GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
24. PENYESALAN


__ADS_3

Dengan secepatnya Nenek dimakamkan tepat disamping makam Kakek, bahkan ini adalah kali pertama aku menyentuh tanah kubur Kakek.


Aku masih saja menangis dihadapan gundukan yang tertancap salib dihiasi taburan bunga.


Hatiku masih hancur, rasanya aku mau menyusul Nenek saja.


Para pelayat Nenek sudah berangsur sepi, tapi aku masih saja menangis sambil memeluk tubuh Nenek yang sudah menjadi tanah.


Sementara Bu Nina masih setia menemaniku, ia memelukku dari belakang seolah memberikan aku satu kekuatan yang lebih lagi


"Iklasin ya, Dhira. Nenek sudah sembuh" ucapnya


Tapi aku makin menangis pilu, aku merasa ini adalah kesalahan ku yang sangat bodoh. Kalau saja dari awal aku jujur pada Bu Nina, mungkin Nenek sudah lama sembuh karena pasti Bu Nina akan membantu merawatnya


Bu Nina membelai rambutku dengan lembut "Ayok, kita pulang. Langit sudah mau gelap" ajaknya sambil perlahan menarik tanganku


Tapi aku menghalau tangannya dan masih terus menangis saja dengan wajah yang semakin menempel menyatu dengan tanah


"Aku gak mau pulang, aku mau di sini" ucap ku


"Jangan, Gak boleh. Dhira harus pulang. Ayok, pulang ke rumah Bu Nina aja yuk. Tinggal sama Mira" bujuknya


Aku menolaknya dan tetap bertahan memeluk makam Nenek


"Gak mau. Gak mau !" tegasku


"Dhira gak boleh seperti ini, Dhira harus pulang supaya Nenek gak sedih di sana" bujuknya


"Gak mau !" ucapku lagi


"Nenek sudah bahagia, Nenek sudah bertemu dengan Kakek. Kalau Dhira sayang sama Nenek dan Kakek. Dhira harus banyak mendoakan mereka supaya disana mereka semakin bahagia" ucapnya


Mendengarnya suara tangisanku sejenak berhenti, tiba-tiba saja aku membayangkan Nenek bertemu Kakek dan mereka bahagia tanpa ada rasa sakit lagi.


Bu Nina yang sudah yakin kalau aku lebih tenang dari sebelumnya akhirnya mengubah posisiku menjadi menghadap wajahnya


Dia tersenyum lalu mengingkirkan tanah yang menempel diwajahku.


"Kita pulang yuk" ajaknya


Aku menatapnya tapi masih menangis tanpa suara.


Bu Nina mengusap air mataku lalu menuntunku kembali pulang bersamanya.


Sesampainya di rumah Bu Nina langit sudah gelap, baru juga sampai didepan pintu aku sudah langsung disambut Mira dan Ayahnya


Mira menghampiriku lalu memelukku "Dhira"


Lalu mengajakku untuk duduk bersama orang tuanya diruang tamu, aku benar-benar sudah dianggap seperti bagian dari keluarganya.


Dengan lembut Ayah Mira menyuguhkan aku roti dan susu "Ini dimakan ya Dhira" ucapnya sambil meletakkannya dilantai tepat dihadapanku


Aku mengangguk saja


"Ibu nya Dhira apa tadi sudah datang ?" tanya Ayah Mira kepadaku

__ADS_1


Tapi Bu Nina yang menyahut dari dalam warungnya


"Gak ada satupun keluarganya yang datang, aku juga gak tahu harus mengabari lewat mana" jawabnya


Ayah Mira memandangku iba "Ooh, jadi bagaimana tuh kalau permasalahannya begitu ?"


"Ya mana aku tahu, palingan kalau misalnya si Bayu atau si Danu nanti datang dan baru tahu Ibu nya meninggal, bisa jadi mereka berebut harta, si Lasmi juga palingan sama aja. Mereka gak bakal peduli sama Dhira. Susah lah pokoknya kalau berhadapan sama orang tapi otaknya dari otak udang" ketus Bu Nina dari jauh


Ayah Mira langsung melerai omongan Bu Nina "Heh, ngomongnya gak boleh begitu !" tegasnya


"Ya habisnya aku kesel sama mereka, gak habis pikir dengan prilaku mereka, sampai-sampai aku aja gak bisa mikir" kesalnya


"Ya sudah jangan dipikirkan, yang penting kan fokus pada Dhira aja" ucap suaminya


Bu Nina akhirnya diam


"Dhira, kalau mau tinggal di sini saja untuk sementara ya. Sambil nunggu Ibu kamu menjemput" bujuk Ayah Mira


Dengan senang hati aku mengangguk cepat "Iya"


"Kunci rumah Dhira ada di mana ? biar saya yang kunci sekarang"


"Di rumah pak, selalu nempel digagang pintu" jawabku


"Ya sudah, bapak ijin ke sana ya. Mau kunci pintu rumahnya dulu. Untuk sementara Dhira menenangkan diri dulu di sini" ucapnya sambil bergegas ke rumah Nenek


"Iya, Pak" ucapku


Setelah sampai di rumah Nenek yang masih ditancapkan bendera kuning, kondisi lampu gak menyala jadinya depan rumah sampai didalam sangat gelap dan pintu juga terbuka lebar.


