
Semua siswa masih diam mengharapkan aku untuk menjawab sejujurnya, tapi aku masih ingat jelas saat aku keluar ada rombongan yang masuk ke dalam kelas
Dengan polosnya aku menunjuk ke arah barisan meja Nasya "Dia Pak " tunjukku kepada Didi
Langsung saja Didi gak terima denganku
"Bohong Pak, saya langsung pulang !" tepisnya mengelak cepat
Tapi aku tetap mempertahankan ucapanku "Yang saya bilang bener kok Pak. Dia datang bersama teman-temannya masuk ke dalam kelas" ucapku
Pak Beno masih menimbang kejujuran kami
"Coba ceritakan bagaimana kronologinya ?" tanya Pak Beno kepadaku
"Saat itu Aku dan genk Nasya ada di dalam kelas. Sudah gak ada siapa-siapa kecuali kami. Saat itu juga aku hanya duduk menunduk. Setelah Nasya bersama teman-temannya selesai berdandan akhirnya mereka bergegas pulang. Saat itu juga kira-kira belum ada semenit setelah mereka keluar dari kelas aku bergegas ikut keluar dari kelas karena aku takut sendirian di dalam kelas. Saat aku mau keluar tiba-tiba saja rombongan Didi masuk, berpapasan denganku. Setelah aku sudah diluar kelas Aku berpapasan dengan Nasya yang lari terburu-buru melewatiku. Gak lama kemudian Nasya menghampiriku saat aku sudah di luar gerbang kemudian menuduhku mencuri hapenya" jelasku
Mendengar penjelasanku akhirnya Pak Beno menarik kesimpulan kalau kemungkinan Didi lah pelakunya
"Didi, coba ceritakan apa yang kalian lakukan di dalam kelas ?" tanyanya
Didi berusaha menjawab sebaik mungkin "Saya gak masuk ke dalam kelas, saya hanya ke belakang sekolah bersama teman-teman saya sampai sore" jawabnya
"Tapi kronologi Andhira cukup masuk akal. Dan mana mungkin dia berani menuduh kamu" ucap Pak Beno
Mendengar Pak Beno bicara begitu, Didi seolah tersentak dan salah tingkah
Tapi Didi tetap mempertahankan kebohongannya "Saya bersumpah Pak kalau saya gak masuk ke dalam kelas !" ucapnya
Pak Beno menatapnya dalam-dalam "Saya tahu kamu yang berbohong, tapi saya belum yakin kalau kamu yang mencurinya" ucap Pak Beno
Didi diam kemudian beberapa detik dia mulai bicara kembali
"Saya memang masuk ke dalam kelas tapi saya gak mencuri hapenya" ucap Didi
Mendengar Didi berkata seperti itu Pak Beno menggeleng-gelengkan kepala, dia merasa kalau Didi sudah mempermainkan kejujuran tapi Pak Beno tetap dengan santai bertanya-tanya kepada Didi
"Lalu apa yang kamu dan teman-teman kamu lakukan ?" tanya Pak Beno
Didi diam belum bisa menjawab
Semua masih diam menunggu jawaban Didi termasuk Nasya.
Akhirnya Didi kembali bicara "Saya hanya masuk sebentar. Niat hati kami mau nongkrong di dalam kelas tapi rupanya di dalam kelas panas jadinya kami pindah ke belakang sekolah" ucapnya
"Kamu dapat apa saat masuk ke dalam kelas ini ?" tanyanya
Didi bingung menjawabnya "Saya kan cuma sebentar" ucapnya
__ADS_1
"Iya saya paham tapi kamu masa gak lihat ada hape diatas meja ?" tanya Pak Beno.
Dengan nada yang tinggi Didi terus mengelak "Saya memang gak tahu pak, tanya aja teman-teman saya!" tegas Didi
"Kamu melawan saya ?" tantang Pak Beno
"Bukan Pak, tapi saya kesal kenapa saya yang dituduh mengambil" jawabnya
"Dari awal kamu menjawab saja kamu sudah berbohong. Kamu bilang gak masuk ke dalam kelas sekarag bilang masuk ke dalam kelas. Bagaimana saya bisa percaya kalau kamu gak mengambil hape Nasya ?" jebak Pak Didi
"Kalau Bapak saja bisa mencurigai saya, kenapa Bapak juga gak mencurigai Dhira. Bukannya dia ada di kelas juga ?" lempar Didi kepadaku
Mendengarnya Pak Beno makin bingung akhirnya Pak Beno nyaris menyerah "Baik lah, kalau diantara kalian tidak ada yang mengakui semoga apa yang kalian curi menjadi berkat baik untuk kalian" sindirnya
Tapi Nasya masih gak terima, Nasya justru lebih menuduhku yang mengambilnya
"Saya gak rela Pak, Dhira yang pasti sudah mencuri hape saya !" tuduhnya
Pak Beno berusaha menahan amarah Nasya "Sudah lah, kamu juga kan gak ada bukti akurat. Sekalipun kamu lapor ke polisi pun kalau tidak ada bukti dan saksi mata mana mungkin kamu pantas menuduhnya" ucap Pak Beno
Nasya masih terlihat jelas menahan amarahnya, matanya menatapku tajam seolah menyimpan dendam kepadaku tapi aku diam saja.
