
Pada Akhirnya semua apa yang dibicarakan oleh Ibu sebelumnya terlaksana juga.
Seragam lama Liana yang masih terlihat putih diberikan kepadaku sementara aku dipaksa memakainya dan dia memakai seragam baru.
Lagi-lagi Pak Yanto gak tahu hal itu karena memang Pak Yanto mempercayai sepenuhnya kepada Ibu. Pak Yanto gak pernah bertanya tentang apa yang aku pakai karena Pak Yanto merasa gak berhak mencurigai istri yang dia sayang
Sedih ?
Sudah pasti.
Merasa terasingkan dari orang tua sendiri
Tapi apa boleh dikata, karena apa yang aku lalui saat ini mungkin suatu saat akan berakhir begitu saja. Sebuah harapan yang sepatutnya terjadi
Sudah seminggu aku duduk dikelas dua dan masih di kelas yang levelnya sama. Kelas pertahanan. Kelas yang diisi oleh para siswa berprestasi. Aku juga baru menyadari kalau sebagian teman sekelas ku sewaktu kelas satu sudah berganti orang.
Untungnya Septi masih sekelas denganku dan kami tetap duduk sebangku. Meski posisi kursi kami sudah berubah sekarang paling dibelakang pojok jendela sementara Gea bersama Seli duduk dipaling depan tepat dihadapan meja Guru.
Aku lebih lega Gea duduk jauh dari aku.
Sepulang sekolah aku pulang bersama Liana.
Rupanya Pak Yanto ada di rumah bersantai diatas kursi tamu dihiasi wajah yang pucat dan lesu duduk menghadap televisi, matanya yang sayu membuat batinku bertanya-tanya
Liana yang heran lantas memanggilnya sembari mengahmpirinya "Ayah?"
Seketika saja Pak Yanto menoleh kami
"Eh, putri-putri cantik Ayah sudah pulang" sambutnya dengan dihiasi senyuman manisnya
"Ayah kok gak kerja, bukannya tadi pagi Ayah berangkat ?" tanyanya
"Ayah lagi gak enak badan, gak tahu kenapa nih kepala Ayah sering sakit juga" jelasnya
Tapi aku gak menghampirinya tapi lebih banyak diam karena sadar diri kalau Liana lebih punya hak untuk mendekati Ayahnya.
Aku meletakkan tas ku di kamar lalu keluar sebentar menawarkan Pak Yanto segelas minuman manis "Pak, mau aku buatkan teh manis hangat ?" tanyaku
Pak Yanto menolehku "Oh gak usah karena tadi Ibu sudah kasih aku segelas" ucapnya
"Oh gitu ya udah" ucapku sembari kembali ke dalam kamar lagi untuk mengganti seragam
Setelah selesai mengganti seragam aku langsung menyiapkan diri untuk membersihkan isi rumah yang memang selama ini sengaja dibuat kotor oleh Ibu dan Liana karena mereka merasa ada yang akan membersihkannya.
Rupanya pak Yanto menyadari kesibukanku kemudian menghampiriku meski dengan langkah kaki yang gemetar
"Rajin banget anak Bapak" rayunya
Aku menyeringai "Iya Pak"
Dalam bersamaan Ayah malah mencari keberadaan Ibu "Loh, Ibu mana ya ?" bingungnya
"Memangnya tadi kemana Pak ?" tanyaku balik sambil membilas cucianku
"Tadi sih ada, atau mungkin ke warung kayaknya" pikirnya
__ADS_1
"Bisa jadi" ucapku
Benar saja dalam bersamaan Ibu baru saja datang dari luar membawa bungkusan kresek hitam kecil sambil mencari Ayah
"Ayah " carinya
"Di sini Bu, di dapur" jawab Ayah
Mendengar sahutan Pak Yanto, lekas saja Ibu menghampirinya
Pak Yanto langsung menyambutnya "Dari mana Bu ?" tanyanya
"Dari warung beli telur" ucapnya
"Oh gitu"
"Ayah mau makan ?" tanyanya
"laper sih tapi aku gak napsu makan" jawabnya
"Dipaksa makan aja ya, biar cepet sembuh" bujuk Ibu
Ayah mengangguk "Iya"
"Ya udah sekarang lebih baik kamu istirahat aja dulu nanti setelah aku masak, aku kerokin kamu" ucap Ibu
Tanpa menjawab satu kata pun Pak Yanto bergegas ke ruang tamu untuk sekedar duduk bersantai tapi Ibu justru melerainya
