GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
14. KONDUSIF


__ADS_3

Tanpa pikir panjang lagi Bu Nina membawaku pergi dari kediaman Nenek, dia akan membawaku ke Puskesmas yang cukup dekat dari sekitaran desa kami.


Siang dengan ditemani oleh terik matahari yang mulai menyengat kulit kami. Tapi meski begitu Bu Nina tetap gak gentar berjalan kaki meskipun dia menggendongku.


Beberapa menit dalam perjalanan akhirnya sampailah kami di Puskesmas


Ibu Nina meminta kepada penjaga yang ada disitu supaya aku lekas diperiksa Dokter


"Ibu, tolong anak ini diperiksa sepertinya dia demam" ucapnya


Tapi penjaga menjawab dengan datar tanpa menoleh Bu Nina, dia malah tetap sibuk menulis dibukunya yang besar


"Tapi maaf Bu, Dokternya sedang keluar sebentar. Nanti Ibu bisa kembali lagi atau mau menunggu" ucapnya


"Bagaimana bisa Dokter gak bisa selalu ada ditempatnya" komplain Bu Nina


Penjaga masih saja menulis


"Dokter juga manusia Bu, dia juga bisa ada kepentingan lain. Ditunggu saja kalau Ibu mau" ucapnya


"Memangnya gak ada yang mewakilkan ?" tanya Bu Nina


Dia masih tetap menulis tanpa menoleh Bu Nina "Ada, tapi Bidan" ucapnya datar


Bu Nina jadi kesal menjawabnya


"Loh, kok Bidan. Dia kan demam bukan mau beranak. Lagi pula dia masih kecil mana mungkin hamil" imbuhnya


Akhirnya penjaga itu menoleh Bu Nina untuk yang pertama kalinya lalu memberikan kesempatan terakhir kepada Bu Nina untuk memilih salah satunya


" Mau menunggu untuk beberapa menit atau mau diperiksa Bidan sekarang juga ?" tanyanya


Ibu Nina diam lalu berpikir sejenak "Memangnya dia bisa bantu ?" tanyanya


"Bisa" ucapnya datar


Dan pada akhirnya aku diperiksa oleh Bu Bidan, tapi meski kami hanya seruangan berdua dia hanya diam saja saat dia memeriksaku mataku terus terpaku pada tangan kirinya yang ada bekas luka sayatan yang cukup besar.


Setelah selesai diperiksa dengan alat stetoskop akhirnya Bu Bidan mengajakku bicara.


"Panas kamu sudah turun kok, tapi kamu harus banyak makan buah, sayuran dan ikan sedikit daging dan susu. Oh iya, jangan lupa juga nanti obatnya diminum ya" ucapnya


Aku hanya mengangguk tanpa bersuara


Bu Bidan menatapku lalu memandangiku dari atas kepala sampai ujung kakiku, dan dia masih mengajakku bicara


"Nama kamu siapa ?" tanyanya


"Andhira, Bu " jawabku


Bu Bidan terdiam lalu menatapku dengan tatapan yang pilu, aku bisa melihat kedua matanya berkaca-kaca


Tapi aku gak paham kenapa dia bersikap begitu


"Nama Ibumu siapa ?" tanyanya


"Lasmi" ucapku cepat


"Nama Ayahmu ?" tanyanya

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala "Gak tahu"


"Kenapa ?" tanyanya lagi


"Aku gak pernah ketemu Ayah" jawabku


Bu Bidan tersenyum tapi masih terlihat jelas kalau kedua matanya membendung air mata yang dia jaga supaya gak jatuh berhamburan


Lalu dia menyentuh dengan erat kedua pundakku


"Kamu sudah besar ya, dan juga tumbuh begitu cantik" ucapnya


Aku yang gak paham maksudnya apa, sama sekali lebih memilih untuk diam saja tanpa menjawab apa-apa


"Kamu boleh pulang sekarang, jaga kesehatan ya. Kamu harus rajin belajar dan gak boleh memikirkan omongan jelek orang lain niscaya kamu pasti akan jadi orang besar" ucapnya


Terus terang saja aku masih gak paham dengan arti dari perkataannya itu tapi akhirnya aku segera beranjak pergi dari ruangannya kemudian menemui Bu Nina


Lalu kami pulang bersama


Untuk sementara waktu Bu Nina mengajakku kembali ke rumahnya.


Sesampainya dirumahnya rupanya Mira sudah pulang dari Sekolah dan sudah duduk dibangku warung


"Loh, kamu sudah pulang ya ?" ucap Bu Nina merasa bersalah


Tapi Mira gak menunjukkan kemarahannya justru dia tetap santai duduk dibangku kayu panjang yang sengaja disediakan depan warungnya.


Bahkan Mira malah menyambutku


"Hai, Dhira !" ucapnya gembira


"Maaf ya, tadi Ibu melayat ke rumah Kakek Dhira dulu habis itu ke Puskesmas juga. Maaf ya Mira" ucapnya meminta maaf lagi


"Iya Bu aku gak apa-apa kok. Aku juga baru sampai" ucapnya


Gak lama Bu Nina membukakan pintu rumahnya akhirnya aku dan Mira dipersilakan masuk ke dalam sementara Bu Nina membuka kembali warung kopinya.