Akhirnya Pak Beno pun menutup materinya karena memang akan berganti mata pelajaran
"Baik lah, sampai disini dulu materi yang saya bawakan. Semoga dihari mendatang kita akan bertemu kembali. Terimakasih. Selamat siang" ucapnya
Pak Beno pun akhirnya keluar dari kelas, belum beberapa menit pergi. Semua kembali gaduh dan berisik.
Tapi aku lebih memilih membaca buku pelajaran kedua daripada ikut ngobrol sana sini.
Tanpa aku duga rupanya Nasya menghampiriku. Dia mendekatiku dengan amarah yang masih belum puas
"Dhira, sebaiknya lu ngaku deh ?" ucapnya
Aku menoleh wajahnya, aku bingung mau bersikap seperti apa karena aku gak mencurinya
"Ngaku untuk apa ?" tanyaku
Saking emosinya sudah gak bisa dia kontrol, Nasya menggebrak mejaku
"Lu kan yang ambil handphone gua !"
Yang tadinya kelas ramai bagai pasar seketika mendadak sunyi dan semua mata terpaku padanya
Nasya masih saja berbicara secara arogan karena dia yakin betul kalau aku adalah sang pencuri dimatanya
"Kalau lu gak ngaku, gua akan laporin lu ke polisi !" ancamnya
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala kembali untuk yang kesekian kalinya
"Aku gak ambil !" ucapku
"Jangan Bohong !" bentaknya lagi
"Beneran, Nasya !" ucapku
"Lu ini sudah pasti mencurinya, jelas-jelas sewaktu gua tinggal kelas sebentar, diatas meja gua udah gak ada hape. Siapa lagi yang nyolong kalau bukan elu !" tuduhnya
Karena saking aku udah capek untuk menjawabnya, akhirnya aku diam saja dan hanya membolak balikkan halaman buku yang sejak tadi aku baca
Tapi dengan sikap aku yang seperti itu Nasya justru semakin naik pitam.
Dia terus saja menggebrak-gebrak meja seolah ingin meluapkan rasa kesal dan marah besarnya.
Brak..brak..brak..brak !
Semakin dia menggebrak mejaku semakin sunyi isi dalam kelas.
Nasya masih sangat marah tapi akhirnya dia melangkah kembali ke tempat duduknya sambil mengoceh mencibirku
"Dasar orang miskin gak tahu diri, gak mampu beli hape malah mencuri. Sesuailah sama mukanya yang jelek. Makanya tangannya enteng nyolong barang orang. Najis. Cuih!" ucapnya dengan keras yang cukup memantik emosiku
Akhirnya aku berdiri kemudian angkat bicara atas ocehannya "Ngomong apa kamu !" tantangku
Mendengar suara tantanganku, akhirnya Nasya kembali ke kursiku. Dia berjalan cepat-cepat seolah ingin melampiaskan amarahnya dengan segera
Matanya melotot seram dan bertolak pinggang "Apa !" tantangnya sambil terus melangkah ingin meraih tubuhku tapi karena Rinai masih duduk disampingku maka dia agak sulit mendekat
Tapi karena darah Nasya sudah mendidih dan sangat geram kepadaku akhirnya Nasya menarik tangan Rinai supaya gak menghalangi jalannya.
Setelah Rinai berhasil dia gusur akhirnya Nasya menampar pipiku dan menjambak rambutku.
Gak ada satupun yang melerai semua hanya menjadi penonton bagai taruhan siapa yang akan menang diantara kami.
Karena itu aku berusaha membela diriku sendiri dengan menendang perutnya sampai dia sedikit terpental keluar kursi
Karena posisinya dia sudah diluar kursiku akhirnya aku keluar dari kursiku lalu kami pun saling baku hantam.
Aku terpental ke kolong mejaku tanpa aku rencanakan aku mengambil kayu patahan kaki kursi yang selama ini tergeletak dikolong mejaku.
Kemudian aku pukul kebagian punggung Nasya dengan keras beberapa kali. Tapi Nasya masih sanggup melawanku sementara aku terus menerus melayangkan patahan kayu kebagian tubuhnya.
Sampai akhirnya Nasya tersungkur kehadapan laci meja yang ada sedikit muncul pakunya sehingga keningnya robek dan berdarah banyak.
Dari situlah semua yang menonton panik dan mulai melerai kami.
__ADS_1