GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
54. BIBI ROS MARAH BESAR


__ADS_3

Akhirnya kami pun sampai dirumah masing-masing diantarkan dengan selamat oleh Bapak ojek yang baik hati. Aku sampai dirumah Bibi Ros langit sudah mulai redup


Saat aku sampai di rumah yang membukakan pintu Om Dudu


Kreekk


"Loh, Dhira kamu baru pulang. Tumben sore banget pulangnya" ucapnya


"Iya Om, tadi aku sama Mira habis cari Ayah" jawabku dengan polos sambil melangkah masuk


Om Dudu terheran kepadaku "Hah, cari kemana ?" tanyanya sambil dia duduk di sofa kemudian kembali menghadap acara tevisi yang dia tonton


"Tadinya aku mau cari ke kantor Polisi tapi gak jadi, gak berani masuk" ucapku


Om Dudu menolehku "Loh, kok carinya di kantor Polisi. Memangnya Ayah kamu dipenjara ?" tanyanya


"Enggak, aku cuma mau lapor orang hilang aja" jawabku


Om Dudu masih diam menatapku, raut wajahnya seperti bingung harus menjawab apa lagi


Tapi obrolan akhirnya aku putus "Aku ke kamar dulu ya Om" ucapku


"Iya, iya. Jangan lupa makan sehabis mandi ya" ucapnya sembari kembali menonton


"Iya Om. Oh iya Bibi kemana ya ?" tanyaku


"Oh, lagi mandi" jawabnya


"Oh, kalau gitu aku ke kamar dulu ya" ucapku sambil melangkah ke arah kamar


Om Dudu mempersilakan "Iya, iya" sahutnya


Aku menutup pintu kamar rapat-rapat kemudian menaruh tas dan perlahan duduk diatas ranjang entah kenapa tiba-tiba saja aku merasakan sangat lelah dan hati ini seolah menggebu ingin sekali bertemu dengan Ayah. Aku gak tau kenapa rindu beratku semakin meluap meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.


Tanpa aku sadari air mataku kembali jatuh, sesekali aku menyeka pipiku yang semakin basah dengan jemariku. Suara isakan tangisku yang terasa pilu pun pecah diruangan bisu ini.


Sekali lagi aku menatap gambar Ayah, disaat itupun aku semakin sakit hati menatap wajahnya.


Tok..tok..tok !


Suara pintu dari balik kamarku terdengar keras


Tok..tok..tok !


Dilanjut suara perempuan yang aku kenal memanggil namaku "Dhira !" panggilnya


Cepat-cepat aku mengembalikan emosionalku kesemula dengan menarik napas dalam-dslam, mengeringkan pipiku dan berusaha memberikan raut wajah yang seolah gak terjadi apa-apa


Aku membuka pintu pelan-pelan, terlihat jelas Bibi Ros sudah berdiri dimulut pintu


Bibi Ros memperhatikan seragam sekolah yang masih aku pakai "Loh, kamu belum mandi ?" tanyanya


"Iya Bi, tadi aku malah rebahan jadi lupa mandi" jawabku

__ADS_1


"Oh ya sudah kalau gitu kamu buruan mandi ya, jangan lupa makan juga. Kita makan bersama ya. Bibi dan Om nungguin kamu" ucapnya


"Iya Bi" jawabku sembari kembali menutup pintu kamar.


Setelah mandi dan mengganti pakaian, akhirnya aku menghampiri Bibi Ros dan Om dudu di dapur. Kebetulan meja makan ada diruang dapur.


Rupanya sudah ada Bibi Ros dan Om Dudu menungguku sejak tadi.


Aku menggeser kursi makan lalu duduk berhadapan dengan mereka


Om Dudu memberikan aku kerupuk kulit diisi dalam toples ukuran sedang, dia tahu kalau aku menyukainya "Ini kerupuk kamu" ucapnya


"Makasih Om" ucapku berterimakasih


"Kalau gitu seperti biasanya, sebelum kita makan. Mari kita berdoa dulu" ajak Om Dudu yang menjadi pemimpin doa makan.


Setelah kami doa makan bersama, kami pun langsung menyantap makan malam bersama.


Gak ada obrolan apa-apa diatas meja makan semua makan lahap sampai gak bersuara sama sekali sampai akhirnya aku merapikan piring kotor dan aku angkat ke bak wastafel pun gak ada obrolan apa-apa. Namun bukan berarti mereka sedang marah kepadaku tapi karena memang mereka gak ada bahan untuk diperbincangkan


Jam tujuh malam setelah aku mencuci piring dan membersihkan ruangan dapur aku berniat kembali ke kamar namun di ruang keluarga aku gak melihat Bibi Ros, yang ada hanya Om Dudu yang sekarang sudah menonton acara pertandingan sepak bola


"Om, Bibi Ros dimana ?" tanyaku


Om Dudu menjawab tanpa menolehku "Oh, pergi sebentar ke rumah sebelah" jawabnya


"Oh gitu" ucapku


"Emangnya kenapa ?" tanyanya lagi


"Oh gitu" ucapnya


"Iya" putusku kemudian kembali ke kamarku


Kali ini pintu kamar gak aku kunci seperti tadi sore, aku biarkan hanya tertutup rapat saja.


Karena aku belum ngantuk maka aku memilih merebahkan tubuhku sembari menatap langit-langit kamar tanpa pikiran apa-apa.


Tapi lama kelamaan kelopak mataku mulai mengatup beberapa kali, sebenarnya aku ngantuk tapi otakku masih belum mau tidur.


