
Akhirnya dua tahun lebih sudah berlalu setelah kepergian Ibu
Masih jelas teringat disaat peristiwa kelam itu Nenek Liana mengajakku untuk tinggal bersamanya sementara rumah yang dulu kami tempati ia jual dengan harga murah supaya cepat laku
Di rumah Nenek Liana semua hari berjalan dengan baik tanpa kekerasan fisik dan ferbal yang mengusik mentalku seperti seblumnya karena Nenek dan Kakek Liana sangat baik kepadaku bahkan sampai aku sudah menganggap mereka bagian dari keluarga kandungku.
Bagaimana tidak, Sikap baik mereka persis sekali seperti Pak Yanto yang lembut tutur bahasanya, sikapnya bahkan kasih sayangnya adil kepadaku mereka gak pernah membeda-bedakan aku dan cucu kandungnya. Meski begitu sampai saat ini Liana gak ada sedikitpun rasa cemburu kepadaku. Aku sangat bersyukur rupanya mereka menyayangiku.
Ini adalah hari kelulusan sekolah menengah pertama bagi aku dan Liana. Kami Lulus bersama meski kami bukan juara kelas tapi kami meraih nilai yang cukup baik
Seperti biasanya jika makan malam kami selalu bersama, duduk melantai bersila kaki mengelilingi santapan malam masakan Nenek
Meski gak makan diatas meja makan tapi suasana itu selalu hangat bagiku
Aku, liana, Nenek dan Kakek.
Seolah sudah menjadi satu paket keluarga yang utuh.
Kami menikmati sajian Nenek yang selalu dia berikan setiap harinya walau kadang menunya selalu sama setiap harinya tapi aku tetap menikmatinya. Aku juga beruntunh berada di sini karena di rumah ini bahkan aku gak pernah memasak seperti yang lalu malahan Nenek yang memasak untuk kami.
Seperti biasanya aku duduk melantai disamping Liana dan berhadapan langsung dengan Nenek dan Kakek.
Tapi ditengah makan malam Nenek harus mengatakan hal yang sebenarnya gak aku suka
Sambil mengambil lauk yang ada dihadapannya, Nenek memandangku sebentar "Dhira, Nenek mau usul sama kamu supaya kamu sekolah di Jakarta saja" ucapnya prontal
Mendengarnya aku seolah beku "Di Jakarta ?" tanyaku balik
Nenek mengangguk kemudian Kakek menyambung "Kamu akan sekolah di Jakarta dan akan tinggal serumah bersama Bibinya Liana. Kenapa bukan Liana saja yang ke sana karena kami gak bisa jauh dengannya" ucapnya
Liana menolehku kemudian kembali memandang Kakek dan Nenek yang sedang bicara serius.
Gak tahu kenapa air mataku membendung meski gak sampai jatuh.
Tapi rupanya Nenek tahu hal itu lalu dia tersenyum mentapa mataku dalam-dalam penuh arti "Maaf ya Dhira, bukan maksud kami mengusir kamu tapi ini demi kebaikan kamu juga supaya kamu bisa lebih jauh lagi melangkahi masa depan, kamu juga gak usah khawatir karena Bibi Ros itu baik hati" ucapnya seakan berusaha membuat aku lega
Kakek juga menyambar omongan Nenek "Bibi Ros juga punya dua anak, tapi semua anaknya itu laki-laki. Tapi kebetulan anaknya sudah besar semua bahkan sudah bekerja yang belum itu tinggal menikah saja" ucapnya "Lagi pula dua anaknya pun gak tinggal bersama Bibi Ros karena mereka lebih memilih memyewa rumah dekat dengan tempat pekerjaannya. Jadi kamu hanya tinggal bersama Bibi Ros dan Om Dudu" tambahnya lagi
Nenek tersenyum sembari mengangguk setuju dengan penjelasan Kakek.
Tapi meskipun itu informasi yang baik untukku tetap saja aku merasa gak tenang sampai-sampai aku jadi gak napsu makan saking sudah memikirkan hal buruk yang pasti akan terjadi kepadaku di rumah tante Ros
Tapi akhirnya aku harus berangkat juga ke Jakarta. Aku pergi seorang diri membawa kenangan masa lalu yang aku harapkan gak akan terulang lagi.
Nenek sudah sempat berkomunikasi kepada Bibi Ros perihal aku akan tinggal bersamanya. Begitu pun aku juga sudah sempat berbicara dengannya dan dia berjanji akan menjemputku di stasiun Jakarta.
__ADS_1
Hari ini tepat pukul lima belas nol nol aku sudah sampai di stasiun yang disepakati oleh aku dan Bibi Ros. Bisingnya suara kereta yang melaju di rel sebelahku cukup membuat pendengaranku terusik ditambah lagi aku harus mencari pintu keluar dari keramaian penumpang yang berhamburan berjalan cepat-cepat menghalangi pandanganku.
