GADIS TERKUTUK

GADIS TERKUTUK
Bab 4.


__ADS_3

Suasana desa kembali heboh. Kali ini tentang ulah pencurian ternak warga yang sangat meresahkan. Malam itu di pos ronda tampak Yayan, Pak Udin dan Wandi berjaga. Abas yang baru saja bergabung datang membawa satu wadah air teh untuk menemani ronda malam itu.


"Kemarin malingnya hampir tertangkap di rumahnya Tejo. Saat Tejo terbangun dan menghadang si maling justru maling itu begitu digdaya tak mempan sabetan parang Tejo dan menghilang begitu saja," ucap Wandi membuka pembicaraan.


"Wah gawat kalau begitu, kita menghadapi maling yang mempunyai ilmu ajian Welut Putih," lanjut Pak Udin menggelengkan kepala.


"Iya, malah di kampung lain katanya maling itu juga menguasai ilmu Rawa Rontek." Wandi menambahkan.


Mereka terus berbicara hingga malam hampir berganti dini hari. Keberadaan maling sakti tentu sangat membuat warga resah. Mereka harus menjaga diri dan juga ternak serta harta benda lainnya dari incaran pencuri.


"Apakah ada kaitannya dengan pencurian mayatnya si Ida, ya, Kang?" tanya Abas pada Yayan. Yayan hanya garuk-garuk kepala tanpa mengerti harus menjawab apa.


Dari arah belakang pos ronda tampak sebuah bayangan bersembunyi di balik rindang pohon bambu. Bayangan itu mengamati mereka dengan seksama. Sesaat lamanya bayangan itu bersembunyi kemudian menyatukan kedua tangan di depan dada hingga memunculkan asap tipis berwarna hitam yang mengepul ke arah warga yang tengah berjaga. Kepulan asap yang berbaur dengan udara terhirup lalu membuat mereka semua yang berjaga di pos ronda merasakan kantuk teramat sangat lalu tertidur pulas bersamaan tanpa komando.


Sejam berlalu terdengar teriakan heboh di sertai bunyi kentungan memekakkan Telinga. "Maling! Maling!"


Warga berlarian. Pak Udin, Wandi, Yayan dan Abas yang tengah tertidur lelap akhirnya terbangun.


"Dia lari ke sana!" teriak Muis pada Abas dan Yayan. Mendengar seruan itu Abas dan Yayan segera berlari mengikuti arah telunjuk yang ia dapatkan dari Muis.


Maling tersebut bergerak cepat sekali menerobos gelap malam dan semak belukar hingga hilang dari pandangan Yayan.


"Bas, mau ke mana kamu?" ujar Yayan pada Abas yang memisahkan diri.


"Kang aku mau jenguk Yumna siapa tau maling mengarah ke rumahnya yang berada di tepi desa." Sahut Abas khawatir.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, Abas segera berlari menyusul maling tersebut seorang diri berbekal golok dan sarung.


"Astaga siapa itu?" Abas bergumam ketika tampak seorang pria dengan sebilah celurit memasuki halaman rumah Yumna. Pria dengan pakaian serba hitam tersebut tampak mencurigakan dengan ciri-ciri seperti maling yang ia kejar.


"Arghhh!" Pekikan keras terdengar di halaman rumah ketika orang yang Abas curigai sebagai pencuri justru terpelanting keras ke arah berbatuan fondasi di depan rumah Yumna.


Di hadapan pria tadi berdiri seorang perempuan dengan rambut terjuntai panjang hampir sepinggang. Perempuan itu terus saja mendekati sang maling yang merangkak mundur dengan wajah berceceran darah.


"Ampun, tolong maafkan saya," pinta sang maling.


Abas yang bersembunyi di balik pohon besar hanya melongo tatkala jemari perempuan itu merobek dada maling dengan kukunya yang panjang. Perempuan yang mirip Yumna itu duduk bersimpuh. Memakan segumpal daging yang mirip jantung  dengan bibir berlumuran darah.


