
Tapi Pak RT masih gak mau tinggal diam karena menurutnya kematian Nenek adalah kematian janggal yang disebabkan oleh Ibu, dan jika benar maka Pak RT akan memberi teguran kepada Ibu
"Begini aja Pak, kalau bisa saya mau langsung tanyakan anaknya sekarang juga" pinta Pak RT
Tapi Bu Nina langsung menyahut
"Kita langsung ke dalam saja Pak, supaya enak ngobrolnya" ajak Bu Nina
Pak RT menyetujuinya lalu bangkit berdiri dan masuk untuk menemui aku
Kebetulan aku ada di dalam kamar bersama Mira
Ibu Nina yang memanggilku untuk segera keluar dari kamar sebentar saja
"Dhira, keluar sebentar yuk" panggilny
Aku dan Mira justru keluar bersama
Aku menjumpai Pak RT yang sudah duduk melantai dengan kaki bersila.
Aku dan Mira juga duduk menghadap mereka, akhirnya Pak RT mulai interogasi aku.
"Kamu cucunya almarhumah ya ?" tanyanya
Aku mengangguk
"Kamu tahu gak kenapa Nenek bisa meninggal ?" tanyanya
"Nenek sakit" jawabku
"Nenek sakit apa ?" tanyanya
"Kakinya sakit" jawabku
Mendengar jawabanku begitu, semua saling menoleh. Tersirat jelas diwajah mereka penuh tanda tanya
Kemudian Pak RT kembali bertanya kepadaku
"Sejak kapan Nenek sakit ?" tanyanya
"Sudah lama" jawabku
Mendengar jawabanku begitu, semua makin terlihat bingung
"Sudah lamanya itu kira-kira berapa hari ?" tanya Pak RT lagi
"Sudah lama, sejak sebelum aku ujian sekolah" jawabku
"Berarti sudah lama sekali" ucap Pak RT
Aku mengangguk "Iya"
"Siapa yang merawat Nenek sewaktu sakit ?" tanyanya lagi
"Aku" jawabku cepat
"Hanya kamu saja kah, lalu apa Ibumu juga merawat Nenek ?" tanyanya
Aku menggelengkan kepala "Enggak, Ibu hanya datang memberikan uang lalu pergi pulang ke rumahnya" jawabku
"Jadi, Ibu mu hanya datang untuk memberikan uang saja ?" tanya Pak RT meyakinkan jawaban aku lagi
Aku mengangguk " Iya"
"Jadi, selama Nenek sakit, Nenek ada di rumah dan gak pergi ke mana-mana ya ?" tanya Pak RT
"Iya" jawabku
Mendengar jawabanku, wajah Ibu Nina langsung berubah kecewa kepadaku
__ADS_1
"Kenapa kamu bilang kalau Nenek pergi ke kota ?" tanyanya
"Nenek yang suruh aku" jawabku
Tapi Pak RT sepertinya gak puas dengan jawabanku
"Nenek yang menyuruhmu atau Ibumu yang menyuruhmu ? tanyanya lagi
"Nenek yang menyuruh aku supaya jangan kasih tahu kalau dia sedang sakit, Nenek bilang kalau dia akan secepatnya sembuh" ucapku
"Waktu Ibu mu datang ke rumah apa yang dia katakan kepada kamu dan Nenek ?" tanyanya
"Dia hanya kasih uang setelah itu pulang" jawabku
Dalam bersamaan ada suara motor berhenti di depan rumah Bu Nina, lalu langkah kakinya semakin dekat dengan pintu.
Semua jadi penasaran siapa yang akan datang bertamu dan rupanya itu Ibu bersama Pak Yanto.
Ibu berdiri dipintu lalu melihat kami yang sedang berkumpul disatu ruangan.