Meskipun banyak papan penunjuk tapi aku kebingungan untuk mengikuti arahannya bahkan bodohnya aku malah malu bertanya kepada siapa pun yang ada di sini.
Akhirnya aku putuskan duduk sebentar memandang orang-orang yang berjalan terburu-buru seperti mengejar sesuatu sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada orang yang ada disekitarku
Kebetulan sekali ada seorang Bapak yang juga duduk disampingku. Tubuhnya gempal dan berkulit hitam memakai topi bagai seorang yang misterius
"Maaf Pak saya mau tanya" ucapku
Bapak itu menolehku dengan raut wajah yang datar
Hal itu cukup membuatku menjadi gugup
"Saya mau tanya kalau pintu keluar ada disebelah mana ya ?" tanyaku pelan
Tapi Bapak itu belum menjawab apa-apa, dia malah memandangku dari atas kepala sampai ujung sepatuku.
Beberapa saat dia bersikap begitu akhirnya dia menunjuk ke atas "Disana, naik dulu baru nanti kamu tanya petugas aja. Atau gak kamu liat papan petunjuk aja" tunjukknya ke arah tangga eskalator.
Aku menolehnya kemudian pamit pergi "Oh disana. Kalau gitu makasih ya pak" ucapku sambil mengangkat tas jinjing yang cukup besar yang aku bawa sejak tadi
Sampailah aku ditangga yang bergerak sendiri, bukan cuma aku naik ke sana tapi banyak yang buru-buru ingin menaikinya.
Sampai-sampai orang lain yang sudah mengantri dibelakangku berteriak, suara pria dewasa yang cukup lantang menegaskan kalau aku seharusnya naik dengan cepat karena dibelakangku sudah banyak orang yang berdiri
Yang lainnya pun ikut mengeluh karena aku belum juga mau naik.
"Buruan woi naik !"
"Haduh lama banget sih!"
"Saya aja deh duluan yang maju"
Teriak beberapa orang menyelaku.
Akhirnya aku makin bingung memandangi ke sekelilingku tanpa tahu apa yang aku lihat dan orang-orang yang tadinya berdiri dibelakangku menyalip naik lebih dulu
Tapi seorang wanita dewasa mungkin sekiranya seusia dua puluh tahun menghampiriku dengan ramah, rupanya dia menyadari kalau aku perlu bantuan
"Kamu gugup naik tangganya ya ?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk "Iya"
"Ayok saya bantu, kamu mau ke mana ?" tanyanya
__ADS_1
"Mau ke rumah Bibi Ros" jawabku
Wanita itu menyerengitkan dahinya "Bu Ros itu siapa ?" tanyanya
"Dia Bibi aku" jawabku
"Oh, Bibi kamu ada di mana ?" tanyanya
"Ada di pintu keluar nunggu aku" jawabku
Wanita itu mengangguk-angguk paham "Oh, jadi maksudnya kamu itu mau ke pintu keluar ya ?" ucapnya meyakinkan lagi pemahamannya
Aku mengangguk "Iya, mbak" jawabku
"Aku juga mau keluar kok, ayok bareng aku aja" ajaknya sambil mendampingiku menaiki anak tangga yang terus bergerak sendiri.
Akhirnya kami sampai dipintu keluar dan wanita itu pamit kepadaku "Aku duluan ya" pamitnya
Aku balas dengan senyum "Iya mbak makasih ya " ucapku
"Sama-sama" ucapnya sambil melambaikan tangannya lalu melangkah pergi menjauh
Dari pandangan mata ke segala arah aku mencari Bibi Ros meskipun aku gak pernah melihat wajahnya.
Pelan-pelan aku melangkah ke arah luar stasiun
Dari kejauhan aku sudah melihat seorang Ibu paruh baya berpakaian kemeja hijau dan celana berbahan kain melangkah ke arah pintu stasiun membawa selembar kertas. Langkahnya yang terburu-buru seperti mencari-cari seseorang lalu membuka lembaran kertasnya lalu dia angkat tinggi-tinggi.
Bertuliskan "Andhira, Bibi Ros"
Melihatnya aku tersenyum lega dan langsung menghampirinya.
Bibi Ros menyadari kedatanganku, dia pun cukup lega dengan keberadaanku
"Dhira ya ?" ucapnya sembari tersenyum
Aku mengangguk senang "Iya Bi" jawabku
"Bener ya kamu Dhira ? Kalau boleh tahu nama Nenekmu siapa ?" tanyanya.
Aku rasa dia sedang mengujiku
"Aku lupa Bi, bahkan aku gak tahu. Yang aku tau dan yang pasati kalau aku ini saudara tiri dari Liana. Nenek dan Kakek menyuruhku ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah SMA, aku juga akan tinggal di rumah Bibi Ros dan om Dudu" jawabku
Bibi Ros mengangguk-angguk percaya "Okelah kalau begitu kamu ikut Bibi ya. Kita pulang ke rumah" ajaknya
__ADS_1
Aku mengangguk "Iya Bi" jawabku