"Yumna!" seru Abas. Mendadak perempuan itu melotot lalu berubah menjadi asap yang menerobos masuk ke dalam rumah Yumna.


"Ada apa, Mas?" Yumna menatap heran ke arah Abas yang juga merasa heran karena Yumna seolah tak mengerti apa yang baru terjadi di halaman rumahnya.


"Akhhh!" Yumna memekik kencang melihat sesosok mayat dengan luka menganga di bagian dada yang tak lain adalah pencuri. Teriakan Yumna menarik perhatian warga yang segera memenuhi tempat itu.


...***...


"Malingnya sudah tewas, tapi dua orang lagi berhasil kabur membawa ternak warga. Tapi, siapakah yang melakukan hal itu pada maling ini?" tanya Pak Udin pada Abas sambil mengamati jasad maling yang telah terbujur kaku.


Di depan rumah Yumna yang semula sepi, kini mendadak menjadi ramai dipadati oleh para warga yang penasaran dengan nasib maling yang mati secara mengenaskan di depan rumah janda cantik itu. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di setiap kepala warga yang berada di sana. Siapa gerangan yang sudah membunuh pencuri itu hingga menyisakan jasad terkoyak-koyak pada bagian dada dengan jantung yang sudah menghilang serta sekelilingnya penuh dengan darah yang membanjiri teras rumah Yumna.


“Siapa yang sudah melakukan ini Abas, Yumna?” Pak Udin mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


Yumna mengangkat kedua bahunya sembari menggeleng dengan raut wajah polos seolah dia tidak mengetahui kejadian tersebut. “Tidak tahu, Pak. Saya saja keluar saat mendengar mas Abas memanggil nama saya dan orang ini sudah dalam kondisi seperti ini,” jawab Yumna.


Semua mata beralih menatap Abas. Mereka tidak sabar mendengar kata yang terucap dari mulut pria berusia 30 tahun itu. Namun, Abas malah tampak bingung dengan kondisi ini sambil sesekali melirik ke arah Yumna berharap menemukan jawaban.


“Ng ... anu, Pak. Saya juga ndak tau. Tadi saya hanya mendengar suara teriakan. Pas saya lari ke sini, malingnya sudah kayak gini. Makanya saya panik dan memanggil Yumna." Pak Udin mengerutkan kening. Dia merasakan ada yang janggal dengan penjelasan Abas. Tapi, dia berusaha menepiskan itu semua dan kembali fokus ke mayat yang bersimbah darah.


Bisik-bisik dari warga terdengar samar-samar di telinga Abas. Mereka menuduh kejadian ini ada kaitannya dengan kesialan yang ada pada diri Yumna. Mustahil rasanya jika manusia yang melakukan ini semua kepada pencuri itu. Sebab luka yang ada pada dada menyerupai bekas cakaran dari kuku hewan buas seperti singa, macan dan sejenisnya. Dugaan demi dugaan tertuju pada Yumna. Sehingga warga yang berada di sana melihatnya dengan tatapan tajam penuh kebencian.


“Eh, Yumna! Lebih baik kamu mengaku saja. Ini semua perbuatan kamu, kan?” tuduh salah satu ibu-ibu yang berada di sana kepada Yumna.


Mata Yumna membulat, ia tidak mengerti dengan apa yang dituduhkan ibu itu terhadap dirinya. “Saya benaran tidak tahu, Bu!” sangkal Yumna.


“Sudahlah. Jangan mengelak, Yumna,” timpal ibu-ibu lainnya.


“Iya, usir saja dia dari desa ini!” Suasana mendadak menjadi riuh. Hampir semua warga yang hadir di sana menginginkan Yumna segera angkat kaki dari desa mereka.


Sorak surai suara protes warga membuat situasi bising dan posisi Yumna semakin terpojokkan. Abas, Pak Udin, Yayan dan Wandi menatap kasihan kepada perempuan itu, tapi mereka juga menyelipkan curiga terhadap Yumna. Terlebih lagi Abas, dia sangat yakin bahwa yang mengoyak-ngoyak pencuri ini tadi adalah Yumna.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2