
Stelah berpamitan akhirnya Pak Yanto membonceng kami untuk kembali ke rumahnya
Tapi sebelum kami benar-benar pulang ke rumah Pak Yanto.
Ibu menyarankan untuk berhenti dulu saat tepat di halaman rumah Nenek.
"Berhenti di rumah Nenek dulu" ucapnya sambil menepuk pundak suaminya
Dengan cepat motor Pak Yanto berhenti tepat di depan rumah Nenek.
"Ayok turun Dhira" ajak Ibu
Akhirnya aku turun tanpa banyak pertanyaan
"Yah, kamu tunggu disini aja, karena aku gak akan lama. Aku mau ambil barang-barang Dhira dulu untuk dibawa ke rumah" ucapnya
Pak Yanto mengangguk paham
kemudian aku dan Ibu masuk ke dalam
"Ayok, sekarang kemasin barang-barang kamu. Ibu juga mau ambil barang-barang berharga milik Nenek. Ibu cuma mau mengamankannya saja. Takutnya nanti Om kamu yang mencurinya" ucapnya
Aku mengangguk paham.
Akhirnya aku kemas pakaianku yang sebenarnya gak banyak dan saat aku tarik pakaian dari lemari, aku menemukan dompet berwarna coklat tua milikku. Nenek yang membelikannya untukku. Saat melihat dompet itu aku jadi teringat kembali wajah Nenek serasa dia masih ada di sini bersamaku. Pelan-pelan aku membuka dompet itu lalu memeriksa slop kartu. Rupanya foto yang aku anggap Ayah kandungku masih ada dan belum rusak.
Aku juga meraih celengan yang dibelikan oleh Nenek, aku ingat dia sering menyuruhku untuk berhemat dan terus menabung. Dan sekarang celengannya sudah mau penuh
Akhirnya aku tersadar kalau aku sudah terlalu lama berkemas, maka aku percepat lagi supaya nanti Ibu gak lama menungguku.
Tapi ketika aku sudah selesai berkemas, Ibu masih saja berada didalam kamar Nenek, dia sibuk mengumpulkan uang Nenek yang ada di lemarinya.
Ibu juga menyadari kalau aku sudah selesai
"Sebentar ya, Ibu mau ambil semua. Besok juga Ibu akan ke sini lagi untuk mengambil televisi dan lainnya yang bisa dibawa pakai motor. Sisanya Ibu mau jual sekaligus bersama rumahnya" ucapnya
Mendengar kata akan menjual rumah ini hatiku agak kurang setuju, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Hanya Ibu yang paham.
Setelah beberapa menit menunggunya, akhirnya Ibu keluar dengan menenteng satu kantong plastik besar yang gak aku tahu apa isinya.
"Ayok kita pulang" ajaknya dengan melangkah cepat-cepat
Tanpa menjawabnya akhirnya aku mengikuti langkahnya dari belakang
Kemudian kami kembali duduk diatas motor Pak Yanto lalu membawa kami pergi dari rumah yang penuh kenangan itu.
Disepanjang perjalanan baru pertama kalinya aku melintasi jalan raya yang penuh dengan bermacam kendaraan, lampu-lampu jalan, rumah-rumah disepanjang jalan yang masih ramai dengan orang-orang yang lewat
Ini pertama kalinya aku melintasi kota.
Dan aku merasa sangat senang
Saat ini angin malam sangat dingin, meski aku duduk diapit kedua orang tuaku tetap saja aku kedinginan.
__ADS_1
Beberapa jam dalam perjalanan melewati kota, akhirnya Pak Yanto masuk ke jalan menuju satu desa. Tapi desa itu gak begitu jauh dari kota.
Akhirnya kami sampai di depan rumah tembok bercat putih tanpa pagar dihalamannya.
Setelah aku perhatikan hampir semua rumah warga di sini, bangunannya tembok tapi gak ada pagar atau gerbang.
Motor Pak Yanto langsung merapat dekat teras rumahnya. Dia parkir motornya diluar rumah
"Ayok turun" ajak Ibu padaku
Desa ini sudah nampak sepi mungkin karena sudah ada jam saat semua orang tidur.
Pak Yanto mengajakku masuk sembari membuka pintu "Ayok masuk"
Krekk!
Tapi Ibu langsung masuk begitu saja tanpa mengajakku.
Saat aku masuk terlihat pemandangan yang rapih dan bersih, isi dalam rumah lebih bagus dari rumah Nenek, kursi tamunya juga terbuat dari busa yang masih bagus, cat dindingnya putih bersih dan cahaya lampunya sangat terang.
