditempatnya. Mira bilang temannya punya pacar anak kelas sebelah jadinya setiap jan istirahat dia selalu bersama pacarnya
Didalam kelas yang dipenuhi oleh beberapa anak perempuan yang lebih memilih makan di dalam kelas ada yang membawa bekal makan siang ada juga yang beli di depan sekolah.
Kami pun sekaligus kembali bernostalgia bersama seakan mengenang keakraban yang manis saat kecil dulu
"Mira, gak nyangka banget ya kita bisa satu sekolah lagi setelah sekian tahun berpisah" ucapku sambil mengunyah rebusan pare
Wajah Mira yang masih belum berubah banyak ikut merasakan bahagianya aku bertemu dengannya
"Iya aku juga seneng banget, aku pikir kita gak akan bisa berteman lagi, tahu-tahunya kita bisa sama-sama lagi" ucapnya sumringah
Aku mengangguk setuju, senyum lebarku masih merekah dipipiku
"Iya, iya, iya bener banget" jawabku "Kamu apa kabar Mira ?" sambungku
Mira tersenyum "Kabar baik, kamu sendiri gimana ? Ayah sambung dan Ibu kamu apa sehat-sehat saja ? Oh iya gimana saudara tiri kamu apa dia baik ?" tanyanya tanpa jeda
Mendengarnya aku jadi terdiam sebentar seolah hati yang masih rusak ini belum sanggup menampung pertanyaan yang membawaku ke memori masa lalu.
Wajahku yang tadi sumringah kini menekuk pilu meski sudah aku coba untuk menguatkan hati tapi hasilnya mataku membendung airmata
Tapi bagaimanapun sebenarnya Mira gak tahu apa-apa tentang semua kisah yang aku alami, aku yakin kalau Mira hanya sekedar ingin tahu bukan sengaja mengorek-ngorek untuk menyinggungku
Sebenarnya aku juga gak mau menjawabnya apalagi harus membahasnya tapi aku hanya bisa menguatkan hati untuk bisa berbicara tanpa air mata lagi
Suaraku serak dan mulai berat menandakan air mata sudah tertahan sampai kerongkongan "Ayah sambung aku sudah meninggal, Mir" jawabku pelan
Mira syok mendengarnya "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" ucapnya spontan "Turut berduka cita ya Dhira" sambungnya. Raut wajahnya berubah merasa menyesal sudah bertanya tentang keluargaku
"Maaf ya Dhira, aku gak tahu" ucapnya lagi
Aku mencoba tersenyum, mencoba menepiskan luka yang seharuskan sudah lama aku kubur dalam-dalam
__ADS_1
"Iya makasih Mira" ucapku tersenyum
"Lalu bagaimana Ibu kamu ? Semoga dia bisa menerima semua kenyataan ini ya" ucapnya
Aku diam, kali ini air mataku sudah sulit aku bendung.
Akhirnya aku menangis sejadi-hadinya dihadapan Mira, terisak pedih sesak tertekan dalam dada. Sampai-sampai beberapa siswi yang sejak tadi saling ngobrol akhirnya menoleh ke arahku tapi mereka gak ada komentar dan kembali melanjutkan urusan mereka masing-masing
Suaraku berat dan serak seolah ini adalah percakapan yang aku harus tumpahkan dari selama batinku yang diam
"Ibu aku sudah meninggal. Semenjak Pak Yanto meninggal, Ibu depresi dan berujung gantung dirinya sendiri" ucapku
Mendengarnya Mira lebih syok lagi sampai-sampai kedua matanya terbelalak, suaranya keras sampai menggaung diudara
"Apa ? Gantung diri !" ucapnya sampai-sampai semua yang ada di kelas kembali menolehku. Kali ini mereka mulai terpaku kepadaku
Tapi dalam bersamaan Mira sadar akan sikapnya kemudian mengecilkan volume suaranya. Berharap teman-teman sekelasnya melupakan kalimat yang barusan dia ucapkan dengan keras
Tapi meski begitu suaranya sudah terlanjur mengudara, sudah sampai kepada telinga yang membuat hasrat penasaran.
