GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 12.


__ADS_3

"Wusshhhhhhh!"


Angin kencang berderu di luar rumah berbahan bambu itu. Abas segera keluar memeriksa. Tampak awan pekat menutup langit malam. Awan pekat yang tak biasa disertai gemuruh suara yang tak jelas wujudnya.


"Bruuukkk!"


Dari pusaran awan hitam itu muncul gelegar bagai petir menyambar tepat di dada Abas. Abas terlempar ke belakang beberapa meter. Dia mencoba bangkit tapi kembali terjatuh hingga awan hitam tadi muncul dan siap menghantam Abas untuk kedua kali.


"Ciaat!" Dari arah lain muncul sosok pria renta dengan jenggot putih menghalau gumpalan awan iblis yang hendak mencelakai Abas. Dengan konsentrasi tingkat tinggi kakek itu menyatukan kedua belah telapak tangan hingga muncul cahaya berpijar dalam dirinya yang kemudian menerjang awan hitam itu hingga lenyap.


"Mas, kamu kenapa?!" Yumna mengejar mencari Abas yang terpental ke semak belukar. Abas bangkit dan memegang dadanya yang hangus mengeluarkan asap lalu ambruk diantara kaki Yumna dan Ki Waluyo.


Ki Waluyo membawa Abas ke atas dipan bambu lalu seperti biasa kakek sakti itu mengusap bagian dada Abas yang mulai menganga. Pria renta itu membiarkan Abas istirahat. Yumna berada di sisi Abas dengan wajah teramat cemas. Sungguh ia tak menyangka Abas mengalami kejadian itu.


"Api, tanah, air dan angin telah menyatu  dalam dirinya . Aku  bahkan tak mengira bahwa dia Bayu Ajisena. Perhatikan tanda pada tubuhmu sekarang memudar lalu berpindah padanya sebagai pasangan sosok  Dewi Sekar Agnimaya dalam dirimu. Dan kamu akan hidup bahagia, Nduk. Karena di masa lalu moyang kalian tak pernah benar-benar bersatu," ucap Ki Waluyo.


Abas masih merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Bekas serangan awan hitam  itu menganga lebar di dada dan bahunya.


...***...


Di tempat berbeda Wandi yang masih memegang kesumat dalam dirinya berjalan tertatih menuju Kediaman Nyi Asih di Gunung Lawu.


"Jika memang kutukan itu tak pernah ada, maka aku akan mewujudkannya. Ya ... Abas dan Yumna akan mati di tanganku seperti halnya ketiga suaminya terdahulu," ucap Wandi dengan amarah yang tak terbendung lagi.


Setibanya di tempat yang dituju Wandi mengendap ke sebuah ruangan bertabur kembang setaman. Dia tahu betul di mana Nyi Asih menyimpan Keris Wulung Soka. Sebuah keris yang juga pernah merenggut nyawa Bayu Ajisena dan Sekar Agnimaya.


Wandi memperhatikan sekitar. Dia memungut keris itu dan menghunuskan ke angkasa tampak cahaya merah membara muncul dari angkasa dan menyambar keris itu.

__ADS_1


Wandi terpental menerima sambaran kilat tadi. Ditatapnya keris Wulung Soka yang masih dalam genggamanya lalu mengendap pergi secepat mungkin sebelum Nyi Asih sadar keris penebar maut itu ia curi.


...***...


"Jabang Kelana! Ini sungguh keterlaluan keris pusaka telah hilang, kamu tahu siapa pelakunya?!" jerit Nyi Asih pada sosok genderuwo yang bersembunyi di pohon beringin tua.


"Arghh, maafkan saya, Nyi. Seorang anak manusia telah masuk tapi dengan pusaka Wulung Soka itu aku tak bisa mencegahnya," ucap Jabang Ketakutan.


"Ayo lekas kumpulkan saudara-saudaramu kita rebut kembali keris itu sebelum murka di dalamnya merusak tatanan dunia," ucap Nyi Asih penuh kemarahan.


