
Kemudian akhirnya aku beranikan untuk memutuskan keyakinanku yang aku rasa keputusan ini udah pasti yang terbaik
"Gak usah Bi, Om. Tapi kalau boleh ijiinkan aku tinggal di sini sampai aku lulus dan mendapatkan pekerjaan. Lalu aku akan membalas semua kebaikan Om, Bibi, Liana, Nenek, Kakek dan semua keluarga besar Bibi Ros dan Om Dudu" ucapku sembari melihat wajah Bibi Ros dan Om Dudu
Mata bibi Ros berkaca-kaca mendengarnya begitupun dengan Om Budi.
Ruangan makan yang biasanya terasa ceria kini semakin terasa serius
Om Budi mulai bicara kepadaku dengan suara serak seakan menahan harunya, dia sangat berterimakasih atas ucapanku
"Jangan sungkan, Dhira. Kita sebagai manusia sudah sepantasnya saling mengasihi. Kamu anak yang baik, lahir dari seorang Ibu dan Ayah yang baik" ucapnya pelan
Aku menunduk sedih mendengarnya ketika suara lembutnya mengucapkan orang tuaku
Tapi Bibi Ros tahu betul perasaanku mulai kembali jatuh dalam kenangan kepahitan masa lalu, kemudian dia memberikan aku sepotong ayam goreng ke dalam piringku "Sudah lah Dhira, kamu bukan terlahir dari kutukan. Kamu diciptakan oleh Tuhan yang Kudus yang Esa. Jadi permintaan Bibi dan Om dan semua keluarga besar tolong jauhkan pikiranmu itu, kami menerima kamu bukan karena kasihan tapi karena kamu juga berhak bahagia" ucapnya
Aku tersenyum mendengarnya, seperti ada angin segar masuk kedalam jiwaku. Seolah bernapas begitu lega, bagiku ini bagai mimpi buruk yang berakhir siang ini.
"Terimakasih ya Om , ya Bi " ucapku, tanpa aku sadari air mataku jatuh begitu saja. Berlinang dipipiku untuk kesekian kalinya
Bibi Ros tersenyum "Iya Dhira, kamu harus kuat. Kami ada untuk kamu. Kami mau jadi bagian dalam hidup kami. Satu hal yang harus kamu ingat , kamu hebat, kamu kuat. Hidup ini bukan sekedar untuk makan dan minum tapi juga untuk belajar sampai kamu bijak membawa diri kamu kemana saja" ucapnya
Aku mengangguk "Iya Bi" ucapku
Hari ini benar-benar membuatku sangat berbeda, aku merasakan kekuatan yang sudah sejak lama aku cari seolah jawaban datang dari segala doaku, merasakan rasanya memiliki keluarga yang mengasihiku tanpa pamrih.
Sepulang dari Gereja aku masih ingat untuk bertemu dengan Mira, setelah meminta ijin kepada Bibi Ros akhirnya aku cepat pergi menemui Mira.
Dibawah langit biru yang cerah dengan hembusan angin yang tenang aku bertemu dengan Mira tepat di tempat kami berjanji sebelumnya.
Mira menyambutku karena rupanya dia lebih dulu tiba
"Hai, Dhira. Akhirnya kita bisa main juga ya" ucapnya sumringah
Aku mendekatinya "Iya. Kamu sudah lama di sini ?" tanyaku
"Enggak kok, justru aku baru sampai" ucapnya
"Ogitu, yaudah kita jalan sekarang aja" ajakkku
Mira pun menyetujuinya
Akhirnya aku dan Mira pergi bersama menaiki mikrolet sekali untuk bisa sampai ke rumahnya.
__ADS_1
Gak sampai setengah jam akhirnya kami sampai juga di rumah kecil bertembok hijau mint dengan gerbang besi yang cukup tinggi dan rapat hampir jerujinya menutupi sebagian depan rumahnya.
Aku dan Mira mulai masuk setelah Mira membuka gembok gerbang besi bercat hitam.
"Ayok masuk Dhira. Ini rumah aku dan Ibu" ajaknya ramah
Aku bertanya dalam hatiku mengapa dia gak menyebut Ayahnya, tapi aku gak curiga sama sekali hanya terbesit saja.
Mira membuka pintu rumahnya yang terkunci dari luar, mungkin Ibunya Mira sedang pergi.
Saat pintu dibuka aroma busuk begitu menyengat menusuk penciuman kami tapi Mira tampak biasa saja sementara aku nyaris muntah
"Uwek, bau apa ini Mira ?" tanyaku saking sudab gak bisa aku tahan
Mira menyeringai segan kepadaku
"sebentar ya Dhira, kamu duduk saja dulu. Aku mau ke belakang" ucapnya sambil cepat bergegas melangkah ke dalam rumah.
Sementara aku duduk menunggunya di bangku panjang yang terbuat dari rotan. Ruang tamu yang mungil namun rapih.