Sontak saja semua mata tertuju pada Ibu
Bu Nina yang merasa sesama perempuan dewasa langsung saja menyapanya
"Lasmi, ayok silakan masuk" ucapnya sambil bergegas berdiri lantas menyambutnya
Tapi rupanya sejak tadi Ibu menahan emosionalnya setelah melihat rumah Nenek yang sampai malam ini masih tertancap bendera kuning
Ibu langsung panik bertanya-tanya pada Bu Nina
"Rumah Ibuku kenapa ada bendera kuning, siapa yang meninggal ?" tanyanya
Sebelum Bu Nina menjawab, dia menoleh ke arah kami tapi masih belum sanggup mengatakan kebenarannya
"Ibumu yang meninggal" jawab Bu Nina
Mendengar jawaban Bu Nina begitu, langsung saja emosional Ibu kembali gak terkontrol.
Ibu terus saja memanggil Nenek "Ibu...Ibu...Ibu....huhu..hu..huhu!" teriaknya histeris
Tapi meski dia menangis sepilu itu gak ada seorang pun yang terlihat iba kepadanya, hanya Pak Yanto yang berempati dengan memeluknya
Pak Yanto berusaha menenangkan Ibu dengan membantu Ibu bersandarkan dinding
Pak Yanto terus menangkannya "Sudah, Bu. Ikhlaskan. Semua ini sudah jalannya Tuhan" ucapnya sambil terus membelai rambutnya
Tapi Ibu tetap menangis dengan keras.
"Ibu sudah meninggal, aku sudah gak punya siapa-siapa lagi. Orang tuaku sudah gak ada semua. Harusnya mereka sehat-sehat. Huhu..huhu..huhu !" ucapnya begitu pedih dengan berderai air mata
Kemudian Ibu menyadari keberadaanku, dia melihatku dengan tatapan tajam.
Aku sudah paham apa arti tatapannya itu.
Kemudian Ibu bangkit berdiri lalu melangkah ke arahku untuk bisa memukuli ku
"Anak sialan !" ucapnya sambil terus berusaha meraihku untuk bisa dia pukul.
Tapi pak Yanto cepat melerainya dengan menarik tangan Ibu, dan Ayah Mira, Bu Nina, dan Pak RT seraya dengan cepat melindungiku.
Tapi meski tangan Ibu dalam genggaman Pak Yanto. Ibu tetap berkata kasar padaku dengan suara yang sangat tinggi sambil menunjuk-nunjuk ke arahku
"Harusnya kamu sudah mati sejak dilahirkan !" teriaknya, sampai-sampai mengundang para tetangga dan mereka berkumpul didepan pintu rumah Ibu Nina karena saking penasaran
Tapi Pak Yanto tetap menenangkannya
"Sudah, Bu. Gak boleh begitu" ucapnya
"Dia yang membuat Ibu meninggal dunia, dia gak bisa merawat Neneknya yang sakit. Dia pembunuh, dia pembawa sial. Kemarin Ayahku sekarang Ibuku yang kena sial" ketusnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ibu yang seperti itu, akhirnya Pak RT turun tangan
"Tenang Bu Lasmi, tenang dulu" ucapnya
Tapi Ibu masih keras kepala "Mau setenang apa, coba kalau kamu ada diposisi saya. Bagaimana rasanya" kesal Ibu
Mendengarnya, Pak RT menghela napasnya sebentar. Dia sedikit kesulitan menghadapi Ibu.
Dengan pelan-pelan Pak RT mengajak Ibu bicara baik-baik.
"Begini Bu Lasmi, selama ini kan Ibu tahu kalau Nenek Dhira sedang sakit. Tapi kenapa Ibu gak merawatnya ?" tanya balik Pak RT
Ibu yang tadi masih menangis histeris jadi langsung terdiam. Bibirnya gemetar seolah gak tahu harus jawab apa.
Ibu hanya menatap tajam wajah Pak RT
Tapi Pak RT tetap melanjutkan interogasinya yang sekarang malah ke Ibu
"Maaf ya Bu, waktu Neneknya Dhira sakit apakah Ibu ada pemikiran untuk mengantarkannya ke rumah sakit ?" tanyanya
Ibu diam saja.