Keadaan kelas mulai risau, seolah ingin tahu lebih banyak lagi perihal kisahku. Beberapa dari mereka mulai beranjak dari kursinya kemudian menghampiriku
Ada perasaan campur aduk dihatiku yang masih trauma, disisi lain aku merasa terharu kepada mereka yang masih mau bersikap baik kepadaku
Siswi itu bertanya kepadaku dengan mengusap-usap lembut pundakku "Memangnya kamu kenapa ?" tanyanya
Tapi aku lebih memilih gak menjawab dan terus menyeka air mataku yang terus saja jatuh
Mira yang menjawab "Gak apa-apa, Siska. Dia cuma sedih aja" ucapnya
Meski Mira berkata begitu tapi Siska tetap meras iba begitupun yang lainnya
"Tapi siapa yang meninggal ?" tanya Siska lagi
Beberapa detik gak ada jawaban tapi akhirnya Mira yang masih menjawabnya
__ADS_1
"Ayah dan Ibunya meninggal" ucapnya
"Ya ampun, turut berduka cita ya" ibanya
Aku hanya mengangguk berterimakasih sembari masih menyeka air mata
Mira juga ikut semakin iba "Kita doakan aja semoga orang tua Dhira diampuni dosa-dosanya, diterima di sisi Tuhan" ucapnya
Siska dan yang lainnya mengangguk
"Amin. Kamu yang kuat ya, semoga almarhum dan almarhumah diterima disisi Tuhan" ucapnya kemudian disahuti oleh yang lainnya termasuk Mira "Aminnn"
Jam pulang sekolah sudah tiba meski aku sudah bertemu dengan Mira tetap saja ketika pulang ke rumah tetap saja aku berjalan kaki seorang diri tanpa Mira. Apalagi arah pulang kami berbeda, Mira ke kiri sementara aku ke kanan. Bahkan Mira menumpangi angkutan metro mini yang gak pernah aku coba selama dirumah Bibi Ros.
Malam hari ini entah kenapa aku lebih memilih di kamar berdiam diri saja, gak seperti malam sebelumnya ikut berkumpul di ruang keluarga sekedar menonton televisi bersama Bibi Ros dan Om Dudu.
Aku merasa sekujur tubuhku dingin dan telapak tanganku terlihat pucat tapj ku gak merasa kalau aku sedang sakit atau gak enak badan.
Aku duduk di atas ranjang menatap jendela yang tertutup rapat masih tanpa gorden. Diluar gelap dan hujan.
Entah kenapa juga ucapan Bibi Ros mengenai Ayah kandungku terus saja terngiang-ngiang dibenakkku. Disitulah aku semakin penasaran siapa sebenarnya Ayahku dan apakah Ayah masih hidup. Tapi pada akhirnya hati dan pikiranku bertengkar beberapa saat seolah memaksaku untuk mengabaikan rasa penasaran ku terhadap Ayah.
Meski begitu aku kembali membuka foto seorang pria dewasa yang selama ini aku simpan baik-baik. Batinku meyakini kalau itu benar adalah Ayah kandungku
Aku pandang terus menerus foto Ayah walau sebenarnya aku gak pernah tahu wajah Ayah seperti apa dan Ibu juga gak pernah bercerita tentang sosoknya. Gak pernah sama sekali.
Tanpa aku sadari aku malah berbicara kepada foto Ayah
"Ayah. Ayah ada di mana ?" tanyaku pelan
Tiba-tiba saja air mataku jatuh begitu saja kini butiran air mata pilu menyatu digambar wajahnya.
Meski aku tahu sampai terisak pedihpun Ayah gak akan pernah bisa mendengarnya
"Ayah, apa Ayah tahu sekarang nasib seperti ini ?" tanyaku
__ADS_1
"Ayah, apa kita bisa bertemu ?" ucapku lagi dengan tangisan yang masih tersendat-sendat
Entah kenapa semakin lama aku berbicara kepafa gambarnya semakin hatiku remuk tanpa harapan. Meskipun aku berharap banyak kalau suatu saat nanti aku akan mencari Ayah dan bertemu kepadanya