Beberapa saat aku menunggu, suara nyaring dari dalam membuat aku tersentak mendengar perkayaan Mira memarahi Ibunya
"Ibu kenapa selalu begini sih !" tegasnya
Gak lama kemudian aku mendengar Mira menangis kesal tapi masih sambil bicara
"Aku capek Bu, capek. Huhuhu..huhu. Aku gak tahu harus bagaimana lagi !" keluhnya
Karena saking menganggu benakku akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri menemui Mira ke dalam.
Aku melangkah pelan-pelan mencari sumber suara Mira yang terus saja mengeluh hingga akhirnya aku melihat Ibunya duduk melantai dengan begitu banyak kotoran manusia disekelilingnya bahkan sampai menempel dipakaian dan tangannya. Sementara Mira tengah berusaha membersihkannya dengan kain basah sembari terus menyeka airmatanya.
Melihatnya aku jadi iba, entah harus apa yang aku lakukan.
Aku hanya bisa melihatnya saja.
Mira menyadari kedatanganku, kedua matanya sembab dan terus saja meneteskan airmata.
Dengan suara gemetar aku mulai bicara "Aku mau bantuin kamu, Mira" ucapku
Tapi Mira menolaknya "Gak usah, aku sudah terbiasa begini" ucapnya tapi wajahnya masih dia tekuk begitu sedih.
Tapi meskipun dia berkata begitu, aku semakin mendekati mereka walau aroma busuk semakin dekat mengusikku. Aku hanya berusaha menahan rasa mual untuk menghargai Mira.
__ADS_1
Aku mengambil kain basah yang lain kemudian ikut membersihkan Ibunya.
Dengan seketika airmataku jatuh, berlinang kepedihan yang gak pernah aku duga akan begini akhirnya. Isak tangisku mengiringi tanganku membersihkan tangannya yang pernah menggendongku saat aku masih kecil sampai akhirnya aku gak sanggup melanjutkanya karena terpotong dengan bayangan masa lalu yang begitu manis bersamanya.
"Huhuhuhuhu" tangisku semakin pecah saat menatap wajahnya yang pucat pasi.
Sementara Mira masih terus membersihkannya dan masih menangis sampai akhirnya beberapa saat Ibunya kembali bersih. Setelah Ibunya dimandikan.
Aku kembali menunggunya di ruang tamu, hampir satu jam lebih sampai semua kembali bersih.
Beberapa saat menunggunya akhirnya Mira kembali menemuiku.
Dengan wajah lelah dia duduk disampingku. Raut wajahnya masih sangat terlihat sedih seolah ingin meminta bantuan tapi dia gak tahu harus meminta kepada siapa
"Ibu mana, Mira ?" tanyaku
"Sudah tidur" jawabnya
Sesaat hening, seolah satu sama lain enggan bicara
Tapi akhirnya aku berusaha mencairkannya
"Maaf Mira, Ibu kenapa bisa begitu. Bukannya....."
"Ayah nikah lagi dan gak pernah kembali" jawabnya cepat seraya memotong pertanyaanku
Mira menatapku, airmatanya kembali berlinang "Sekarang kamu tahu kan Dhira, bagaimana keadaanku ?" ucapnya
Aku gak sanggup menjawab apa-apa
Mira tersenyum walau butiran airmatanya terus saja jatuh "Kemarin Ibu masih sadar, dia masih bisa diajak komunikasi. Makanya kemarin aku ajak kamu supaya kamu bisa komunikasi dengan Ibu. Tapi rupanya kamu gak bisa dan sekarang Ibu kembali begitu" jelasnya
Aku sedih mendengarnya
"Maaf ya Mira"
Mira tersenyum
"Gak apa-apa Dhira, setidaknya sekarang kamu bisa jawab sendiri. Kalau, perkara manusia pasti akan ada, gak ada manusia yang luput dari masalah hidup. Besar kecilnya masalah rasa sakitnya pasti sama saja tapi semua tergantung kekuatan manusia itu sendiri bagaimana dia mampu bertahan. Kamu itu orang yang kuat, sengaja dipilih untuk melewati peristiwa yang sudah dicatat Tuhan. Jadi jangan pernah bertanya dimana Tuhan, sebab Tuhan sudah ada disetiap jiwa manusia yang percaya jauh sebelum kamu, aku dan semua orang yang lahir ke dunia ini"
Tanpa sadar air mataku kembali jatuh.
_TAMAT_
__ADS_1
*Terimakasih sudah membaca cerita fiktif ini, mohon maaf jika ada salah kata atau nama atau beberapa hal yang menyinggung. Karena sama sekali gak ada niat untuk menyinggung pihak manapun. Mohon maaf juga dalam penulisan episode sangat lama. Semoga hari kamu selalu menyenangkan, sehat dan selalu dalam berkat Tuhan.