Tak butuh lama setelah itu puluhan pengikut Nyi Asih dari bangsa siluman bermunculan bersatu membentuk barisan di belakang Jabang Kelana sang panglima pasukan.


...***...


Wandi menyusuri perjalanan pulang dengan penuh percaya diri. Keris Wulung Soka ia genggam rapat-rapat agar tak terlepas hingga sampai di rumah nanti. Mengingat perjalanan dari lereng Lawu memakan waktu semalam tentu hanya lelah yang ia rasakan.


"Yayan lihat ini, pintu rumah Wandi terbuka pukul empat pagi. Mungkin pencuri masuk dan mengambil barang miliknya. Mari kita periksa," bisik Pak Udin, Yayan hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan hati-hati agar seseorang yang mereka anggap pencuri tak tahu kehadiran mereka.


Di dalam rumahnya Wandi masih duduk memandang keris yang ia curi, tampak kekaguman di wajahnya akan pesona keris sakti yang ia pegang.


"Abas dan Yumna saatnya kukkirim kalian ke alam kubur sama seperti tiga orang suamimu sebelumnya. Ha-ha-ha. Enam tahun aku telah menunggu untuk memilikimu tapi kenyataannya aku harus berupaya lebih meski akhirnya gagal," ucap Wandi angkuh.


Kreeeeek!


Pintu berderit, Wandi menoleh ke belakang dan mencari sumber suara. "Siapa itu?!" teriaknya lantang.


"Oh, jadi kamu sumber petaka di desa kita? Gak nyangka, ya. Pak Udin cepat panggil warga," ujar Yayan muncul dari persembunyiannya.

__ADS_1


"Kurang ajar! Kalian tak akan bisa mencegahku." Wandi yang menghunus keris tiba saja mengarahkan ujung keris ke arah Pak Udin dan Yayan. Dari batang keris muncul cahaya merah bara. Ditambah ayunan kencang Wandi pada gagang keris membuat cahaya merah itu melesat kencang dan menembus dada Pak Udin hingga menyisakan ceceran darah.


Keris itu telah membunuh Pak Udin tanpa sedikitpun menyentuh kulitnya. "Kamu gila Wandi, gila!" Yayan berlari sekuat tenaga hingga melupakan jasad Pak Udin yang sudah bergelimang darah.


...***...


Sinar matahari mulai tampak dari ufuk Timur. Cahayanya perlahan mulai menyentuh bumi dan masuk ke dalam rumah Wandi melalui celah-celah yang ada pada dinding. Di rumah laki-laki itu, darah masih mengalir dengan deras membuat genangan di atas lantai rumahnya.  Sementara itu, dua orang masih saling bersitatap penuh dendam dan amarah yang menggelora. "Kamu gila, Wandi. Gila!" teriak Yayan lalu berlari keluar menghindari Wandi dan meninggalkan jasad Pak Udin yang masih tergeletak tak berdaya.


Wandi yang merasa rencananya terancam gagal segera berlari mengejar Yayan yang berlari dengan kencang menuju rumah Abas.


"Akhhh!" Wandi menghunuskan keris wulung soka ke arah Yayan yang berlari di depannya.


Duaarrr!


Yayan berhasil menghindari cahaya yang mengincar dirinya. Sebuah ledakan yang besar menghantam sebatang kayu hingga tumbang yang berasal dari cahaya keris yang di pegang Wandi.


Semua warga tampak menjerit ketakutan dan berlarian menarik sanak saudara masuk ke dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat dan mengintip dari celah lubang.


"Bedebah!" gerutu Wandi saat melihat serangannya meleset. Secepat kilat, Yayan mempercepat langkahnya untuk segera tiba di rumah Abas.  Langkah kakinya tinggal beberapa meter lagi, namun tiba-tiba sebuah serangan kembali tertuju padanya. Yayan dengan gesit menghindar hingga dia jatuh tersungkur tepat di depan rumah Abas.


Sementara itu, Abas yang tengah diobati oleh Ki Waluyo langsung bangkit. Beranjak melangkah ke luar rumah setelah ia berkali-kali mendengar suara dentuman yang tidak biasa di telinganya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2