Aku masih berdiri melihat ke segala arah, aku bagai orang baru yang masih canggung. Padahal mereka adalah orang tuaku.
Ibu langsung masuk ke dalam kamarnya dengan membawa bungkusan yang dia jarah barusan.
Tapi Pak Yanto justru mengajak aku ke kamar anaknya
"Kamu tidur beraama Liana aja ya. Kalian kan saudara jadi harus akur" ucapnya
Aku hanya mengangguk saja lalu mengikuti Pak Yanto.
Tok..tok..tok !
"Lian ?" panggilnya
Tapi pintu belum dibuka
"Lian ?" panggilnya lagi
Tok..tok..tok !
Ketuknya lagi tapi Liana belum juga membukanya.
Karena saking penasaran kenapa pintu belum juga dibuka, akhirnya Pak Yanto lebih keras lagi mengetuknya
Tok..tok..tok..!
Akhirnya gak lama kemudian Liana membuka pintu, terlihat wajahnya masih menahan kantuk seolah sangat terganggu dengan sikap Pak Yanto.
Lantas saja Liana mengeluh pada Ayahnya "Apaan sih, Yah?" keluhnya
Pak Yanto langsung memperkenalkan aku
"Ini ada saudara tirimu datang, anaknya Ibu mu. Ajak dia tidur di kamar ini ya" ucapnya
__ADS_1
Liana menolehku dengan mata berat yang terus menahan kantuk "Masuk !" ajaknya begitu saja.
Tanpa dia gak mau berbicara banyak kepada Ayahnya, pintu pu langsung dia tutup. Padahal pak Yanto masih berdiri didepan pintu.
Aku masih berdiri saja sambil masih menenteng bungkusan milikku, aku juga masih segan untuk naik ke kasurnya.
Tapi Liana gak sepatah kata pun mengajakku untuk tidur bersamanya. Dia malah langsung tidur dan dengan cepat juga dia terlelap
Karena aku juga gak enak hati untuk naik ke ranjangnya. Akhirnya aku putuskan tidur dibawah saja hanya berbantalkan kantong plastik yang aku bawa, gak pakai selimut dan beralaskan ubin keramik yang sangat dingin.
Sampai-sampai aku juga sempat menggigil kedinginan.
Hingga pagi menjelang aku terbangun karena Liana kesandung tubuhku
"Auuh !" keluhnya
Melihatnya dia tersandung begitu aku jadi semakin canggung dan merasa bersalah
Dan akhirnya dia marah padaku
"kenapa kamu tidur disitu ?" kesalnya
"Aku ketiduran" jawabku
"Mana ada ketiduran dibawah kasur begitu!" tegasnya
"Iya aku kelelahan jadi ketiduran" ucapku
"Kalau mau tidur dibawah jangan tidur sebelah situ karena itu tempat kaki aku turun. Kamu paham gak ?" ketusnya
Rupanya kegaduahan yang aku buat terdengar sampai luar kamar sampai-sampai Ibu dan Pak Yanto datang saking penasaran
Pak Yanto yang lebih dulu "Kalian kenapa sih, pagi begini malah bertengkar ?" tanyanya
"Aku gak bertengakar, Yah. Tapi anak ini tidurnya sembarangan malah tidur dibawah tepat kalau kaki aku mau turun jadinya aku kesandung karena takut keinjak" jelasnya
Karena Liana mengadu seperti itu aku jadi makin takut dimarahi
Tapi dengan bijak Pak Yanto melerai "Sudah lah hal kayak gitu gak perlu didebatkan. Kan kamu bisa tinggal bilang aja kalau besok jangan begitu lagi" ucapnya
Tapi rupanya Liana gak puas dengan ucapan Ayahnya , dia malah bergegas pergi meninggalkan kamar.
Pak Yanto yang merasa gak didengarkan jadi kesal juga "Kamu mau ke mana Lian ?" tanyanya
"Mandi" jawab Liana cepat
Ibu yang juga berdiri disamping Pak Yanto lebih membela Liana "Sudah lah, Yah. Lagian salah sendiri kenapa tidur di situ. Untung aja Liana gak kenapa-kenapa. Kalau sampai dia terluka gimana ?" ucap Ibu
Tapi Pak Yanto hanya diam saja lalu pergi tanpa pamit. Sepertinya pagi ini dia kesal dengan sikap anaknya
"Kamu mau kemana ?" tanya Ibu padanya
Pak Yanto menyahut sambil keluar "bukannya setiap pagi aku kerja "
__ADS_1
Sementara Ibu hanya diam saja lalu pergi meninggalkan aku