"Jangan di situ langsung di kamar aja, bukannya kamu bilang lagi demam juga ?" ucap Ibu
"Iya sih, tapi aku mau nonton tivi dulu" ucapnya
Setelah selesai mencuci aku segera ke ruang tamu untuk menyapu seperti biasanya yang aku lakukan setiap sepulang sekolah, seperti biasanya juga Liana berada didalam kamar sambil rebahan sampai ketiduran
Rupanya Pak Yanto menyadari sikap anak kandungnya yang belum muncul sejak tadi disaat aku sibuk merapikan setiap ruangan
Dengan nada yang masih sabar Pak Yanto memanggil Liana dari tempat duduknya "Lian ?"panggilnya
Secepatnya Liana langsung keluar dari kamar lalu menghadap Ayahnya
"Iya Yah" jawabnya tanpa merasa ada yang salah dalam sikapnya
Pak Yanto menatap Liana kemudian menghela napasnya pelan
"Kamu gak lihat sejak tadi Dhira beresin rumah tapi kamu malah enak-enakan di kamar" tegurnya pelan tanpa marah sedikitpun
Sikap yang aku kagumi dari Pak Yanto yang gak pernah cepat menghakimi siapa pun
Tapi Liana mengelak "Aku pernah mau bantu dia, tapi Dhira selalu bilang gak boleh bantu, jadi jangan salahin aku" jawabnya enteng
Pak Yanto yang mendengar jawaban aneh itu langsung menoleh ke arahku. Sedikit dalam batinnya seakan gak percaya
Tapi disitu aku mengangguk tanpa menjawab beberpa kata. Anggukan yang seharusnya gak perlu aku lakukan
Melihat anggukanku akhirnya Pak Yanto jadi percaya "Kenapa kamu gak mau dibantu ?" tanya Pak Yanto kepadaku
__ADS_1
"Karena kerjaannya gak berat jadi aku bisa kerjakan sendiri" jawabku
Sebuah jawaban yang sebenarnya gak pernah aku harapkan terucap
Betapa payahnya aku terlalu mengikuti rasa takutku pada Liana. Seharusnya aku jawab saja kalau Liana berbohong pada Ayahnya.
Pak Yanto yang mendengar jawaban palsu itu akhirnya menerimanya tanpa curiga.
Kemudian dia bergerak maju ke arah kamarnya "Saya istirahat dulu ya, saya ngerasa lelah sekali hari ini" ucapnya
"Iya Pak" jawabku
Beberapa saat kemudian Pak Yanto terlelap di kasurnya dan suasana kembali seperti saat Pak Yanto sedang bekerja.
Sepi
Tapi yang berbeda hanya terdengar suara dengkuran Pak Yanto yang seolah mengisi ruang hampa di rumah ini
Dalam bersamaan itu pula, ada yang memanggil Ibu dari luar, seorang Ibu paruh baya yang biasanya menawarkan pakaian kredit kepada Ibu.
Ibu memang gak sering mau tapi kadang kala dia pernah sesekali membelinya
Lantas saja Ibu menghampirinya yang sudah duduk diteras depan rumah sambil meletakkan barang dagangannya
"Ibu Siti bawa apa sekarang ?" tanya Ibu sambil duduk manis dihadapan pedagang langganannya
Langsung aja Bu Siti mengeluarkan pakaian yang dia tawarkan untuk Ibu kreditkan
"Ini daster cakep-cakep loh Bu. Beli aja nih" ucapnya
Ibu memilih beberapa bagian agak lama
"Harganya berapaan Bu ?" tanyanya
"Ohw, murah itu cuma lima puuh ribu" jelasnya
"Kalau saya ambil dua jadi berapa ?" tanya Ibu
"Oh mau ambil yang mana lagi ?" tanyanya
"Yang ini yang agak kecilan buat anak saya" ucapnya
"Ooh, kalau kontan lapan puluh ribu tapi kalau kredit ya seratus ribu" ucapnya
"Ya udah saya ambil dua aja" ucap Ibu
"Oh, ya udah kalau gitu saya catat ya" ucap Bu Siti
"Iya Bu"
"Saya pamit dulu ya Bu, nanti saya ke sini lagi untuk nagih. Hehe" ucapnya menghakiri perjumpaan mereka
"Iya Bu" sahut Ibu
Setelah Ibu masuk, Ibu memberikan satu pakaian daster kepada Liana
__ADS_1
"Ini daster lucu buat kamu, buat di rumah aja biar adem" ucap Ibu
Lantas aja Liana senang menerimanya wajah sumringah begitu bahagia. Tapi aku diam saja melihatnya. Hati aku memang tersayat tapi apa yang bisa aku perbuat. Gak ada.