Tapi Pak Yanto yang menjawab "Sudah Pak, sebelumnya saya sudah sempat mengajak beliau untuk berobat tapi beliau menolaknya" jawabnya
"Tapi kenapa hanya Dhira yang merawat Neneknya seorang diri, kenapa Ibu gak ikut merawatnya juga ?" tekan Pak RT
Tapi Ibu tetap diam saja, Pak Yanto pun jadi gak bergeming. Suasana jadi hening sejenak meski dikelilingi oleh banyak warga diluar rumah Bu Nina.
Pak RT masih tetap menekan Ibu. Karena menurut Pak RT, apapun alasan Ibu dimata Pak RT Ibu tetap bersalah karena membiarkan aku memikul sendirian merawat Nenek padahal Ibu masih hidup dan sehat apa lagi tahu jalan menuju rumah Nenek.
Tapi Bu Nina akhirnya mencoba menengahi situasi yang keos dimalam dingin ini.
"Sudah lah Lasmi, semua ini jalan Tuhan. Nenek Dhira sudah sembuh. Mau menyalahkan siapa pun sudah gak penting karena Nenek Dhira gak akan hidup kembali" ucapnya dengan bijak
Mendengarnya, Pak RT mengangguk setuju.
Akhirnya ketika Ibu sudah lebih tenang, entah ada roh baik dari mana masuk ke dalam jiwanya. Tiba-tiba saja Ibu mengajakku pulang bersamanya
"Dhira, ayok kita pulang" ucapnya pelan
Aku malah gugup saat dia ajak karena aku merasa nantinya Ibu gak akan adil untuk menyayangiku.
Aku belum memberikan jawaban, aku hanya diam saja dan aku bisa melihat raut wajah Ibu Nina yang seolah menyatakan rasa gak yakin atas sikap Ibu dihari selanjutnya.
Tapi kali ini Pak Yanto yang mengajakku dengan lembut "Nak, kita pulang yuk. Nanti kamu tinggal sama Bapak, Ibu dan saudara kamu, Liana" bujuknya
Entah kenapa ketika Pak Yanto yang mengajak, disitulah hatiku luluh dan langsung mengangguk
"Iya" jawabku
Tapi meski begitu raut wajah Bu Nina, Pak RT, dan Ayah Mira begitu datar seperti gak yakin juga akan cara asuh Ibu kepadaku nanti.
Tapi meski begitu akhirnya setelah aku berdiri dan menghampiri Ibu dan Pak Yanto, raut wajah mereka sedikit berubah. Mereka berusaha merelakan aku pergi bersama Ibu. Karena kalaupun mereka mau menghadangku untuk gak pergi dengan Ibu, mereka gak punya kuasa dan bukti kuat kalau Ibu bukan sosok yang bisa merawat aku dengan baik.
Lantas Pak Yanto menyuruhku berpamitan
"Ayok, pamit dulu sama Bapak, sama Ibu, sama teman kamu Mira" suruhnya
"Aku pamit pulang dulu ya, Bu, Pak, Mira" ucapku berpamitan
Bu Nina yang menjawab "Iya, iya. Hati-hati dijalan ya. Sudah malam nih" ucapnya
Pak Yanto juga ikut pamit " Terimakasih atas kepeduliannya terhadap Dhira, semoga kita semua sehat-sehat selalu. Saya beserta istri dan Dhira pamit pulang" pamitnya
"Amin" serempak mereka
Sementara Ibu melangkah keluar begitu saja tanpa berpamitan kepada siapapun. Dengan sikapnya yang masih arogan dia mengusir warga yang menghalangi pintu, menghalangi jalannya
"Minggir, gak tahu malu kalian. Emangnya ini tontonan !" ketusnya
__ADS_1
Tanpa perlawanan secara fisik ataupun ferbal, semua warga yang menumpuk dimulut pintu akhirnya bergeser.