GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
60. BAGAI SEORANG IBU


__ADS_3

Sampai tiba langit senja Bibi Ros masih gak mau berkomentar satu kata pun kepadaku, justru dia mengurung dirinya di dalam kamarnya. Hanya ada Om Dudu yang sedang menonton televisi seorang diri saja, dia juga gak berkomentar apa-apa bahkan gak seperti biasanya untuk sore ini dia gak menawarkan aku makan malam. Dengan sikap mereka yang seperti itu aku yang hanya menumpang hidup di rumahnya semakin gagal untuk tetap tenang.


Sementara aku hanya bisa berdiam diri di dalam kamarku. Mengingat kembali peristiwa tadi siang yang gak pernah aku duga sama sekali. Rasanya aku ingin kembali mengulang waktu untuk menahan amarah yang sia-sia itu, tapi itu sudah terjadi.


Sebenarnya aku sudah mandi dan mengganti pakaianku tapi aku gak berani ke dapur untuk makan. Hari ini aku sangat mengakui kesalahanku.


Gak ada aktifitas lain yang aku lakukan ditempat persembunyianku ini, aku hanya merebahkan diri sembari menatap langit-langit kamar, sembari memikirkan apa yang akan terjadi besok, apakah Bibi Ros akan datang atau dia memilih untuk gak peduli kepada permasalahanku.


Walau perut sangat terasa kosong tapi aku tetap menahannya sampai akhirnya aku tertidur pulas.


Jam tiga malam aku terbangun diantara kesunyian langit yang masih gelap. Mataku terbuka begitu saja dalam posisi tubuh yang masih terlentang.


Pagi gelap buta seolah memanggilku untuk berbicara kepada diriku sendiri. Mengoreksi batin yang semakin rapuh saja.


Kemudian aku duduk termangu menatap sesuatu yang gak bisa tersimpan didalam kepalaku. Pikiranku kalut dan gelisah.


Dikehinangan pagi yang dingini, Aku mulai menundukkan kepala kemudian mengepalkan tangan didada lalu mulai untuk berdoa. Tapi belum juga satu kalimat doa yang aku ucapkan derai airmataku lantas tumpah begitu saja. Isakan tangisku lepas gak terkendali. Sakit hati yang aku terima bertubi-tubi sepanjang hidup baru terasa saat ini.


Huhuhuhu !


Suara tangisku pecah diudara, namun masih aku jaga supaya gak didengar oleh siapa pun. Mulutku terkunci seolah sulit mengutarakan kata-kata indah kepada Tuhan karena pikiranku sudah lari ke mana-mana.


Sampai saat ini aku gak menyangka sama sekali kalau akan begini jalan cerita hidup yang aku alami, sekarang siapa lagi yang mau menerimaku seorang gadis terkutuk yang kerap disumpahi semua orang.


Aku bukan menyalahkan Tuhan tapi dimana Dia ?


Di sini, digelap kepedihan yang suram ini aku tengah mencariNya. Aku hanya ingin berismpuh dikakiNya dan bisakah sekali saja aku bicara kepadaNya. Aku ingin mengatakan


"Tuhan, bawalah aku pulang. Aku tidak memiliki siapa-siapa disini"


Aku takut melihat apa yang akan terjadi setelah ini, aku juga kecewa kepada diriku sendiri.


Sampai akhirnya aku hanya bisa menangis. Hanya itu saja yang terjadi.


Langit kembali bercahaya lagi, pagi yang gak aku inginkan. Aku takut melewatinya.


Rupanya hari ini Bibi Ros gak menyajikan sarapan. Meja makan kali ini terlihat bersih dari tudung lauk yang biasanya penuh dengan makanan.


Tapi aku gak banyak berkomentar tentang itu, meski perut semakin kosong dan uang jajan pun gak aku terima. Aku tetap akan berpamitan kepada Bibi Ros yang masih berdiam di dalam kamar.


Dengan pelan aku mengetuk pintu kamarnya


Tok..tok..tok..tok


"Bibi" panggilku pelan


Aku sudah yakin kalau Bibi Ros gak mungkin menjawabku. Dan benar saja Bibi Ros gak bersuara dari dalam. Aku yakin dia sudah bangun dari tidur hanya saja dia belum mau bicara kepadaku.

__ADS_1


"Bi, aku berangkat dulu ya" pamitku


Baru saja aku membalikkan badan rupanya aku berpapasan dengan Om Dudu yang baru selesai mandi dan akan masuk ke dalam kamar.


Tapi dia masih menyapaku


"Dhira mau berangkat ya " ucapnya


"Iya Om" ucapku


"Oh ya, hati-hati ya" ucapnya


Mendengar ucapannya begitu aku tersenyum lega "Iya Om" ucapku sembari bergegas pergi


Sesampainya di dalam kelas aku masih diam saja, gak ada seorang kawan pun yang mau bicara kepadaku mereka hanya diam saja menatapku bagai penjahat yang harus diasingkan


Jam sepuluh pagi Pak Beno datang ke kelas untuk menjemput janji kami kemarin


"Nasya, Ai, Siska, Didi dan Andhira. Apakah orang tua kalian sudah tiba ?" tanyanya


Nasya menjawab lebih dulu "Sebentar lagi akan datang Pak. Tapi pasti akan datang !" ucapnya


kemudian Didi juga menjawabnya "Sudah sampai Pak, mungkin nunggu di depan sekolah" ucapnya


Ai juga menjawab "Ada di depan lagi nunggu dipanggil" jawabnya


Disusul Siska "Ada di depan langi nunggu dipanggil" jawabnya


Pak Beno melemparkan pandangannya kepadaku, aku tahu kalau itu isyarat dia bertanya kepadaku


Tapi aku diam saja karena aku gak tahu harus jawab apa.


