
Beberapa hari setelah mengikuti ujian sekolah akhirnya kami tinggal menunggu hari kelulusan itu.
Sembari menunggu kabar kelulusan dari sekolah, aku putuskan untuk terus merawat Nenek saja dengan harapan sampai dia sembuh.
Karena kebetulan sekali setelah ujian kami libur sekolah. Jadi, bagiku itu adalah kesempatan emas untuk merawat Nenek sepanjang hari.
Siang hari ini menurut perkiraanku seharusnya Ibu datang tapi rupanya dia belum datang juga, atau mungkin saja hitungan tebakanku meleset.
Padahal aku sangat menunggunya
Sekali juga aku mengecek kamar Nenek untuk sekedar memastikan keadaannya.
Siang ini tubuhnya masih terbaring lemah diatas ranjangnya. Dia tampak semakin menyusut dan perutnya pun terlihat sangat kempes. Sementara kakinya semakin membiru gelap dan bengkak
Aku melihat Dia trebaring menutup matanya, karena saking takut kehilangan dia, dengan seksama aku memperhatikan gerakan nafas diperutnya.
Untungnya Nenek dalam keadaan baik-baik saja.
Karena aku merasa aman, aku kembali duduk di kursi ruang tamu, suasana hening tiba-tiba saja aku rasakan seolah memberikan isyarat bahwa aku masih kesepian.
Mungkin bisa jadi karena aku merindukan Ibu, meski mungkin saja dia gak mengingatku sama sekali.
Tapi pemikiran buruk seperti selalu aku halau saja. Karena bisa saja Ibu akan datang nanti sore atau malam atau bahkan besok
Setelah berhari-hari merawat Nenek, sekarang ini aku baru bisa merasakan kelelahan yang membuat fisikku seolah kehabisan tenaga.
Tapi meski begitu aku ikhlas merawatnya, aku juga mau supaya dia cepat sembuh dan kembali berjalan seperti awalnya.
Dia selalu berkata akan sembuh tapi aku yakin sebenarnya dia sedang merasakan nyeri dibadannya tapi hanya saja dia gak mau jujur.
Sudah beberapa hari kemudian, Ibu belum juga datang entah apa yang membuatnya seperti terkesan melupakan aku dan Nenek.
Setelah beberapa hari libur sekolah, akhirnya saMpai juga dipenghujung hari yang menentukan nasib para siswa, akhirnya aku pamit pada Nenek untuk ke sekolah melihat kelulusan siswa.
Nek, aku berangkat dulu ya" pamitku
"Hati-hati ya" ucap Nenek
"Dari kemarin Ibu belum juga datang ke sini" ucapku
Nenek tersenyum mendengarnya
"Gak perlu kamu pikirkan, yang penting kamu harus bisa sekolah dengan baik" ucapnya
"Tapi harusnya Ibu datang untuk merawat Nenek juga" ucapku
"Gak perlu, karena Ibu mu sudah punya keluarga baru yang lebih pantas dia rawat dan jaga" jawabnya
"Jadi, kalau nanti aku sudah menikah aku gak boleh merawat Ibu ku kalau dia sakit ?" tanyaku
"Bukan" ucap Nenek
"Lalu apa ?" tanyaku lagi
Tapi Nenek malah mengalihkan pembicaraan "Apa hari ini berita kelulusan kamu ?" tanyanya
Aku mengangguk "Iya"
"Ya sudah, hati-hati dijalan ya" ucapnya lagi
Aku mengangguk "Iya Nek, aku gak akan lama. Aku segera kembali" ucapku
__ADS_1
"Iya" jawabnya
Baru aja aku selesai mengunci pintu rumah, tiba-tiba aja seorang Bapak-bapak melihatku lalu menatapku heran.
Aku lebih heran dengan sikapnya
Bapak itu juga menanyakan keberadaan Nenek "Nenekmu ke mana ?" tanyanya
"Pergi" jawabku cepat
"Pergi kok lama sekali, jangan-jangan kamu sengaja dibuang tapi secara halus" sindirnya
Mendengar ucapan buruknya aku gak lantas menjawabnya, justru aku malah berlari menjahuinya.
Berlari sekuat tenaga sampai akhirnya aku melesat di rumah Mira
Rupanya kali ini Mira sudah ada di depan rumahnya, jadi aku gak perlu menunggunya.
Melihat aku datang, langsung saja Mira mengajak kami berangkat bersama
"Ayok kita berangkat" ucapnya sambil melangkah mendahuluiku
Seperti biasa aja kami berjalan bersama-sama tapi kali kami gak banyak obrolan, karena merasa gugup dengan hasil ujian kelulusan nanti
Dengar-dengar dari senior yang pernah sekolah di sana, kalau semua yang sekolah disitu sudah dipastikan akan lulus.
Tapi bukan cuma kata lulus yang sebenarnya aku cari melainkan aku mendapatkan nilai yang tinggi supaya bisa mendapat sekolah gratis jalur prestasi.
Akhirnya aku bersama Mira sudah sampai di sekolah lalu beramai-ramai dengan teman lainnya melihat daftar siswa yang mengikuti Ujian Negara yang ditempel di mading sekolah
Meski melihatnya harus agak berdesak-desakan tapi setidaknya benar atas ucapan senior itu kalau semua siswa pasti akan lulus sekolah.
Tapi meski begitu aku lebih tertarik menunggu pengumuman siapa nilai tertinggi di kelas.