Saat mau melangkah pulang terdengar dari jauh suara motor, lampunya juga menyorot tepat ke wajah Ayah Mira.


Ayah Mira menolehnya lalu seketika tahu kalau rupanya pemilik motor tua itu, Pak RT yang akhirnya berhenti dihadapannya


Dengan cepat Ayah Mira menyapanya


"Malam Pak RT" sapanya


"Malam Pak" balas Pak RT


"Habis dari mana Pak ?" tanya Ayah Mirae sekedar basa basi saja


"Habis dari depan aja, beli makanan buat anak" jawabnya


Ayah Mira mengangguk "Oh begitu"


"Iya, Pak. Saya mau ngobrol tentang pemilik rumah ini tapi saya nongkrong di warung Bapak aja ya karena kalau di sini gak enak juga ?" ucapnya


"Oh, boleh saja Pak. Tapi mau bahas tentang apa ya ? karena di rumah saya juga ada cucunya Almarhumah"


"Oh, di rumah ada cucunya juga. Saya kira sudah dibawa Ibunya"


"Walaaah, istri saya bilang Ibu nya aja gak datang"


"Waduh, kasihan sekali ya" iba Pak RT

__ADS_1


"Iya makanya" ucap Ayah Mira


"Ya sudah pak, ayok ikut motor saya aja. Sekalian kita ke warung Bapak" ajak Pak RT


Tanpa menolaknya Ayah Mira langsung saja naik ke atas motor Pak RT


Sesampainya di warung, Pak RT langsung duduk dikursi lalu memesan kopi pada Bu Nina yang ada di dalam warung.


"Bu pesan saya segelas kopi ya" pesannya


Bu Nina menyadari kalau sosok yang memesan adalah Pak RT


"Pak RT, tumben Pak" ucap Bu Nina sambil bergegas membuatkannya


Pak RT hanya tersenyum


Kemudian Ayah Mira juga duduk disamping Pak RT, karena seperti yang direncanakan dari awal kalau Pak RT mau membahas kematian Nenek yang dianggap janggal baginya


Dan benar aja, Pak RT langsung membahasnya


"Tadi siang itu saya sempat berpikir saat melayat almarhumah" ucap Pak RT seraya membuka obrolan


"Kenapa memangnya Pak ?" tanya Ayah Mira


"Saya dengar dari beberapa warga, almarhumah lama gak kelihatan tapi cucunya bilang kalau almarhumah gak ada di rumah"


Mendengarnya Ayah Mira sedikit heran juga karena terus terang, seingat dia juga menurut cerita dari istrinya adalah benar begitu.


"Iya benar Pak, Dhira bilang Neneknya memang gak ada di rumah selama ini tapi tahu-tahu Dhira muncul mengabarkan kalau Neneknya meninggal. Tapi salahnya dimana ya Pak ?" tanya Ayah Mira


"Nah, begini. Waktu ditemukan Almarhumah itu dalam kondisi mengenaskan. Berada di kamar dengan fisik yang sudah sangat kurus sampai ketulang dan kakinya bengkak hampir busuk" jelas Pak RT


Dalam bersamaan Bu Nina meletakkan kopi pesanan Pak RT dihadapannya


Ibu Nina juga setuju dengan perkataan Pak RT yang menjadi saksi utama dari semua kisah kematian Nenek


"Benar sih, Pak. Saya yang melihat sendiri" ucap Bu Nina


Pak RT melanjutkan lagi "Nah, ini saya jadi heran. Apakah cucunya sengaja menyembunyikan Neneknya yang sedang sakit atau bagaimana ?" tebaknya


Ayah Mira dan Bu Nina saling menoleh tapi Ayah Mira berusaha berpikir positif saja


"Saya juga gak begitu paham maksudnya" ucap Ayah Mira


Tapi Pak RT berpikiran lain


,, "Apakah jangan-jangan Lasmi lah dalang dari semua ini. Dia sengaja membiarkan Ibunya sakit dengan memaksa Dhira untuk tutup mulut supaya Ibunya meninggal dan bisa menguasai rumah itu. Karena sampai saat ini yang saya dengar dia sudah menikah lagi" tebaknya


Bu Nina jadi gak banyak omong, tapi Ayah Mira yang masih belum setuju dengan analisa Pak RT


"Bisa jadi sih Pak, tapi sepertinya dugaan seperti menurut saya gak kuat"


"Loh kenapa ?" tanya Pak RT


"Karena sampai saat ini Dhira gak cerita apa-apa tentang itu" ucap Ayah Mira

__ADS_1


__ADS_2