Tapi akhirnya aku tertidur juga.


Beberapa saat aku tidur pulas


Suara pintu yang dibuka dengan kasar membangunkanku


Aku tersentak melihat Bibi Ros sudah ada disampingku dengan raut wajah yang gak seramah biasanya


Dia masih menatapku kecewa dari tatapan itu lah yang membuat aku merubah posisi menjadi duduk


Aku pun gak sungkan untuk menanyakan sikap Bibi malam ini "Ada apa Bi ?" tanyaku


Bibi Ros masih diam menatapku, kedua matanya merah berkaca-kaca, bibirnya dia rapatkan seakan gak mau bicara apa-apa.

__ADS_1


Dari situ aku mulai sadar kalau aku sudah melakukan kesalahan tapi entah apa aku pun gak tahu.


Dalam bersamaan Om Dudu datang juga tapi dia hanya berdiri diambang pintu memperhatikan kami seolah mengawasi sesuatu yang akan terjadi.


Bibi Ros akhirnya bicara namun nadanya dia buat pelan tapi terdengar sangat kecewa


"Untuk apa kamu mencari Ayahmu ?" tanyanya


Aku tersentak menatapnya karena aku pikir Bibi Ros gak akan sekecewa ini jika mengetahuinya


Akhirnya kesabaran emosional Bibi Ros gak bisa dia tahan lagi, kemudian dia membentaku


"Untuk apa ?" bentaknya


Aku syok kemudian menoleh Om Dudu yang mulai melangkah ke punggung istrinya kemudian menepukk-nepuk lembut pundak Bibi Ros "Sudah, Bu. Sudah" ucapnya berusaha menenangkan hati Bibi Ros


Tapi Bibi Ros masih marah, nadanya masih keras "Kamu kan sudah aku peringatkan supaya jangan mencari Ayahmu. Kenapa kamu melakukannya ?"


Aku masih diam gak bergeming


Sementara Bibi Ros masih saja Bicara


"Kamu gak menghargai jasa Pak Yanto, kamu gak menghargai Ibu kandungmu, kamu gak menghargai kasih sayang kami. Kamu malah mencari Ayah kamu yang berhati binatang itu !" kesalnya


Mendengar Bibi Ros berkata begitu Om Dudu langsung menarik tangan Bibi Ros untuk keluar dari kamar dan menyudahi rasa kecewanya kepadaku tapi Bibi Ros menepis tangan Om Dudu, rupanya dia masih belum selesai meluapkan emosinya


"Tadinya aku pikir kamu pulang kesorean karena habis main bersama teman kamu tapi rupanya kamu malah berusaha mencari Ayahmu. Memangnya kamu pikir Ayahmu juga akan memikirkan dirimu ?"


Bibi Ros kemudian meneteskan airmata kekecewaannya kepadaku, hal itu yang membuat bulu kudukku merinding dan aku terharu, aku pun semakin merasa bersalah


Sementara Om Dudu yang tahu betul isi hati istrinya, kemudian Om Dudu berusaha membujuk dengan lembut Bibi Ros untuk pergi dari kamar supaya hatinya kembali tenang.


Akhirnya setelah menyeka air matanya, Bibi Ros menuruti bujukan suaminya. Mereka pergi tanpa ada perkataan lainnya lagi tapi setelah pintu kamar ditutup oleh Om Dudu aku mendengar dengan jelas Bibi Ros masih marah kepadaku


Om Dudu juga masih terus membujuk Bibi Ros supaya hatinya tenang kembali


"Sudah lah Bu, itu adalah hal yang wajar bagi setiap anak. Pasti seorang anak akan penasaran mencari orang tuanya. Baik atau buruk seorang Ayah atau Ibunya yang lama berpisah dengannya pasti si anak akan mencarinya apa lagi posisi nasib Dhira begitu" jelas Om Dudu dengan lembut


Tapi Bibi Ros rupanya masih kesal


"Aku cuma gak rela saja setelah sekian lamanya Dhira kesusahan, menderita tapi Ayahnya hanya melanjutkan kebahagiaan Dhira saja. Itu gak adil buat Dhira !"


"Loh, tapi kan pada kenyataannya Dhira gak ketemu sama Ayahnya kan ?" ucap Om Dudu


"Ya, tapi aku tetap gak suka kalau sampai mereka bertemu"


"Mereka akan sulit bertemu, karena Dhira gak pernah bertemu dengan Ayahnya begitupun Ayahnya yang meninggalkan Dhira dalam keadaan bayi. Mereka gak akan saling mengenal. Jadi apa yang kamu takutkan ? Lagipula kalaupun mereka mendapat keajaiban saling bertemu, kenapa juga harus kita larang. Bukannya itu bagian dari Kasih Tuhan yang menyatukan mereka kembali ?" ucap Om Dudu


Sesaat Bibi Ros diam gak bergeming


Tapi Om Dudu kembali merajuknya "Sudah lah Bu, buang egomu. Jangan ikuti perasaan yang buruk. Sikap kamu ini hanya membuat Dhira semakin sakit hati dalam menjalani hidupnya. Harusnya apa pun pilihan Dhira kita harus suport selama itu gak merugikan dirinya dan orang lain" ucapnya


"Aku cuma melanjutkan amanah Yanto, dia sayang sekali kepada Dhira. Aku juga sayang kepada Dhira" ucap Bibi Ros

__ADS_1


"Ya, semua menyanyanginya tapi bukan berarti kita memutuskan dirinya dari keluarga kandungnya" pungkas Om Dudu


__ADS_2