Dia berdiri di depan kelas dengan membawa tas berisi raport dan selembar kertas ditangannya untuk dia bacakan dihadapan kami
Sertamerta saja kami terasa terhipnotis untuk harus mendengarkannya dengan seksama
"Anak-anakku, kalian patut mengucap syukur karena kalian sudah bisa melewati ujian kelulusan dan hasilnya lulus semua. Dan untuk peringkat pertama masih dimenangkan oleh Abigel. Selamat ya" ucapnya
Mendengar juara bertahan disebutkan namanya, semua bersorak bertepuk tangan untuk Abigel yang selalu mendapat peringkat kelas setiap tahun. Bahkan sampai hari ini posisinya belum juga tergeser
Dari nama yang pertama disebutkan saja sudah membuat aku pesimis dan gak perlu berharap lagi untuk mendapatkan beasiswa yang aku harapkan
Bu Yuni melanjutkan kembali pengumumannya, kali ini dia menyebutkannya bagai pembawa acara resmi
"Peringkat kedua jatuh ke siswa bernama.....Jihaaaan. Selamat ya !" ucapnya
Semua siswa kembali bersorak gembira sambil bertepuk tangan, meski bukan aku pemenang yang kedua tapi aku tetap ikut tepuk tangan hanya saja gak ikut riuh seperti mereka
Bu Yuni kembali menyebutkan satu nama terakhir, kali ini aku sudah hilang rasa dan merasa kalau aku gak akan ada di daftar tiga teratas
Semua kembali hening menunggu nama terakhir disebutkan
"Dan, peringkat tiga teratas adalah.....Miiiirrraaa! Selamat ya Mira" ucap bu Yuni
Mendengar semua nama mereka disebutkan, aku jadi makin pesimis dan pasrah saja.
Tapi tepuk tangan dan sorak gembira teman-temanku seolah mengajarkan aku, kalau aku harus menghargai kemenangan orang lain dengan cara ikut bergembira didalamnya
"Bagi anak-anak yang lainnya, jika kalian gak dapat peringkat, ayok coba lagi belajar dengan tekun ya. Jangan menyerah dan jangan pernah berkecil hati ketika sudah rajin belajar tapi rupanya masih orang lain yang hasilnya lebih bagus, karena sebenarnya kalian semua adalah juara, cuma karena ada yang lebih bisa meraih nilai tertinggi maka dari itu kalian belum bisa mengambil kesempatan itu." ucap Bu Yuni
__ADS_1
Kami semua serempak menjawab "Iya, Bu"
Akhirnya setelah Bu Yuni mengumumkan siswa berprestasi, dilanjutkan pembagian raport
"Ibu akan bagikan raportnya, setelah menerima silakan langsung pulang dan jangan lupa tunjukkan ke orang tua kalian supaya orang tua kalian bangga melihat anaknya sudah bisa lanjut ke SMP" ucapnya
"Baik, Bu !" jawab kami
Akhirnya Bu Yuni membagikan raport kami satu per satu, karena nomor urut absen aku lebih cepat dari Mira, jadi setelah aku keluar kelas aku harus menunggu Mira.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Mira keluar dengan raut wajah yang gembira. Dia tersenyum padaku
"Gak nyangka aku dapat peringkat tiga" ucapnya
Jujur, sebenarnya didalam hatiku ini aku iri melihat Mira. Tapi karena aku ingat ucapan Bu Yuni jadinya aku berusaha melarutkan suasana hatiku didalam kebahagiannya.
Dalam perjalanan menuju rumah kami masing-masing akhirnya aku sudah bisa menerima kenyataan, aku dan Mira seperti biasanya saling bercanda dan berlari-lari sangat gembira.
Mira melambaikan tangannya kepadaku ketika sudah sampai di rumahnya.
"Daagh, Dhira !" ucapnya sambil masuk ke dalam rumahnya
Aku juga gak mau kalah gembiranya dari Mira, langkah kaki aku percepat lalu membuka kunci pintu pintu pun dengan cepat-cepat. Aku mau Nenek cepat mendapatkan kabar kelulusanku ini.
"Nenek !" ucapku sambil berlari ke dalam kamarnya dengan raport yang masih aku genggam
Aku mendapati Nenek yang rupanya dia sedang tidur dihiasi oleh senyuman simpul bibirnya yang seolah merekah sangat manis
Sebenarnya aku gak tega harus membangunkan Nenek tapi aku gak sabar untuk memberitahunya sekarang juga
Langsung aja aku bangunkan pelan-pelan, takut nantinya Nenek malah panik
"Nek, bangun !" ucapku sambil perlahan-lahan menggoyangkan badannya
Tapi, kali ini tubuhnya terasa lain.
Kaku
Naluriku berbicara sepertinya ada yang berbeda dari Nenek.
Dengan seksama aku perhatikan nafas diperut Nenek.
Perutnya yang semakin kempes dan sudah gak ada gerakan nafasnya
Tapi aku masih tetap berharap Nenek gak kenapa-kenapa.
Aku teruskan mengoyakkan tubuh Nenek dengan sedikit kencang.
"Nenek, bangun!" ucapku
Tapi naluriku berkata lain
Nenek sudah tiada
Air mataku pecah seketika, aku menangis sejadi-jadinya.
Hatiku sangat hancur
Saat itu juga aku teringat Bu Nina, dalam keadaan masih menangis aku cepat-cepat pergi ke rumahnya.
Aku berlari begitu kencang sampai-sampai aku sempat tersungkur
__ADS_1
"Bu Nina !" panggilku