Mira langsung mengajakku makan bersama padahal dia belum mengganti seragam sekolahnya


"Makan yuk Dhira" ajaknya


Tapi dalam bersamaan Bu Nina datang


"Ganti seragamnya dulu, Mira. Habis itu boleh makan bersama Dhira" ucapnya, lalu setelah mengambil gelas berisi air minumnya dari dalam dapur kemudian kembali lagi ke dalam warungnya


Mira menurut "Iya Bu" ucapnya lantas bergegas ke kamarnya


Sementara aku menunggunya diruang tamu dengan duduk melantai seperti biasa.


Bu Nina kembali lagi lalu menyiapkan makan siang untuk kami, dia meletakkan opor tahu dan sayur sawi putih tanpa kuah sebagai lauknya. Kemudian menyendokkan nasi diatas piring kami masing-masing sampai akhirnya Mira kembali dari kamar dengan pakaian yang sudah berganti


Dengan cepat Mira duduk disampingku lalu segera makan dengan sangat lahap.


Rupanya dari dalam warung, Ibu Nina memantau kami sedang makan apalagi melihat Mira yang makan seperti orang baru mengenal nasi


"Pelan-pelan makannya, Mira" ucap Bu Nina


Tapi kali ini Mira gak menuruti ucapan Ibunya yang sangat baik hati itu, dia malah terus mengunyah makanan yang sangat banyak didalam mulutnya sampai mulutnya menjadi bundar dan dia juga jadi kesulitan mengunyahnya.

__ADS_1


Aku yang melihat tingkahnya jadi tertawa geli melihat kekonyolannya


"Hahaha"


Mendengar aku tertawa begitu, Ibu Nina menengok ke arah kami.


Dan aku masih tertawa melihat aksi Mira. Bagaimana gak tertawa, mukanya jadi lucu kalau cara makannya dia begitu.


Dalam bersamaan juga ada pembeli yang datang, kali ini bukan yang kemarin. Pembeli hari ini seorang Bapak-bapak yang nampak dewasa bertubuh gempal


"Beli kopinya Bu, diseduh minum disini saja" ucapnya sambil duduk menghadap meja yang menempel dibadan warung


"Oh, baik kalau begitu saya siapkan dulu ya" ucap Bu Nina


"Siipp, jangan lama-lama" ucapnya


"Siip, Pak" ucapnya sambil mengolah kopi dagangannya


Gak sampai bermenit-menit akhirnya seduhan kopi buatan Bu Nina mendarat dihadapan bapak itu.


"Terimakasih" ucap bapak itu meskipun baru disajikan dihadapannya


"Ya pak. Cemilannya silakan dipilih pak. Ada macam cemilan biskuit, gorengan dan kerupuk. Tinggal pilih mau yang mana" ucap Bu Nina menawarkan


"Saya mau gorengan aja deh" pilih bapak itu sambil mencomot satu per satu gorengan lalu dia letakkan diatas piring alas kopinya


"Iya silakan pak" ucap Bu Nina.


Sambil menyeruput kopinya, dia mengajak Bu Nina bicara


Tepatnya ngobrol


"Bu, Pak Suki meninggal ya ?" tanyanya


"Loh, bapak baru tahu ?" tanya balik bu Nina


"Iya, saya baru aja pulang dari kota. Biasalah belanja pakaian untuk dagang. Tahu-tahu tetangga saya bilang habis melayat dari rumah Almarhum Pak Suki. Padahal tadi saya lewat depan rumahnya sepi-sepi aja " jelasnya


"Oh begitu, iya pak. Kalau mau melayat gak apa-apa nanti sehabis minum kopinya bapak boleh ke sana aja. Mungkin sebentar lagi mau dimakamkan" uca Bu Nina


"Loh, darimana Ibu bisa tahu ?" tanyanya


"Saya habis melayat juga ke sana" ucap Ibu Nina


"Oh iya Bu, saya beneran ada yang mau saya tanyakan juga nih" ucapnya agak sedikit canggung


Ibu Nina langsung menerimanya "Oh, silakan Pak mau tanyakan apa ?" tanyanya


"Waduh, sebenarnya saya gak enak nanya begini ya " ucapnya malah bingung mau jadi bertanya atau mengurungkan saja


"Gak apa-apa Pak, ditanyakan aja. selama itu gak melecehkan pihak tertentu saya masih bisa terima" ucapnya


"Mmm, masalah anaknya si Lasmi"


"Kenapa memangnya dengan anak itu Pak ?" tanya bu Nina lagi


"Apa benar dia anak kutukan iblis dan pembawa sial, makanya gara-gara ada dia Kakeknya jadi mengalami kesialan sampai kecelakaan ?"


Mendengarnya Ibu Nina diam

__ADS_1


__ADS_2