"Dhira, bagaimana dengan orang tua kamu ?" tanyanya


"Nggggg" aku belum bisa jawab.


"Orang tua kamu dan orang tua Nasya harus datang. Supaya urusan ini clear" ucapnya


"Ngggg"


"Kalau orang tua kamu gak datang, bagaimana caranya mendamaikan kalian ?" tambahnya lagi.


"Ngggg, sebentar lagi dia akan datang. Pak" ucapku berbohong. Bahkan aku saja gak tahu Bibi atau Om Dudu akan datang atau gak.


Pak Beno mengangguk "Baik lah kalau begitu sekarang juga kalian panggil orang tua kalian. Saya tunggu di kantor guru" ucap Pak Beno kepada kami.


Nasya, Ai, Siska dan Didi serempak menjawab

__ADS_1


"Iya Pak !" ucap mereka sembari bergegas keluar dari kelas menemui orang tua mereka.


Sementara aku masih bingung harus melakukan apa.


Bibi Ros atau Om Dudu saja gak memberikan tanda-tanda kalau mereka akan datang ke sini apalagi mereka bersikap dingin semalaman.


Karena saking gugupnya aku putuskan untuk ke toilet berpura-pura sakit perut, walau toilet sekolah ini teramat bau pesing dan kotor tapi aku pertahankan untuk bersembunyi dalam ketakutan. Jantungku berdebar, suhu tubuhku berubah dingin dan gemetar juga lemas. Mungkin aku sangat gugup ditambah lagi karena saking kelaparan.


Beberapa saat aku mengunci diriku di dalam toliet yang membuat kepalaku malah menjadi pusing karena aroma ruangannya yang semerbak akhirnya aku putuskan untuk keluar dari tolite yang ada dibelakang pojok gedung sekolah.


Pelan-pelan aku melangkah ke arah ruang guru berharap sikapku bisa mengulur waktu.


Dengan kaki yang gemetar dan rasa yang masih takut akhirnya aku terus melangkah sampai akhirnya langkahku terhenti mendengar suara seorang wanita dewasa yang sangat aku kenal dari dalam ruang guru.


Suaranya keras dan tegas terdengar dari balik tembok ruang guru. Aku yang terlanjur ciut pada keadaan akhirnya mendengarkannya dari samping tembok.


"Saya memang bukan orang tua kandung Andhira tapi saya berani bersumpah, dia bukan anak yang nakal. Dia bukan pencuri. Jadi hati-hati kamu kalau bicara !" tegasnya.


Jantungku seolah terhenti mendengarnya, aku terharu Bibi Ros membelaku sampai sebegitunya.


Saat Bibi Ros mengatakan begitu Ibu Nasya membalas ucapan Bibi Ros "Kamu ini kan bukan orang tua kandungnya, bagaimana mungkin kamu bisa yakin kalau dia bukan pencuri. Buktinya sekarang saja anaknya gak tahu ke mana. Buktinya kan jelas dia ketakutan karena memang dia yang mencuri !"


Tapi Bibi Ros gak suka dengan kalimat Ibunya Nasya. Bibi Ros sangat geram dipancing dengan perkataan seperti itu


"Diam kamu ! Harusnya kamu mendidik anakmu supaya gak menuduh orang lain sembarangan !" bentak Bibi Ros


Bibi Ros menambahkan lagi "Sekarang diantara kalian sekarang mengaku saja. Kalau tidak ada yang mengaku saya sanggup laporkan kalian kepolisi karena sudah menuduh anak asuh saya !" ancam Bibi Ros dengan tegas.


Semua hening belum ada yang sanggup menjawab. Tapi Pak Beno berusaha menengahkan perkara


"Ada betulnya juga yang dikatakan Ibu Ros, jadi lebih baik mengaku saja" ucap Pak Beno.


Tapi ibu Ai justru tersinggung "Loh, jadi Bapak berpihak ke Andhira ?" singgungnya


"Bukan, bukan Bu. Saya hanya mau membuka peluang kejujuran sana !" ucapnya


Ibunya Nasya masih mempertanyakanku "Mana itu si Andhira, sudah mencuri hape anak saya, malah memukul anak saya juga. Dia yang lebih pantas saya lapor kan ke polisi !" tegas Ibunya Nasya.


Bibi Ros langsung menyalip omongan Ibunya Nasya "Dhira gak akan melakukan itu kalau dia gak dipancing !" ucapnya


"Tetap saja anak pungut kamu itu kurang ajar !" kesal Ibunya Nasya


"Heh, jaga mulut kamu ya !" balas Bibi Ros.


Akhirnya suasana makin panas, ricuh dan berisik dengan suara pertengkaran.


Saat bersamaan aku mulai memberanikan diri untuk masuk walau air mataku terus saja mengalir tanpa henti.

__ADS_1


Saat mereka melihat kedatanganku, mereka mendadak diam.


Aku mendekati Bibi Ros dan duduk disampingnya.


__ADS_2